Cara Membuat Otak Cemerlang kata Dokter Ahli Otak

Kita ini sering kali bertingkah sok gagah. Merasa diri sebagai makhluk paling cerdas di muka bumi cuma gara-gara sanggup merakit roket ke Mars atau bikin aplikasi pesan antar makanan yang bisa mendatangkan soto ayam dalam tempo 20 menit. Tapi coba jujur pada diri sendiri: berapa kali dalam sehari Anda kehilangan kunci motor yang padahal sedang Anda pegang di tangan kiri? Atau berapa jam waktu hidup Anda yang nguap begitu saja cuma buat menggeser jempol di layar ponsel, menyaksikan orang asing berjoget dengan lagu yang diulang-ulang sampai bikin pusing?

Nah, di situlah letak komedinya kehidupan kita. Kita merasa hebat, padahal organ paling vital di dalam tempurung kepala kita—si otak yang bentuknya mirip kenyal-kenyalnya tahu putih itu—sering kita perlakukan bak kontrakan murah tanpa perawatan.

Beberapa waktu lalu, dr. Rian Keswani, seorang spesialis bedah saraf dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON), ngobrol panjang lebar di podcast SUARA BERKELAS. Obrolan itu bukan sekadar ceramah medis yang bikin mengantuk. Lebih dari itu, itu adalah cermin besar yang ditampar ke muka kita semua: betapa kita sering menganiaya otak sendiri, lalu heran kenapa hidup kita rasanya makin runyam, makin gampang cemas, dan makin pikun padahal umur baru memasuki kepala tiga.

Organ Paling Mewah Tapi Paling Jarang Diperiksa

Bayangkan Anda punya mobil mewah seharga miliaran rupiah. Apa yang Anda lakukan? Pasti ganti oli rutin, dicuci kinclong seminggu dua kali, kalau ada bunyi ‘kletek-kletek’ sedikit saja langsung dibawa ke bengkel resmi. Tapi bagaimana dengan otak?

Otak itu satu-satunya organ tubuh manusia yang tidak bisa ditransplantasi. Kalau jantung atau ginjal Anda bermasalah, dalam skenario paling ekstrem masih ada peluang—meski rumit—untuk diganti lewat donor. Otak? Jangan harap. Sekali otak Anda rusak total, selesai sudah cerita Anda sebagai manusia bernama Udin atau Jono. Anda tak bisa membeli otak second di FJB Facebook.

Ironisnya, kata dr. Rian, otak justru jadi organ yang paling jarang masuk dalam daftar medical check-up rutin. Orang rajin cek kolesterol, cek asam urat, cek kadar gula, tapi hampir tak pernah kepikiran untuk memeriksa kesehatan otaknya sendiri. Padahal, memeriksa otak itu tak melulu harus menunggu kepala dihantam migrain dahsyat. Kita bisa melakukan screening struktural lewat MRI, atau setidaknya memeriksakan fungsi saraf, pembuluh darah, bahkan berkonsultasi ke psikiater atau psikolog jika pikiran mulai terasa liar tak terkendali.

Kita terlalu menganggap otak sebagai mesin yang bakal otomatis sehat selamanya, padahal ia adalah jaringan rumit yang tiap detik bekerja keras menopang seluruh kebiasaan, kebodohan, dan kearifan hidup kita.

Seni Mengakali Otak yang Pembenci Beban Berat

Pernahkah Anda bertekad bulat di malam tahun baru: “Mulai besok, saya bakal olahraga 2 jam sehari, makan salad, dan membaca satu buku seminggu!” Lalu apa yang terjadi pada tanggal 2 Januari? Anda rebahan seharian sambil makan keripik kentang.

Mengapa itu terjadi? Apakah Anda tidak punya niat? Bukan. Masalahnya ada pada cara kerja otak Anda. Otak kita itu pada dasarnya menyukai tantangan kecil, tapi sangat membenci tantangan yang terlalu besar. Begitu Anda memberi target raksasa, otak akan merasa terancam, kebingungan, lalu memilih mode paralyzed alias lumpuh. Hasilnya? Malas yang tiada tara.

dr. Rian membocorkan rahasianya: mulailah dengan pendekatan bite-sized, alias potongan-potongan seukuran satu gigitan. Kalau Anda mau rutin olahraga, jangan langsung membayangkan angkat beban 50 kilogram di gym. Itu bikin otak kaget dan kapok. Mulailah dari target yang terlampau sepele sampai otak Anda tidak punya alasan untuk menolak: jalan kaki 5 menit. Kalau sudah terbiasa, naikkan jadi lari kecil. Baru setelah itu kepikiran ke gym.

Di sinilah pentingnya mencatat progres menggunakan habit tracker. Menjaga streak atau rentetan centang hijau di catatan itu memberikan sensasi kepuasan tersendiri bagi otak.

