Dolar, Cerutu, dan Dendam yang Menolak Menua di Havana

Ada sebuah adagium kuno yang sangat dipahami oleh para pengamat geopolitik di warung kopi: “Politik internasional itu ibarat urusan utang piutang antar-tetangga; ia tidak akan pernah kedaluwarsa hanya karena salah satu pihak sudah pikun atau giginya sudah ompong.” Ketika sebuah negara adidaya sudah telanjur menyimpan dendam kesumat di dalam laci mejanya, maka sedalam apa pun laci itu ditutup, dan sepanjang apa pun waktu berlalu, suatu hari laci itu akan dibuka kembali. Mereka akan menagih janji keadilan dengan cara yang sering kali bikin kita yang di luar lingkaran kekuasaan hanya bisa menggelengkan kepala.

Panggung politik global baru saja dikejutkan oleh sebuah kabar yang datang dari Washington. Pemerintah Amerika Serikat secara resmi melayangkan dakwaan hukum yang luar biasa berat kepada seorang kakek-kakek berusia 94 tahun. Nama kakek itu bukan sembarang nama: Raul Castro. Ya, mantan Presiden Kuba sekaligus adik kandung dari mendiang sang legenda revolusi kiri, Fidel Castro.

Bagi generasi Z yang hari ini hidupnya sibuk memikirkan algoritma TikTok atau cara berburu tiket konser, nama Castro mungkin terdengar seperti nama sebuah merek oli kendaraan atau bab usang di buku pelajaran sejarah kelas dua SMA. Tapi bagi otoritas hukum di Amerika Serikat, nama itu adalah sisa-sisa duri dalam daging yang harus dicabut, bahkan ketika sang pemilik nama sudah berada di ambang pintu akhir hayatnya.

Amplop Rekaman Suara dan Tragedi Udara Tiga Dekade Lalu

Mari kita bedah apa yang membuat Amerika mendadak meradang dan melayangkan dakwaan pembunuhan, konspirasi untuk membunuh warga negara AS, serta penghancuran pesawat kepada Raul Castro. Tuduhan ini ternyata bukan lahir dari peristiwa kemarin sore, melainkan bersumber dari sebuah tragedi udara yang terjadi tepat tiga dekade lalu, yakni pada tanggal 24 Februari 1996.

Kala itu, dua buah pesawat ringan milik organisasi pengasingan Kuba di Miami bernama Hermanos al Rescate (Bersaudara untuk Penyelamatan) terbang di atas langit selat Florida. Pesawat-pesawat sipil itu mendadak ditembak jatuh oleh jet tempur militer Kuba, sebuah insiden berdarah yang menewaskan empat orang warga negara Amerika Serikat.

Selama puluhan tahun, kasus ini mengambang di antara perdebatan hukum internasional. Namun, beberapa tahun lalu, sebuah bukti krusial yang selama ini tersimpan di ruang gelap intelijen mendadak terungkap ke publik. Sebuah rekaman suara bocor, memuat gelombang suara yang diduga kuat adalah milik Raul Castro yang saat itu menjabat sebagai Menteri Angkatan Bersenjata Kuba. Di dalam rekaman itu, suara sang komandan terdengar begitu dingin dan tegas memberikan perintah pendek kepada pilot jet tempurnya: “Jatuhkan pesawat itu.”

Tiga kata itu kini bertransformasi menjadi berkas dakwaan pidana raksasa yang menembus batas waktu tiga puluh tahun. Amerika ingin menegaskan sebuah pesan moral yang sangat keras kepada dunia: tidak peduli Anda seorang mantan presiden, tidak peduli usia Anda sudah hampir menyentuh satu abad, jika Anda pernah memerintahkan pembunuhan terhadap warga negara Amerika, hukum kami akan mengejar Anda sampai ke liang lahat.

Watak Abu-abu sang Manajer Revolusi

Untuk memahami siapa sebenarnya Raul Castro, kita harus membuang jauh-jauh imajinasi kita tentang figur revolusioner berjanggut tebal yang gemar berpidato berjam-jam di atas podium sambil mengacungkan senapan seperti abangnya, Fidel Castro. Raul adalah antitesis dari segala romantisme ideologis tersebut.

Sejak revolusi Kuba meletus pada tahun 1959, Raul selalu berada di bawah bayang-bayang raksasa Fidel. Jika Fidel adalah wajah, ideologi, dan karisma dari perlawanan Kuba terhadap kapitalisme barat, maka Raul adalah mesin, intelijen, dan stabilitas internal di balik layar. Berbeda dengan Fidel yang meledak-ledak dan gemar dipuja lewat kultus kepribadian, Raul dikenal sebagai sosok yang pragmatis, bergerak di wilayah abu-abu, tidak menyukai publisitas yang berlebihan, dan menjalani kehidupan domestik yang sangat tradisional bersama mendiang istrinya, Vilma Espín.

Meskipun ia sudah secara resmi menyerahkan jabatan presiden pada tahun 2018 dan menanggalkan kepemimpinan Partai Komunis Kuba pada 2021 kepada suksesor sipil bernama Miguel Díaz-Canel, para analis politik global tahu betul aturan main di Havana. Di Kuba, jabatan resmi di atas kertas itu sering kali tidak ada harganya dibandingkan dengan garis komando militer lama. Hingga detak jam hari ini, Raul Castro diyakini tetap menjadi orang paling berkuasa, dirigen tunggal yang memegang kendali penuh atas setiap keputusan strategis dan arah masa depan pulau cerutu tersebut.

Romantisme Obama dan Kenyataan Pahit di Era Trump

Watak pragmatisme Raul baru benar-benar terlihat oleh dunia luar ketika ia menggantikan posisi Fidel sebagai presiden dalam rentang tahun 2008 hingga 2018. Sadar bahwa perut rakyatnya tidak bisa kenyang hanya dengan diberi asupan doktrin anti-imperialisme setiap pagi, Raul mulai mendorong reformasi ekonomi terbesar di Kuba sejak runtuhnya Uni Soviet.

Ia melonggarkan aturan kaku sosialisme dengan cara memperluas izin usaha kecil swasta, mengizinkan rakyatnya melakukan transaksi jual beli rumah dan kendaraan bermotor secara legal, hingga memangkas birokrasi pembatasan migrasi ke luar negeri. Namun, jangan salah sangka dulu. Reformasi ekonomi ala Raul ini berjalan dengan satu syarat mutlak: sistem politik satu partai tidak boleh diusik satu senti pun. Rezimnya tetap bertangan besi, terus-menerus dihujani kritik oleh berbagai organisasi HAM internasional karena gemar menindak tegas kaum oposisi dan membatasi kebebasan sipil warga negaranya.

Puncak dari kecerdasan pragmatis Raul terjadi pada tahun 2014. Dalam sebuah momen monumental yang bikin gempar dunia, ia bersama Presiden AS Barack Obama sepakat untuk mencairkan hubungan diplomatik kedua negara yang sudah membeku selama setengah abad. Kedutaan besar dibuka kembali di masing-masing ibu kota, dan pada tahun 2016, Obama mengukir sejarah sebagai presiden AS pertama yang menginjakkan kakinya di Havana sejak revolusi. Publik sempat mengira era perang dingin di selat Florida sudah resmi berakhir.

Namun, sebagaimana sifat dasar politik Amerika yang labil dan tergantung hasil pemilu, romantisme itu berumur pendek. Begitu Donald Trump melenggang masuk ke Gedung Putih, seluruh kebijakan damai Obama dirobek-robek. Hubungan kedua negara kembali memburuk ke titik nadir, sanksi ekonomi diperketat, dan Kuba kembali dimasukkan ke dalam daftar hitam negara musuh.

Pulau yang Sekarat dan Eksodus Separuh Jiwa

Dakwaan pembunuhan terhadap Raul Castro yang dilayangkan hari ini tidak terjadi di ruang hampa yang tenang. Manuver hukum Amerika ini justru menghantam Kuba di saat pulau tersebut sedang mengalami krisis ekonomi dan energi yang paling jahanam sejak era 1990-an.

Hari ini, Kuba adalah potret sebuah wilayah yang sedang sekarat perlahan. Pemadaman listrik massal terjadi setiap hari, membuat kota-kota mereka gelap gulita seperti kota mati. Bahan bakar minyak menjelma menjadi barang gaib yang memicu antrean kendaraan sepanjang berkilo-kilometer di pom bensin. Kelangkaan pangan merajalela, dan kondisi ini semakin diperparah oleh embargo ekonomi Amerika yang kian mencekik leher.

Kombinasi antara kemiskinan akut dan hilangnya harapan akhirnya memicu ledakan sosial. Pada Juli 2021, demonstrasi antipemerintah terbesar dalam sejarah pasca-revolusi pecah di berbagai kota. Rakyat turun ke jalan bukan lagi membawa bendera ideologi, melainkan membawa perut kosong yang menuntut hak dasar untuk hidup.

Ketika demonstrasi itu diredam oleh moncong senapan aparat, rakyat Kuba memilih jalan keluar yang paling realistis: angkat kaki. Terjadilah eksodus massal terbesar dalam sejarah modern Kuba, di mana pulau tersebut harus kehilangan hingga 20 persen dari total populasinya dalam beberapa tahun terakhir. Satu dari lima orang Kuba memilih nekat menyeberangi lautan dengan rakit ala kadarnya demi bisa menginjakkan kaki di tanah Amerika, meninggalkan tanah air mereka yang kian menua dan merana.

Epilog

Di tengah kepungan krisis yang mencekik dan bisingnya dakwaan hukum yang dilayangkan oleh Washington, ada sebuah pemandangan kontras yang terjadi di balik tirai besi Havana. Di balik layar panggung publik yang saling caci, otoritas Amerika Serikat dan tokoh-tokoh ring satu yang dekat dengan Raul Castro dilaporkan sempat menggelar pertemuan rahasia secara diam-diam.

Di atas meja perundingan rahasia itulah, masa depan Kuba pasca-era Castro sedang dipertaruhkan. Fakta ini membuktikan satu hal: bahwa dalam politik global, dakwaan hukum sering kali hanyalah alat tawar-menawar logistik (bargaining chip) yang dipakai untuk menekan lawan di meja runding. Amerika mendakwa Raul bukan karena mereka benar-benar ingin menyeret kakek 94 tahun itu ke penjara di Florida, melainkan untuk mengirim sinyal kepada para jenderal muda di Kuba bahwa masa depan mereka akan suram jika mereka tidak mau berkompromi dengan kepentingan Washington setelah Raul tiada nanti.

Esai ini pada akhirnya adalah sebuah pengingat bagi kita semua tentang betapa sinisnya dunia politik internasional. Di tingkat atas, para elit tua dari kedua belah negara sibuk bermain catur geopolitik, mengungkit rekaman suara masa lalu, melayangkan dakwaan seremonial, dan mengadakan pertemuan rahasia demi mengamankan pengaruh kekuasaan mereka.

Sementara di tingkat bawah, jutaan rakyat Kuba yang tidak tahu-menahu soal urusan perintah penembakan pesawat tahun 1996 harus menerima nasib hidup dalam kegelapan tanpa listrik, mengantre berjam-jam demi seliter minyak goreng, atau terpaksa membuang kewarganegaraan mereka demi bisa bertahan hidup. Sejarah Kuba dan keluarga Castro sedang berjalan menuju babak akhirnya, meninggalkan kita sebuah pelajaran berharga: bahwa ketika dua gajah ideologi saling bertarung atau bersiasat di balik layar, rumput-rumput jelata di bawahnya selalu menjadi pihak pertama yang layu dan tergilas tanpa pernah diberi kesempatan untuk membela diri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *