Ada sebuah adagium klasik dalam urusan pertemanan di warung kopi: “Jangan pernah percaya penuh pada janji orang yang sedang emosi, juga jangan telan bulat-bulat komitmen orang yang sedang ketakutan.” Mengapa? Karena keduanya sama-sama digerakkan oleh adrenalin, bukan akal sehat. Begitu situasinya bergeser sedikit saja, janji manis itu akan menguap bersama asap rokok.
Ternyata, rumus warung kopi ini tidak hanya berlaku bagi obrolan urusan utang piutang antar-tetangga, melainkan juga sangat presisi jika kita gunakan untuk membaca kelakuan dua negara adidaya yang hobinya saling gertak di Timur Tengah: Amerika Serikat dan Iran.
Beberapa pekan lalu, dunia sempat bernapas agak lega. Di atas meja perundingan yang barangkali wangi kopi hitamnya belum hilang, utusan kedua negara menyunggingkan senyum formalitas. Mereka menandatangani sebuah Nota Kesepahaman (MoU) setebal 14 halaman pada 17 Juni 2026. Isinya muluk-muluk dan terdengar sangat indah di telinga para pengamat internasional: memperpanjang gencatan senjata, membuka kembali Selat Hormuz yang krusial itu, menggelontorkan dana rekonstruksi untuk Iran sebesar 300 miliar dolar AS, hingga komitmen Paman Sam untuk menyudahi sanksi ekonomi yang selama ini mencekik leher rakyat Teheran.
Bagi orang awam yang lugu, kesepakatan itu tampak seperti babak baru perdamaian dunia. Kita membayangkan Donald Trump dan para petinggi Iran akhirnya bisa duduk bersama sambil makan kurma. Namun, bagi siapa saja yang terbiasa melihat bagaimana politik luar negeri bekerja dengan watak aslinya yang sinis, kertas 14 halaman itu tak lebih dari selembar tisu toilet yang siap dibuang begitu ada yang mules.
Dan benar saja, belum juga tinta di kertas itu kering benar, bau mesiu sudah kembali menyengat. Perjanjian damai yang katanya bersejarah itu langsung masuk kotak sampah begitu Amerika Serikat memutuskan untuk meluncurkan gelombang serangan baru ke wilayah selatan Iran.
Amerika Serikat meluncurkan gelombang serangan baru ke wilayah selatan Iran, termasuk kota pelabuhan strategis seperti Bandar Abbas, Sirik, Konarak, Chabahar, dan Pulau Abu Musa. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan serangan ini bertujuan melemahkan kemampuan Teheran dalam mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menegaskan serangan ini merupakan balasan atas pengeboman kapal tanker oleh Iran sebelumnya.
Kalau kita membaca rilis resmi dari Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), alasan mereka menyerang selalu terdengar sangat mulia, sangat heroik, seolah-olah mereka adalah polisi moral jagat raya yang tidak punya pamrih apa pun. Kali ini, sasarannya adalah kota-kota pelabuhan strategis Iran seperti Bandar Abbas, Sirik, Konarak, Chabahar, hingga Pulau Abu Musa. CENTCOM dengan bahasa birokrasi militernya yang dingin menyatakan bahwa serangan ini bertujuan untuk “melemahkan kemampuan Teheran dalam mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz.”
Donald Trump, dengan gayanya yang khas—meledak-ledak dan selalu ingin terlihat sebagai jawara yang tak boleh dicoreng mukanya—menegaskan bahwa serangan udara ini adalah balasan setimpal atas aksi pengeboman kapal tanker oleh Iran sebelumnya. Di titik ini, kita melihat sebuah lingkaran setan yang tak pernah usai. Skenarionya selalu sama: kamu pukul saya, saya pukul balik kamu dengan kekuatan dua kali lipat, lalu saya sebut tindakan saya sebagai “penegakan keadilan”.
Masalahnya, Selat Hormuz itu bukan kolam ikan di belakang rumah Donald Trump. Ia adalah urat nadi paling sensitif dalam anatomi ekonomi global. Ketika Amerika membom kawasan di sekitarnya dengan dalih mengamankan jalur navigasi, yang terjadi justru sebaliknya: jalur tersebut langsung berubah menjadi wilayah abu-abu yang mengerikan bagi siapa saja yang lewat.
Logika Amerika ini mirip seperti seorang hansip perkampungan yang curiga ada maling di sebuah rumah, lalu untuk mengamankan kampung tersebut, sang hansip memutuskan untuk melempari rumah si tertuduh dengan bom molotov. Rumahnya hancur, penghuninya marah, dan satu kampung akhirnya ikut kebakaran. Tapi si hansip tetap menepuk dada sambil berkata, “Tugas saya mengamankan kampung sudah selesai.”
Iran membalas dengan menargetkan fasilitas militer AS di Bahrain (Pelabuhan Salman, markas Armada Kelima AS) dan Kuwait (Pangkalan Udara Ali Al Salem) menggunakan kombinasi rudal dan drone. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa intimidasi AS akan selalu dibalas dan menyatakan bahwa pengaturan Selat Hormuz berada di bawah otoritas Iran.
Apakah Iran akan diam saja sambil meratapi nasib dan merobek-robek MoU 14 halaman mereka di pojokan kamar? Tentu tidak. Iran bukan negara kemarin sore yang bisa digertak dengan sekali dua kali dentuman misil. Mereka punya harga diri sekeras batu karang di Teluk Persia.
Respons Teheran terbilang instan dan tanpa tedeng aling-aling. Mereka langsung membalas dengan menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di negara-negara tetangga. Pelabuhan Salman di Bahrain, yang menjadi markas Armada Kelima AS yang disegani itu, langsung menjadi sasaran tembak. Tidak tanggung-tanggung, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait juga ikut diguyur kombinasi rudal dan drone canggih milik Iran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, langsung tampil di podium dengan narasi yang berapi-api. Pesannya jelas dan tidak multitafsir: intimidasi dari Amerika Serikat akan selalu dibalas dengan tunai, tanpa diskon, tanpa dicicil. Ghalibaf juga menegaskan kembali satu hal yang membuat kuping para sekutu AS merah: pengaturan Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah otoritas dan kedaulatan Iran. Titik. Tidak ada tawar-menawar.
Di sinilah kita melihat betapa rapuhnya arsitektur keamanan dunia yang dibangun di atas ego para pemimpinnya. Ketika Amerika merasa berhak memukul karena merasa diri sebagai polisi dunia, Iran merasa wajib membalas karena tidak mau dianggap lemah di hadapan rakyatnya sendiri maupun di mata dunia internasional. Dua-duanya sama-sama menggunakan logika maskulinitas toxic: siapa yang diam belakangan, dialah yang kalah.
Konflik ini pecah hanya berselang beberapa pekan setelah kedua negara menandatangani MoU 14 halaman pada 17 Juni 2026 untuk memperpanjang gencatan senjata. Perjanjian tersebut mencakup pembukaan Selat Hormuz, dana rekonstruksi untuk Iran sebesar US$300 miliar, dan komitmen AS mengakhiri sanksi (namun tidak menyentuh isu program nuklir). Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bagian penting dari MoU tersebut kini tidak efektif lagi akibat serangan AS, pemberlakuan kembali sanksi minyak, serta konflik Israel-Hizbullah di Lebanon. Donald Trump pun menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata telah “berakhir”.
Lalu, apa kabar dengan MoU tanggal 17 Juni 2026 yang sempat digadang-gadang sebagai jalan keluar itu?
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan nada getir akhirnya melempar handuk. Ia menyatakan bahwa bagian-bagian paling krusial dari MoU tersebut kini telah “tidak efektif lagi”. Kalimat diplomatis ini kalau diterjemahkan ke dalam bahasa pergaulan sehari-hari kira-kira berbunyi: “Kesepakatan kemarin itu sudah basi, lupakan saja, kita perang lagi.”
Mengapa bisa secepat itu membusuk? Araghchi menunjuk hidung Amerika yang kembali memberlakukan sanksi minyak secara sepihak, selain tentu saja karena faktor eksternal yang terus membara seperti konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon yang bertindak sebagai katalisator memburuknya situasi. Donald Trump sendiri, dengan karakter pragmatismenya yang ekstrem, tanpa beban langsung mengumumkan kepada media bahwa kesepakatan gencatan senjata tersebut telah resmi “berakhir”. Selesai. Bubar jalan.
Kejadian ini memberikan kita sebuah pelajaran moral yang sangat berharga tentang realisme politik: dalam hubungan internasional, dokumen hukum, tanda tangan di atas kertas bermaterai, atau jabat tangan yang disorot kamera jurnalis, nilainya sering kali lebih rendah daripada harga peluru yang ditembakkan dari jet tempur. Komitmen hanya bertahan selama ia menguntungkan kedua belah pihak. Begitu salah satu pihak merasa bisa mendapat keuntungan lebih besar dengan cara memukul, maka kertas perjanjian itu akan langsung berubah fungsi menjadi pembungkus kacang.
Celakanya, dalam MoU tersebut ada satu lubang besar yang sengaja ditinggalkan atau gagal disepakati: isu program nuklir Iran. Perjanjian itu hanya fokus pada urusan uang (dana rekonstruksi 300 miliar dolar) dan urusan dagang (pembukaan selat dan penghapusan sanksi). Mereka lupa—atau sengaja menutup mata—bahwa akar ketakutan terdalam Amerika dan Israel adalah kepemilikan teknologi nuklir oleh Teheran. Membikin perjanjian damai di Timur Tengah tanpa membereskan urusan nuklir itu ibarat mengobati penyakit kanker stadium empat hanya dengan meminum obat penurun panas. Kelihatannya adem sebentar, padahal di dalam tubuhnya sel kanker sedang bersiap melakukan ledakan destruktif.
Kuwait mengecam keras agresi Iran. Sementara itu, Qatar dan Arab Saudi melaporkan bahwa kapal tanker mereka (Al-Rekayyat dan Wadyan) turut menjadi sasaran serangan di sekitar selat. Harga minyak mentah Brent langsung melonjak lebih dari 3% menjadi US$76 per barel karena kekhawatiran terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Dalam dongeng-dongeng klasik, kita sering mendengar bidal lama: “Gajah sama gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah.” Dalam konteks eskalasi AS-Iran hari ini, kutukan itu benar-benar menjadi kenyataan, dan celakanya, kita semua—bahkan yang tinggal ribuan kilometer dari Teluk Persia—bisa jadi adalah pelanduk-pelanduk tak berdosa itu.
Dampak regional dari ego bertarung ini langsung dirasakan oleh negara-negara Teluk. Kuwait, yang pangkalannya ikut kena hajar, langsung meradang dan mengecam keras agresi Iran. Sementara itu, Qatar dan Arab Saudi melaporkan situasi yang lebih mencemaskan: kapal-kapal tanker mereka, seperti Al-Rekayyat dan Wadyan, turut menjadi sasaran amuk serangan di sekitar selat. Jalur perdagangan laut yang tadinya damai kini berubah menjadi wahana bumper car yang mematikan.
Namun, dampak yang paling nyata dan paling cepat mengetuk pintu rumah kita adalah urusan isi dompet. Begitu berita serangan ini menyebar ke lantai bursa, harga minyak mentah Brent langsung melonjak lebih dari 3% hingga menyentuh angka 76 dolar AS per barel.
Bagi orang awam, angka 3% atau 76 dolar mungkin terdengar seperti statistik kering yang membosankan di rubrik ekonomi surat kabar. Tapi mari kita bedah secara sederhana. Selat Hormuz mengalirkan sekitar 20% dari total pasokan minyak dunia. Satu perlima dari energi yang menggerakkan motor, mobil, pabrik, dan generator listrik di seluruh planet bumi ini harus melewati celah sempit tersebut.
Ketika jalur itu macet atau berubah menjadi medan perang, pasokan minyak global otomatis tersendat. Hukum ekonomi paling mendasar pun bekerja: barang langka, harga naik. Kalau harga minyak dunia melonjak, APBN negara-negara berkembang termasuk kita akan langsung megap-megap menahan beban subsidi BBM. Kalau subsidi tidak kuat menahan, harga bensin di SPBU dekat rumah kita akan naik. Kalau bensin naik, harga cabai, beras, tarif angkot, hingga biaya sewa kontrakan pun akan ikut naik berantai.
Jadi, ketika Donald Trump memerintahkan serangan ke Bandar Abbas, atau ketika drone Iran meluncur ke Bahrain, efek dominonya tidak berhenti di padang pasir Timur Tengah. Efeknya sampai ke dapur ibu-ibu rumah tangga yang kebingungan mengapa harga barang-barang di pasar mendadak melonjak naik.
Menanti Akhir dari Kegilaan Global
Melihat karut-marut ini, kita patut bertanya dengan nada masygul: sampai kapan dunia harus disandera oleh lingkaran setan balas dendam semacam ini?
Tragedi terbesar dari konflik AS-Iran bukanlah karena mereka kekurangan diplomat cerdas atau kekurangan uang untuk mendanai perdamaian. Tragedi terbesarnya adalah karena kedua belah pihak dipimpin oleh para elite yang menganggap perang sebagai sebuah komoditas politik yang seksi untuk menaikkan popularitas di dalam negeri masing-masing. Bagi mereka, pamer otot militer adalah cara paling instan untuk terlihat kuat di mata konstituen.
MoU 14 halaman yang ditandatangani pada pertengahan Juni lalu kini tinggal kenangan estetis dalam arsip sejarah diplomasi dunia yang gagal. Ia menjadi bukti kesekian kalinya bahwa waras di atas kertas itu sangat mudah, namun menjaga kewarasan dalam tindakan nyata ketika kekuasaan dan ego berbicara adalah perkara yang hampir mustahil dilakukan oleh para pemimpin dunia hari ini.
Kini, dunia hanya bisa menahan napas sambil terus memantau pergerakan harga minyak dan berita-berita breaking news berikutnya. Kita dipaksa menyaksikan panggung sandiwara global di mana perdamaian dibicarakan dengan senyuman palsu di depan kamera, sementara di balik layar, jari-jari para pemimpin itu sudah gatal ingin menekan tombol peluncur rudal. Dan seperti biasa, kita yang berada jauh dari ring pertempuran hanya bisa menonton, berdoa, sambil bersiap-siap merogoh kocek lebih dalam untuk membayar harga dari kebodohan geopolitik yang tak pernah kita lakukan sendiri.
