Membaca Ulang Narasi Raja Abrahah Menyerang Ka’bah Pakai Gajah

Dulu, waktu saya masih kecil dan mendengarkan guru mengaji menceritakan kisah Surah Al-Fil, bayangan saya sederhana saja: Abrahah itu raja yang sangat jahat, pasukannya gagah berani berkendara gajah raksasa macam di film-film kolosal, lalu tiba-tiba langit berubah gelap karena ribuan burung emprit ajaib melemparkan batu neraka yang membuat mereka lumer seketika. Selesai. Dongeng selesai, kita semua berdecak kagum pada mukjizat Allah, lalu tidur nyenyak.

Namun, setelah makin dewasa dan membaca artikel ilmiah yang ditulis oleh Mas Afifullah dalam Jurnal Al-Qorni, saya baru sadar: ternyata di balik peristiwa dahsyat itu, ada komedi logistik dan ketidakrasionalan taktik perang yang amat sangat luar biasa konyol dari seorang penguasa bernama Abrahah.

Mari kita bedah kisah ini tanpa mengurangi rasa hormat pada mukjizat Al-Qur’an, tetapi dengan sedikit akal sehat yang kadang-kadang suka lupa kita pakai.

Dimulai dari Ada Orang yang Berak di dalam Gereja

Cerita ini berawal dari masalah klasik manusia sepanjang masa: gengsi dan iri hati.

Abrahah, yang waktu itu menjabat sebagai penguasa Yaman di bawah naungan kerajaan Ethiopia (Habasyah), merasa jengkel setengah mati. Bagaimana tidak? Tiap tahun, orang-orang Arab dari mana-mana berbondong-bondong jalan jauh cuma buat mengelilingi bangunan kotak sederhana di Makkah yang bernama Ka’bah.

Sebagai penguasa kaya raya, Abrahah berpikir cerdas—atau yang dia sangka cerdas. Dia membangun gereja super mewah di San’a. Namanya Al-Qullais. Bangunannya menjulang tinggi, dindingnya ditaburi permata berlapis emas. Pikir Abrahah, “Mana ada orang yang menolak hal mewah? Kalau saya bikin gereja kinclong begini, pasti orang Arab bakal pindah piknik dan ibadahnya ke San’a, bukan ke Makkah lagi.”

Tapi Abrahah lupa satu hal: Ka’bah itu soal ikatan batin dan sejarah ikatan tauhid, bukan soal marmer impor atau kilauan emas. Bangsa Arab sama sekali tidak tertarik. Malah, ada seorang pria lokal dari Arab yang merasa tersinggung dengan kepongahan Abrahah. Pria ini nekat masuk ke dalam gereja megah itu, lalu tanpa dosa… buang hajat di sana. Ya, Anda tidak salah baca: berak di dalam gereja super mahal tersebut.

Mendengar gereja mewahnya dikotori kotoran manusia, Abrahah murka luar biasa. Sumpah serapah keluar. Dia memutuskan: Makkah harus diratakan dengan tanah! Dan agar terlihat gagah serta menebar ketakutan, dia membawa armada perang yang belum pernah dilihat orang Arab sebelumnya: Pasukan Gajah.

Keanehan Jika Menyerang Pakai Pasukan Gajah

Di sinilah letak humor sejarahnya. Sejak kecil kita dijejali narasi betapa mengerikannya pasukan gajah Abrahah. Tapi mari kita hitung-hitungan matematik secara santai.

Jarak dari San’a di Yaman ke Makkah itu sekitar 1.171 kilometer. Kalau manusia jalan kaki tanpa henti, butuh waktu kurang lebih 10 hari. Tapi Abrahah tidak jalan kaki sendirian; dia membawa gajah. Menurut riset sains dan catatan mufassir seperti Ibn ’Āsyūr, gajah bukanlah hewan asli semenanjung Arab. Gajah-gajah itu diimpor khusus dari Habasyah (Ethiopia).

