Di Ujung Pelangi, Ternyata yang ada Hanya Kesunyian

Ada satu penyakit aneh yang diidap hampir seluruh anak muda di era perkotaan yang serba riuh ini: rasa takut dianggap bukan siapa-siapa. Kita berlomba-lomba mengejar ambisi, menumpuk uang, memburu popularitas, dan memoles profil media sosial agar terlihat mentereng. Kalau belum punya jabatan mentereng atau foto bersama orang penting, rasanya tidur malam tidak bisa tenang.

Saya sering melihat orang-orang usia belasan hingga dua puluhan yang jalannya menongak ke atas, sibuk memberi makan egonya sendiri. Tapi tunggu dulu, apakah itu salah?

Dalam episode #192 podcast Suara Berkelas, Abu Marlo—seorang mantan pesulap yang kini banyak bicara tentang pengembangan diri dan kesadaran—menyampaikan satu fakta jujur: mengejar semua itu di usia muda adalah hal yang wajar. Itu tahap awal pemenuhan ego. Tapi masalah besarnya baru muncul ketika seseorang sudah sampai di puncak.

Begitu uang sudah ada dan wajahmu dikenal orang dari Sabang sampai Merauke, anehnya yang datang justru rasa hampa yang membentang luas. Abu Marlo pernah berada di fase itu. Di tengah kilauan lampu panggung dan riuh tepuk tangan penonton, ia justru merasa asing dengan jalannya sendiri. Ia tidak sedang menghidupi dirinya sendiri, melainkan sedang “menghidupi jadwal” dan memenuhi ekspektasi orang lain. Kita ini sering kali kecele: mengira sedang mengendalikan karier, padahal kita cuma jadi budak dari kalender yang kita buat sendiri. Kesadaran sejati baru akan terbit ketika kita berani berhenti sejenak, mengeringkan keringat, dan bertanya ke dalam dada: “Ini sebenarnya mauku, atau mau orang lain?”

Antara Baju Ketat ‘Keharusan’ dan Ketenangan ‘Mengizinkan’

Jujur saja, sebagian besar dari kita ini hidup dalam cengkeraman kata harus. Harus punya mobil sebelum umur tiga puluh, harus naik jabatan tahun ini, harus tetap bertahan di pekerjaan yang bikin makan hati demi tuntutan kontrak atau gengsi sosial. Kita memakai kata ‘harus’ bagaikan memakai baju yang kekecilan tiga ukuran: sesak, menyiksa, tapi tetap dipaksa dipakai hanya karena warnanya bagus di mata tetangga.

Abu Marlo menawarkan satu pergeseran pola pikir yang sangat menyejukkan: beralihlah dari mengharuskan menjadi mengizinkan.

Ketika kamu bekerja berdasarkan rasa takut atau paksaan, energi yang keluar adalah energi defensif. Tapi ketika kamu mengizinkan dirimu bergerak berdasarkan passion dan kesadaran, rasanya jauh berbeda. Tentu saja, berani berpindah jalur—seperti yang dilakukan Abu Marlo saat memutuskan hengkang dari gemerlap dunia televisi—ada harganya. Ada potensi kehilangan pendapatan finansial, ada risiko dipandang aneh oleh kolega. Tapi mari kita kalkulasi secara matang: berapakah harga dari sebuah ketenangan pikiran?

Banyak orang rela membakar uang puluhan juta hanya untuk berobat karena stres dikejar target yang tak ada habisnya. Kalau begitu, keluar dari lingkungan yang merusak jiwa dan mengorbankan sebagian pendapatan sebetulnya bukanlah sebuah kerugian, melainkan investasi ketenangan yang bunganya luar biasa besar.

Bumi Ini Rumah Sakit Jiwa Besar, Jadi Jangan Baperan

Pernahkah kamu merasa sangat kesepian di tengah keramaian? Di sebuah pesta yang bising dengan musik dan tawa, kamu berdiri di pojokan ruangan sambil memegang gelas minuman, tapi hatimu merasa hampa luar biasa.

Dulu, Abu Marlo adalah ahli dalam urusan menyembunyikan kesepian. Cara paling gampang menutup sepi adalah dengan menciptakan keramaian artifisial: kumpul-kumpul tanpa arah, ngobrol asal jeprat-jepret, atau sibuk pamer keakraban. Padahal ada beda yang sangat tegas antara alone (sendirian), lonely (kesepian yang menyiksa), dan solitude (kesendirian yang menenangkan). Data WHO bahkan menguatkan bahwa kesepian yang tidak dikelola dengan baik bisa menggerogoti kesehatan mental dan fisik secara sistematis. Kini, kesepian tidak lagi ditakuti, melainkan dijadikan ruang sunyi untuk self-inquiry—ruang bertanya pada diri sendiri tanpa gangguan kebisingan dunia.

