Kita Ini Cuma Manusia Gua yang Pegang iPhone
Mari kita mulai topik ini dengan sebuah pengakuan yang jujur, walau agak sedikit merendahkan martabat kita sebagai makhluk modern. Anda, saya, dan kita semua yang hari ini bisa memesan kopi susu literan lewat aplikasi ponsel pintar, pada dasarnya memiliki isi kepala yang tidak jauh berbeda dengan nenek moyang kita ratusan ribu tahun lalu. Bedanya, nenek moyang kita dulu sibuk memikirkan bagaimana caranya agar tidak diterkam harimau saat mencari buah beri, sementara kita hari ini sibuk memikirkan mengapa unggahan foto liburan teman di Instagram mendapatkan tanda suka (like) lebih banyak daripada foto kita.
Dalam sebuah obrolan yang renyah sekaligus menampar di podcast Ruang Temu Jalma #8, dr. Ryu Hasan membedah perkara ini dengan sangat jeli. Beliau mengingatkan sebuah fakta evolusioner: perilaku dan cara kerja otak manusia saat ini adalah hasil cetakan proses evolusi yang amat panjang. Desain cetakannya sudah selesai sejak manusia purba mulai mengenal api dan hidup bergerombol dalam kelompok pemburu-pengumpul.
Otak kita itu dirancang untuk bertahan hidup di alam liar yang serbanyata. Sialnya, kita hari ini hidup di era digital yang serbagaib.
Celakanya lagi, otak itu adalah organ yang sangat penurut sekaligus mekanis. Ia mengekspresikan sesuatu berdasarkan apa yang kita latih setiap harinya. Mengapa orang Jepang bisa begitu tertib mengantre dan menjaga kebersihan fasilitas publik, sementara kita di sini masih sering berebut naik kereta atau hobi membuang bungkus permen sembarangan? Dr. Ryu menegaskan, itu bukan karena orang Jepang lebih sering dicekoki nasihat atau petuah bijak mencerahkan. Bukan. Itu karena latihan kultural yang konsisten sejak mereka masih ingusan.
Nasihat, spanduk imbauan di pinggir jalan, atau khotbah yang berapi-api itu tidak mempan mengubah struktur ekspresi otak. Otak hanya peduli pada satu hal: latihan, latihan, dan latihan. Jika sejak kecil yang dilatih adalah ketidaktertiban, ya jangan heran kalau pas dewasa otaknya otomatis menjadi ahli dalam mencari celah untuk melanggar aturan.
Kelahiran Smartphone Penyebab “Overthinking”
Dr. Ryu kemudian menunjuk satu tahun krusial sebagai awal mula runtuhnya ketenangan jiwa manusia modern: tahun 2007. Itu adalah tahun di mana smartphone mulai merangsek masuk ke dalam saku celana kita dan mengubah jalannya sejarah peradaban. Sejak saat itu, pola komunikasi kita bergeser secara radikal. Kita berhenti mengobrol langsung dan beralih ke komunikasi tidak langsung yang termediasi oleh layar kaca sekepalan tangan.
Dari sinilah malapetaka kesehatan mental itu lahir, dengan Gen Z sebagai korban barisan terdepan. Kita mendadak menjadi makhluk yang sangat aneh. Bayangkan, bagaimana bisa otak purba kita dipaksa untuk merespons komentar atau unggahan lama dari orang asing, yang jaraknya ribuan kilometer, yang kita tidak tahu konteksnya, tidak tahu raut mukanya, dan tidak tahu apa niat aslinya? Otak kita kebingungan setengah mati memproses data abstrak ini. Hasilnya? Lonjakan depresi dan kecemasan meroket tajam.
Di sinilah kita perlu meluruskan satu istilah yang belakangan ini laku keras di kalangan anak muda: overthinking. Kalau Anda sedang murung di kafe, memandangi rintik hujan sambil memikirkan masa depan yang buram, Anda akan dengan keren berkata, “Duh, aku lagi overthinking nih.”
Kata dr. Ryu, mohon maaf, istilah overthinking itu sebenarnya cuma istilah karangan bebas yang estetik. Dalam kamus medis yang jujur, kondisi aslinya adalah kecemasan yang berlebihan alias anxiety disorder.
