Penyesalan Masa Lalu dan Tikungan Takdir
Kisah bermula di sebuah kuil tua di tengah musim dingin yang membeku. Nyonya Lu—atau yang dikenal sebagai Wen Nuan—tengah membagikan sumbangan besar kepada warga miskin. Di mata masyarakat, ia adalah sosok anggun, istri dari pria terkaya di kota yang hidup bergelimang kemewahan. Namun, di balik senyum dan kedermawanannya, hati Wen Nuan sekering gurun. Sepuluh tahun lalu, sebuah tradisi keluarga menggunakan sumpit emas dan sumpit kayu menentukan takdirnya. Ia menarik sumpit emas yang membawanya menikah dengan Lu Jingxuan, pewaris kekayaan kota, sementara saudarinya, Wen Yao, mendapatkan sumpit kayu dan terlempar ke kehidupan desa yang miskin.
Namun, kemewahan yang diperebutkan Wen Nuan ternyata menjadi neraka jidatnya sendiri. Lu Jingxuan adalah pria kejam yang menganggapnya tak lebih dari pajangan, menginjak-injak harga dirinya, bahkan memaksanya melayani pria lain demi kepentingan bisnis. Di ambang keputusasaan, Wen Nuan mengakhiri hidupnya dengan melompat ke jurang. Di saat yang sama, sebuah keajaiban mistis terjadi di kuil tersebut. Waktu berputar kembali.
Wen Yao terbangun tepat di hari pemilihan sepuluh tahun lalu. Kesadaran bahwa dirinya terlahir kembali (rekarnasi) membuat ambisinya membara. Ketika melihat sumpit emas di atas meja, ia langsung menyambarnya dengan kasar. Dalam hatinya, ia tertawa puas, yakin bahwa kali ini ia akan merebut posisi sebagai istri orang terkaya dan membiarkan saudarinya, Wen Nuan, membusuk di desa. Wen Nuan, yang ternyata juga membawa ingatan dari masa depan, hanya tersenyum tenang dan menerima sumpit kayu. Baginya, kemewahan kota yang dingin tidak ada apa-apanya dibanding kesempatan untuk hidup bebas tanpa menjadi boneka siapapun. Sebelum pergi ke desa, Wen Nuan menggunakan taktik cerdas untuk merebut seluruh harta warisan mendiang ibunya dari tangan ayahnya yang serakah, Wen Dehai, sebagai modal awal kehidupannya yang baru.
Kehidupan Baru di Desa Chengjia
Wen Nuan melangkah turun dari kendaraan jemputan sederhana dan menginjakkan kakinya di Desa Chengjia. Alih-alih rumah reot yang kumuh, ia disambut oleh hangatnya sebuah keluarga. Ada Ayah Cheng yang humoris namun penyayang, Ibu Cheng yang tangguh, serta Xiao Qiao, adik perempuan kecil yang ceria dan polos. Kehadiran Wen Nuan diterima dengan tangan terbuka tanpa syarat, sebuah ketulusan yang belum pernah ia rasakan selama hidup di keluarga Wen yang materialistis.
Tak lama kemudian, sosok yang selama ini menjadi misteri muncul. Cheng Jiang, suami pilihan takdirnya, pulang dari ladang. Wen Nuan terpaku; pria desa yang dalam ingatan masa lalunya dikabarkan telah meninggal muda itu ternyata adalah seorang pemuda yang sangat tampan, bertubuh tegap, dan memiliki tatapan mata yang teduh namun berwibawa. Malam pertamanya dilalui dengan kecanggungan yang manis, di mana Cheng Jiang dengan sangat sopan memilih tidur di lantai untuk menghormati Wen Nuan.
Keesokan harinya, kejutan besar menanti Wen Nuan. Sebagai hadiah pernikahan, keluarga Cheng mengeluarkan kotak penyimpanan mereka. Alih-alih perhiasan biasa, mereka menyerahkan lima balok emas murni berukuran besar. Tidak hanya itu, Cheng Jiang memberikan sebuah kartu debit kepada Wen Nuan, memintanya untuk mengelola keuangan keluarga karena percaya bahwa “istri yang memegang uang akan membawa keberkahan.” Saat Wen Nuan mengira kartu itu hanya berisi beberapa ratus ribu, Cheng Jiang berbisik bahwa di dalamnya ada uang sebesar seratus juta yuan, dan itu “tidak terlalu banyak.” Wen Nuan perlahan menyadari bahwa ladang dan gunung-gunung yang dikelola keluarga Cheng bukanlah pertanian biasa. Suaminya yang bersahaja ternyata adalah miliarder tersembunyi, sang “Pria Terkaya di Negara” yang memilih hidup membumi.
