Pandai Bersembunyi
Mari kita bayangkan sebuah Rusia di akhir tahun 1990-an. Sebuah negeri adidaya yang limbung, miskin, dan kehilangan harga diri setelah Uni Soviet bubar. Di pucuk pimpinannya, ada Boris Yeltsin—seorang presiden yang kalau berpidato sering kali sempoyongan, bicaranya melantur, dan kalau di depan kamera internasional sering kali terlihat seperti paman kita yang kebanyakan minum ciu di hajatan tetangga. Rakyat Rusia, yang punya sejarah panjang mengagumi pemimpin-pemimpin berwibawa sekelas Tsar atau Joseph Stalin, jelas merasa terhina. Mereka butuh pahlawan, bukan pelawak yang kebetulan memegang tombol nuklir.
Di tengah situasi yang agak membagongkan itu, muncullah seorang pria bertubuh pendek, kurus, dengan tatapan mata sedingin es Siberia. Namanya Vladimir Vladimirovich Putin.
Di masa lalunya sebagai agen KGB di Jerman Timur, Putin bukanlah tipe James Bond yang sering pamer otot atau merayu perempuan di bar mewah. Rekan-rekan kerjanya di dinas intelijen bahkan menjulukinya “Si Ngengat”. Kenapa ngengat? Karena dia adalah tipe manusia yang pandai betul bersembunyi di balik bayang-bayang. Dia abu-abu, tidak mencolok, dan efisien bekerja dalam senyap. Dia adalah birokrat yang kalau berjalan di koridor kantor, mungkin tidak akan ada orang yang sudi menengok dua kali.
Namun, justru di situlah letak kejeniusannya. Saat Yeltsin sibuk dengan botol-botol alkoholnya dan para oligarki sibuk menjarah aset negara, si “ngengat” ini merayap pelan-pelan ke episentrum kekuasaan. Ketika akhirnya dia ditunjuk menjadi presiden pengganti pada malam tahun baru menuju tahun 2000, Putin tahu betul apa yang pertama kali harus dia benahi: citra.
Hal pertama yang dilakukan Putin adalah membuat garis demarkasi yang tegas antara dirinya dan Yeltsin. Kalau Yeltsin adalah simbol kemerosotan fisik dan moral, maka Putin harus menjadi simbol kebugaran dan kedisiplinan. Sejak hari pertama menjabat, Putin memamerkan gaya hidup sehat. Dia tidak minum alkohol, dia rajin bangun pagi, dan dia memegang sabuk hitam judo.
Bagi rakyat Rusia yang lelah melihat pemimpinnya sempoyongan, kehadiran Putin seperti seteguk air dingin di padang pasir. “Nah, ini baru presiden kita!” mungkin begitu batin orang-orang Moskow saat itu. Putin tidak sekadar menawarkan kebijakan politik; dia menawarkan sebuah tontonan tentang kontras yang tajam. Dia tahu, di panggung politik, kesan pertama adalah segalanya. Dan kesan pertama yang dia bangun adalah: saya sadar, saya bugar, dan saya siap memimpin kalian.
Pencitraan Lewat Televisi
Tapi tentu saja, citra yang hebat tidak akan ada gunanya kalau tidak ada yang melihat. Di sinilah letak kuncinya: televisi.
Bagi Putin dan tim hubungan masyarakat (humas) di Kremlin, televisi bukanlah sekadar alat hiburan untuk menonton sinetron atau pertandingan sepak bola di akhir pekan. Sejak awal tahun 2000-an, mereka sudah sangat menyadari bahwa televisi adalah kunci utama untuk mengonsolidasikan kekuasaan dan membentuk opini publik. Siapa pun yang menguasai frekuensi udara, dialah yang menguasai pikiran rakyat.
Langkah awal yang dilakukan Putin setelah berkuasa tidaklah muluk-muluk membuat undang-undang baru, melainkan “menjinakkan” stasiun-stasiun televisi swasta milik para oligarki. Satu per satu, saluran televisi yang tadinya kritis dan suka mengejek pemerintah diambil alih atau dipaksa tunduk di bawah kendali negara. Hasilnya? Televisi Rusia berubah menjadi panggung teater tunggal yang aktor utamanya hanya satu: Vladimir Putin.
Melalui kotak ajaib ini, narasi tentang Rusia yang baru diproduksi secara massal setiap hari. Di jam makan malam, jutaan keluarga Rusia disuguhi pemandangan seorang presiden yang bekerja keras hingga larut malam, memarahi menteri-menteri yang tidak becus, dan memberikan instruksi dengan tegas.
