Sebuah obrolan satu jam di YouTube antara Mas Iwan dan Wisnu Nugroho membuat saya manggut-manggut sendiri di depan layar HP. Bagi yang rajin berselancar di dunia koran atau jagat maya, nama Wisnu Nugroho ini jelas bukan kaleng-kaleng. Beliau wartawan senior Kompas yang kini menjabat VP Sustainability & Communication Kompas Gramedia.
Mendengar percakapan mereka rasanya seperti diajak nongkrong di warung kopi, tapi topik bahasannya berat: dari urusan Pak SBY yang protes tulisan koran, baju hitam Ibu Sumarsih, bisnis media yang megap-megap dihabisi algoritma, sampai perkara kecerdasan buatan (AI) yang oleh Wisnu diplesetkan dengan sangat telak menjadi “Akal Imitasi”.
Dari Anak Bajang, Hak Jawab SBY, sampai Baju Hitam Ibu Sumarsih
Dunia pers itu kerap dipenuhi orang-orang antik. Wisnu Nugroho salah satunya. Kisah cintanya dengan dunia tulis-menulis dan filsafat tidak lahir dari ruang kuliah yang megah, melainkan dari sebuah buku tebal karya Sindunata berjudul Anak Bajang Menggiring Angin yang ia baca sewaktu SMA. Novel mitologi yang sarat perenungan itu meracuni pikirannya. Ia lantas kuliah filsafat, sempat mencicipi portal berita digital era purba bernama Rilix.com, sebelum akhirnya resmi memakai seragam Kompas pada Agustus 2001.
Menjadi wartawan Kompas jelas ada beban moralnya. Tapi Wisnu ini tipe jurnalis yang jenaka sekaligus nakal. Saat meliput bencana Tsunami Aceh 2004, ia menulis artikel berjuluk Aktor yang Kehilangan Panggung. Tulisan itu menyentil dinamika politik di balik penanganan bencana. Pihak Istana yang waktu itu dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meradang. Bukannya main kayu atau menelepon pimpinan redaksi malam-malam sambil marah-marah, pihak Istana menggunakan jalur resmi: Hak Jawab lewat Dewan Pers.
Peristiwa itu menarik. Di satu sisi, ada wartawan nekat yang berani menulis kritis dari kacamata kemanusiaan; di sisi lain, ada penguasa yang memilih menempuh jalur hukum yang bermartabat. Ini adalah tonggak penting betapa indahnya mekanisasi demokrasi ketika Hak Jawab dihormati, bukan malah membredel media atau mengintimidasi jurnalisnya.
Kisah-kisah unik di lingkungan Istana itu tidak cuma mandek di halaman koran. Wisnu menuangkan rupa-rupa kegelisahan, keusilan, dan pengamatan personalnya ke dalam blog pribadi dengan gaya bahasa santai dan reflektif. Tulisan-tulisan blog itulah yang di kemudian hari menjelma menjadi seri buku populer.
Namun, pelajaran paling menampar bagi seorang jurnalis seperti Wisnu justru datang dari Aksi Kamisan—aksi damai saban Kamis di depan Istana Negara yang dipelopori para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM. Wisnu bertandang ke sana dengan prasangka orang terdidik: peserta memakai baju warna hitam sebagai simbol duka cita. Prasangka itu mentah seketika saat Ibu Sumarsih, ibunda almarhum Wawan (korban Tragedi Semanggi I), mengoreksinya secara langsung. “Hitam ini bukan duka, Mas. Hitam adalah simbol keteguhan,” tegas Ibu Sumarsih.
Jleg! Itu pukulan telak buat wartawan mana pun. Betapa seringnya kita yang mengaku jurnalis atau pengamat ini sok tahu, menduga-duga makna dari balik meja, tanpa mau repot-repot bertanya langsung pada pelakunya. Dari baju hitam Ibu Sumarsih, Wisnu belajar satu asas paling sakral dalam jurnalistik: verifikasi, konfirmasi, dan buang jauh-jauh yang namanya asumsi.
Media Cetak yang Mengarungi Zaman
Zaman berganti, media cetak berdarah-darah. Dulu, orang bangun pagi menyeduh kopi sambil menunggu loper melemparkan koran ke teras rumah. Koran adalah sumber utama informasi: siapa yang menang pilkada, berapa harga beras, atau kecelakaan apa yang terjadi kemarin. Sekarang? Buka mata langsung pegang smartphone, baca linimasa X atau TikTok, berita langsung tersaji detik itu juga.
Kompas sadar betul bahwa koran tidak akan pernah bisa menang jika beradu cepat (news) melawan media digital. Fungsi koran telah bergeser total dari penyedia berita kilat menjadi ruang ulasan yang mendalam, penyedia perspektif, dan analisis (views).
Wisnu membedakan audiens media hari ini menjadi beberapa kategori yang cukup menggelitik:
- Kelompok Flyby: Ini rombongan anak muda usia 18–24 tahun. Mereka ini ibarat burung yang cuma lewat. Membaca koran fisik jelas bukan gaya hidup mereka. Mereka terpapar berita Kompas hanya jika artikel tersebut berseliweran di media sosial mereka.
- Kelompok Loyalis & Fanatik: Ini kelompok mapan usia 25–44 tahun ke atas. Mereka adalah pembaca yang sengaja membuka situs berita, berlangganan aplikasi, atau masih setia menyimpan koran fisik di meja tamunya.
Menghadapi jurang generasi ini, media tua seperti Kompas mau tidak mau harus belajar bergoyang. Mereka mengeksperimenkan konten media sosial. Reporter di lapangan diajak membuat konten dengan gaya sudut pandang pribadi (POV) saat meliput demonstrasi, atau memunculkan persona jenaka seperti “Ibu Kokoh” untuk menyapa warganet.
Transformasi ini juga memukul model bisnis media secara telak. Dulu, koran hidup sejahtera dari iklan cetak setengah halaman yang nilainya puluhan juta rupiah. Ketika era digital datang, media terjebak dalam perangkap pageviews dan judul-judul clickbait yang murahan demi recehan iklan programatik. Kini, media menyadari bahwa mengandalkan clickbait hanya akan membunuh karakter dan kepercayaan pembaca. Model bisnis masa depan harus kembali ke akar: subscription model (pembaca membayar konten berbayar karena percaya pada kualitasnya) serta content licensing.
Akal Imitasi dan Mahalnya Sebuah Riset Lapangan
Di tengah keriuhan teknologi modern, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) disembah banyak orang sebagai juru selamat baru. Tapi di Kompas, seperti yang dituturkan Wisnu, AI didefinisikan secara lebih membumi—bahkan cenderung nakal: Akal Imitasi.
Istilah ini bukan berarti Kompas anti-teknologi. Di dapur editorial mereka, AI dimanfaatkan secara maksimal untuk pekerjaan mekanis yang menguras waktu: mengelompokkan arsip berita, membenahi tata bahasa, melakukan uji A/B pada judul atau sampul berita, hingga mengurai data besar. AI dijadikan asisten yang penurut, bukan kapten kapal editorial.
Sebab, di era ketika jawaban bisa didapatkan dalam hitungan detik lewat AI Overview atau ChatGPT, muncul sebuah paradoks menarik: Jurnalistik klasik (classic journalism) justru harganya menjadi semakin mahal.
AI bisa merangkum sejuta artikel di internet dalam kurun waktu satu detik, tapi AI tidak bisa mencium bau gas air mata di lapangan. AI tidak bisa merasakan gemetar suara seorang ibu yang menuntut keadilan untuk anaknya. AI tidak bisa menatap mata seorang pejabat yang sedang berbohong saat diwawancarai.
Proses meliput langsung ke lapangan, melakukan observasi dengan indera manusia, mewawancarai narasumber secara tatap muka, serta melakukan verifikasi silang adalah hal-hal yang tidak bisa disimulasikan oleh mesin bernama Akal Imitasi itu. Di situlah letak kemewahan karya jurnalistik yang sebenarnya.
Maka, untuk menjadi jurnalis di masa depan, Wisnu menegaskan bahwa ijazah atau latar belakang jurusan seseorang (apakah ia lulusan ilmu komunikasi, teknik, atau sastra) tidak lagi menjadi syarat utama. Hal terpenting yang harus ditanamkan dalam dada seorang jurnalis adalah tiga hal sederhana tapi makin langka: sikap skeptis, rasa ingin tahu yang membakar, serta obsesi gila-gilaan untuk terus memverifikasi kebenaran.
Jika seorang calon wartawan hanya pasrah menerima rilis pers tanpa mau mempertanyakannya, ia akan dengan mudah digantikan oleh script AI yang harganya jauh lebih murah.
Jangan Cuma Pintar Khotbah, Tapi Lupa Nyapu Halaman Rumah
Bagian akhir obrolan Wisnu dan Mas Iwan menyentuh aspek yang kini menjadi tanggung jawab langsung Wisnu di Kompas Gramedia: isu keberlanjutan (sustainability).
Banyak media massa di Indonesia piawai menyemburkan kritik soal kerusakan lingkungan. Media rajin membuat editorial galak tentang deforestasi, polusi udara, hingga pemanasan global. Tapi celakanya, tak sedikit media yang lupa melihat jejak karbon dari operasional mereka sendiri. Percetakan koran butuh ton-tonan kertas dan tinta, gedung perkantoran menguras energi listrik raksasa, dan armada distribusi membakar ribuan liter bahan bakar setiap hari.
Menyadari ironi tersebut, Kompas Gramedia mengusung Gerakan Lestari yang bertumpu pada tiga pilar utama:
- Literasi: Mengedukasi publik secara terus-menerus mengenai isu-isu ESG (Environmental, Social, and Governance) dan SDGs (Sustainable Development Goals) melalui karya-karya jurnalistik yang mudah dipahami orang awam.
- Aksi: Melakukan pembenahan dari dalam rumah sendiri. Ini bukan cuma teori di atas kertas. Mereka mengganti pencahayaan gedung dengan lampu LED yang hemat energi, hingga melakukan carbon offset secara konkrit—seperti menanam ribuan bibit mangrove dan membeli Sertifikat Energi Terbarukan (REC) dari PLN.
- Kolaborasi: Kompas Gramedia sadar betul bahwa isu lingkungan tidak bisa diselesaikan sendirian sambil menepuk dada. Mereka menggelar Lestari Summit & Award untuk memberi panggung bagi praktik baik, serta bergandengan tangan dengan media-media besar di kawasan ASEAN seperti Star Media (Malaysia) dan Philippine Daily Inquirer (Filipina).
Pada akhirnya, obrolan Wisnu Nugroho dan Mas Iwan memberi kita gambaran utuh tentang wajah dunia media hari ini. Media mungkin sedang sempoyongan dihantam gelombang teknologi dan perubahan zaman, tetapi nilai inti dari sebuah jurnalistik tidak pernah berubah. Mau zamannya koran cetak, era klikbait, sampai era Akal Imitasi sekalipun, kebenaran tetap butuh dicari dengan tumit yang pegal di lapangan, telinga yang mau mendengar, dan hati yang mau berempati. Seperti kata Ibu Sumarsih, ini bukan soal meratapi duka atas perubahan zaman, melainkan soal keteguhan untuk terus menjaga akal sehat.