Kita harus bisa membedakan antara takut (fear) dan cemas (anxiety). Takut itu adalah respons biologis yang sehat terhadap ancaman nyata di depan mata. Kalau ada ular kobra di bawah kursi Anda, atau ada api yang mulai membakar gorden rumah, Anda takut lalu lari, itu normal. Otak purba Anda sedang bekerja menyelamatkan nyawa Anda.
Sementara cemas adalah kekhawatiran terhadap hantu yang belum tentu ada. Anda cemas jangan-jangan besok kiamat, jangan-jangan umur tiga puluh tahun belum punya rumah, jangan-jangan pacar Anda selingkuh padahal dia cuma sedang ketiduran. Kecemasan dalam porsi wajar itu sebetulnya modal biologis yang penting agar kita bisa membuat persiapan hidup. Tapi kalau dosisnya berlebihan dan dipelihara lewat asupan drama media sosial setiap detik, ia akan berubah menjadi racun yang pelan-pelan melumpuhkan kewarasan kita.
Ketika Logika Kita Kepentok Angka dan Cocoklogi
Ada satu bagian dari penjelasan dr. Ryu yang agak pahit untuk ditelan, terutama bagi kita yang bermukim di negara yang secara statistik rata-rata IQ masyarakatnya berada di bawah rata-rata dunia. Pahit, tapi mari kita hadapi dengan lapang dada. Akibat keterbatasan kognitif ini, banyak dari kita yang gagap dan gagal total dalam membedakan dua pasang konsep mendasar dalam hidup.
Pertama, kegagalan membedakan antara Possibility (kemungkinan) dan Probability (probabilitas).
Otak manusia secara alami memang hanya disetel untuk melihat possibility. Segalanya terasa mungkin. Contoh paling gampang adalah urusan judi online atau lotre. Apakah mungkin kita menang? Ya, mungkin saja (possibility). Namanya juga kemungkinan, peluangnya ada. Tetapi, otak kita tidak dilatih—atau malas—untuk menghitung probability: seberapa besar peluang nyatanya di atas kertas? Berapa banding berapa juta?
Masyarakat di negara-negara maju yang disiplin biasanya memiliki kemampuan prediksi masa depan yang lebih baik karena mereka terbiasa menghitung probabilitas secara rasional. Dan tebak apa dampaknya? Ketika masa depan bisa diprediksi dengan angka dan data yang jelas, tingkat kecemasan masyarakatnya otomatis menurun. Mereka tidak perlu memelihara kecemasan gaib karena hidup mereka berjalan di atas rel prediksi yang terukur.
Kedua, kegagalan membedakan antara Korelasi (Correlation) dan Sebab-Akibat (Causation).
Ini adalah penyakit menahun bangsa kita: hobi melakukan cocoklogi. Hanya karena dua hal terjadi secara bersamaan, kita langsung menyimpulkan bahwa hal yang satu adalah penyebab dari hal yang lain. Dr. Ryu memberikan contoh yang sangat menohok: ungkapan bahwa “bahagia itu sehat”.
Benar bahwa orang yang sehat biasanya merasa bahagia, dan orang yang bahagia cenderung memiliki imun yang baik (itu korelasi). Tetapi, bahagia bukanlah “obat” yang bisa menggantikan fungsi antibiotik atau kemoterapi untuk menyembuhkan penyakit medis fisik yang nyata (itu sebab-akibat). Anda tidak bisa menyembuhkan patah tulang atau infeksi paru-paru akut hanya dengan menyuruh pasiennya “banyak-banyak tersenyum dan berpikir positif”. Itu namanya menganiaya logika.
Selamatkan Otak Kita dengan Buku, Bukan Video 15 Detik
Lalu, kalau otak kita sudah telanjur ruwet, cemas, dan malas berpikir kognitif seperti ini, apa obatnya? Apakah kita harus pergi bertapa di gunung atau membeli suplemen otak yang iklannya berseliweran di internet?
Ternyata tidak sesulit itu. Solusi praktis dari dr. Ryu sangat sederhana namun sekaligus sangat berat bagi generasi masa kini: kembalilah membaca buku. Ya, buku fisik yang berisi tulisan dan narasi panjang yang membosankan itu.
Melatih diri membaca narasi panjang adalah satu-satunya cara berbiaya murah untuk meningkatkan kemampuan kognitif otak kita. Lewat tulisan yang runut, otak dipaksa, dilatih, dan dibiasakan untuk membedakan mana yang merupakan probabilitas dan mana hubungan sebab-akibat yang sahih.