Ini adalah strategi humas yang sangat rapi. Di negara seluas Rusia, yang membentang dari Eropa Timur hingga ujung Asia, televisi adalah satu-satunya lem perekat sosial. Putin menggunakan lem ini untuk merekatkan figur dirinya ke dalam alam bawah sadar kolektif bangsa Rusia. Pesan yang dikirimkan lewat layar kaca itu sangat konsisten: tanpa Putin, Rusia akan kembali ke zaman kegelapan seperti era 90-an; bersama Putin, Rusia akan kembali menjadi bangsa yang ditakuti dunia.
Sihir televisi ini terbukti ampuh. Bahkan ketika ekonomi Rusia sempat terseok-seok akibat sanksi atau jatuhnya harga minyak, popularitas Putin di dalam negeri tetap berada di angka yang bikin iri para politisi di negara demokrasi Barat. Mengapa? Karena bagi mayoritas rakyat Rusia, apa yang mereka lihat di televisi adalah kebenaran yang mutlak. Dan di televisi, Putin tidak pernah salah.
Selalu Tampil Sebagai Pria Gagah
Nah, setelah televisi berhasil dikuasai, mulailah kita disuguhi pertunjukan teatrikal paling epik dalam sejarah politik modern. Anda tentu masih ingat foto ikonik seorang pria paruh baya, bertelanjang dada, ototnya lumayan berisi untuk ukuran usianya, sedang menunggang kuda di pegunungan Siberia? Ya, itulah Putin.
Aksi pamer maskulinitas ini bukan tanpa sengaja. Itu adalah koreografi politik yang dirancang dengan sangat detail. Putin paham betul bahwa psikologi masyarakat Rusia sangat mendambakan sosok strongman—pria tangguh yang bisa melindungi mereka dari ancaman luar (yang biasanya dituduhkan kepada Amerika Serikat dan NATO).
Maka, jadilah Putin seorang “Manusia Serba Bisa” di layar kaca. Hari ini kita melihat dia mengenakan kimono judo, membanting lawannya yang bertubuh lebih besar ke matras. Besoknya, dia tiba-tiba sudah berada di dalam kokpit jet tempur, menerbangkannya melintasi zona konflik di Chechnya. Minggu depan, dia menyelam ke dasar laut Laut Hitam dan—entah bagaimana caranya—berhasil menemukan guci kuno peninggalan Yunani yang masih utuh dan bersih.
Bagi kita yang melihatnya dari luar Rusia, aksi-aksi ini mungkin terasa agak konyol, mirip adegan film aksi kelas B tahun 80-an atau pameran ego seorang pria yang sedang mengalami krisis paruh baya. Kita mungkin akan tertawa atau geleng-geleng kepala.
Namun, jangan salah. Bagi audiens domestik di Rusia, dan bagi pesan diplomasi internasional yang ingin dikirimkan Kremlin, aksi teater ini adalah urusan yang sangat serius. Pesan utamanya adalah: Rusia dipimpin oleh seorang pria tradisional yang kuat, maskulin, dan pantang mundur. Ini adalah antitesis dari para pemimpin Barat yang oleh media Rusia sering digambarkan sebagai sosok yang lemah, terlalu banyak berwacana, dan terjebak dalam politik identitas yang membingungkan.
Melalui persona strongman ini, Putin ingin berkata kepada dunia: “Rusia adalah kekuatan besar yang patut diperhitungkan. Kami bukan lagi bangsa pecundang yang bisa kalian dikte.” Dan di dalam negeri, aksi bertelanjang dada di atas kuda itu menegaskan bahwa sang kaisar baru dalam keadaan sehat walafiat, siap menjaga beruang Rusia dari terkaman serigala-serigala Barat.
Ketika Menjelma Menjadi Kaisar
Transformasi dari seorang “ngengat” yang abu-abu menjadi seorang kaisar yang intimidatif mencapai puncaknya pada tahun 2007. Momen ini diabadikan dengan sangat apik oleh majalah Time yang memilih Putin sebagai Person of the Year.
Dalam sesi foto legendaris untuk sampul majalah tersebut, Putin duduk di sebuah kursi dengan setelan jas rapi. Tidak ada senyum di wajahnya. Matanya menatap lurus ke arah kamera dengan dingin, penuh intimidasi, dan seolah-olah bisa menembus isi kepala siapa saja yang melihatnya. Itu bukan lagi tatapan seorang birokrat jaim; itu adalah tatapan seorang penguasa mutlak yang tahu bahwa dia memegang kendali penuh atas nasib jutaan nyawa.
Seiring berjalannya waktu, khususnya setelah dia terpilih kembali sebagai presiden pada periode 2011–2012 yang diwarnai demonstrasi besar-besaran di Moskow, Putin tampaknya memutuskan untuk membuang jauh-jauh sisa-sisa topeng “demokrasi” yang sempat dia pakai. Otoritarianisme di Rusia bukan lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan dikuatkan secara terang-terangan dan sistematis.
Segala bentuk oposisi di ruang publik perlahan-lahan dilarang total. Aturan hukum diubah sedemikian rupa sehingga siapa pun yang berani mengkritik pemerintah atau jalannya militer bisa langsung dijebloskan ke penjara dengan tuduhan sebagai “agen asing” atau “penghianat bangsa”. Tokoh-tokoh oposisi yang vokal, seperti Alexei Navalny, kalau tidak berakhir di penjara terpencil di lingkaran Arktik ya berakhir di dalam kubur.
Ruang publik Rusia dibersihkan dari perbedaan pendapat. Media-media independen yang tersisa dipaksa tutup atau melarikan diri ke luar negeri. Internet mulai disaring dengan ketat.
Putin telah berhasil mengubah Rusia menjadi sebuah ruangan besar yang kedap suara, di mana satu-satunya suara yang boleh terdengar dan menggema hanyalah suara dari Kremlin. Si “ngengat” yang dulu pandai bersembunyi di balik bayang-bayang kini telah menjelma menjadi kaisar sejati yang bayang-bayangnya sendiri mampu menutupi seluruh daratan Rusia, membuat siapa saja yang berada di bawahnya merasa ngeri untuk sekadar berbisik.
Mengalami Paranoia, Isolasi, dan Obsesi Menjadi Penyelamat Sejarah
Kini, di usianya yang sudah menginjak 73 tahun, Vladimir Putin tidak lagi sama dengan pria bugar yang menunggang kuda bertelanjang dada belasan tahun lalu. Waktu telah mengubah banyak hal. Fokus citranya kini telah bergeser sepenuhnya, meninggalkan pameran fisik maskulin tradisional menuju sesuatu yang jauh lebih abstrak dan berbahaya: obsesi misi sejarah.
Sejak meluncurkan invasi penuh ke Ukraina pada tahun 2022, Putin tampaknya sudah tidak peduli lagi dengan citra sebagai pemimpin modern yang dinamis. Di kepala Putin, dia bukan lagi sekadar presiden yang sedang menjalankan masa jabatan politik. Dia merasa dirinya adalah sosok mesianik—seorang penyelamat sejarah yang diutus untuk menyatukan kembali tanah leluhur “Rusia Raya” dan merebutnya kembali dari pengaruh dekadensi Barat.
Namun, obsesi besar ini harus dibayar dengan harga yang sangat mahal bagi kehidupan pribadinya. Jika Anda perhatikan penampilannya belakangan ini di televisi, ada yang berubah dari aura sang kaisar. Dia tampak semakin kaku. Gerak-geriknya tidak lagi selincah dulu.
Lebih dari itu, Putin tampak semakin paranoid terhadap keamanan pribadinya. Kita tentu sering melihat foto-fotonya saat menerima tamu asing atau bahkan menterinya sendiri di sebuah meja putih yang panjangnya minta ampun—bisa sampai enam meter. Putin duduk di ujung sana, tamunya di ujung sini. Jarak fisik yang tidak masuk akal itu adalah simbol nyata dari sebuah ketakutan yang mendalam: ketakutan akan penyakit, ketakutan akan pembunuhan, ketakutan akan pengkhianatan.
Pria yang dulunya dipuji karena kedekatannya dengan realitas rakyat Rusia kini tampak semakin terisolasi dari dunia luar. Dia hidup dalam gelembung informasinya sendiri, dikelilingi oleh segelintir orang berideologi keras yang hanya berani melaporkan hal-hal yang ingin dia dengar.
Ironisnya, perjalanan politik Putin memperlihatkan sebuah siklus klasik dari seorang diktator. Dia memulai kariernya dengan sangat gemilang: membersihkan kekacauan, menawarkan stabilitas, dan mengembalikan harga diri bangsanya lewat manajemen citra yang brilian. Namun, ketika kekuasaan itu digenggam terlalu lama tanpa batas, kekuasaan itu mulai memakan balik sang empunya.
Si “ngengat” yang dulu sangat lincah membaca situasi zaman kini terjebak di dalam istananya sendiri, menjadi kaisar tua yang kaku, paranoid, dan kesepian, sementara di luar sana, dunia terus berjalan meninggalkannya bersama fantasi-fantasi sejarah yang dia ciptakan sendiri.
