Ada sebuah kebiasaan kolektif para orang tua di negeri ini yang penularannya jauh lebih cepat daripada virus flu musiman: kebiasaan pamer ranking rapor anak di grup WhatsApp keluarga. Saban akhir semester, linimasa kita mendadak penuh dengan foto lembaran kertas angka-angka, lengkap dengan takarir bernada penuh syukur yang dibalut kebanggaan terselubung. Kita seolah sepakat bahwa masa depan seorang anak bisa diramal dengan akurat hanya lewat deretan angka sembilan di mata pelajaran matematika, fisika, atau kimia. Anak yang ranking satu otomatis diberi stempel masa depan cerah, sementara anak yang rankingnya bontot harus rela pulang sambil menunduk, bersiap menerima omelan sepanjang jalan.
Namun, sebuah obrolan yang sangat mencerahkan sekaligus menampar kewajaran berpikir kita hadir dalam program Iso-Late Show bersama Dr. Mohammad Fauzan Adziman. Lewat diskusi bertajuk “Lupakan Ranking, Ini yang Sebenernya Dibutuhkan Anak Indonesia!”, kita diajak untuk membongkar ulang seluruh isi kepala kita yang sudah terlanjur berkarat oleh sistem pendidikan bergaya pabrik semen—di mana semua anak dipaksa masuk ke dalam satu cetakan yang seragam, kaku, dan membosankan.
Dr. Fauzan, dengan latar belakang akademisnya yang mentereng, justru mengajak kita melihat realitas yang sebaliknya. Sukses di masa depan ternyata tidak ada hubungannya dengan lembar ranking rapor yang sering kita dewakan itu.
Dua Jalur Anggaran dan Paradigma Riset yang Tidak Lagi Menara Gading
Mari kita tengok dulu apa yang sedang digodok di tingkat atas, tepatnya di koridor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tugas yang diemban lembaga ini luar biasa raksasa: mengurus dan mengembangkan proses belajar mengajar di tidak kurang dari 4.500 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara.
Selama ini, dunia riset kita sering kali dikritik mirip seperti menara gading. Para dosen dan peneliti sibuk menulis jurnal ilmiah setebal kamus, lalu menyimpannya di perpustakaan agar berdebu, sekadar untuk memenuhi syarat kenaikan pangkat birokrasi. Setelah itu? Ya sudah, tidak ada dampaknya bagi kehidupan rakyat kecil.
Untuk mendobrak kebiasaan malas ini, kementerian mulai menerapkan strategi anggaran dua jalur (dual-track program). Jalur pertama adalah jalur horizontal alias pemerataan. Anggaran sebesar Rp3,2 triliun digelontorkan untuk mendanai belasan ribu penelitian dari Sabang sampai Merauke. Tujuannya mulia: menaikkan kemampuan rata-rata seluruh kampus di Indonesia agar ketimpangan kualitas tidak semakin menganga.
Jalur kedua adalah jalur vertikal alias strategis. Dana sebesar Rp1,1 triliun disiapkan khusus untuk menyuntik talenta-talenta unggulan agar mereka memiliki modal yang cukup untuk bertarung dan bersaing di tingkat internasional.
Yang paling penting dari manuver anggaran ini adalah pergeseran paradigmanya. Mulai sekarang, riset tidak boleh lagi berbasis bidang ilmu yang kaku dan sektoral. Paradigma digeser menjadi berbasis pemecahan masalah (problem-solving). Riset harus bersifat multidisiplin dan wajib memberikan dampak ekonomi serta sosial yang nyata di tengah masyarakat. Kalau Anda meneliti tentang pertanian, hasilnya harus bisa bikin petani kapok miskin, bukan cuma bikin tebal rak buku perpustakaan kampus.
Berburu Hadiah Nobel Lewat “Sekolah Garuda”
Salah satu proyek paling ambisius yang lahir dari rahim kementerian ini adalah pendirian “Sekolah Garuda”. Ini adalah sebuah sekolah berasrama (boarding school) tingkat SMA yang didesain bukan untuk main-main. Sekolah ini dibentuk sebagai jaring raksasa untuk menyaring talenta-talenta muda terbaik dari seluruh penjuru Indonesia.
Misi jangka panjangnya sangat berani dan terkesan agak nekat bagi ukuran negara berkembang: mempersiapkan anak-anak ajaib ini agar bisa menembus universitas top dunia sekelas MIT, Oxford, atau Cambridge, dan kelak dalam jangka panjang, membawa pulang piala Nobel Prize ke Indonesia. Kita ini bangsa besar dengan jumlah penduduk ratusan juta, tapi urusan Nobel kita masih kalah jauh dari negara-negara kecil. Sekolah Garuda ingin memutus kutukan sejarah tersebut.
Tentu saja, mencetak calon pemenang Nobel tidak akan berhasil jika para penelitinya masih dibiarkan hidup merana dan kurang gizi. Oleh karena itu, pemerintah sedang giat membangun ekosistem pascadoktoral (PostDoc) dengan kompensasi dan fasilitas yang mumpuni. Tujuannya sangat pragmatis: agar talenta riset terbaik kita tidak lagi memandang jalur akademisi sebagai jalur profesi yang suram dan miskin, melainkan sebagai sebuah karier masa depan yang menjanjikan kemakmuran dan kehormatan intelektual.
Berhenti Memaksa Ikan Memanjat Pohon
Mari kita kembali ke urusan anak-anak kita di rumah. Salah satu poin paling radikal yang disampaikan Dr. Fauzan adalah pentingnya menerapkan pembelajaran berbasis minat (personalized education). Kita harus belajar banyak dari negara-negara Nordik atau institusi dunia sekelas Oxford yang sudah lama membuang sistem klasifikasi anak pintar-bodoh berdasarkan ranking kelas.
Pendidikan di sana sangat dipersonalisasi sesuai dengan keunikan minat masing-masing siswa. Logika dasarnya sangat sederhana tapi sering kita lupakan: anak-anak itu manusia, bukan robot buatan pabrik yang bisa dimasukkan ke dalam satu templat akademis yang kaku.
Jika seorang anak tidak menonjol di mata pelajaran matematika, bukan berarti otaknya kosong. Bisa jadi, energi dan potensi luar biasanya berada di bidang lain, seperti olahraga, seni musik, atau kemampuan menulis esai. Memaksa semua anak harus jago matematika itu sama saja dengan memaksa seekor ikan untuk adu balap memanjat pohon dengan seekor monyet. Sampai kiamat pun, sang ikan akan tetap merasa dirinya bodoh dan gagal. Pendidikan harus adaptif, lentur, dan berbasis minat agar anak-anak kita bisa menjalani masa kecilnya dengan bahagia, bukan dengan ketakutan melintasi malam sebelum ujian.
Rahasia Sukses Masa Depan
Nah, ini dia bom paling meledak dari diskusi Dr. Fauzan. Bagi para orang tua yang hobi membiayai anaknya masuk ke belasan lembaga les tambahan dari pagi sampai malam agar anaknya jadi “jenius”, bersiap-siaplah untuk kecewa.
Berdasarkan studi ilmiah yang dikutip dalam wawancara tersebut, indikator tunggal paling kuat dan paling akurat yang menentukan keberhasilan seorang anak di masa depan ternyata bukanlah nilai IPK yang sempurna atau sertifikat olimpiade sains. Indikator utamanya adalah: pembiasaan melakukan tugas rumah tangga (doing chores) sejak kecil.
Iya, Anda tidak salah baca. Menyapu lantai, mencuci piring setelah makan, merapikan tempat tidur sendiri, dan membuang sampah pada tempatnya adalah kunci sukses yang sesungguhnya.
Mengapa pekerjaan sepele itu bisa mengalahkan nilai les matematika seharga jutaan rupiah? Karena pekerjaan rumah tangga sejak kecil melatih otot rasa tanggung jawab, melatih inisiatif untuk mengatasi kemalasan, dan menanamkan kesadaran bahwa hidup ini butuh proses kerja keras. Karakter-karakter mendasar inilah yang menjadi fondasi utama dari jiwa kepemimpinan (leadership) dan mentalitas kewirausahaan (entrepreneurship) saat mereka dewasa nanti. Seorang anak yang terbiasa mandiri mengurus rumahnya ego-nya akan lebih tertata, dan tidak akan menjadi manusia manja yang gampang menyerah saat menghadapi tekanan dunia profesional yang kejam.
Tidak Ada Orang Pintar, yang Ada Hanya Orang Gigih
Esai ini rasanya tidak akan lengkap jika kita tidak membedah sepiring pengalaman hidup dari Dr. Fauzan sendiri. Di balik posisinya yang mentereng hari ini, masa muda beliau adalah sebuah lembaran kisah bertahan hidup yang sangat keras. Pada usia 15 tahun, setelah ibunda tercintanya wafat, Fauzan remaja harus mencicipi pahitnya hidup di jalanan, menggelandang di sekitaran daerah Blok M, Jakarta Selatan.
Titik balik hidupnya baru terjadi ketika sebuah kesadaran spiritual muncul di kepalanya: bahwa pendidikan adalah satu-satunya jembatan tol yang bisa membawanya keluar dari lingkaran setan kemiskinan jalanan. Ia pun berjuang mati-matian untuk belajar di tengah segala keterbatasan kelam yang mengapitnya.
Pengalaman hidup yang berdarah-darah itulah yang membentuk filosofi berpikir Dr. Fauzan hari ini. Ia secara terbuka menyatakan tidak percaya pada label “pintar” atau “jenius” sejak lahir. Bagi beliau, bakat alami itu over-rated, terlalu dibesar-besarkan.
Faktor pembeda utama yang membuat seorang manusia mampu bertahan, unggul, dan bersinar di dunia profesional internasional bukanlah tingkat IQ yang selangit, melainkan sebuah kata ajaib bernama: Grit (kegigihan) dan persistency (persistensi) dalam berusaha. Orang pintar bisa dikalahkan oleh orang yang gigih. Orang jenius yang malas akan dengan mudah dilewati oleh orang biasa-biasa saja yang memiliki mentalitas tidak pernah berhenti mencoba setiap kali mereka jatuh terjerembap.
Mengubah Arah Kompas Pendidikan Kita
Wawancara Dr. Mohammad Fauzan Adziman di Iso-Late Show ini harusnya menjadi momentum bagi kita semua—pemerintah, guru, dan terutama para orang tua—untuk melakukan pertobatan massal. Sudah saatnya kita merobek-robek paradigma kuno tentang ranking rapor dan pelabelan anak pintar-bodoh yang selama ini terbukti sukses merusak mental generasi muda kita.
Mari kita ubah arah kompas pendidikan kita dari yang tadinya berorientasi nilai angka di atas kertas menjadi berorientasi pada pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kegigihan hidup. Alih-alih pusing memikirkan mengapa nilai fisika anak kita tidak mendapat angka sepuluh, alangkah baiknya jika sore ini kita mulai mengajari mereka bagaimana cara memegang sapu dengan benar, atau meminta mereka mencuci piring makannya sendiri.
Sebab kelak, saat mereka melangkah keluar menghadapi dunia nyata yang penuh dengan ketidakpastian, dunia tidak akan pernah bertanya berapa ranking kelas mereka saat SMA. Dunia hanya akan menguji seberapa gigih mereka bertahan di tengah badai, seberapa bertanggung jawab mereka atas tugasnya, dan seberapa berani mereka memimpin dirinya sendiri keluar dari kesulitan. Dan semua pelajaran berharga itu, sekali lagi, tidak diajarkan di lembar ujian sekolah, melainkan dari keikhlasan tangan kecil mereka saat membantu membersihkan rumah ibunya sendiri.