Satu ekor gajah dewasa membutuhkan makanan antara 140 sampai 270 kilogram per hari dan minum 30 sampai 40 liter air per hari. Kecepatan jalannya di medan terik gurun paling-paling cuma 8 kilometer per jam. Berarti, untuk perjalanan pergi saja, armada gajah butuh waktu sekitar 20 sampai 25 hari.

Sekarang coba kita kalikan: 1 ekor gajah untuk perjalanan 25 hari butuh konsumsi sekitar 6.750 kilogram makanan dan 1.000 liter air.

Itu baru SATU ekor gajah!

Para ulama tafsir berbeda pendapat soal berapa jumlah gajah yang dibawa Abrahah. Mufassir klasik seperti At-Tabari, Ibn Katsir, hingga Quraish Shihab menyebutkan ada yang bilang cuma 1 ekor (gajah raksasa bernama Mahmud), ada yang bilang 8 ekor, 12 ekor, bahkan ada riwayat ekstrem yang menyebut hingga 1.000 ekor.

Bayangkan kalau membawa 12 ekor gajah saja: berapa ton rumput dan berapa ribu liter air yang harus diangkut di tengah gurun Arab yang kering kerontang dan panas menyengat? Armada logistiknya tentu jauh lebih sibuk mengurusi pakan gajah daripada memikirkan strategi perang!

Maka tak heran, dalam riwayat disebutkan bahwa ketika rombongan baru sampai di pinggiran Makkah, Mahmud—si gajah utama—tiba-tiba mogok kerja. Dia bersumpah tak mau melangkah lagi. Kalau dihadapkan ke arah Yaman, dia mau berdiri. Tapi begitu diputar ke arah Makkah, dia langsung prok-prok mendudukkan badannya di tanah.

Banyak orang menganggap ini murni mukjizat hewan yang tahu kesucian Makkah. Tapi dari sudut pandang manajemen perjalanan, si Mahmud ini sebenarnya cuma kelelahan setengah mati, dehidrasi, dan kapok diajak jalan-jalan tanpa kejelasan uang makan yang layak!

Maka benar kata Al-Qur’an di ayat kedua: “Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia (taḍlīl)?”

Kata taḍlīl di sini artinya bukan cuma gagal, tapi benar-benar konyol dan tak berguna. Penggunaan gajah di medan gurun pasir itu dari awal memang keputusan taktis yang sangat konyol.

Debat Burung Ababil

Lalu, bagaimana cara Allah membereskan pasukan kepo yang serakah ini?

Di sinilah serunya membaca perbandingan tafsir antara ulama klasik dan ulama modern.

Ulama klasik seperti At-Tabari dan Ibn Katsir memegang erat narasi tradisional. Menurut mereka, Allah mengutus Ṭairan Abābīl—burung bersayap yang datang berbondong-bondong secara rombongan dari arah laut. Tiap burung membawa tiga butir batu Sijjīl (batu tanah liat yang dibakar, atau dalam bahasa Persia disebut Sanki-kil): dua batu dijepit di ceker kakinya, satu batu dipatuk di paruhnya. Stones ini ukurannya kecil, sebesar biji kacang tanah atau kacang adas, tapi efek daya hantamnya mengalahkan peluru kaliber besar. Sekali lempar, tembus dari kepala sampai ke bawah, membakar tubuh pasukan Abrahah sampai hancur luluh layaknya daun-daun yang digerogoti ulat (‘aṣfin ma’kūl).

Tapi tunggu dulu. Ketika zaman memasuki era modern dan rationalisme Islam mulai berkembang, Syaikh Muhammad Abduh—ulama besar Mesir—memberikan penafsiran yang bikin terperanjat pada zamannya, namun sangat masuk akal bagi manusia modern.

Abduh berpendapat: Ṭair dalam bahasa Arab itu artinya secara umum adalah “sesuatu yang terbang”. Tidak harus burung raksasa mitologi. Bisa jadi Ṭairan Abābīl itu adalah gerombolan mikroorganisme, nyamuk, atau lalat yang terbang berbondong-bondong membawa mikroba penyakit (jarāṡīm). Dan batu Sijjīl itu adalah kiasan dari material kering yang membawa kuman wabah penyakit yang sangat mematikan, yaitu wabah cacar air raksasa (juḍariy).

Coba bayangkan: Pasukan Abrahah yang sudah kelelahan, dehidrasi, dan lemas karena perjalanan ribuan kilometer, tiba-tiba dihantam wabah cacar ganas yang ditularkan lewat udara dan serangga!

Dalam hitungan hari, kulit mereka bentol-bentol, melepuh, mengelupas, dan daging mereka berjatuhan sedikit demi sedikit (qiṭ’atan-qiṭ’atan). Bukankah gambaran kulit melepuh dan daging berlubang-lubang berjatuhan ini sangat presisi menggambarkan ‘aṣfin ma’kūl—daun-daun hijau yang bolong-bolong digerogoti ulat lalu membusuk dan gugur ke tanah?

Bahkan dalam riwayat Ibn Ishaq yang dikutip Ibn Katsir, Abrahah sendiri tidak langsung mati di tempat. Dia sempat lari terbirit-birit kembali ke Yaman dengan tubuh yang terkelupas. Begitu sampai di San’a, barulah dadanya terbelah dan jantungnya keluar. Sungguh sebuah kematian yang sangat menyiksa dan tidak ada keren-kerennya sama sekali bagi seorang panglima perang yang merasa jumawa.

Pelajaran Penting untuk Kita Hari Ini

Membaca kembali kajian Surah Al-Fil ini memberikan kita sudut pandang baru yang lebih segar.

Pertama, kita belajar bahwa kejahatan yang dibungkus dengan kesombongan teknologi dan armada besar (dalam hal ini armada gajah) sebenarnya sangat rapuh. Abrahah merasa sudah paling kuat di dunia hanya karena membawa beberapa ekor gajah ke gurun pasir, padahal dia lupa perhitungan dasar kehidupan. Banyak orang zaman sekarang juga mirip Abrahah: merasa paling hebat karena punya modal besar, jabatan tinggi, atau pengikut banyak, sampai-sampai lupa bahwa ada hukum alam dan takdir Allah yang bisa meruntuhkan mereka cuma lewat hal-hal kecil tak terlihat—seperti kuman cacar atau nyamuk kecil.

Kedua, nama Surah Al-Fil ini sendiri bersifat Ijtihadi. Dinamakan Al-Fil bukan karena Al-Qur’an memuji kehebatan gajah, melainkan sebagai penanda sejarah bahwa ada peristiwa konyol yang pernah terjadi di tanah Arab, di mana sekelompok manusia mencoba merobohkan rumah Tuhan menggunakan hewan bongsor yang salah tempat.

Pada akhirnya, Surah Al-Fil bukan sekadar kisah pengantar tidur tentang burung ajaib yang melemparkan batu api. Surah Al-Fil adalah sindiran tajam bagi siapa saja yang berniat jahat dan sombong: bahwa Allah tidak perlu menciptakan senjata canggih untuk menghancurkan orang sombong. Cukup dengan membuat strategi mereka sendiri jadi tidak masuk akal, atau mengutus makhluk-makhluk kecil berukuran mikro yang terbang di udara, maka tuntaslah sudah kesombongan manusia.

Abrahah pulang tanpa hasil, gerejanya tetap sepi, bajunya terkelupas karena cacar, dan Ka’bah tetap berdiri kokoh sampai hari ini.

Pelajaran moralnya sederhana: Jangan pernah berak di tempat ibadah orang lain, dan kalau mau perang ke gurun pasir, tolong pikirkan baik-baik pakan gajahmu!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *