Coba bayangkan adegan ini: seorang pria duduk santai di warung kopi, memegang ponsel pintar keluaran terbaru, lalu dengan penuh keyakinan membagikan berita hoaks super konyol ke lima grup WhatsApp keluarga. Di saat yang sama, manusia sudah berhasil membelah atom, mendarat di Bulan, sampai memetakan DNA dengan sangat presisi. Kita ini cerdas luar biasa, tapi juga ajaibnya sangat gampang dibodohi.
Yuval Noah Harari menyebut kondisi ini sebagai paradoks kemajuan. Kita berada di puncak peradaban teknologi, tetapi sekaligus melangkah dengan percaya diri menuju jurang kehancuran—entah karena krisis ekologi, perang nuklir, atau algoritma yang mendadak lebih pintar dari penciptanya.
Anehnya, kalau kita bikin keputusan-keputusan konyol yang mengancam nyawa sendiri, itu bukan karena sifat alami manusia dasar kita jahat. Masalahnya sepele tapi mematikan: kualitas informasi yang kita konsumsi sangat buruk. Bayangkan orang paling bijak dan penuh kasih sayang di dunia, lalu jejali otaknya dengan data sampah dan kabar bohong setiap lima menit. Apa yang terjadi? Ya dia bakal bikin keputusan yang sama destruktifnya dengan penjahat kawakan.
Manusia itu pada dasarnya cuma penerima pesan. Kalau gizi informasinya busuk, ya tindakannya ikut membusuk.
Ketika Uang dan Mitos Memegang Kendali
Sejak ribuan tahun lalu, rahasia utama spesies Homo sapiens bisa menguasai planet bumi bukanlah taring yang tajam atau otot yang kekar, melainkan kemampuan bercerita. Fakta objektif itu membosankan dan terbatas. Untuk mengumpulkan jutaan orang agar mau bekerja sama membikin piramida atau mendirikan negara, kita butuh mitologi, ideologi, dan cerita fiksi yang disepakati bersama.
Ambil contoh paling gampang: selembar kertas berwarna di dalam dompet Anda. Kertas itu sendiri tidak bisa dimakan, tidak bisa dipakai berteduh dari hujan, dan sama sekali tidak sakti. Tapi kenapa kita rela membanting tulang dari pagi sampai malam cuma demi menumpuk kertas itu? Jawabannya sederhana: karena kita semua mempercayai cerita yang sama bahwa kertas itu bernama “uang” dan punya nilai.
Begitu kepercayaan terhadap cerita itu hilang, kertas mahal tadi langsung kembali jadi sampah tak berguna. Bangsa kita dipersatukan oleh cerita bernama nasionalisme, roda ekonomi digerakkan oleh mitos kapitalisme, dan kehidupan bermasyarakat diatur oleh narasi agama. Kita adalah makhluk yang hidup dari dan untuk cerita.
AI akan Menjadi Penguasa Baru
Masalah baru muncul ketika pembuat cerita tidak lagi cuma manusia berdarah dan berdaging. Selamat datang di era kebangkitan Alien Intelligence—kebijakan kita menyebutnya Artificial Intelligence (AI).
Jangan membayangkan alien sebagai makhluk hijau berkepala melon yang turun dari piring terbang. AI adalah kecerdasan asing yang nyata karena ia mampu belajar, beradaptasi, dan menciptakan strategi yang sama sekali di luar jangkauan logika manusia. Ingat peristiwa ketika AlphaGo mengalahkan juara dunia permainan Go? AI itu tidak meniru gaya bertanding manusia yang sudah dipelajari selama 2.000 tahun. Ia menciptakan langkah baru yang membuat para master Go terperangah karena tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Dulu, penemuan tulisan mengubah tanah dari kesepakatan komunal menjadi dokumen tertulis—memperkuat hak milik pribadi dan mempermudah raja memungut pajak. Lalu media massa abad ke-20 seperti radio dan TV melahirkan demokrasi massal, sekaligus memfasilitasi lahirnya kediktatoran raksasa seperti Uni Soviet.
Sekarang, AI bertindak sebagai birokrat anorganik. Sistem informasi biologis seperti otak kita butuh tidur, perlu minum kopi, dan ingin liburan akhir pekan. AI tidak. Ia adalah jaringan anorganik yang bekerja tanpa henti, tanpa malam, dan tanpa privasi.
Yang mengerikan bukan cuma soal robot menguasai dunia ala film fiksi ilmiah, melainkan hadirnya jutaan “birokrat AI” di bank, lembaga pemerintahan, dan markas militer. Mereka mengambil keputusan krusial—siapa yang boleh dapat pinjaman, siapa yang kena tilang, atau target mana yang harus dibom—dengan logika algoritma yang bahkan tidak bisa dipahami oleh manusia yang menekan tombol power-nya. Bahkan di negara maju seperti AS, AI berpotensi diakui sebagai badan hukum yang bisa mengumpulkan kekayaan sendiri, punya rekening bank, hingga mendanai politisi. Bayangkan sebuah sistem tanpa jiwa yang membiayai kampanye presiden. Sungguh ngeri-ngeri sedap.
Pentingnya Waras dan Mau Mengaku Salah
Di tengah gempuran birokrat anorganik dan gelombang disinformasi, apa yang bisa menyelamatkan kita? Jawabannya adalah sistem institusi yang punya mekanisme koreksi diri (self-correcting mechanism).
Demokrasi, dengan segala kekacauan dan kebisingannya, jauh lebih tangguh menghadapi zaman dibanding diktatur karena ia punya saluran untuk mengakui kesalahan. Kalau presidennya ngawur, ada pemilu untuk menggantinya. Diktatur tidak punya tombol koreksi itu; mereka harus berpura-pura sempurna sampai akhirnya runtuh sekaligus.
Hal yang sama berlaku dalam perselisihan sains versus doktrin dogmatis. Sains berkembang bukan karena para ilmuwan selalu benar, melainkan karena sains dibangun di atas kerendahan hati untuk mengakui kesalahan masa lalu dan mengoreksinya lewat riset baru. Negara yang sehat pun berdiri di atas fondasi ganda: mitologi yang menyatukan rasa kepedulian (seperti nasionalisme) dan birokrasi yang mengurus hal-hal pragmatis (seperti saluran got dan pemungutan pajak).
Tanpa mekanisme koreksi diri, sebuah masyarakat yang dijejali teknologi canggih cuma akan menjadi raksasa buta yang berlari kencang menuju tembok.
Stop Makan Sampah Informasi
Kita sering keliru menganggap bahwa kelimpahan informasi sama dengan melimpahnya kebenaran. Ini salah kaprah yang fatal. Sebagian besar informasi yang beredar di linimasa kita sebenarnya cuma fiksi, propaganda, atau alat kekuasaan.
Kebenaran itu ibarat barang mewah: harganya sangat mahal, butuh riset mendalam, butuh keahlian, dan butuh waktu. Ketika kita menggelontorkan jutaan terabyte informasi setiap detik tanpa adanya institusi pencari kebenaran yang kuat, kebenaran bukannya makin terlihat, melainkan malah tenggelam di dasar samudra fiksi dan kebohongan.
Demokrasi pada dasarnya adalah percakapan publik antarmanusia. Begitu percakapan itu diinvasi oleh jutaan bot AI yang berpura-pura menjadi manusia—membuat komentar palsu, memicu amarah, dan memanipulasi emosi warga—maka runtuhlah pilar demokrasi itu dari dalam.
Lantas, apa yang harus kita lakukan agar tidak makin gila?
Tegakkan aturan tegas
Larang keras bot atau akun AI berpura-pura menjadi manusia dalam ruang diskusi publik. Manusia harus tahu kalau mereka sedang bicara dengan sesama manusia, bukan dengan deretan kode digital.
Investasi pada pencari kebenaran
Dukung riset akademik yang independen dan wartawan atau lembaga jurnalistik berkualitas. Kebenaran harus ada yang mendanai.
Jalani diet informasi
Ini yang paling penting untuk diri sendiri. Kalau kita bisa memilah makanan agar perut tidak keracunan, mulailah berpuasa dari junk information. Kurangi scroll tanpa arah, matikan notifikasi yang memicu emosi, dan bersihkan linimasa dari racun-racun digital.
Sebab kalau otak kita terus-terusan diberi makan sampah, jangan kaget kalau cara kita bernegara dan bermasyarakat pun lambat laun bakal ikut jadi sampah.
