Bedah Buku Sapiens Volume 2: Hidup Terpenjara Karena Memilih Bertani

Ada satu jenis buku yang kalau dibaca di warung kopi sambil menyeruput kopi hitam dingin, bisa bikin kita mendadak terdiam dan memandangi cangkir dengan tatapan kosong. Bukan karena kopinya keasinan, melainkan karena isi bukunya mendadak merobohkan seluruh keyakinan dasar kita tentang hidup. Buku itu adalah Sapiens Grafis Volume 2 karya Yuval Noah Harari.

Kalau di volume pertama kita diajak jalan-jalan santai sambil sesekali melirik nenek moyang kita yang masih telanjang memegang batu, di volume kedua ini Harari tidak memberi kita ampun. Otak kita dipaksa bekerja ekstra keras. Ceritanya tidak lagi sekadar “dulu ada manusia kuno, terus mereka belajar bikin api, tamat.” Tidak begitu. Harari bermain di tataran filsafat yang telanjang dan jujur.

Keunggulan utama Harari sejujurnya bukan pada deretan data sejarah yang kering. Kelihaian Harari yang paling memikat—sekaligus bikin jengkel—adalah kemampuannya memutarbalikkan logika secara telak. Dia memamerkan paradoks demi paradoks sejarah tepat di depan hidung kita. Dia dengan sangat tenang memisahkan mana hal yang betul-betul berasal dari hukum alam (berbasis sains objektif), dan mana hal yang sejatinya cuma khayalan kolektif yang kita sepakati bersama agar tidak saling bacok di jalanan.

Dan saat kita menyadari mana yang alamiah dan mana yang cuma “karangan”, di situlah rasa geli sekaligus cemas itu muncul.

Bercocok Tanam Malah Jadi Hidup Terpenjara

Coba bayangkan kehidupan nenek moyang kita sekitar 12.000 tahun yang lalu. Selama 2 juta tahun lamanya, spesies manusia itu hidup sangat bebas. Mereka nomaden, berburu hewan kalau lapar, meramu buah-buahan kalau haus, lalu tidur di bawah langit malam. Kalau di suatu daerah buahnya habis atau hewannya kabur, ya tinggal angkat kaki. Kiprah! Bebas tanpa cicilan, tanpa urusan bayar listrik, dan tanpa perlu repot memikirkan masa depan.

Tapi tiba-tiba, ada satu ide gila yang muncul: “Bagaimana kalau kita punya cadangan makanan sendiri saja supaya tidak perlu mondar-mandir?”

Niatnya sungguh mulia dan rasional. Siapa yang tidak ingin hidup berkecukupan dan selalu punya stok makanan di dapur? Maka dimulailah apa yang selama ini dibangga-banggakan dalam buku pelajaran sekolah sebagai “Revolusi Pertanian”. Manusia mulai menetap dan menanam rumput-rumputan, salah satunya gandum.

Di sinilah letak humor gelap sejarah yang disingkap Harari. Kita selama ini merasa bahwa manusialah yang berhasil menundukkan dan mendomestikasi gandum. Padahal, kalau mau jujur melihat dari sudut pandang gandum, justru gandum-lah yang berhasil mendomestikasi manusia!

Coba hitung. Gandum tidak mau tumbuh di tanah yang banyak batunya, maka manusia harus membongkok seharian memunguti batu dari ladang. Gandum tidak mau berbagi nutrisi dengan rumput liar, maka manusia harus mencabuti rumput liar sampai pinggangnya pegal linu. Gandum haus, maka manusia harus mengangkut air berember-ember dari sungai. Gandum rentan dimakan serangga dan diserang penyakit, maka manusia harus berjaga siang dan malam.

Manusia yang tadinya penjelajah tangguh yang ototnya luwes, mendadak berubah menjadi makhluk berpinggang encok yang mendekam di ladang gandum dari terbit matahari sampai terbenam. Belum lagi hewan-hewan seperti ayam, sapi, dan babi yang juga ikut dikandangkan. Kita merasa sedang menjadi raja atas alam, padahal kita baru saja menandatangani kontrak menjadi pelayan abadi sebatang rumput bernama gandum.

