Membuat Riset Abal-Abal Hanya Untuk Jalan-Jalan

Saya itu kadang mikir, orang Indonesia kalau urusan kreativitas memang tidak ada lawannya. Kreatif dalam arti yang sebenarnya, maupun kreatif dalam artian “mengakali sistem”. Di negara kita tercinta ini, celah sekecil apa pun di dalam sebuah aturan bisa disulap menjadi jalan tol menuju keuntungan pribadi. Tapi, membaca berita beberapa hari terakhir ini, dada saya rasanya agak sesak sekaligus pengin ketawa miris.

Bagaimana tidak, dunia akademik kita—yang mestinya jadi benteng terakhir kebenaran, integritas, dan kejujuran berlogika—justru diguncang skandal yang memalukan bukan main. Bukan cuma di level regional atau nasional, tapi levelnya sudah internasional. Skandal ini panggungnya ada di Kopenhagen, Denmark. Dan lakon utamanya? Siapa lagi kalau bukan oknum-oknum berpaspor Indonesia.

Mari kita dudukkan perkaranya pelan-pelan, dari awal sampai akhir, biar kita paham duduk masalahnya dan tidak sekadar ikut-ikutan menghujat tanpa tahu substansinya.

Awal Mula Ketahuan

Semua ini bermula dari sebuah perhelatan ilmiah yang sangat terhormat: International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) ke-14 yang digelar di Kopenhagen, Denmark, pada tanggal 17 sampai 21 Mei 2026. Ini bukan seminar abal-abal yang penting bayar lalu dapat sertifikat. Ini ajang bergengsi yang dihadiri lebih dari 1.300 ilmuwan, dokter, dan pakar klinis dari 86 negara di seluruh dunia. Fokusnya jelas: membahas penyakit pneumonia, penyakit paru-paru yang mematikan itu.

Di tengah-tengah ribuan pakar dunia itulah, muncul sekelompok anak muda dari Indonesia. Ada nama Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti. Mereka datang dengan portofolio yang bikin silau mata: membawa belasan abstrak penelitian—konon totalnya ada 19 abstrak—untuk dipresentasikan. Bayangkan, satu tim kecil bisa memproduksi belasan riset dalam satu waktu untuk konferensi tingkat dunia. Kalau ini benar, mereka ini bukan lagi sekadar peneliti hebat, tapi sudah setara dengan Sangkuriang yang bisa bikin perahu dalam semalam.

Namun, dunia sains itu dihuni oleh orang-orang yang isi kepalanya adalah skeptisisme yang terlatih. Mereka tidak gampang kagum. Di sinilah badai itu mulai berembus.

Adalah Wa Ode Dwi Daningrat, seorang peneliti asal Indonesia di bidang clinical medicine yang sedang menempuh studi di University of Oxford, Inggris, yang pertama kali mengendus bau anyir ini melalui media sosialnya pada 25 Mei. Tak lama berselang, pada 26 Mei, Ida Bagus Mandhara Brasika, seorang dosen dan ilmuwan iklim dari Universitas Udayana yang kebetulan juga hadir di lokasi, membongkar kejanggalan ini secara gamblang lewat akun Instagram dan Threads-nya.

Apa saja kejanggalannya? Di sinilah bagian komedinya dimulai, sekaligus bagian yang membuat muka kita sebagai bangsa serasa ditampar.

Pertama, modus operandi saat presentasi yang mirip adegan film intelijen kelas dua. Dikabarkan ada peserta perempuan yang ketahuan berganti-ganti identitas saat sesi presentasi. Dia berganti nama, berganti jilbab, hingga berganti name tag untuk mempresentasikan makalah yang berbeda-beda. Mungkin di pikirannya, panitia di Denmark itu matanya rabun atau tidak bisa membedakan wajah orang Asia.

Kedua, cakupan geografis riset mereka yang sungguh ajaib. Bayangkan, riset-riset yang mereka bawa itu mencantumkan lokasi penelitian yang tersebar di seantero bumi. Mulai dari dataran tinggi Pegunungan Andes di Peru, Etiopia, Sudan Selatan, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Filipina, Nepal, India Utara, Kenya, hingga Malawi. Hebat betul! Pertanyaannya: kapan mereka ke Peru? Kapan mereka ke Sudan Selatan yang sedang konflik itu? Dan yang paling membagongkan, seluruh tim peneliti ini murni dari Indonesia, tanpa melibatkan satu pun kolaborator lokal atau ilmuwan dari negara-negara tempat riset itu diklaim dilakukan. Di dunia akademik internasional, ini adalah hal yang mustahil sekaligus mengundang tawa.

Ternyata “Asal” Pakai AI

Setelah kejanggalan demi kejanggalan itu ditarik benangnya, runtuhlah seluruh menara kartu tersebut. Setelah diperiksa secara mendalam oleh para ilmuwan yang jeli, terbukti bahwa riset-riset tersebut adalah hasil fabrikasi dan falsifikasi alias palsu bin fiktif.

Zaman sekarang, kalau mau memalsukan sesuatu, orang tidak lagi mengetik manual satu-persatu. Di sinilah peran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) disalahgunakan. Mereka diduga kuat menggunakan AI generatif untuk memalsukan data, mengarang metodologi, menyusun grafik-grafik indah yang tak punya dasar ilmiah, hingga menyusun kalimat-kalimat akademis yang terdengar sangat meyakinkan.

Data tentang pasien pneumonia di Peru? AI bisa bikin. Grafik penyebaran penyakit di Kenya? Tinggal minta AI buatkan. Kalimatnya? Terdengar sangat canggih dan penuh dengan istilah kedokteran tingkat tinggi. AI memang pintar membuat kebohongan yang rapi jika tidak diperiksa dengan alat penapis yang ketat.

Celakanya lagi, agar abstrak-abstrak riset fiktif ini bisa lolos dan meyakinkan panitia, mereka mencatut nama-nama institusi mentereng di Indonesia sebagai afiliasi mereka. Nama Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Institut Teknologi Sepuluh Novermber (ITS), Institut Teknologi Bandung (ITB), Telkom University Purwokerto, Universitas Tadulako, hingga Universitas Muhammadiyah Bulukumba ikut terseret karena dicantumkan dalam lembar publikasi mereka. Rifaldy Fajar belakangan mengakui adanya pencatutan institusi-institusi ini dalam klarifikasi tertulisnya yang beredar di media sosial.

Mendengar kegaduhan yang luar biasa ini, pemerintah lewat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, langsung pasang badan dan melakukan penelusuran. Pihak UNY juga ikut sibuk mengklarifikasi. Hasil investigasi awal pemerintah menyebutkan bahwa nama-nama terduga pelaku ini bukanlah dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Mereka adalah alumni, petualang akademik bebas yang bergerak sendiri demi memuaskan motif pribadi mereka.

Ternyata Demi Tiket Pesawat dan Hotel Gratisan

Nah, sekarang kita sampai pada pertanyaan paling mendasar: untuk apa mereka repot-repot memalsukan 19 riset, memakai AI, pakai menyamar ganti jilbab dan name tag, hanya untuk datang ke seminar di Denmark? Apakah demi kemajuan ilmu pengetahuan? Jelas bukan. Apakah demi mengejar gelar profesor? Juga bukan, lha wong mereka bukan dosen aktif.

Jawabannya ternyata sangat pragmatis dan sepele: demi travel grant alias dana bantuan perjalanan.

Bagi yang belum akrab dengan dunia akademik, institusi atau panitia konferensi internasional itu sering kali menyediakan dana bantuan bagi peneliti dari negara berkembang yang risetnya dinilai bagus dan impresif. Dana ini mencakup tiket pesawat gratis, akomodasi hotel, hingga uang saku selama tinggal di luar negeri. Jadi, modalnya cuma modal dengkul dan keahlian mengetik prompt di ChatGPT atau Claude, mereka bisa terbang ke Eropa, menginap di hotel berbintang di Kopenhagen, jalan-jalan menikmati keindahan Denmark, dan pamer foto di media sosial dengan narasi “sedang berkontribusi bagi dunia sains internasional”.

Ini adalah pergeseran nilai yang sangat menjijikkan. Travel grant yang sejatinya adalah investasi akademik untuk pertukaran ilmu dan kolaborasi global, di tangan para petualang ini, berubah fungsi menjadi sekadar kupon liburan gratisan. Ini adalah syahwat jalan-jalan berkedok intelektualisme.

Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga

Bagi para pelaku, mungkin ini dianggap sebagai “kenakalan kreatif” atau trik cerdas memanfaatkan AI untuk hacking sistem. Tapi dampak bagi komunitas akademik Indonesia secara keseluruhan sungguh luar biasa destruktif.

Dunia sains global itu dibangun di atas satu fondasi utama: trust atau kepercayaan. Ketika sekelompok peneliti dari suatu negara ketahuan melakukan kecurangan yang terorganisir, sistematis, dan masif seperti ini, maka cap buruk akan menempel pada seluruh peneliti dari negara tersebut.

Bayangkan nasib dosen-dosen kita, peneliti-peneliti jujur kita di LIPI/BRIN atau universitas daerah, yang mengumpulkan data berdarah-darah, turun ke lapangan menembus hutan, menghabiskan uang pribadi demi validitas data, lalu mengajukan jurnal ke internasional. Di masa depan, proposal riset dari Indonesia bisa jadi akan langsung masuk kotak sampah atau diperiksa dengan kecurigaan berlapis-lapis oleh editor jurnal dunia karena adanya sentimen “Ah, paling ini hasil buatan AI dari Indonesia lagi.” Nila setitik rusak susu sebelanga.

Skandal Kopenhagen ini juga menjadi tamparan keras bagi ekosistem pendidikan kita yang belakangan ini memang tampak terlalu mendewakan kuantitas publikasi ketimbang kualitas. Budaya “yang penting publish” tanpa peduli proses penelaahan sejawat (peer review) yang ketat telah menyuburkan perilaku pseudo-academic ini.

Kita tidak boleh membiarkan kasus ini menguap begitu saja setelah masa viralnya habis. Langkah hukum, sanksi sosial, serta pembenahan sistem seleksi dana hibah penelitian (grant) harus diperketat oleh kementerian terkait. AI harus dikembalikan fungsinya sebagai alat bantu efisiensi, bukan sebagai pabrik pembuat kebohongan ilmiah.

Akhir kata, skandal ini mengingatkan kita bahwa setinggi apa pun teknologi yang kita pegang, jika tidak dibarengi dengan integritas moral dan rasa malu yang kokoh, maka teknologi itu hanya akan melahirkan monster-monster penipu yang canggih. Berwisata ke luar negeri itu menyenangkan, tapi kalau ongkosnya dibayar dengan cara menggadaikan harga diri dan nama baik institusi serta bangsa di panggung ilmiah dunia, rasanya kok ya sangat kebacut.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *