Beberapa waktu lalu, di sela-sela waktu senggang yang biasanya saya habiskan untuk mengamati kegaduhan demi kegaduhan di media sosial, saya menonton tayangan Iso-Late Show di kanal Everest Media. Tamunya adalah Jusuf Hamka—atau yang akrab disapa Babah Alun. Seorang konglomerat yang wajahnya telanjur identik dengan jalan tol, nasi kuning murah, dan peci yang bertengger santai di kepalanya.
Menonton Babah Alun berwacana itu selalu memicu sensasi yang aneh di kepala saya. Di satu sisi, ada rasa skeptis bawaan sebagai warga negara kelas menengah ngehe yang curiga pada setiap aksi pamer kebaikan orang kaya. Tapi di sisi lain, bapak-bapak satu ini punya cara bicara yang begitu membumi, renyah, dan sering kali menampar kesadaran kita dengan logika-logika sederhana yang justru mulai hilang dari peradaban urban kita.
Kita ini, akui sajalah, adalah masyarakat yang sedang mengalami krisis akut bernama defisit empati, tapi surplus prasangka. Kita hidup di era di mana melihat orang berbuat baik di media sosial, jempol kita lebih cepat bergerak untuk mengetik kata “pencitraan” atau “flexing” ketimbang mengucap kata “alhamdulillah”. Kita mendadak jadi hakim-hakim moral yang paling suci di jagat maya, sementara di dunia nyata, melihat tetangga kesusahan pun kita enggan menengok keluar jendela.
Menimbun Duit Seolah Abadi, Berbagi Seolah Besok Mati
Di awal obrolan, Babah Alun langsung melemparkan sebuah pepatah klasik yang sudah sering kita dengar di bangku madrasah atau pengajian kampung, tapi dengan modifikasi rasa konglomerat: “Carilah uang sebanyak-banyaknya seolah-olah engkau akan hidup 1.000 tahun lagi, tapi berbuatlah baik sebanyak-banyaknya seolah-olah engkau akan mati esok pagi.”
Bagi sebagian besar dari kita, kalimat bagian pertama—cari duit seolah hidup seribu tahun lagi—diadopsi dengan sangat kafah, bahkan kebablasan. Kita kejar setoran sampai tipes, lembur bagai kuda, sikut kanan-kiri, kalau perlu korupsi kecil-kecilan demi mengamankan tujuh turunan. Tapi begitu sampai pada kalimat bagian kedua—berbuat baik seolah besok mati—kita mendadak amnesia. Kita selalu berpikir, “Ah, sedekahnya nanti saja kalau sudah kaya raya, kalau saham sudah naik, kalau utang sudah lunas.” Kita menunda kebaikan seolah-olah kita memegang jaminan tertulis dari malaikat maut bahwa kita baru akan mati di usia 80 tahun.
Babah Alun tidak begitu. Dia mempraktikkan keseimbangan itu dengan cara yang sangat taktis dan organik. Di awal video, dia dengan bangga memamerkan batik ciprat yang dipakainya. Itu bukan batik sutra tulis berharga belasan juta rupiah hasil rancangan desainer ternama. Itu adalah kain batik hasil karya anak-anak disabilitas di SLB Negeri 7 Jakarta Timur. Lebih jauh lagi, dia membeli kain-kain itu dalam jumlah besar untuk dijadikan seragam karyawannya.
Ini jenis kepedulian yang tidak genit. Ini bukan sekadar memberi sumbangan sembako sekali habis lalu foto bersama demi konten, melainkan memberikan ruang martabat bagi mereka yang kekurangan dengan cara membeli hasil keringat mereka. Ini adalah cara bersyukur yang konkret.
Dan ketika netizen yang budiman mulai nyinyir di kolom komentar bahwa aksi-aksinya adalah bentuk flexing alias pamer kemewahan sosial, Babah Alun menanggapinya dengan santai sekalian menohok. Dalam hal membantu sesama, urusan niat itu biarlah menjadi kontrak privat antara manusia dengan Tuhannya. Kalaupun mau dibilang pamer, ya tidak apa-apa, asalkan yang dipamerkan adalah virus kebaikan agar orang lain ikut tergerak untuk gotong royong.
Bagi saya, nasehat Babah Alun ini adalah tamparan bagi kaum jempol hiperaktif: kalau ada bencana atau ada orang susah, jika engkau tidak bisa menyumbang dengan uang, menyumbanglah dengan tenaga. Kalau tenaga pun tidak punya karena encok atau malas, minimal sumbanglah dengan doa. Kalau doa pun terlalu berat karena hatimu sudah telanjur beku, ya minimal diamlah. Jangan malah nyinyir dan menebar prasangka di kolom komentar. Diammu itu sudah menjadi bentuk sedekah minimal bagi kedamaian dunia.
Nyali di Pemakaman dan Urusan Kemanusiaan Tanpa Pengawal
Bagian yang paling mendebarkan sekaligus mengharukan dari kesaksian hidup Babah Alun adalah ketika dia menceritakan bagaimana dia mengelola konflik sosial di akar rumput. Ini bukan teori sosiologi tingkat tinggi yang diajarkan dosen-dosen di ruang kuliah ber-AC, melainkan aksi nekat seorang pria yang paham betul psikologi massa di jalanan Jakarta.
Ingatkah kita pada tragedi yang menimpa almarhum Afan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online beberapa waktu lalu? Kejadian itu sempat memicu ketegangan yang luar biasa. Di bawah permukaan bawah sadar masyarakat kita, sumbu pendek bernama sentimen SARA itu selalu siap meledak hanya oleh satu percikan kecil. Desas-desus mulai menyebar, amarah massal para pengemudi ojol mulai mengental, dan aroma konflik horizontal sudah tercium di udara.
Apa yang dilakukan seorang konglomerat Tionghoa-Muslim seperti Jusuf Hamka? Apakah dia mengurung diri di rumah mewahnya dengan penjagaan ketat berlapis? Tidak. Dia justru melenggang datang langsung ke pemakaman Karet Bivak. Sendirian. Tanpa pengawal berbadan kekar, tanpa sirine polisi yang meraung-raung.
Langkah ini adalah sebuah pertaruhan nyali yang luar biasa besar. Dia datang ke tengah kerumunan massa yang sedang emosional hanya dengan modal satu hal: ketulusan untuk meredam konflik. Dan keajaiban sosiologis pun terjadi. Alih-alih mendapat penolakan atau amukan, kehadiran Babah Alun justru disambut hangat oleh ratusan driver ojol. Mereka tidak melihatnya sebagai musuh, melainkan sebagai sosok bapak yang hadir di masa duka. Ketika Babah Alun kelelahan dan kepanasan, para driver ojol itu bergantian memayunginya, bahkan menggendongnya dengan penuh hormat. Konsetrasi massa yang tadinya tegang, mendadak cair menjadi genangan rasa persaudaraan.
Cerita nekat lainnya terjadi saat huru-hara demonstrasi pada bulan Agustus. Di saat banyak orang kaya sibuk memesan tiket pesawat untuk mengungsi ke Singapura, Babah Alun justru menyetir mobilnya sendiri pada subuh hari yang buta. Misinya: menjemput dan mengamankan seorang anggota dewan bernama Mas Uya beserta istrinya yang rumahnya baru saja dijarah oleh massa yang beringas.
Bagi Babah Alun, dalam situasi genting seperti itu, sekat-sekat etnis, warna kulit, atau latar belakang ras harus segera dibuang ke tong sampah. Komponen bangsa ini harus saling melindungi. Kalau kita terus-menerus memelihara dendam sejarah dan ketakutan kelompok, maka negeri ini akan menjadi seperti rumah kardus yang mudah roboh hanya karena satu embusan angin ribut.
Tamparan untuk “Generasi Stroberi” dan Masa Depan Perang Dagang
Sebagai orang tua, bagian ketiga dari perbincangan ini membuat saya ingin menjewer telinga anak-anak muda zaman sekarang, atau yang sering disebut dengan istilah mentereng: Strawberry Generation. Generasi yang katanya tampak indah dan eksotis di luar, tapi begitu ditekan sedikit langsung benyek, hancur, dan menuntut healing ke Bali.
Babah Alun memberikan kuliah etos kerja yang sangat konvensional tapi abadi: bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Anak muda hari ini terlalu sering mengedepankan gaya hidup (lifestyle) di atas daya hidup (survival mode). Belum juga punya penghasilan tetap yang mapan, tapi cicilan gawai terbaru sudah berjalan, kopi harus yang berlogo putri duyung hijau, dan setiap akhir pekan harus nongkrong demi estetika feeds Instagram.
Manajemen keuangan yang cerdas, menurut Babah Alun, adalah kemampuan kaku untuk mengutamakan kebutuhan di atas keinginan. Disiplin menabung bukan lagi soal mengumpulkan recehan di celengan ayam, melainkan soal menahan ego dari gempuran kapitalisme digital yang menawarkan kemudahan paylater.
Lebih jauh lagi, Babah Alun mengingatkan bahwa masa depan kita tidak akan lagi disibukkan oleh perang fisik menggunakan senapan atau tank. Masa depan adalah mandala perang ekonomi. Dan celakanya, institusi pendidikan kita, termasuk pondasi tradisional seperti pondok pesantren, sering kali gagap menghadapi realita ini.
Beliau menyarankan agar pesantren-pesantren di Indonesia tidak hanya fokus mengajarkan ilmu fikih atau tafsir secara teoretis, melainkan juga harus kuat dalam mengajarkan ilmu entrepreneurship alias ilmu dagang. Lulusan lembaga keagamaan harus mampu bersaing di dunia kerja, mandiri secara finansial, dan tidak menjadi beban sosial. Ingat, Nabi kita pun dulu adalah seorang pedagang internasional yang ulung sebelum menerima wahyu, bukan seorang birokrat yang hobi rapat di hotel berbintang.
Dan terkait serbuan produk serta kendaraan listrik dari Tiongkok yang belakangan ini membuat sebagian pelaku industri lokal ketakutan, Babah Alun justru melihatnya dengan kacamata optimistis seorang pedagang tulen. Masuknya produk luar itu jangan hanya diratapi dengan narasi chauvinisme yang sempit. Itu adalah pemicu kompetisi harga yang sehat. Yang diuntungkan siapa? Ya konsumen kita sendiri, rakyat kecil yang akhirnya bisa mengakses teknologi dengan harga yang rasional dan terjangkau.
Impian Terbesar: Menghapus Kotak-Kotak SARA
Namun, di atas semua urusan bisnis jalan tol dan teori ekonomi, ada satu luka mendalam yang tersimpan di hati Babah Alun. Sebuah luka yang saya kira menjadi luka kolektif bangsa ini yang belum kunjung sembuh total: masih adanya diskriminasi dan sekat pembatas terhadap warga keturunan Tionghoa di Indonesia.
Sangat menyedihkan melihat fakta bahwa setelah lebih dari 80 tahun kita merdeka, masih saja ada narasi-narasi miring yang mempertanyakan kadar keindonesiaan warga keturunan. Mereka masih sering dikotak-kotakkan, dicurigai sebagai entitas asing yang hanya ingin mengeruk kekayaan bumi pertiwi lalu membawanya kabur ke luar negeri.
Babah Alun dengan nada suara yang bergetar menegaskan sebuah kebenaran sejarah yang sering dilupakan: warga Tionghoa di Indonesia itu mencintai tanah air ini dengan seluruh jiwa raga mereka. Mereka ikut berdarah-darah dalam merebut kemerdekaan, mereka menaruh modal dan berinvestasi di dalam negeri justru untuk membuka jutaan lapangan pekerjaan bagi saudara-saudara sebangsa, dan ketika mereka mati pun, jasad mereka ingin tertanam di tanah Indonesia, bukan di tanah leluhur yang bahkan belum tentu pernah mereka kunjungi.
Harapan terbesar seorang Jusuf Hamka di sisa usianya bukanlah menambah panjang kilometer jalan tol miliknya, melainkan melihat runtuhnya sekat-sekat etnis itu. Dia memimpikan sebuah masa depan di mana anak-cucu kita nanti tidak lagi bertanya, “Kamu sukunya apa? Agamamu apa? Etnismu dari mana?”
Kita harus belajar menjadi Satu Indonesia tanpa kotak-kotak yang sengaja dibuat oleh para petualang politik demi syahwat kekuasaan lima tahunan. Menonton Babah Alun akhirnya membuat saya tersadar: menjadi indonesia seutuhnya itu tidak butuh sertifikat kelulusan penataran ideologi. Menjadi Indonesia itu sesederhana mengenakan batik karya anak disabilitas dengan bangga, berani turun ke jalanan tanpa pengawal untuk merangkul saudara yang sedang berduka, dan menolak untuk ikut menabung prasangka di kepala kita yang sudah telanjur penuh dengan beban hidup ini.
