Di zaman yang katanya serba canggih ini, jempol manusia seolah-olah punya nyawa sendiri. Setiap bangun tidur, sebelum mata benar-benar siap menerima cahaya matahari, tangan kita sudah gercep meraih ponsel. Lalu dengan gerakan mengusap layar yang sangat mekanis, kita langsung disuguhi rupa-rupa informasi: dari perselingkuhan artis yang tak pernah kita kenal, drama rumah tangga selebtok di pulau sebelah, sampai percekcokan dua orang asing di kolom komentar yang sebetulnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan keberlangsungan hidup kita.
Inilah masa di mana manusia mengalami penyakit information overload alias kepenuhan informasi. Kita ini sibuk sekali memikirkan dan mengetahui urusan orang lain, sampai-sampai lupa—atau mungkin sengaja melupakan—urusan diri sendiri yang sebetulnya sedang berantakan.
Habib Husein bin Ja’far Al Hadar, atau yang akrab dipanggil Habib Jafar, melempar sebuah otokritik yang sangat tajam dalam podcast Suara Berkelas. Beliau menyentil bagaimana banjir informasi ini tidak cuma bikin kepala kita pusing, tapi juga memicu stres dan memelihara permusuhan. Kita jadi gampang curiga, mudah tersulut emosi, dan hobi menghakimi orang lain hanya dari potongan video berdurasi lima belas detik.
Padahal, dalam tradisi Islam yang adem, ada satu benteng pertahanan jiwa yang sangat ampuh: husnuzon alias berprasangka baik. Habib Jafar memberi sebuah patokan yang radikal sekaligus menyejukkan. Katanya, kalau ada 99 alasan untuk berprasangka buruk pada seseorang dan cuma ada 1 alasan untuk berprasangka baik, pilihlah yang 1 itu.
Bagi orang modern yang otaknya sudah tercemar konten ghibah, ini jelas terdengar naif. Tapi kalau dipikir-pikir pakai akal sehat, memilih prasangka baik itu sejatinya bukan buat membela orang lain, melainkan buat menyelamatkan kesehatan mental dan spiritual diri kita sendiri. Batin yang dipenuhi su’uzon itu bagaikan meminum racun tapi berharap orang lain yang mati. Capek, sesak, dan merusak jiwa dari dalam.
Lalu bagaimana cara bertahan hidup di tengah samudra algoritma yang sering kali jahat ini? Habib Jafar memberi analogi yang sangat apik tentang Nabi Nuh AS.
Ketika banjir bandang menenggelamkan dunia, Nabi Nuh tidak meratapi air yang makin meninggi, melainkan sibuk merakit perahu. Di era digital ini, kita juga harus secara sadar merakit “perahu algoritma” kita sendiri. Algoritma media sosial itu pada dasarnya bodoh; dia cuma menyuapi apa yang sering kita lihat. Kalau setiap hari yang kamu ketuk adalah konten pamer harta atau gosip panas, ya jangan menyalahkan aplikasi kalau feed-mu berisi sampah. Mulailah sengaja memilih konten yang bergizi—soal fikih, sains, atau keilmuan yang luas. Paksa algoritmanya untuk menyajikan kebaikan, agar kita tidak tenggelam dalam banjir informasi sia-sia yang bikin tumpul akal pikiran.
Jangan Seperti Pohon Pisang, Belajarlah Pada Akar Bambu
Ada satu borok khas anak muda usia dua puluhan: merasa dirinya adalah pusat tata surya. Ego di usia ini sering kali membumbung tinggi. Kita menginginkan segalanya terjadi dengan serba cepat. Punya usaha baru seminggu harus langsung cuan miliaran, baru belajar ngaji sebulan sudah merasa pantas mengafirkan tetangga, dan kalau berdoa malam ini, besok pagi jalannya sudah harus dihampari karpet merah.
Padahal, kehidupan spiritual dan pendewasaan diri itu hukum dasarnya bukan soal kecepatan, melainkan ketepatan.
Tuhan itu tidak pernah bekerja menggunakan jam tangan manusia yang serba terburu-buru. Waktu Tuhan adalah tentang ketepatan momen. Habib Jafar mengingatkan kita pada proses tumbuhnya pohon bambu. Pohon bambu itu, selama bertahun-tahun awal, sama sekali tidak kelihatan bertambah tinggi di atas tanah. Orang yang tidak paham akan mengira bambu itu mati. Padahal di dalam tanah, akar-akarnya sedang merambat kemana-mana, mencengkeram bumi dengan sangat kuat. Baru setelah akarnya kokoh, dia menjulang tinggi ke angkasa dalam waktu singkat tanpa takut tumbang diterpa angin kencang.
Anak muda zaman sekarang banyak yang seperti pohon pisang: cepat tumbuh, daunnya lebar, tapi batang dalamnya lembek dan akarnya dangkal. Begitu disenggol angin sedikit, langsung roboh dan mati. Masa muda sebetulnya adalah masa paling krusial untuk mengikis ego, memperdalam akar, dan mencari guru serta jalan (sanad) keilmuan yang jelas. Jangan tergesa-gesa tampil di panggung kalau dalamnya masih kosong melompong.
Selain itu, ada satu kebiasaan buruk manusia yang sudah dipelihara sejak zaman Nabi Adam: hobi menyalahkan pihak lain.
Kalau kita gagal, yang disalahkan kondisi ekonomi. Kalau kita berbuat maksiat, yang dituduh setan. Padahal kalau setan bisa bicara di hadapan media, mungkin dia bakal protes berat: “Lho, saya cuma membisikkan godaan tipis-tipis dari jauh, yang melangkahkan kaki dan mengelurkan uang kan sampeyan sendiri!” Setan itu cuma provokator, tapi eksekutor utamanya tetaplah manusia. Stop menjadikan setan atau keadaan sebagai kambing hitam atas kebodohan kita sendiri. Bertanggung jawablah pada pilihan hidupmu, fokus perbaiki diri, dan akui kalau memang kita yang sedang khilaf.
Hidup di Dunia itu Seperti Main Monopoli
Ada satu ungkapan klasik dari maestro sufi Jalaluddin Rumi yang dikutip oleh Habib Jafar: “Matilah sebelum kamu mati.”
Ini bukan ajakan untuk meminum racun atau melompat dari jembatan, melainkan sebuah imbauan spiritual agar kita bersedia “keluar dari samudra dunia”. Bayangkan kamu sedang main game Monopoli. Di atas papan permainan, kamu bisa punya rumah di Jalan Sudirman, punya hotel di Bali, dan memegang uang jutaan rupiah. Kamu merasa sangat kaya dan berkuasa. Tapi begitu permainan selesai dan papan monopoli ditutup, semua uang kertas mainan dan sertifikat plastik itu masuk kembali ke dalam kotak. Kamu pulang ke kamar tanpa membawa satu pun hotel plastik itu.
Dunia ini ya persis papan monopoli itu. Kita sering kali bertengkar setengah mati, saling sikut, dan mengorbankan persaudaraan hanya demi merebutkan “hotel plastik” fana yang tidak akan bisa dimasukkan ke dalam liang kubur. Mati sebelum mati artinya melepas keterikatan emosional pada kepemilikan duniawi, sehingga kita bisa melihat hidup dengan lebih jernih, utuh, dan tidak gampang gila ketika kehilangan.
Namun, bagian paling menarik dan mungkin agak mengejutkan dari pemikiran Habib Jafar adalah ketika beliau menjelaskan tentang konsep neraka.
Banyak orang membayangkan Tuhan menciptakan neraka karena Dia adalah Sosok Pemarah yang hobi menyiksa hamba-Nya. Ini cara pandang yang sangat dangkal dan agak melenceng. Habib Jafar menggunakan analogi seorang dokter di rumah sakit.
Jika ada pasien datang dengan luka pembusukan yang parah di kakinya, dokter akan melakukan tindakan medis yang sangat menyakitkan: membersihkan nanah, memotong jaringan mati, atau bahkan memberi alkohol yang bikin pasien menjerit kesakitan. Apakah dokter melakukan itu karena benci atau dendam pada si pasien? Tentu tidak! Dokter melakukan itu justru demi kesembuhan, agar kuman penyakitnya hilang dan si pasien bisa kembali sehat.
Neraka—dan segala ujian rasa sakit yang kita alami di dunia ini—pada hakikatnya adalah proses pencucian dan penyembuhan. Jiwa manusia yang sudah terlanjur kotor oleh dengki, kerakusan, dan kejahatan sewaktu di dunia, tidak akan muat atau pantas memasuki surga yang maha suci. Maka, neraka adalah sarana pembersihan ekstrem agar jiwa itu kembali murni. Tuhan tidak menciptakan neraka karena benci, melainkan sebagai bentuk keadilan dan kasih sayang-Nya untuk memurnikan kembali ciptaan-Nya.
Jangan Mau Jadi Manusia yang ‘Biasa-Biasa Saja’
Di akhir perbincangan, Habib Jafar menumpahkan kekesalannya pada satu nasihat yang belakangan ini sering dianggap sebagai kearifan lokal: “Sudahlah, hidup itu biasa-biasa saja, jangan terlalu baik, nanti dimanfaatkan orang.”
Ini adalah nasihat paling buruk dan paling menyesatkan yang pernah ada.
Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai Ahsani Taqwim—sebaik-baiknya bentuk ciptaan. Kita diberi akal yang bisa berpikir abstrak, hati yang bisa merasa iba, dan kehendak bebas yang tidak dimiliki oleh malaikat maupun binatang. Menasihati manusia untuk “biasa-biasa saja dan jangan terlalu baik” sama saja dengan menyuruh seekor elang untuk melupakan sayapnya dan hidup mematuk tanah seperti ayam sayur.
Konsep Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi medioker. Ada perintah tegas yang berbunyi Fastabiqul Khairat—berlomba-lombalah dalam kebaikan. Menjadi orang baik yang dimanfaatkan orang lain itu memang menyakitkan, tapi itu jauh lebih terhormat ketimbang menjadi orang licik yang hobi memanfaatkan orang. Kebaikan yang kita lakukan tidak akan pernah runtuh nilainya hanya karena ada orang yang membalasnya dengan kejahatan.
Dunia ini sudah terlalu penuh dengan orang-orang yang biasa saja, orang-orang yang memilih aman, dan orang-orang yang tidak mau repot menjadi baik. Yang kita butuhkan hari ini adalah orang-orang yang berani tampil menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri: tetap berprasangka baik di tengah gempuran berita buruk, tetap merakit perahu kebaikan di tengah samudra gosip, dan tetap menebar kasih sayang meski tahu dirinya bisa saja disakiti.
Sebab pada akhirnya, ketika layar kehidupan kita ditutup dan perahu algoritma kita dihentikan, yang tersisa bukanlah seberapa banyak informasi yang kita ketahui atau seberapa kaya kita di papan monopoli, melainkan seberapa bersih hati yang kita bawa menghadap Sang Pencipta.