Semakin Makmur, Semakin Buntu

Tujuan awal bertani tadi kan sederhana: ingin hidup lebih mudah dan punya cadangan makanan. Tapi, manusia selalu punya bakat alami untuk membuat masalah baru dari solusi yang baru ditemukannya.

Ketika kehidupan menetap dimulai dan stok gandum melimpah, jumlah anak dalam keluarga pun melonjak pesat. Lha wong tidak perlu menggendong bayi keliling hutan lagi, ya bertambah lah populasinya. Tapi masalahnya, semakin banyak mulut yang harus diberi makan, semakin luas pula ladang yang harus dibuka. Dan semakin luas ladang, semakin memeras keringat pula kerja para petani. Bukannya makin santai, manusia justru makin bonyok bekerja.

Dari ladang gandum ini pula lahir konsep yang bernama Hak Milik.

Dulu saat masih berburu-meramu, kalau ada pohon mangga, ya dipetik bersama. Begitu ada ladang bertani, muncul garis batas: “Ini tanah saya, itu tanah kamu. Jangan coba-coba ambil gandum saya!”

Ketika konsep milik pribadi lahir, maka lahir pula rasa cemas. Cemas ditipu, cemas dicuri, cemas diserang tetangga. Maka meledaklah konflik dan kekerasan demi mempertahankan harta benda. Dan tidak berhenti di situ, gagasan “memiliki” ini merembet ke hal yang lebih mengerikan: merasa bisa memiliki manusia lain. Lahirlah sistem perbudakan dan subordinasi gender.

Di tengah kekacauan itu, muncul sekelompok orang cerdik yang melihat peluang. Mereka ini tidak ikut mencangkul di ladang yang panas, tidak pernah kena encok, tapi selalu mendapat porsi gandum paling besar dan paling lezat. Siapa mereka? Ya para kepala suku, elit politik, dan raja-raja kuno yang pandai bersolek.

Inilah paradoks terbesar Revolusi Pertanian. Manusia berniat mencari kenyamanan, tetapi upaya itu justru memicu perubahan raksasa yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya: sebuah sistem kehidupan yang lebih keras, penuh ketimpangan, dan sarat beban.

Dongeng Untuk Menyatukan Umat Manusia

Nah, pertanyaan besarnya: kalau hidup bertani itu sejatinya makin menekan dan penuh ketimpangan, bagaimana caranya jutaan manusia yang tidak saling kenal mau hidup berdampingan di kota atau kerajaan tanpa saling bunuh setiap lima menit sekali?

Jawabannya adalah: Mitos. Atau istilah kerennya dari Harari: Tatanan Khayalan (Imagined Order).

Manusia punya satu keunggulan biologis yang tidak dimiliki oleh simpanse atau singa, yaitu kemampuan untuk percaya pada hal-hal yang sebenarnya tidak ada wujud fisiknya. Simpanse tidak akan mau menyerahkan pisangnya kepada simpanse lain hanya karena diiming-imingi pahala di “surga simpanse” setelah mati. Tapi manusia? BIsa banget!

Berkat mitos—cerita tentang dewa-dewi, darah biru para raja, atau mandat langit—ribuan hingga jutaan manusia sanggup disatukan dalam satu jejaring kerja sama yang raksasa. Kekaisaran Babilonia, Dinasti Qin, hingga Kekaisaran Romawi tegak berdiri bukan karena semua orang di dalamnya saudara kandung, melainkan karena mereka menyepakati cerita fiksi yang sama.

Namun, mari jangan naif. Jejaring kerja sama manusia sejak dulu hampir tidak pernah berdiri di atas landasan yang egaliter atau penuh cinta kasih. Mayoritas dibanguan di atas penindasan, hierarki, dan eksploitasi yang dilegalkan oleh mitos.

Kalau kita tengok hari ini, tatanan khayalan itu bentuknya sudah makin canggih. Sistem hukum, batas negara, agama institutional, hingga lembaran kertas bernilai yang kita sebut uang atau kapitalisme—semuanya adalah tatanan khayalan. Uang kertas di dompet kita itu sejatinya cuma kertas bergambar. Dia punya nilai bukan karena atom-atom di dalamnya mengandung energi gaib, melainkan karena kita semua (dari tukang bakso sampai Presiden) sama-sama percaya bahwa kertas itu ada nilainya.

Sistem ini adalah norma sosial yang disepakati bersama agar masyarakat bisa berinteraksi dan bertransaksi tanpa harus saling curiga setiap saat.

Resep Bertahan Hidupnya Sebuah Fiksi

Lantas, bagaimana caranya agar sebuah tatanan khayalan—yang sejatinya cuma ciptaan pikiran manusia—bisa bertahan ratusan bahkan ribuan tahun tanpa dicurigai sebagai “kebohongan”? Menurut Profesor Harari, ada dua resep utama di dapur sejarah:

  1. Jangan Pernah Mengaku Kalau Itu Ciptaan ManusiaTatanan tersebut harus disajikan sebagai kenyataan objektif yang mutlak. Jangan bilang, “Ini aturan yang kemarin kami susun sambil ngopi di balai desa.” Bukan begitu cara mainnya! Harus bilang, “Ini adalah titah Dewa Agung,” atau “Ini adalah Hukum Alam yang tidak bisa diubah,” atau “Ini adalah takdir Manusia Terpilih.” Begitu ada stempel gaib atau alamiah, rakyat bakal sungkem dan takut melanggar.
  2. Doktrin Berkelanjutan Sejak OrokTatanan khayalan ini harus diajarkan terus-menerus. Dijejalkan lewat cerita sebelum tidur, sistem pendidikan, dongeng rakyat, hingga norma kesopanan harian. Sejak bayi baru lahir sampai orang tua mendekati ajal, cerita itu diulang-ulang sampai manusia merasa bahwa aturan main tersebut memang sudah dari sononya begitu.

Menjaga Waras di Antara Dua Ujung Ekstrem

Sifat tatanan khayalan ini sebetulnya dinamis. Karena dia buatan manusia, maka pada prinsipnya dia bisa diubah, dikoreksi, atau bahkan ditulis ulang seiring bertambahnya umur peradaban. Masalahnya, manusia sering kali terjebak di dua ujung ekstrem yang sama-sama berbahaya.

Ekstrem pertama adalah Nihilisme Total. Kalau manusia tidak percaya lagi pada apa pun—tidak percaya hukum, tidak percaya negara, tidak percaya kebaikan, tidak percaya uang—maka tatanan sosial akan serta-merta runtuh. Yang terjadi adalah kekacauan, hukum rimba, dan penderitaan massal karena tidak ada lagi pijakan bersama.

Ekstrem kedua adalah Fanatisme Obsesif. Ini kondisi ketika manusia percaya pada suatu cerita atau mitos secara membabi buta. Menganggap kisahnya paling benar, paling suci, dan paling mutlak. Akibatnya? Diskriminasi, perang saudara, pembantaian, dan kekerasan atas nama membelakangi “fiksi” yang diyakininya.

Lalu di mana posisi kita? Di sinilah fungsi politik dan pikiran yang sehat dituntut untuk bekerja.

Politik yang sehat sejatinya bukanlah panggung sirkus saling sikut berebut kursi. Fungsi politik yang paling mendasar adalah mencari titik keseimbangan di antara dua ekstrem tadi. Politik harus berani menjadi penguji yang cerewet dan senantiasa bertanya secara kritis:

“Apakah saat ini ada manusia yang sedang menderita, tertindas, atau dikorbankan demi mempertahankan mitos, fiksi, atau kisah yang sedang kita percayai ini?”

Jika jawabannya “ya”, maka cerita itu harus direvisi.

Sebab pada akhirnya, gandum yang dulu kita tanam, tatanan hukum yang kita susun, hingga negara yang kita banggakan, semuanya dibuat untuk melayani kehidupan manusia—bukan sebaliknya, manusia yang dikorbankan untuk melayani imajinasi buatan pikirannya sendiri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *