Kalau di panggung peradaban manusia ada tiga dalang raksasa yang paling lihai menggerakkan miliaran orang untuk bertindak, bergerak, atau bahkan saling serang, maka dalang tersebut sudah diidentifikasi oleh Yuval Noah Harari dalam Sapiens Grafis Volume 3.
Tiga dalang fiksi raksasa itu memiliki julukan yang jenaka tapi menggelitik: Kapten Kepeng (Uang), Kanjeng Imperia (Imperium/Negara), dan Abang Kahyangan (Agama).
Ketiganya adalah fiksi kolektif. Mereka tidak memiliki wujud fisik biologis yang bisa kita pegang seperti halnya pohon kelapa atau babi hutan, tapi pengaruhnya luar biasa sakti. Jika Kapten Kepeng mengikat manusia lewat transaksi dan Kanjeng Imperia menyatukan manusia lewat undang-undang dan benteng batas wilayah, maka Abang Kahyangan bekerja di wilayah yang paling intim: imajinasi moral, kebenaran, dan rasa takut manusia akan ketidakpastian.
Sering kali kita menganggap agama sebagai sesuatu yang turun begitu saja dari langit tanpa riwayat sosial. Padahal, jika kita berani sedikit menepi dari dogmatisme dan melihat sejarah secara dingin, kita akan menemukan sebuah metamorfosis yang sangat menggelitik tentang bagaimana ide tentang “Tuhan” bertransformasi dari sekadar pawang hujan lokal menjadi penguasa absolut seluruh jagat raya.
Dari Kawan Berburu Menjadi Mitra Bisnis Agrikultur
Mari kita putar mesin waktu jauh ke belakang, ke masa ketika manusia masih hidup sebagai pemburu-pengumpul. Di zaman animisme purba ini, manusia tidak merasa dirinya sebagai raja alam semesta. Bagi mereka, status manusia, ayam hutan, pohon beringin, sungai, hingga batu cadas itu sejajar. Sama-sama warga alam yang bernyawa dan berjiwa.
Di masa itu, nenek moyang kita tidak pernah meminta izin pada “Tuhan Yang Maha Penguasa Semesta” untuk memetik buah. Mereka cukup menyapa roh pohon atau memohon maaf pada roh kijang yang akan diburu. Tidak ada hierarki yang rumit. Hubungannya sangat lokal, egaliter, dan apa adanya.
Lalu, musibah agung yang bernama Revolusi Pertanian itu datang.
Saat Sapiens mulai mematok tanah dan menanam gandum serta menangkarkan hewan, tatanan kosmik mendadak bergeser dramatis. Tumbuhan dan hewan yang tadinya adalah “kawan sepadan” mendadak diturunkan kasta menjadi sekadar harta milik, komoditas, dan aset yang bisa disembelih atau dijual.
Namun, muncul masalah baru yang sangat membagongkan para petani purba: Cuaca dan Wabah.
Sapiens bisa mencabut rumput liar, tetapi mereka sama sekali tidak punya kemampuan untuk menghentikan kemarau panjang, memanggil awan hujan, atau mengusir hama belalang. Rasa tidak berdaya ini memicu Sapiens menciptakan sosok baru yang lebih sakti dari mereka: tuhan-tuhan agrikultur.
Di sinilah lahir praktik Politeisme. Tuhan di era ini sejatinya adalah mitra bisnis agrikultur!
Logikanya sangat pragmatis dan bertransaksi: “Wahai Dewa Hujan, kami persembahkan dua ekor kambing yang paling gemuk. Tugasmu sederhana: tolong curahkan air ke ladang kami, jangan buat gandum kami gagal panen.”
Ekosistem jagat raya yang tadinya berisi jutaan spesies dengan hak yang sama, mendadak menyusut drastis hanya menjadi panggung untuk dua aktor utama: Manusia dan Tuhan. Sedangkan hewan, tumbuhan, dan seluruh alam cuma jadi figuran dan dekorasi latar belakang.
Karakteristik politeisme purba ini sebetulnya cukup santai. Kepercayaannya memang sangat lokal dan eksklusif untuk suku tertentu, tetapi mereka sangat toleran. Kalau ada suku tetangga datang membawa dewa yang berbeda, orang politeis tidak akan mengamuk atau menyuruh suku tetangga itu pindah agama. Bagi mereka: “Ya sudah, dewamu mengurus daerahmu, dewaku mengurus ladangku. Kita santai saja, tak perlu saling bantai.”
Lahirnya Lisensi Tunggal dan Perang atas Nama Kebenaran
Toleransi yang menyejukkan dari zaman politeisme itu mendadak tersapu bersih pada milenium pertama Masehi. Lahirlah sebuah inovasi pemikiran baru yang sangat radikal dan haus dominasi: Monoteisme.
Monoteisme datang tidak hanya dengan membawa pesan bahwa “Tuhan itu Satu”, tetapi juga membawa sebuah klaim yang sangat berbahaya: Lisensi Tunggal atas Kebenaran Absolut.
Jika politeisme menganut prinsip “Dewamu oke, dewaku juga oke”, maka monoteisme menegaskan “Tuhanku adalah satu-satunya Penguasa Absolut Semesta. Tuhanamu itu palsu, iblis, atau cuma ilusi. Dan tugas suciku di dunia ini adalah membuatmu menyembah Tuhanku—kalau perlu lewat pencerahan, kalau membangkang ya lewat pedang!”
Lahirlah tradisi berdakwah dan misi universal. Monoteisme memiliki sifat yang sangat agresif dan obsesif untuk menyeragamkan keyakinan seluruh manusia di muka bumi. Kepercayaan-kepercayaan lokal yang sudah bertahan puluhan ribu tahun dilabeli sebagai ajaran sesat dan harus dimusnahkan sampai ke akar-akarnya.
Sejak saat itulah, lembaran buku sejarah peradaban manusia mulai basah oleh darah. Panggung sejarah yang tadinya diisi oleh konflik perebutan wilayah dan makanan, kini ketambahan alasan baru yang jauh lebih mengerikan: Perang Suci dan Persekusi Agama. Manusia membantai sesamanya bukan lagi cuma karena merebutkan tanah, melainkan karena mempertahankan klaim tentang siapa yang mengantongi peta jalan menuju surga yang paling otentik.
Kambing Hitam dan Es Teler Kepercayaan
Namun, monoteisme yang mengeklaim serba sempurna itu sejatinya menggendong sebuah cacat logika yang sangat mengganggu para pemikir sejak zaman purba. Cacat itu dikenal dalam dunia filsafat sebagai The Problem of Evil (Problem Kejahatan).
Logikanya sederhana tapi menohok: Jika Tuhan itu Maha Baik dan sekaligus Maha Kuasa, mengapa Dia membiarkan ada bayi yang sakit, bencana alam yang melumat orang baik-baik, atau kejahatan yang merajalela? Kalau Tuhan tahu ada kejahatan tapi tidak bisa menghentikannya, berarti Dia tidak Maha Kuasa. Kalau Dia sanggup menghentikannya tapi tidak mau, berarti Dia tidak Maha Baik.
Untuk menutupi lubang logika yang bocor ini, agama monoteisme tanpa malu-malu melakukan “impor pemikiran” dari tradisi agama Dualisme (seperti Zoroastrianisme). Mereka menciptakan figur antagonis universal: Setan atau Iblis.
Iblis dijadikan kambing hitam sempurna untuk menyerap seluruh kesalahan dan penderitaan di bumi, sementara Tuhan tetap aman memegang mahkota Maha Baik.
Jika kita meneliti agama-agama modern hari ini dengan kacamata sejarawan, kita akan tersenyum kecil. Kebanyakan agama besar hari ini sejatinya adalah produk Sinkretisme—alias “es teler” kepercayaan! Di dalamnya ada campur aduk antara monoteisme (percaya Tuhan Tunggal), dualisme (percaya pertarungan Tuhan vs Iblis), politeisme (lewat penghormatan pada sosok-sosok kudus/orang suci), dan animisme (lewat ritual-ritual ruang lokal).
Satu-satunya pengecualian yang cukup unik dalam peta sejarah ini adalah agama-agama berbasis hukum alam, seperti Buddhisme purba. Ajaran ini tidak pusing mencari atau memuja dewa-dewi pencipta, melainkan fokus pada latihan pikiran yang sangat praktis: bagaimana mengendalikan hasrat dan ego manusia agar tidak terus-menerus memproduksi penderitaan.
Ketika Tuhan Mengalami “Krisis Monetisasi”
Selama ribuan tahun, agama adalah “aplikasi serba ada” dalam kehidupan Sapiens. Kalau ada yang sakit, panggil pemuka agama untuk diusir roh jahatnya. Kalau gandum diserang hama, panggil pemuka agama untuk berdoa. Kalau ekonomi kerajaan krisis, tanyakan ke pelataran rumah ibadah. Agama memegang otoritas penuh atas biologis, medis, pertanian, hingga ekonomi.
Namun, memasuki era modern—terutama ketika Sains Revolusioner mulai mengambil alih panggung—otoritas agama mendadak terkikis habis secara tragis.
Coba ingat-ingat saat pandemi COVID-19 menerjang dunia beberapa tahun lalu. Ke mana seluruh pemimpin dunia dan masyarakat berpaling untuk mencari keselamatan?
Apakah mereka menunggu naskah kuno turun dari langit untuk mengetahui struktur RNA virus? Tidak. Mereka bertekuk lutut di hadapan para ahli genetika, virolog, dan laboratorium farmasi untuk meminta vaksin. Ketika krisis ekonomi membayang akibat lockdown, mereka tidak memanggil pawang hujan, melainkan berkonsultasi dengan ahli ekonomi dan bank sentral.
Agama telah bangkrut dari fungsinya sebagai penjelas sains dan pengobat biologis.
Lalu, apakah agama lantas lenyap begitu saja? Tidak juga. Karena cerdik, agama dengan cepat beralih peran. Setelah kehilangan otoritas medis dan ekonominya, agama hari ini bergeser fungsi menjadi Stempel Identitas Kebangsaan Modern.
Agama tidak lagi menjadi panduan bercocok tanam, melainkan alat pembeda kelompok. Katolik dijadikan identitas penanda kebangsaan di Polandia; Islam Syiah menjadi identitas negara di Iran; Wahabisme menjadi fondasi kekuasaan di Arab Saudi; dan Yahudi menjadi fondasi identitas nasional di Israel. Agama diturunkan kelasnya dari “Penguasa Jagat Raya” menjadi sekadar bendera partai politik atau stempel paspor identitas.
Kontestan Keempat di Masa Depan
Tentu saja, kita tidak boleh menjadi manusia sinis yang menutup mata. Abang Kahyangan (Agama) tidak sepenuhnya berisi cerita gelap. Dalam perjalanan panjangnya, fiksi raksasa ini telah melahirkan karya seni yang luar biasa indah, arsitektur megah yang memukau mata, mendorong kedermawanan sosial, serta menjadi perekat hangat dalam komunitas dan keluarga.
Namun, efek samping psikologisnya pun tak kalah beracun. Agama sering kali memprogram benak penganutnya untuk merasa sebagai “Kelompok Terpilih Tuhan” yang merasa lebih suci dibanding yang lain. Perasaan superioritas inilah yang secara konstan memicu kecurigaan, ketakutan, dan rasa benci pada mereka yang kebetulan menyembah Tuhan dengan cara yang berbeda.
Para sejarawan yang melihat peradaban manusia hari ini sering kali memberikan “skor seri” untuk ketiga fiksi raksasa: Uang, Imperium, dan Agama. Ketiganya telah bekerja sama saling mengunci dan membentuk fondasi tatanan sosial dunia yang kita tinggali sekarang.
Sungguh sebuah ironi yang teramat pedih: Agama lahir dari rasa takut Sapiens yang sangat manusiawi terhadap alam yang tidak menentu, tetapi di kemudian hari, agama justru paling sering digunakan sebagai senjata untuk membantai sesama manusia.
Maka, ketika kita duduk di teras rumah malam ini sambil memandangi langit, ada baiknya kita jujur bertanya pada diri sendiri:
“Apakah agama yang saya peluk dan saya bela mati-matian hari ini betul-betul Kebenaran Absolut Semesta? Atau itu sejatinya cuma kebetulan sejarah semata—karena saya kebetulan dilahirkan dari orang tua tertentu, di wilayah geografis tertentu, pada era abad tertentu?”
Dan ingat, tiga fiksi raksasa ini tidak akan selamanya menjadi raja di bumi. Di balik pintu masa depan, kontestan keempat sudah bersiap mengambil alih panggung dengan sangat dingin dan presisi: Sains dan Revolusi Teknologi.
Akankah algoritma, kecerdasan buatan, dan rekayasa genetika menggantikan tempat Abang Kahyangan di masa depan? Waktu yang akan menjawabnya.