Dari ruang sunyi itu pula, kita jadi paham bagaimana cara merespons orang lain yang sering kali bertingkah ajaib dan menyebalkan.

Begini logikanya. Kalau ada orang yang tiba-tiba meremehkanmu, memaki di kolom komentar, atau menyebarkan rumor jahat, refleks pertama kita biasanya adalah marah dan ingin membalas dendam. Padahal kalau diteliti pakai kacamata yang agak jernih, orang lain itu sebenarnya cuma sedang “menekan tombol” luka yang memang sudah tersimpan di dalam diri kita. Kalau dalam dirimu tidak ada luka atau rasa minder, mau ditekan bagaimanapun tombol itu, kamu tidak akan meledak.

Abu Marlo punya analogi yang sangat menggelitik: bumi tempat kita tinggal ini pada dasarnya adalah satu ‘rumah sakit jiwa’ yang sangat besar.

Di kanan-kiri kita, semua orang sedang menggeletak dan berjuang melawan lukanya masing-masing. Ada yang lukanya bikin dia jadi pemarah, ada yang lukanya bikin dia jadi pendendam, dan ada yang lukanya membuat dia hobi menjatuhkan orang lain. Jika seseorang berkata kasar padamu, itu bukan gambaran tentang siapa dirimu, melainkan cerminan dari jiwa mereka yang sedang sakit dan butuh pertolongan. Begitu kita menyadari hal ini, rasa benci mendadak menguap, berganti menjadi rasa kasihan. Kita mungkin tidak bisa melupakan perbuatannya, tapi kita bisa memaafkan—mengingat kejadiannya tanpa perlu mengikutsertakan emosi yang membakar dada.

Seni Melepaskan dan Mengapa Anakmu Bukan Tanaman Durian

Pada akhirnya, hidup ini adalah panggung sandiwara yang durasinya sangat singkat. Kebahagiaan sejati justru terbit ketika kita paham seni melepaskan (letting go).

Banyak orang menderita bukan karena mereka tidak punya apa-apa, tapi karena genggamannya terlalu erat. Mereka melekat pada status, pangkat, jam tangan mewah, atau ekspektasi bahwa semua hal harus berjalan sesuai rencananya. Padahal, makin erat kamu menggenggam pasir, makin cepat pasir itu merosot keluar dari sela-sela jarimu. Hidup adalah seni yang sangat halus tentang tahu kapan harus menggenggam erat-erat dan kapan harus membuka telapak tangan lebar-lebar untuk merelakan.

Kesadaran akan “melepaskan” ini juga berlaku dalam hubungan paling mendasar dalam peradaban manusia: hubungan orang tua dan anak.

Di negeri kita, masih banyak orang tua yang memandang anak sebagai surat utang atau instrumen investasi masa depan. Anak dibesarkan dengan hitung-hitungan transaksi: “Mama sudah kasih kamu makan, nanti kalau sudah besar kamu harus balas budi begini dan begitu.” Lebih parah lagi, anak diperlakukan seperti properti yang bisa dibentuk sesuka hati demi menuntaskan ambisi orang tua yang dulu gagal dicapai.

Ini cara berpikir yang keliru berat. Anak bukanlah properti. Setiap manusia lahir membawa ‘benih’ uniknya sendiri-sendiri dari Tuhan. Tugas orang tua itu sederhana sekaligus berat: menjadi tanah yang subur, menyiram air, dan memberi pupuk. Tugas orang tua bukan memaksakan benih cabai agar berbuah menjadi durian. Kalau benih anakmu adalah pohon cabai, rawatlah hingga ia menjadi pohon cabai yang paling lebat buahnya dan bermanfaat bagi banyak orang. Jangan dipaksa jadi durian hanya karena tetangga sebelah rumah bangga memamerkan duriannya.

Ketika kita mampu melihat hidup dengan kacamata kesadaran seperti yang dipaparkan Abu Marlo ini, beban di pundak rasanya gugur satu per satu. Kita tidak perlu lagi repot-repot membuktikan apa pun kepada siapa pun. Kita cukup berjalan pelan-pelan, mengenali diri sendiri, merawat benih yang ada, dan menikmati setiap jengkal prosesnya tanpa perlu banyak mengeluh.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *