Di negeri yang penduduknya lebih hobi memandangi layar ponsel ketimbang menatap realita ini, orang sering kali menyepadankan kedewasaan dengan urusan umur. Kalau umurmu sudah kepala tiga, kumis tipis mulai tumbuh jarang-jarang, dan dahi sedikit mengkerut pas bayar cicilan motor, masyarakat otomatis akan mengangguk-angguk khidmat: “Wah, dia sudah dewasa.”
Padahal, maaf-maaf kata, itu logika ngawur yang dipelihara secara turun-temurun.
Saya itu sering berjumpa dengan bapak-bapak umur lima puluh tahun yang kelakuannya masih mirip anak TK rebutan kelereng di pos ronda, dan sebaliknya, melihat anak muda yang pembawaannya tenang bagaikan telaga di pagi hari. Raim Laode, dalam salah satu perbincangannya yang bernas di podcast Suara Berkelas episode #210, melempar sebuah gumpalan gagasan yang bikin kita tertegun: dewasa itu bukan soal deretan angka di KTP, melainkan bagaimana caramu merespons masalah dan hadiah dari Tuhan.
Menariknya, Raim bilang bahwa makin dewasa seseorang, batas antara masalah dan hadiah itu makin samar. Biar saya perjelas dengan Bahasa Jawa-nya: ora ketara bedane. Kita ini sering kali kebingungan membedakan mana musibah dan mana berkah. Diberi uang berlimpah kita sebut hadiah, tapi begitu uang itu bikin kita lupa diri dan masuk penjara, itu musibah atau hadiah yang tertunda? Diberi patah hati kita sebut ujian, tapi berkat patah hati itulah kita berhasil bikin lagu melankolis yang royaltinya cukup buat beli tanah sepetak.
Kedewasaan yang sejati justru hadir ketika kita tidak lagi tergesa-gesa menghujat ketidaknyamanan. Kita belajar berdamai. Bahagia itu tidak pernah bersembunyi di masa depan, tidak pula bertengger di atas pencapaian material yang melimpah ruah. Bahagia itu sederhana, tapi rumus membuatnya sering kita rumitkan sendiri.
Ingin Bahagia? Turunkan Standarmu
Ada satu penyakit akut manusia modern: ekspektasi yang membumbung tinggi sampai menembus lapisan ozon, padahal kapasitas dirinya cuma setinggi pohon cabai.
Konsep kebahagiaan yang ditawarkan Raim sebetulnya berakar pada satu rumus matematika kehidupan yang sangat logis: makin rendah ekspektasimu, makin tinggi potensi bahagiamu. Sederhana, kan? Tapi kenapa kita sering kepelean—maksud saya, terlalu berharap berlebihan?
Kita menginginkan pasangan yang jelita, pintar masak, kaya raya, dan penyabar bagaikan malaikat. Begitu dapat pasangan yang sekadar lupa mematikan lampu kamar mandi saja, kita sudah merasa jadi orang paling menderita se-Indonesia Raya. Padahal kalau ekspektasi kita sejak awal cuma “yang penting dia manusia dan bernapas”, maka ketika dia bisa membawakan kita segelas teh hangat di sore hari, rasanya sudah seperti mendapat durian runtuh.
Kebahagiaan di dunia ini pada dasarnya memang sekelebat dan sementara. Tidak ada orang yang tertawa terbahak-bahak selama 24 jam nonstop—kalau ada, itu urusannya bukan lagi sama Raim Laode, tapi sama dokter jiwa. Karena sifatnya yang sementara, kuncinya bukan ‘mencari’ bahagia di balik gunung atau di dalam dompet tebal, melainkan ‘membuat’ bahagia di dalam situasi yang ada, sekecil dan sejelek apa pun situasi itu. Berdamai dengan ketidaknyamanan adalah jalan pedang menuju ketenangan jiwa.