Ada data menarik yang dipaparkan: tingkat minat baca atau literasi di suatu negara itu berbanding lurus—alias berkorelasi positif—dengan indeks kebahagiaan masyarakatnya. Orang-orang di negara Skandinavia itu bahagia bukan cuma karena tunjangan sosialnya gede, tapi karena isi kepala mereka tenang dan teratur berkat kebiasaan membaca yang tinggi.
Sebaliknya, apa yang kita lakukan hari ini? Dari pagi sampai malam, kita dengan sukarela menyerahkan leher kita untuk dicekik oleh konten video pendek seperti TikTok atau Instagram Reels. Kita merasa terhibur, padahal tanpa kita sadari, tontonan instan itu sedang mengikis habis kemampuan attention span kita.
Keterampilan membaca fokus kita hancur lebur. Kita menjadi manusia yang tidak tahan membaca tulisan yang panjangnya lebih dari tiga paragraf. Kalau ada tulisan agak panjang sedikit di media sosial, komentar kita langsung ketus: “Kepanjangan, malas baca, langsung intinya aja apa?”
Bagaimana mungkin kita bisa memahami kerumitan hidup dan mengurai benang kusut persoalan bangsa kalau membaca argumen sepanjang seribu kata saja otak kita sudah menyerah sambil ngos-ngosan?
Ancaman Manusia Robot di Balik Jempol yang Terlalu Cepat
Pada akhirnya, semua kerusakan kognitif ini bermuara pada satu hal: matinya kecerdasan emosional dan empati. Dr. Ryu mendefinisikan kecerdasan emosional dengan sangat membumi, yaitu sebuah kondisi di mana emosi kita tidak terlalu sering membajak rasionalitas kita. Memang benar, 99% kehidupan manusia itu digerakkan oleh emosi. Kita membeli barang karena emosi, kita memilih pemimpin karena emosi, kita jatuh cinta pun karena emosi. Rasio itu cuma porsi kecil yang bertugas memberi stempel pembenaran. Namun, jika emosi dibiarkan memegang kendali penuh tanpa sensor rasionalitas, kita akan menjadi makhluk yang liar dan merusak.
Empati pun demikian. Ia membutuhkan emosi yang hidup, bukan kepura-puraan. Sayangnya, teknologi hari ini justru sedang melatih kita untuk menjadi robot nir-emosi yang mekanis.
Coba tengok apa yang terjadi di grup-grup WhatsApp kita hari ini. Ketika ada kabar duka atau berita bahagia, apa yang kita lakukan? Kita tinggal menekan tombol copy-paste teks ucapan duka atau selamat yang sudah template dari anggota grup sebelumnya, lalu mengirimkannya kembali. Kita bahkan sering kali mengirimkan ucapan “Turut berduka cita” tanpa benar-benar membaca siapa yang meninggal, kapan meninggalnya, dan apa hubungannya dengan kita. Kita melakukannya secara otomatis, demi menggugurkan kewajiban sosial belaka.
Tindakan mekanis seperti ini, menurut dr. Ryu, pelan-pelan sedang melatih otak kita untuk kehilangan rasa empati yang sejati. Kita menjadi mati rasa.
Sebagai penutup, dr. Ryu menawarkan sebuah latihan spiritual-biologis yang sangat konkret, murah, dan bisa kita praktikkan detik ini juga untuk menyelamatkan otak kita di era digital. Latihannya sederhana saja: tahan jempol Anda selama 10 sampai 20 detik.
Ya, cuma 10-20 detik saja. Ketika Anda melihat sebuah unggahan yang memancing amarah, sebuah berita yang bombastis, atau sebuah cuitan yang rasanya ingin langsung Anda maki-maki, jangan langsung mengetik. Tahan jempol Anda. Tarik napas. Berikan waktu bagi bagian otak rasional Anda untuk bangun, mengucek mata, dan menganalisis situasi sebelum emosi telanjur membajak seluruh kesadaran Anda.
Dunia tidak akan kiamat hanya karena Anda terlambat memberikan komentar di media sosial selama dua puluh detik. Namun, dengan menahan jempol sesingkat itu, Anda sedang melatih otak purba Anda agar tidak gampang kagetan, tidak gampang cemas, dan yang paling penting: menjaga agar kita tetap menjadi manusia seutuhnya, bukan sekadar robot bernyawa yang dikendalikan oleh algoritma.
