Alasan Kita Sering Burnout dalam Pekerjaan

Di zaman sekarang, kata burnout itu sudah meluncur dari mulut orang-orang perkotaan seringan kata mendoan di warung kopi. Sedikit-sedikit merasa burnout. Buka laptop dua jam, mengeluh burnout. Ditegur atasan karena laporan acak-adakan, langsung pasang status Instagram berisi petikan kata bijak tentang toxic workplace dan burnout.

Tapi tunggu dulu. Apakah kita ini benar-benar capek setengah mati gara-gara tumpukan berkas di meja kantor?

Dalam podcast Suara Berkelas episode #209, psikolog Analisa Widyaningrum membedah fenomena ini dengan sangat presisi. Beliau membongkar sebuah kenyataan yang agak menampar: burnout yang diidap banyak orang Indonesia itu sering kali bukan bersumber dari beban pekerjaannya, melainkan dari ekspektasi lingkungan di sekelilingnya. Dari bayang-bayang orang tua, tuntutan keluarga besar, dan standar sosial yang sudah dicekokkan ke kepala kita sejak masih ingusan.

Masyarakat kita ini kan memelihara budaya kolektivisme yang kental luar biasa. Di satu sisi, kolektivisme itu hangat—kalau ada tetangga hajatan, semua ikut rewang. Tapi di sisi lain, budaya ini kerap kali berubah menjadi monster yang mencekik. Kita dipaksa hidup untuk memenuhi cetak biru milik orang lain. Umur sekian harus punya mobil, umur sekian harus punya rumah dua lantai, dan kalau Lebaran mudik, penampilan harus terlihat sukses di depan paman dan bibi.

Akhirnya apa? Banyak orang membanting tulang, mengambil lemburan tanpa henti, bahkan nekat terjerat utang pinjaman online (pinjol) yang bunganya mekar bagaikan bunga sakura di musim semi. Semua itu dilakukan bukan karena mereka mencintai pekerjaannya, melainkan demi membiayai gengsi dan membungkam mulut orang lain. Kebutuhan ekonomi dan jeratan pinjol inilah yang kemudian menjadi biang kerok utama burnout. Kita capek bukan karena bekerja, tapi karena sibuk berpura-pura menjadi orang kaya di hadapan orang-orang yang sebetulnya juga tidak terlalu peduli pada kita.

Jangan Bawa Ransel Masa Lalu ke Meja Kantor

Ada satu istilah menarik yang dibahas Analisa: personal baggage alias bagasi emosional.

Bayangkan setiap orang berjalan ke mana-mana dengan menggendong ransel besar di punggungnya. Ransel itu berisi luka masa kecil, pola asuh orang tua yang salah, rasa tidak dicintai, atau kenangan pahit di masa lalu. Begitu masuk ke dunia kerja, ransel itu tidak ditinggalkan di parkiran, tapi tetap digendong masuk ke dalam bilik kantor.

Akibatnya, ketika atasan memberi kritik yang sebetulnya murni urusan profesional—misalnya: “Ini font-nya kekecilan, tolong diganti”—si karyawan yang menggendong bagasi emosional penuh luka mendadak merasa diserang secara personal. “Wah, si bos benci sama saya,” atau “Bos ini sama otoriternya kayak bapak saya dulu.”

Ini yang bikin dunia kerja jadi sangat melelahkan. Kita sering kali gagal membedakan mana luka masa lalu yang belum sembuh dan mana tuntutan profesionalisme.

Tentu saja, punya trauma masa lalu itu manusiawi dan menyakitkan. Tapi menjadikan trauma sebagai benteng tameng untuk memaklumi sikap ketidakprofesionalan di tempat kerja adalah tindakan yang kekanak-kanakan. Atasan dibayar perusahaan untuk mengejar target, bukan untuk menjadi terapis kesehatan mentalmu. Kalau memang ransel emosionalmu terlalu berat, bawalah ke ruang konseling psikolog, jangan dilimpahkan ke rekan kerja yang juga sama-sama sedang kelimpungan mengejar cicilan.

Menjadi Aktor Utama dan Seni Berhenti Jadi Korban

Lalu siapa yang harus bertanggung jawab atas luka-luka masa kecil yang bikin hidup kita berantakan itu? Orang tua kita? Mantan pacar? Lingkungan sekolah yang penuh bullying?

Analisa Widyaningrum memberi penegasan yang sangat dewasa: trauma masa kecilmu mungkin memang bukan salahmu, tapi pemulihannya adalah 100% tanggung jawabmu sendiri sebagai orang dewasa.

Selama kita masih gemar menempatkan diri sebagai korban (victim mentality), selama itu pula kita akan stagnan di tempat. Sangat gampang untuk menunjuk hidung orang tua dan berkata, “Saya jadi pemarah begini ya karena dulu Ibu sering memarahi saya!” Enak rasanya melempar kesalahan pada orang lain, karena kita jadi punya alasan untuk tidak berubah.

Tapi begitu kita memasuki usia dewasa, permainan berubah. Kita harus mengambil alih kemudi, bertindak sebagai aktor utama dalam hidup sendiri. Langkah pertamanya adalah menyadari (aware) luka itu, lalu melakukan proses yang dinamakan reparenting—menjadi orang tua yang bijak bagi diri sendiri.

Reparenting artinya memberi kasih sayang, pengertian, dan kedisiplinan pada diri sendiri yang dulu tidak kita dapatkan sewaktu kecil. Kalau dulu orang tuamu hobi membanding-bandingkanmu dengan anak tetangga, sekarang sebagai orang dewasa, belajarlah untuk berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain. Jangan terus-terusan mengulangi pola asuh yang salah itu kepada dirimu sendiri, apalagi merembet ke anak-anakmu kelak. Putus mata rantainya di dirimu.

Layar Ponsel yang Bikin Sepi dan Pernikahan yang Kehilangan Arah

Di era jaringan internet berkecepatan tinggi ini, manusia justru mengalami krisis koneksi yang paling parah sepanjang sejarah. Kita ini sibuk mengumpulkan validasi dari orang-orang asing di media sosial. Suka tersenyum sendiri kalau unggahan kita disukai ribuan orang, tapi mendadak murung kalau jumlah penonton cerita kita menurun.

Mencari validasi dari jempol orang lain itu bagaikan minum air laut: makin diminum, makin haus. Kita kehilangan fokus pada nilai-nilai dasar diri sendiri hanya demi menyenangkan algoritma dan ekspektasi penonton layar. Analisa menyarankan agar kita mulai rajin melihat “kaca spion”—melakukan refleksi diri—dengan porsi yang pas, bukan melamun memandangi kaca spion terus sampai menabrak tiang listrik di depan.

Lagipula, punya pengikut ratusan ribu di media sosial itu sama sekali tidak menjamin kamu bebas dari kesepian. Kesepian sejati itu bukan soal tidak punya teman untuk diajak nongkrong di kafe kekinian. Kesepian adalah situasi di mana kamu punya ribuan kontak di ponsel, tapi tidak punya satu pun manusia yang cukup genuin dan aman untuk diajak menangis saat hatimu remuk redak.

Pertemanan jangka panjang yang jujur, yang berani menegurmu saat kamu salah, dan yang berani berdebat demi kebaikanmu, itu jauh lebih berharga daripada seribu komentar pujian dari akun-akun bodong.

Krisis jati diri ini parahnya sering kali menjalar ke dalam institusi pernikahan.

Analisa menyinggung fenomena perselingkuhan dengan kacamata yang cukup berbeda. Banyak orang mengira perselingkuhan itu murni urusan godaan fisik atau sekadar bosan pada pasangan. Padahal, sering kali perselingkuhan terjadi karena seseorang sedang kehilangan arah hidupnya sendiri. Dia merasa gagal, merasa hampa, lalu mencoba mencari “versi diri yang baru dan lebih mentereng” melalui mata orang lain. Dia tidak sedang jatuh cinta pada selingkuhannya, dia cuma sedang jatuh cinta pada bayangan dirinya sendiri saat bersama selingkuhannya itu.

Makanya, pernikahan yang kokoh itu tidak dibangun oleh dua orang yang saling menempel bagaikan benalu dan pohon inang, melainkan oleh dua individu yang secure—selesai dan bahagia dengan dirinya sendiri. Kalau kamu sendiri belum selesai dengan urusan batiniyahmu, menyatu dengan orang lain hanya akan menciptakan bencana emosional dua kali lipat.

Nasihat Terburuk: Harus Selalu All Out

Sebagai penutup perbincangan yang kaya akan permenungan ini, Analisa membagikan satu Nasihat Terburuk yang pernah ia terima sepanjang hidupnya: “Kamu harus selalu all out dalam segala hal.”

Coba resapi kalimat itu. “Harus selalu all out.” Luar biasa sekali beban yang ditaruh di atas pundak manusia oleh kalimat sok jagoan itu.

Kita ini manusia, saudara-saudara. Kita bukan mesin pabrik buatan Jepang yang bisa dinyalakan 24 jam nonstop tanpa aus pada suku cadangnya. Menuntut diri untuk selalu tampil sempurna, selalu memberikan 100% energi di setiap detik kehidupan, adalah jalan tol paling cepat menuju rumah sakit jiwa atau kuburan.

Ada kalanya kita perlu all out saat mengerjakan proyek besar atau saat membela keluarga. Tapi ada kalanya kita cukup memberikan 60% saja, atau bahkan sekadar duduk selonjoran di teras rumah sambil menyeruput kopi hitam dan membiarkan rumput tumbuh agak tinggi sedikit tanpa perlu dirapikan hari itu juga.

Berhenti mengejar standar perfeksionisme yang gila adalah kunci paling utama untuk menjaga akal sehat. Dunia ini tidak akan kiamat hanya karena kamu memutuskan untuk istirahat sejenak di hari Minggu. Langit tidak akan runtuh hanya karena kamu bilang “tidak” pada permintaan teman yang memanfaatkan kebaikanmu.

Menjadi manusia yang utuh itu bukan berarti menjadi manusia super tanpa celah. Menjadi manusia justru tentang keberanian untuk mengakui bahwa kita ini terbatas, punya luka, bisa capek, dan sangat boleh untuk tidak selalu baik-baik saja. Berdamailah dengan ketidaksempurnaan itu, sebab di situlah letak indahnya menjadi manusia yang sebenarnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *