Pernahkah Anda membayangkan sebuah situasi yang sangat absurd, sekaligus bikin dada sesak: seorang pria berusia 46 tahun tinggal bersama jenazah ibunya selama lebih dari setahun? Bukan karena ia seorang pembunuh berdarah dingin. Bukan pula karena ia sedang melakoni ritual ilmu hitam. Pria bernama Hisataka ini cuma seorang hikikomori di Jepang. Ia begitu lama mengurung diri di dalam kamar sampai-sampai ketika ibunya—satu-satunya tempat ia menggantungkan nyawa—meninggal dunia, Hisataka bingung harus berbuat apa. Keluar rumah untuk melapor ke RT setempat saja ia tidak tahu caranya. Maka, dibiarkannya saja sang ibu membatu di sudut rumah.
Membaca cerita Hisataka, reflek pertama kita mungkin mengurut dada sambil membatin: Lho, kok ada orang segoblok dan sekonyol itu?
Tapi tunggu dulu. Jangan buru-buru menghakimi dengan kacamata warga lokal kita yang gemar berkumpul, ronda malam, atau sekadar nongkrong di poskamling sambil main gaple. Kasus Hisataka ini bukan sekadar cerita horor dari Negeri Sakura. Ini adalah puncak gunung es dari sebuah penyakit zaman yang sedang menggerogoti dunia modern: fenomena mengurung diri atau hikikomori.
Ketika Menjadi Manusia Normal Terlalu Mahal
Di Jepang, jumlah orang seperti Hisataka ini bukan cuma satu-dua orang yang bisa kita anggap sebagai “produk gagal” keluarga. Angkanya sangat fantastis: sekitar 1,46 juta jiwa! Dan yang bikin makin merinding, separuh dari mereka berada di rentang usia 40 hingga 64 tahun. Ini bukan lagi soal anak remaja yang ngambek tidak dibelikan konsol gim terbaru, melainkan orang-orang dewasa yang seharusnya sedang produktif-produktifnya.
Kenapa orang bisa sampai memilih bertapa di dalam kamar bertahun-tahun?
Jawabannya sederhana tapi menyakitkan: hidup di luar sana sudah terlalu mahal, keras, dan membingungkan. Generasi Baby Boomer dulu mungkin masih bisa menikmati era di mana lulus sekolah langsung dapat kerja, gaji cukup buat beli rumah, dan pensiun dengan tenang. Tapi buat generasi Milenial dan Gen Z? Boro-boro beli rumah, bayar sewa kamar indekos di pinggiran kota saja sudah bikin napas megap-megap.
Dunia modern menuntut kita untuk selalu sukses, tampil prima di media sosial, punya karier mentereng, dan terus-menerus berinteraksi. Ketika seseorang gagal memenuhi standar itu berulang kali—dihantam resesi, PHK, atau trauma sosial—kamar tidur yang sempit tiba-tiba berubah menjadi benteng pertahanan paling aman di dunia. Di dalam kamar, tidak ada bos yang memarahi, tidak ada tagihan yang mengejar, dan tidak ada tetangga yang bertanya, “Kapan nikah?” atau “Kerja di mana sekarang?”
Bukan Cuma Urusan Pria Gamer
Ada stereotip yang agak menyesatkan soal hikikomori ini. Kalau mendengar kata “orang yang ngurung diri di kamar”, bayangan kita biasanya langsung tertuju pada pria muda yang kamarnya berantakan, bertelanjang dada, dan matanya merah karena main gim online 20 jam sehari.
Padahal, kenyataan di lapangan berkata lain. Hampir separuh dari populasi hikikomori di Jepang ternyata adalah perempuan. Bedanya, para perempuan ini sering kali “tak terlihat”. Di mata masyarakat yang masih kental patriarkinya, seorang perempuan yang cuma diam di rumah kerap dianggap sebagai “anak gadis yang berbakti” karena membantu mengurus orang tua yang makin renta. Media tidak melirik mereka, tetangga tidak menganggap ada yang aneh. Padahal secara mental dan sosial, mereka sama terisolasinya. Sama-sama terputus dari dunia luar, sama-sama hidup dalam kesendirian yang sunyi.
Dan jangan kira ini cuma penyakitnya orang Jepang yang memang kenal dengan budaya kerja yang ekstrem. Di Amerika Serikat, Inggris, bahkan mungkin di sekitar kita, gejala ini mulai menjamur. Anak-anak muda yang depresi pasca-pandemi, melarat secara finansial, dan tidak punya harapan akan masa depan, akhirnya memilih jalan paling gampang: tidak usah keluar rumah sama sekali. Toh, tinggal dengan orang tua jauh lebih hemat ketimbang nekat hidup mandiri tapi berujung jadi gelandangan.
Kemajuan Teknologi dan Sangkar Emas Digital
Di zaman dulu, kalau orang mengurung diri di kamar selama seminggu saja, dia pasti akan mati kelaparan atau setidaknya mati gaya karena bosan setengah mati. Tapi hari ini? Teknologi telah menyediakan “sangkar emas” yang luar biasa nyaman.
Internet, laptop, dan ponsel pintar membuat kita tidak perlu lagi melangkah keluar rumah untuk bertahan hidup. Mau makan? Tinggal pencet aplikasi. Mau hiburan? Ada jutaan film dan gim. Mau kerja? BISA work from home. Bikin teman? Ada media sosial dan forum anonim.
Teknologi berpura-pura menjadi penolong, padahal sebenarnya ia adalah candu yang mengunci pintu kamar dari dalam. Ia memberi kita ilusi interaksi tanpa risiko ditolak atau disakiti secara fisik. Lama-kelamaan, otot-otot sosial kita menjadi lumpuh karena jarang dipakai. Keluar rumah untuk menyapa tetangga atau membeli beras di warung kelontong mendadak menjadi sebuah misi yang sangat menakutkan, seolah-olah kita sedang disuruh berjalan di atas tali di antara dua gedung bertingkat.
Bom Waktu yang Siap Meledak
Masalahnya, kenyamanan di dalam sangkar digital ini punya tanggal kadaluarsa. Dan tanggal kadaluarsa itu bernama kematian orang tua.
Mayoritas para hikikomori bergantung penuh secara finansial pada pensiunan orang tua mereka yang berasal dari generasi Baby Boomer. Tapi, manusia kan tidak ada yang abadi. Ketika orang tua mereka meninggal satu per satu—seperti yang dialami Hisataka—jaring pengaman itu hancur berkeping-keping.
Bayangkan ribuan atau jutaan orang setengah baya yang puluhan tahun tidak pernah bekerja, tidak punya tabungan, tidak punya jaringan pertemanan, dan tidak punya keterampilan sosial, tiba-tiba dilempar keluar ke dunia nyata. Ketika rumah keluarga terpaksa dijual untuk melunasi utang atau biaya perawatan rumah sakit, ke mana mereka akan pergi? Ini bukan lagi sekadar krisis psikologis individu, melainkan bom waktu kemiskinan massal yang siap meledak di depan muka pemerintah.
Solusi Setengah Hati dan Kebutuhan Kasih Sayang
Beberapa negara mulai panik dan mencoba mencari jalan keluar. Korea Selatan, misalnya, mencoba memberikan tunjangan uang bulanan bagi remaja yang mengasingkan diri agar mereka mau keluar kamar dan mengikuti konseling. Di Jepang, sempat ada fenomena unik yang disebut program “Rent a Sister”. Pemerintah atau lembaga swasta menyewa wanita-wanita muda penyabar untuk mendatangi rumah para hikikomori, mengetuk pintu kamar mereka secara berkala, dan mengajak mereka mengobrol perlahan-lahan sampai mereka mau melangkah keluar.
Usaha-usaha ini tentu saja niatnya baik dan patut diapresiasi. Tapi kalau boleh jujur, solusi semacam itu ibarat menempelkan plester kecil pada luka tembak di dada.
Mengeluarkan seseorang dari kamar tidur itu mudah. Yang sulit adalah memperbaiki sistem dunia di luar kamar itu sendiri. Selama harga rumah tetap tidak terjangkau, dunia kerja tetap menyiksa dan menuntut tanpa batas, serta masyarakat masih hobi menghakimi orang-orang yang gagal atau lambat, maka orang-orang akan selalu menemukan alasan untuk kembali bersembunyi di balik pintu kamar yang terkunci.
Fenomena hikikomori ini pada akhirnya adalah cermin besar bagi kita semua. Ia menegur kita bahwa kemajuan zaman, megahnya pencakar langit, dan canggihnya kecerdasan buatan tidak ada artinya jika kita gagal menciptakan dunia yang cukup ramah bagi manusia-manusia yang lelah. Sebab, tidak ada orang yang lahir ke dunia ini dengan cita-cita ingin membiarkan jenazah ibunya membusuk di sudut rumah. Mereka hanya orang-orang yang terlalu takut pada dunia luar, dan celakanya, dunia luar memang kerap memberi mereka alasan untuk takut.