Iqra, Membaca Hidup
Lalu bagaimana caranya agar kita punya kearifan seluas itu? Jawabannya ada pada satu kata yang diwahyukan pertama kali puluhan abad lalu: Iqra. Membacalah.
Raim menamai albumnya dengan kata Iqra, dan ini bukan sekadar gaya-gayaan biar kelihatan religius atau puitis. Membaca di sini harus dimaknai dalam spektrum yang meluas. Jangan membayangkan membaca itu cuma urusan melototi teks buku pelajaran atau membaca status WhatsApp tetangga yang penuh sindiran halus. Membaca adalah proses memahami kehidupan, membaca situasi, membaca gestur orang lain, dan membaca diri sendiri.
Masyarakat kita ini sering kali menjadi korban dari satu hal yang mengerikan: kebodohan yang dipelihara. Dan kebodohan, dalam sejarah peradaban manusia mana pun, selalu memakan korban. Orang bodoh mudah diadu domba, mudah tertipu investasi bodong, dan mudah merasa paling benar sendiri. Literasi adalah benteng terakhir agar kita tidak menjadi martir dari kebodohan kita sendiri.
Hebatnya, Raim tidak cuma berhenti di tataran teori atau khotbah di podcast. Dia mengongkresi pemikirannya. Royalti dari album Iqra dia sisihkan untuk mendukung komunitas baca dan memberi beasiswa bagi mahasiswa di tanah kelahirannya, Sulawesi Tenggara.
Ini tindakan yang bikin hati adem. Di tengah gempuran musisi yang begitu dapat uang langsung beli mobil sport buat dipamerkan di Instagram, Raim memilih membagikan royaltinya untuk menyalakan lilin literasi. Sebab dia tahu, membiarkan orang lain cerdas adalah bentuk pengabdian paling nyata kepada kemanusiaan.
Di Hadapan Keluarga, Kamu Cuma Anak Kencur
Ada godaan besar yang kerap menghampiri orang-orang yang mulai mengecap manisnya popularitas dan kesuksesan: kepalanya mendadak membesar. Mereka merasa menjadi manusia paling penting di muka bumi, sampai-sampai kalau berjalan di tempat umum rasanya ingin disembah.
Namun, ada satu obat penawar paling mujarab untuk penyakit ‘besar kepala’ ini: pulang ke rumah.
Berapa pun jumlah follower-mu di TikTok, berapa puluh juta stream lagumu di Spotify, atau setinggi apa pun jabatanmu di kantor, di hadapan orang tua kamu tetaplah seorang anak kencur yang dulu sering ngompol di kasur. Di hadapan kakakmu, kamu tetaplah adik kecil yang dulu sering mencuri mainannya.
Hubungan keluarga adalah ruang perlindungan sekaligus tempat teguran yang paling jujur. Di luar sana, orang mungkin memujimu setinggi langit karena punya agenda terselubung. Tapi di meja makan rumah orang tua, ibumu tidak bakal segan menjewer telingamu kalau kamu bicara kelewatan. Teguran keluarga itu tanpa filter, tanpa pemanis buatan, dan justru di situlah letak keselamatannya.
Raim secara khusus mendedikasikan lagu Abangku sebagai puji-pujian dan ucapan terima kasih yang mendalam untuk kakaknya. Sebuah potret klasik tentang anak pertama di keluarga-keluarga berkembang: seseorang yang merelakan masa mudanya, menunda mimpi-mimpinya, dan memikul beban sebagai pengganti sosok ayah demi memastikan adik-adiknya bisa makan dan sekolah. Tanggung jawab anak pertama itu sunyi, jarang dirayakan, tapi fondasi dari kelangsungan hidup sebuah keluarga.
Dan dari urusan keluarga ini pula, kita belajar tentang puncak tertinggi dari ajaran mencintai: merelakan.
Mencintai itu bukan soal menguasai atau memiliki sepenuhnya bagaikan memegang sertifikat tanah Hak Milik. Puncak tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan. Jika seseorang yang kamu cintai ternyata bisa mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar dan lebih utuh di tangan orang lain, maka tugasmu sebetulnya sudah selesai. Tugas mencintai adalah memastikan dia bahagia, bukan memastikan dia bahagia harus bersama kita. Kalau dia bahagia bersama orang lain, ya sudah, tepuk tangan saja sambil mengelus dada. Sulit? Sangat. Tapi itulah kelas tertinggi dari urusan hati.
Menikah yang Bikin Terang
Zaman sekarang, seni makin lama makin mirip barang komoditas murah. Musik didengarkan lewat aliran digital yang mengalir deras tapi sering kali berlalu begitu saja tanpa bekas. Di tengah gempuran tren streaming yang serba cepat ini, menghadirkan album fisik adalah bentuk penghargaan tertinggi seorang musisi terhadap karyanya sendiri. Ada keringat, ada kurasi, ada wujud rupa yang bisa dipegang, diusap, dan disimpan di rak buku. Album fisik adalah monumen kecil di tengah gelombang arus serba cepat yang membuat kita gampang lupa.
Tapi karya sehebat apa pun, pada akhirnya akan bermuara pada kesadaran spiritual kita sebagai manusia. Raim menyentil pandangan kita tentang doa dan usaha dengan sangat apik.
Tuhan itu bukan kasir minimarket. Kalau kita berdoa meminta kemenangan, Tuhan tidak selalu langsung menjatuhkan medali emas dari langit tepat di atas kepala kita. Tuhan itu Maha Bijaksana; Dia memberi kita sarana—kesehatan, tubuh yang utuh, waktu 24 jam, dan kesempatan—agar kita mau berupaya dan berkeringat.
Doa, pada hakikatnya, adalah garis batas yang sangat tegas yang memisahkan posisi kita. Doa mengingatkan bahwa kita ini tidak lebih dari sekadar pengemis yang mengetuk pintu, dan Tuhan adalah Sang Maha Pemberi. Tanpa doa, manusia gampang jumawa, merasa semua hasil kerja kerasnya adalah murni karena kehebatannya sendiri. Padahal, kalau Tuhan mencabut oksigen di parunya selama lima menit saja, tamat sudah riwayat si manusia gagah itu.
Terakhir, soal urusan yang sering bikin anak-anak muda zaman sekarang gelisah setengah mati: pernikahan.
Banyak orang menyangka bahwa menikah adalah pintu ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah hidup. “Ah, saya mau nikah aja lah, capek kerja,” atau “Saya mau nikah biar ada yang ngurusin hidup saya.” Ini cara berpikir yang kebalik-balik dan sangat berbahaya.
Menikah itu tidak pernah menyelesaikan masalah. Menikah justru memperjelas masalah.
Ketika kamu hidup sendiri, masalahmu berserakan dan samar-samar. Begitu kamu menikah dan tinggal berdua di bawah satu atap yang sama, semua masalah itu—mulai dari urusan finansial, cara menyimpan handuk basah, sampai urusan ego masing-masing—terpampang nyata di depan mata. Tapi justru karena masalahnya jadi jelas, solusinya jadi lebih mudah untuk dicari bersama. Menikah bukanlah garis finis di mana kita bisa bersantai, melainkan wahana tempat kita belajar secara maraton sampai akhir hayat.
Pada akhirnya, dari obrolan Raim Laode di podcast tersebut, kita diingatkan kembali pada hal-hal mendasar yang sering kita lupakan karena terlalu sibuk bergaya. Menjadi dewasa, menjadi bahagia, membaca kehidupan, mencintai keluarga, sampai urusan berdo’a dan menikah—semuanya bermuara pada satu hal: kesadaran untuk terus belajar dan tidak menjadi manusia yang merasa sudah selesai.
Sebab manusia yang merasa dirinya sudah selesai, sebetulnya sedang berjalan pelan-pelan menuju kebangkrutan jiwa.
