Ada satu titik paling rendah dalam hidup manusia, sebuah titik di mana akal sehat, moralitas, dan seluruh teori sosial-ekonomi mentereng yang ditulis para profesor di ruang ber-AC mendadak lumpuh tak ada gunanya. Titik itu bernama: kepepet perut kosong. Ketika Anda lapar, dunia berubah menjadi sangat sederhana sekaligus sangat kejam. Pilihan hidup Anda menyusut drastis, bukan lagi antara mau makan piza atau nasi goreng, melainkan antara mau mati hari ini atau bertahan hidup sampai besok pagi.
Mari kita alihkan pandangan sejenak dari hiruk-pikuk politik lokal kita yang bising, dan menengok ke sebuah negeri yang jaraknya ribuan kilometer dari sini: Afghanistan. Membaca laporan terbaru mengenai krisis kemanusiaan di sana bukan lagi membuat dada kita sesak, melainkan membuat kita merasa gagal menjadi sesama manusia.
Menurut data resmi dari PBB, tiga perempat populasi Afghanistan kini berada dalam kondisi tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok mereka. Lebih ngeri lagi, sebanyak 4,7 juta jiwa—atau lebih dari sepersepuluh total populasi negeri itu—sedang berdiri di ambang kelaparan massal. Lapangan kerja di sana menjelma menjadi barang gaib yang paling mewah. Saban hari, sejak azan subuh belum berkumandang, para buruh harian sudah berkumpul di sudut-sudut jalan kota Kabul hingga provinsi terpencil, menanti keajaiban berbentuk mandor yang datang membawa pekerjaan.
Sebagian besar dari mereka pulang dengan tangan hampa dan wajah lesu. Sementara bagi segelintir orang yang beruntung mendapatkan kerja, upah yang mereka bawa pulang pun sangat mengenaskan: hanya berkisar antara 150 hingga 200 Afghani sebulan. Kalau dikonversi ke mata uang kita, itu cuma sekitar Rp41.000 hingga Rp55.000 per hari! Bayangkan, hidup di tengah kepungan inflasi dan bencana kekeringan akut yang melanda lebih dari separuh provinsi di sana, dengan modal uang lima puluh ribu rupiah sehari untuk menghidupi satu keluarga besar. Itu bukan lagi namanya hidup, itu namanya mengantre giliran mati.
Ketika Kasih Sayang Ayah Dikalahkan oleh Bunyi Keruyuk Perut
Himpitan ekonomi yang jahanam ini akhirnya melahirkan sebuah fenomena yang begitu memilukan, sesuatu yang jika kita dengar di masa normal pasti akan langsung kita labeli sebagai tindakan biadab. Di Afghanistan hari ini, anak-anak kandung mulai menjelma menjadi komoditas bertahan hidup.
Mari kita berkenalan dengan Abdul Rashid Azimi di Provinsi Ghor. Abdul Rashid bukan monster. Dia adalah seorang ayah, sama seperti jutaan ayah lain di dunia yang mendambakan anak-anaknya tumbuh sehat dan bersekolah. Namun, ketika melihat anak-anaknya yang kecil menangis setiap malam karena perutnya perih melilit tidak kemasukan makanan, benteng moralitas Abdul Rashid runtuh. Ia mengaku terpaksa bersiap menjual anak perempuannya untuk dinikahkan secara paksa atau dijadikan pembantu di rumah orang kaya. Logika pragmatismenya sangat brutal: uang hasil penjualan satu anak perempuan itu akan ia pakai untuk membeli gandum, agar anak-anaknya yang lain tidak mati kelaparan di depan matanya sendiri.
Cerita lain datang dari Saeed Ahmad. Ia terpaksa menjual putrinya yang baru berusia lima tahun—bayangkan, lima tahun, usia di mana anak-anak di tempat kita sedang lucu-lucunya belajar mewarnai—seharga 200.000 Afghani atau sekitar Rp56 juta kepada kerabatnya sendiri. Mengapa Saeed tega melakukan itu? Jawabannya bukan untuk beli motor baru atau bayar utang judi. Uang 56 juta itu ia gunakan demi membayar biaya operasi usus buntu dan kista hati sang anak itu sendiri.
Ini adalah sebuah ironi yang sangat bajingan: seorang ayah harus kehilangan hak asuh atas anaknya, menjual darah dagingnya sendiri, justru untuk menyelamatkan nyawa anak itu dari ronggongan penyakit. Di Afghanistan hari ini, tubuh anak-anak adalah mata uang darurat.
Rumah Sakit Tanpa Obat dan Lonjakan Kain Kafan Kecil
Kondisi ini diperparah oleh lumpuhnya fasilitas kesehatan di seluruh penjuru negeri. Jika Anda masuk ke rumah sakit utama di Provinsi Chaghcharan, pemandangan yang tersaji bukan lagi tempat penyembuhan, melainkan ruang tunggu kematian. Angka kematian bayi di rumah sakit tersebut melonjak drastis hingga 10 persen. Penyebab utamanya seragam: gizi buruk akut dan minimnya fasilitas medis.
Rumah sakit milik pemerintah di sana kondisinya mengenaskan. Jangan harap menemui alat pemindai canggih sekelas MRI; persediaan obat-obatan dasar sekelas parasetamol atau antibiotik standar saja sering kali kosong melompong. Pihak rumah sakit hanya bisa memberikan resep, dan keluarga pasien yang miskin itu terpaksa terseok-seok mencari obat sendiri di apotek luar dengan harga yang mahal.
Ujung dari cerita ini selalu bisa ditebak. Banyak orang tua yang akhirnya terpaksa membawa pulang anak-anak mereka yang sedang dalam kondisi kritis dari ruang perawatan. Bukan karena mereka sudah sembuh, melainkan karena orang tuanya sudah tidak punya sepeser uang pun untuk membayar biaya administrasi rumah sakit atau membeli tabung oksigen. Mereka memilih membawa anaknya pulang, mendekapnya di dalam rumah yang dingin, dan pasrah menunggu ajal menjemput di atas tikar usang.
Diplomasi Elit yang Mengorbankan Perut Rakyat
Lalu, mengapa sebuah negara bisa jatuh ke dalam sumur kesengsaraan yang sedalam ini? Di sinilah ego politik global menampakkan wataknya yang paling menjijikkan.
Penyebab utama dari merosotnya ekonomi Afghanistan adalah pemangkasan bantuan internasional secara brutal. Donor-donor utama, dipimpin oleh Amerika Serikat dan Inggris, mendadak memotong bantuan kemanusiaan mereka hingga 70 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Alasan mereka di atas kertas terdengar sangat mulia dan heroik: sebagai bentuk sanksi dan respons protes terhadap kebijakan ketat rezim Taliban yang membatasi hak-hak perempuan dan anak perempuan untuk bersekolah dan bekerja.
Dunia barat ingin menghukum Taliban. Itu narasi besarnya. Tapi mari kita gunakan akal sehat ala orang warung kopi: ketika bantuan pangan dan medis dipotong 70 persen, apakah para pembesar Taliban di Kabul yang kelaparan? Apakah anak-anak para petinggi militer mereka yang mati karena gizi buruk? Oh, tentu tidak. Yang kelaparan dan terpaksa menjual anaknya adalah Abdul Rashid, Saeed Ahmad, dan jutaan rakyat jelata yang tidak tahu-menahu soal urusan ideologi negara. Diplomasi internasional ala barat ini menggunakan perut rakyat miskin sebagai sandera politik. Mereka ingin membela hak perempuan Afghanistan dengan cara membiarkan anak-anak perempuan itu mati kelaparan atau dijual oleh bapaknya demi sesuap nasi. Sebuah logika kemanusiaan yang sangat sakit.
Di sisi lain, pemerintah Taliban pun setali tiga uang dalam urusan buang badan. Mereka menolak bertanggung jawab atas hengkangnya para donor internasional. Taliban dengan enteng meminta agar urusan bantuan kemanusiaan tidak dipolitisasi oleh negara-negara barat.
Gaya retorika mereka pun sangat akrab di telinga kita: menyalahkan masa lalu. Taliban menunjuk hidung rezim pemerintahan sebelumnya dan masa pendudukan tentara asing selama dua dekade sebagai biang keladi tunggal dari kehancuran ekonomi, korupsi struktural, dan kemiskinan akut yang mereka warisi hari ini. Bagi Taliban, tugas mereka adalah menjaga kesucian ideologi, sementara urusan ekonomi yang berantakan adalah dosa warisan masa lalu yang bukan tanggung jawab mereka.
Penutup: Berhentilah Mengajari Mereka Soal Moral
Membaca potret buram Afghanistan hari ini harusnya membuat kita berhenti menjadi manusia yang hobi menceramahi orang lain. Sangat mudah bagi kita yang hidupnya berkecukupan untuk mengutuk tindakan Abdul Rashid Azimi yang menjual anak perempuannya. Sangat gampang bagi organisasi hak asasi manusia internasional untuk mengeluarkan resolusi kecaman atas pernikahan anak di bawah umur di sana.
Tetapi, sebelum jempol kita mengetik kalimat penghakiman moral di media sosial, cobalah bayangkan Anda berdiri di posisi mereka. Bayangkan Anda berada di sebuah rumah tanpa penghangat di tengah musim dingin Afghanistan, menatap tiga anak Anda yang tubuhnya tinggal kulit membungkus tulang, sementara di meja makan tidak ada apa-apa selain debu. Di luar rumah, tidak ada lapangan kerja, tidak ada bantuan sosial, dan rumah sakit menolak anak Anda karena Anda tidak punya uang. Dalam kondisi sekritis itu, moralitas bukan lagi urusan utama.
Krisis di Afghanistan adalah bukti nyata bagaimana egoisme politik—baik dari radikalisme internal maupun arogansi sanksi internasional—selalu mengorbankan mereka yang paling lemah. Selama para pemimpin dunia dan petinggi Taliban masih sibuk saling tuding dan mempertahankan gengsi ideologi mereka di meja perundingan, maka selama itu pula kain-kain kafan berukuran kecil akan terus diproduksi di Afghanistan. Dan di sudut-sudut pasar kota Ghor, harga seorang anak perempuan akan tetap lebih murah daripada harga beberapa karung gandum untuk menyambung nyawa sebuah keluarga. Sebuah tragedi kemanusiaan terbesar abad ini yang berlangsung secara legal di depan mata kita semua.