Lalu bagaimana kalau saat belajar hal baru kita merasa frustrasi luar biasa? Tenang, jangan berkecil hati. Ada pepatah bilang, “Every master was once a disaster.” Rasa frustrasi yang melilit kepala saat Anda belajar koding, belajar bahasa asing, atau belajar memotong kayu, sebenarnya adalah tanda bahagia. Itu tandanya otak Anda sedang dipaksa merenggang, membentuk jalur koneksi baru yang disebut neuroplastisitas. Otak Anda sedang bekerja keras beradaptasi dengan apa pun yang Anda ‘umpankan’ padanya—entah itu hal positif, maupun hal beracun.

Bahaya Video Pendek

Mari kita bicarakan kebiasaan kita sehari-hari: menggeser layar ponsel (scrolling). Apakah Anda sadar bahwa video durasi 15 detik di TikTok atau Reels adalah racun berbungkus gula bagi otak?

Ketika Anda menonton video pendek yang lucu atau mengejutkan, otak menyiramkan hormon dopamin secara instan. Enak? Jelas enak. Tapi dopamin instan itu punya harga mahal. Begitu pasokannya habis, timbul rasa hampa dan ‘haus’ yang menuntut Anda untuk terus menggeser layar mencari suntikan dopamin berikutnya. Ini persis seperti mekanisme kecanduan.

Dampaknya mematikan: rentang perhatian (attention span) kita menyusut drastis. Kita jadi tidak sanggup lagi membaca tulisan panjang atau menonton video berdurasi satu jam tanpa godaan membuka aplikasi lain tiap dua menit. Neuroplastisitas otak bekerja ke arah yang salah: ia melatih otak kita untuk jadi pikun pendek.

Efek samping lainnya adalah fenomena sering lupa. Lupa menaruh kunci rumah, lupa mematikan kompor, atau lupa nama orang yang baru disapa. Kita sering menyalahkan usia. “Ah, faktor U nih.” Padahal bukan! Itu terjadi karena kita hobi multitasking. Otak yang dipaksa membagi fokus tidak akan pernah menyimpan informasi ke dalam memori dengan benar karena hilangnya mindfulness (kesadaran penuh).

Belum lagi tren anak muda zaman sekarang yang suka self-diagnosing. Mengaku kena Brain Rot, mengklaim diri punya ADHD cuma gara-gara membaca satu postingan di media sosial. Ini berbahaya karena menciptakan confirmation bias dan self-labeling yang akhirnya membatasi potensi diri sendiri. Anda merasa sakit padahal Anda cuma kurang tidur dan terlalu banyak memotret makanan.

Stres kronis dari gaya hidup kacau ini juga memicu hormon kortisol yang melejit tinggi, memicu apa yang disebut brain fog atau otak berawan—kondisi di mana Anda merasa lemot, sulit menganalisis hal sederhana, dan linglung seharian.

Makanan yang Cocok dan Tidak Cocok Untuk Otak

Pernah dengar istilah gut-brain axis? Itu adalah jalur komunikasi dua arah antara usus dan otak. Apa yang masuk ke mulut Anda, secara langsung akan menentukan bagaimana cara otak Anda berpikir dan merasa.

Sayangnya, isi piring masyarakat modern hari ini didominasi oleh Ultra-Processed Food (UPF)—makanan yang sudah diolah sedemikian rupa hingga bentuk aslinya hilang ditelan pabrikasi. Makanan model begini merusak gut microbiome, yakni mikroba-mikroba baik yang bermarkas di saluran pencernaan kita. Ketika mikrobioma usus rusak, sinyal ke otak pun ikut kacau.

Musuh utama lainnya adalah gula. Makanan dan minuman tinggi gula menyebabkan lonjakan (spike) gula darah dan insulin secara mendadak. Jika dibiasakan, tubuh akan mengalami resistensi insulin. Ini bukan cuma pintu masuk menuju diabetes dan penyakit jantung, tapi juga memotong pasokan nutrisi penting menuju ke otak.

Bahkan, dr. Rian memberikan peringatan tegas: membatasi konsumsi gula tambahan adalah harga mati, sebab kadar gula yang terus-menerus tinggi di dalam darah dapat menyediakan bahan bakar yang mempercepat pertumbuhan sel-sel jahat, termasuk sel tumor otak.

Berlatih Otot

Sebagai dokter bedah saraf yang terbiasa memegang otak manusia, dr. Rian punya pengalaman pribadi yang hampir mencabut nyawanya. Beliau pernah terserang miokarditis—peradangan otot jantung akibat reaksi autoimun—yang menyebabkan gagal jantung kanan dan membuat paru-parunya terendam cairan. Kondisi yang jika hitung-hitungannya meleset sedikit saja, tuntas sudah riwayat beliau.

Namun, dr. Rian berhasil pulih total dalam waktu satu tahun. Apa rahasianya? Selain pertolongan medis, beliau memiliki “tabungan fisik” berupa massa otot yang sudah dilatih sejak usia muda.

Otot bukan sekadar buat gaya-gayaan di depan kaca agar terlihat gagah. Otot adalah organ terbesar dalam tubuh manusia yang bertugas menyerap glukosa dan menyimpannya dalam bentuk glikogen. Makin tua umur kita, tubuh akan mengalami sarkopenia atau penyusutan massa otot secara alamiah. Jika Anda tidak menabung massa otot di usia 20-an atau 30-an lewat latihan beban dan olahraga teratur, masa tua Anda bakal diwarnai dengan tubuh yang ringkih dan gampang roboh.

Manusia itu diciptakan untuk bergerak (movement). Berbaring terlalu lama—entah karena malas atau merasa sok sibuk bekerja di depan laptop tanpa jeda—akan membuat otot-otot tubuh mengalami atrophy (mengecil dan melemah), termasuk otot diafragma yang berguna untuk bernapas.

Lebih mengerikannya lagi, gaya hidup buruk yang kita pupuk hari ini—merokok, alkohol, konsumsi bahan kimia berbahaya—tidak cuma merusak tubuh kita saat ini. Gaya hidup berantakan itu sanggup merusak struktur DNA yang berpotensi memicu mutasi sel dan diwariskan sebagai bakat penyakit kepada anak dan cucu kita kelak. Dosa gaya hidup Anda, sayangnya, harus ditanggung oleh keturunan Anda.

Tidur, Tatap Muka, dan Cara Menenangkan Jiwa

Di tengah kegilaan dunia yang menuntut kita untuk selalu produktif 24 jam, tidur sering kali dianggap sebagai bentuk kemalasan. Padahal, tidur adalah proses biologis yang sangat krusial.

Saat Anda tidur nyenyak, otak tidak sedang mati mati rasa. Justru di saat itulah otak bekerja sebagai petugas kebersihan: merapikan memori, membuang sisa-sisa racun metabolik yang menumpuk seharian, dan merajut kembali sel-sel otot yang rusak. Tanpa tidur yang cukup, otak Anda tak beda jauh dengan TPA yang sampahnya meluap.

Selain tidur, otak manusia sebagai makhluk sosial sangat merindukan interaksi tatap muka secara langsung. Ngobrol lewat aplikasi pesan atau melototi wajah teman di layar Zoom tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan pertemuan fisik. Otak kita dirancang untuk membaca mikro-ekspresi wajah, nada suara, dan gestur tubuh secara langsung untuk memenuhi kebutuhan emosional biologisnya.

Lalu bagaimana jika rasa panik atau cemas mendadak menyerang di tengah rutinitas yang gila? dr. Rian menyarankan trik sederhana namun ampuh: atur napas. Mengontrol pernapasan secara lambat dan dalam adalah metode top-down control dari otak untuk memberi sinyal kepada sistem saraf otonom agar menurunkan detak jantung dan menenangkan pikiran yang sedang diamuk badai.

Jangan Mau Jadi Manusia Medioker

Pada akhirnya, hidup ini adalah tentang bagaimana kita mengukur kapasitas diri dan merespons lingkungan. Mengetahui batas kemampuan diri tidak datang dari bertapa di atas gunung, melainkan dari latihan terus-menerus dan kebiasaan melakukan refleksi pasca-mengerjakan sesuatu. Begitu pula saat menilai orang lain; intuisi tajam itu terbentuk dari akumulasi pengalaman panjang—apa yang disebut Daniel Kahneman sebagai thinking fast and slow.

Ketika dihadapkan pada lingkungan kerja yang toksik, dr. Rian memberikan sudut pandang yang sangat rasional. Anda punya tiga opsi bijak: bertahan dengan mindset positif jika mental Anda memang sekuat baja, pindah atau hijrah ke tempat lain yang lebih menghargai Anda, atau yang paling penting: lakukan evaluasi diri (self-assessment). Jangan-jangan, yang toksik selama ini bukan lingkungan Anda, melainkan diri Anda sendiri.

Dan jika suatu hari Anda merasa sangat malas untuk memulai kembali kebiasaan baik yang sempat terputus, pakailah trik pecah langkah. Malas ke gym? Niatkan saja untuk memakai sepatu dan berjalan sampai depan pintu gym. Nanti begitu tubuh sudah bergerak, energi untuk melangkah lebih jauh akan terpelantik dengan sendirinya.

Sebagai penutup, dr. Rian membagikan nasihat paling buruk yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya: “Jangan menonjol, jadilah orang yang medioker saja agar aman.”

Itu adalah ajakan untuk membusuk secara perlahan. Menjadi medioker tidak akan pernah mengubah apa pun dalam hidup Anda, apalagi memberi manfaat buat orang lain. Otak kita diberi kapasitas luar biasa, tubuh kita dirancang dengan sangat presisi. Maka, rawatlah otak Anda, latih otot Anda, jagalah makanan Anda, dan berusahalah untuk mencapai potensi terbaik di bidang apa pun yang sedang Anda tekuni hari ini.

Sebab hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan otak yang tumpul dan jempol yang sakau scrolling media sosial.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *