Dunia politik hari ini sering kali tampak seperti panggung pertunjukan sulap yang riuh. Ada banyak asap, kilatan cahaya, dan tipu daya mata. Orang-orang bertepuk tangan untuk hal-hal yang sebenarnya fana, sementara di balik panggung, kompromi-kompromi murah sedang ditandatangani dengan tinta kekuasaan. Namun, sesekali, di tengah hiruk-pikuk pencitraan yang banal itu, muncul cerita-cerita renyah—sekaligus getir—dari mereka yang memilih menjadi karang, bukan buaian ombak.
Sebut saja FX Hadi Rudyatmo. Pria berkumis tebal khas Solo yang akrab disapa Pak Rudy ini bukanlah tipe politisi yang lahir dari rahim ruangan ber-AC dengan bahasa-bahasa langit yang melayang tanpa mendarat. Ia adalah politisi darat, politisi akar rumput yang napasnya berbau keringat rakyat dan asap las. Dalam sebuah obrolan yang cukup blak-blakan di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Rudy menggelar kembali lembar-lembar sejarah yang selama ini ditutupi bedak pencitraan.
Bagi Rudy, politik itu sederhana saja, tapi berat di ongkos moral. Ia memegang teguh empat prinsip yang diserapnya langsung dari sosok Megawati Soekarnoputri: keimanan, keteguhan, keberanian, dan kesabaran. Kesetiaan Rudy pada Megawati dan PDI Perjuangan bukan sekadar urusan kartu tanda anggota atau jatah kursi jabatan. Kesetiaan itu dibaptis oleh sejarah yang riil dan dramatis.
Ingatkah kita pada peristiwa Kudatuli 1996? Masa-masa awal Reformasi itu adalah masa yang berdarah dan penuh ketakutan. Dalam sebuah momen di masa-masa sulit itu, sebuah insiden kecil namun simbolik terjadi. Kaki kursi yang diduduki Megawati mendadak patah. Tanpa berpikir panjang, tanpa kalkulasi untung-rugi politik, Rudy secara spontan merangkak dan menahan posisi kursi tersebut menggantikan kakinya yang patah. Ia menahan beban itu selama hampir dua jam agar sang Ketua Umum tidak terjatuh.
Dua jam! Coba bayangkan otot punggung dan lutut seorang pria yang harus menjadi ganjal kayu demi seorang pemimpin. Itu bukan rekayasa sudut pandang kamera framing sinematik. Itu adalah aksi refleks dari seorang loyalis sejati. Dan dari sanalah legasi Rudy bermula: menjadi penopang yang tak terlihat, penahan beban ketika panggung politik retak. Atas perintah Megawati pula, Rudy mendedikasikan jalannya untuk menjaga “Kandang Banteng” di Surakarta selama 25 tahun sebagai Ketua DPC PDI-P Solo. Sepanjang lima periode, ia adalah penjaga gawang yang patuh.
Mitos Jokowi di Solo dan Faktanya
Kita hidup di negeri yang sangat mencintai mitos. Kita senang mendengar cerita tentang tokoh heroik yang lahir dari kemiskinan, digusur berulang kali, lalu dengan kelembutan hatinya mampu meluluhkan puluhan kali resistensi pedagang kecil hanya lewat jamuan makan siang. Narasi semacam itu sangat menjual di televisi dan kolom koran. Namun, Rudy datang membawa penghapus untuk membersihkan papan tulis sejarah Solo dari coretan-coretan romantisasi yang berlebihan.
Mari kita bicara tentang kisah relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Solo yang legendaris itu. Narasi populer yang beredar di publik menyebutkan bahwa sang Wali Kota saat itu, Joko Widodo, melakukan pertemuan hingga 54 kali dengan para pedagang sampai akhirnya mereka rela dipindahkan tanpa bentrok. Angka “54” itu terdengar fantastis, seolah-olah itu adalah manifestasi dari kesabaran tingkat dewa.
Namun, menurut Rudy, angka 54 itu sengaja diproduksi demi kepentingan pencitraan dan jualan narasi. kenyataan di lapangannya? Jokowi hanya datang dua kali. Lalu siapa yang berdarah-darah, keluar-masuk lorong pasar, minum teh poci bareng pedagang, dan melakukan pendekatan persuasif yang melelahkan? Ya, FX Hadi Rudyatmo sendiri. Rudy-lah yang menjadi jembatan hidup, yang mengusap kening para pedagang yang resah, sementara sang pimpinan cukup memetik buah manis manisnya citra di media nasional.
Bahkan cerita sentimental tentang “figur yang digusur tiga kali di masa kecilnya”—sebuah narasi yang berhasil menguras air mata pemilih—ternyata salah alamat. Cerita tragis kena penggusuran dari rumah tempat tinggal setelah ayah meninggal hingga terkena dampak proyek normalisasi Bengawan Solo itu sesungguhnya adalah riwayat hidup Rudy. Bukan riwayat sang pasangan duetnya. Sebuah mitos yang bertukar rupa, dipinjamkan, lalu dijadikan senjata politik yang ampuh.
Lalu bagaimana dengan Mobil Esemka? Ah, Esemka. Mobil yang pernah digadang-gadang jadi lambang kebangkitan industri otomotif nasional. Rudy menceritakan asal-usulnya dengan sangat lugas tanpa buaian. Esemka itu lahir dari program Kementerian Pendidikan untuk sekolah kejuruan (SMK). Sasis mobil rakitan para siswa kreatif itu kemudian dipotong dan dicat ulang oleh bengkel Kiat.
Agar namanya terangkat dan apresiasi lokal tercipta, mobil itu dipakailah sebagai mobil dinas AD 1 dan AD 2. Niat awalnya sederhana dan mulia: menaikkan popularitas karya anak SMK. Namun, masalah timbul ketika narasi itu melompat terlalu jauh. Mobil rakitan itu mendadak ditarik ke panggung politik nasional, dipolitisasi seolah-olah merupakan mobil nasional yang diciptakan sepenuhnya oleh sang pimpinan kota.
Kekecewaan Rudy kian memuncak saat muncul wacana kerja sama dengan Proton, produsen mobil asal Malaysia. Rudy yang memegang prinsip nasionalisme teguh menolak keras akrobat politik semacam itu. Bagi Rudy, jika sejak awal tujuannya adalah membina adik-adik SMK, ya konsistenlah di jalur pendidikan dan pembinaan teknis, bukan malah dijadikan komoditas jualan kampanye yang begitu usai hajatan, mobilnya entah menguap ke mana.
Bahkan dalam hal-hal teknis administratif yang kurang seksi untuk pemberitaan, seperti pelunasan utang listrik Pemkot Solo ke PLN pada tahun 2011—yang sempat mengancam Solo gulita karena tunggakan belasan miliar—Rudy-lah yang pasang badan. Ia yang mengantar langsung uang tunai berkarung-karung ke kantor PLN demi menyelesaikan masalah tersebut secara konkret.
Awal Mula Retak Hubungan
Politik sering kali menuntut kompromi, tetapi ada batas tipis antara kompromi politik dan pengkhianatan etika. Titik balik hubungan dan pandangan politik Rudy mulai retak ketika pragmatisme kekuasaan mulai merambah ranah privat keluarga.
Kekecewaan pertama Rudy bertunas ketika Jokowi meminta putranya, Gibran Rakabuming Raka, untuk maju sebagai Wali Kota Solo pada tahun 2020. Mengapa Rudy kecewa? Bukan karena ia benci pada anak muda, melainkan karena sebelumnya ada janji lisan yang dipegang teguh: anak-anak tidak akan diterjunkan ke dalam politik praktis selama kekuasaan masih digenggam. Selain itu, ada mekanisme partai yang sedang berjalan.
DPC PDI-P Solo saat itu telah memproses dan menyiapkan pasangan calon Purnomo-Teguh melalui jalur konvensi internal yang sah dan demokratis. Kader-kader di bawah sudah berkeringat mengusung nama tersebut. Namun, kekuasaan punya jalur pintas. Gibran mendaftar melalui DPD PDI-P Jawa Tengah, melompati struktur DPC, hingga akhirnya mengantongi rekomendasi dari DPP PDI-P.
Sebagai kader yang terlatih untuk taat instruksi, Rudy menelan kekecewaan itu. Ia membuang ego pribadinya dan tetap menjalankan perintah partai untuk memenangkan Gibran di Solo. Pikirnya saat itu, cukuplah Solo menjadi muara.
Namun, badai yang sebenarnya baru bergulir menjelang Pilpres. Langkah politik Gibran yang melompat menjadi Calon Wakil Presiden melalui drama putusan Mahkamah Konstitusi (MK)—yang mengubah aturan batas usia pencalonan di detik-detik terakhir—menjadi pukulan telak bagi kesadaran etis Rudy. Bagi Rudy, peristiwa tersebut bukan sekadar keputusan politik yang lihai, melainkan sebuah tindakan yang melanggar etika publik dan merusak konstitusi partai.
Ketika aturan dipukulsaratkan demi memuluskan jalan seorang anak presiden, politik tidak lagi menjadi seni mengabdi pada rakyat, melainkan instrumen melanggengkan dinasti kekuasaan. Dan Rudy, dengan segala kesederhanaannya, menolak untuk pura-pura tidak melihat kejanggalan tersebut.
Tetap Menjaga Solo untuk PDIP
Di tengah dinamika politik yang semakin liar, Rudy menatap masa depan PDI Perjuangan dengan cemas sekaligus penuh keteguhan. Baginya, PDI Perjuangan bukan sekadar kendaraan sewaan untuk meraih jabatan lima tahunan. Partai ini adalah “Rumah Tua” yang dibangun dengan darah, air mata, dan ideologi Soekarno.
Untuk menjaga kepemimpinan partai ke depan setelah era Megawati, Rudy berharap Trah Soekarno—khususnya figur seperti Puan Maharani dan Prananda Prabowo—tetap solid bersatu. Persatuan trah pendiri menjadi benteng penting agar partai tidak mudah diintervensi oleh kekuatan modal atau penumpang gelap yang ingin mencaplok ideologi demi kepentingan jangka pendek.
Pertempuran perebutan suara di Jawa Tengah dan Solo—yang selama ini dijuluki sebagai “Kandang Banteng”—kini kian sengit. Pergerakan partai-partai baru seperti PSI, ditambah wacana manuver politik figur muda seperti Kaesang Pangarep, tidak membuat gentar pria berkumis ini. Rudy menegaskan bahwa Solo dan Jawa Tengah bukan tanah tak bertuan yang bisa dibeli dengan gampang.
Ia memberikan imbauan keras namun tenang kepada masyarakat agar tidak gampang tergiur oleh politik uang (money politics). Uang bansos atau bagi-bagi sembako mungkin bisa mengenyangkan perut untuk sehari dua hari, tetapi kerusakan etika dan demokrasi yang ditimbulkannya akan menanggung beban hingga bergenerasi-generasi. Menjaga basis politik bukan sekadar merawat angka-angka di TPS, melainkan menjaga martabat warga agar tidak ditukar dengan lembaran uang kertas.
Filosofi Tukang Las: Menyambung yang Keras, Menjaga yang Suci
Lalu, apa yang membuat FX Hadi Rudyatmo tetap bisa berdiri tegak, tertawa lepas, dan bersuara lantang tanpa takut dirundung (dibully) di media sosial? Jawabannya ada pada filosofi hidupnya yang sangat membumi.
Sebelum terjun penuh ke dunia politik, Rudy adalah seorang tukang las. Sebuah profesi kasar yang mengandalkan ketelitian, panasnya api, dan kekuatan fisik. Dari topeng las dan percikan api itulah Rudy mengekstrak kebenaran hidupnya.
“Tukang las itu tugasnya mempersatukan dua benda yang keras menjadi satu, sehingga menjadi sesuatu yang indah dipandang dan kokoh dipakai,” kata Rudy.
Filosofi ini adalah metafora sempurna untuk karir politiknya. Rudy adalah tipe orang yang berani berhadapan dengan hal-hal keras—konflik, kepentingan elit, hingga amarah rakyat—bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk melemburnya menjadi persatuan. Namun, untuk bisa menyambungkan besi yang keras, seorang tukang las harus punya pegangan yang stabil dan tidak boleh goyah.
Selama belasan tahun mendampingi Jokowi, dari Solo hingga tingkat nasional, Rudy menyatakan sebuah fakta yang langka di dunia politik hari ini: ia tidak pernah meminta jabatan, tidak pernah meminta proyek, dan tidak pernah mengemis uang. Ketika seorang politisi tidak memiliki beban utang budi materi dan tidak tersandera oleh keserakahan, ia menjadi manusia yang sangat merdeka.
Itulah mengapa Rudy tidak takut menghadapi cyber bully atau serbuan buzzer di media sosial atas pernyataan-pernyataan jujurnya. Orang yang tidak punya kartu mati tidak bisa diancam. Orang yang pernah tidur beralaskan kesulitan hidup tidak akan kaget oleh gertakan politik uang atau popularitas semu.
Pada akhirnya, dari wawancara dan perjalanan hidup FX Hadi Rudyatmo, kita belajar satu hal penting: popularitas bisa dibuat oleh tim media sosial, pencitraan bisa dibeli dengan anggaran publik, dan kekuasaan bisa diturunkan lewat celah aturan. Namun, integritas, kesetiaan pada prinsip, dan keberanian untuk mengatakan yang benar di tengah riuhnya kebohongan adalah barang langka yang hanya dimiliki oleh mereka yang hatinya telah disepuh oleh kejujuran. Dan di Solo, tukang las itu masih setia berdiri, menjaga agar besi-besi etika bangsa tidak semakin berkarat dan patah.