Kontras Dua Dunia
Sementara Wen Nuan tenggelam dalam kebahagiaan dan cinta yang tulus, Wen Yao justru mulai mencicipi racun dari pilihannya sendiri. Di kediaman Lu, ia diperlakukan bagai pelayan tingkat rendah. Di hari pertama pernikahan, ibu mertuanya langsung menegakkan aturan kejam: Wen Yao dipaksa berlutut dari jam sepuluh pagi hingga jam tujuh malam tanpa makan dan minum hanya karena dianggap kurang sopan. Lu Jingxuan secara terang-terangan menghinanya, menyatakan bahwa Wen Yao tidak akan pernah setara dengan status sosialnya, dan bahkan membawa wanita lain ke rumah tanpa memedulikan perasaan Wen Yao.
Perbedaan mencolok ini semakin meledak saat perayaan Tahun Baru Imlek. Di kediaman Lu, makan malam berlangsung dingin dan penuh tekanan psikologis bagi Wen Yao. Di sisi lain, di halaman rumah keluarga Cheng, tawa renyah membubung tinggi. Ibu Cheng bahkan menjahitkan sendiri baju hangat tebal untuk Wen Nuan, sebuah perhatian kecil yang membuat Wen Nuan menangis terharu karena selama hidup di kota, ia hanya dipedulikan jika menggunakan pakaian bermerek demi menjaga gengsi.
Pada hari kedua Imlek, tradisi menuntut para menantu untuk pulang ke rumah orang tua (mudik). Wen Yao datang dengan mobil mewah dan pakaian mahal, didampingi Lu Jingxuan yang angkuh. Ayahnya, Wen Dehai, menyambut mereka bagai dewa. Tak lama, Wen Nuan tiba dengan pakaian desa yang sederhana, memicu gelombang ejekan dari bibi dan kerabatnya. Wen Yao dengan sombong memamerkan teh “Centennial Silver Needle” seharga puluhan ribu yuan pemberian suaminya. Namun, kesombongan itu runtuh ketika Wen Nuan mengeluarkan hadiahnya: kaleng teh tanpa merek yang ternyata berisi “Wuyi Mother Tree Dahongpao”—teh langka legendaris warisan sejarah yang nilainya mencapai belasan juta yuan per kaleng.
Keributan pecah ketika Lu Jingxuan menuduh teh itu palsu. Ayah Wen yang serakah ikut memaki Wen Nuan dan memerintahkannya untuk meminta maaf kepada Wen Yao. Ketika ketegangan memuncak dan Lu Jingxuan hendak memukul Wen Nuan, pintu rumah digebrak. Cheng Jiang masuk bersama pasukannya, mengenakan setelan jas mewah yang memancarkan aura kekuasaan mutlak. Identitas asli keluarga Cheng sebagai pemilik rantai bisnis raksasa dan pelindung Desa Chengjia terbongkar. Seluruh kerabat Wen yang tadinya menghina langsung berlutut gemetar, sementara Wen Dehai mencoba menjilat menantu barunya. Namun, Wen Nuan dengan tegas memutuskan hubungan keluarga dengan mereka semua, meninggalkan Wen Yao yang menjerit histeris dalam kecemburuan yang membakar jiwa.
Konspirasi Pasar Buah dan Kehancuran Keluarga Lu
Kehilangan muka di rumah keluarga Wen membuat Wen Yao dan Lu Jingxuan menyusun rencana balas dendam. Kesempatan itu datang ketika bisnis Lu mendapatkan kontrak untuk menguji dan membeli hasil panen buah di Desa Chengjia. Di pasar desa, Wen Yao dengan angkuh menolak hasil panen jeruk milik Wen Nuan, mengejeknya sebagai buah busuk yang hanya layak untuk orang miskin. Lu Jingxuan bahkan dengan sengaja menjatuhkan keranjang-keranjang jeruk tersebut ke tanah.
Namun, mereka tidak tahu bahwa jeruk yang mereka hancurkan bukanlah jeruk biasa, melainkan varietas “Ruby Mandarin” hasil kultivasi khusus yang telah mendapatkan sertifikasi dari Akademi Ilmu Pertanian Negara dengan nilai pasar mencapai sepuluh ribu yuan per biji. Berdasarkan hitungan kerugian, keluarga Lu diwajibkan membayar ganti rugi sebesar sepuluh juta yuan seketika. Karena tidak membawa uang tunai sebanyak itu, jam tangan mewah milik Lu Jingxuan dan perhiasan Wen Yao disita secara paksa di tempat oleh kepala desa dan warga.
Puncak kehancuran Lu Jingxuan terjadi ketika Cheng Jiang muncul dan langsung menelepon pusat kekuasaan bisnisnya. Dalam hitungan menit, seluruh kontrak kerja sama antara Perusahaan Lu dan konsorsium pria terkaya dibatalkan secara permanen. Penghentian modal dan penarikan investasi secara massal dari bank-bank mitra membuat Perusahaan Lu dinyatakan bangkrut seketika. Lu Jingxuan yang frustrasi melimpahkan seluruh kemarahannya kepada Wen Yao, memukulinya dan memaksanya pergi ke tempat hiburan malam untuk menemani para pejabat demi mendapatkan pinjaman modal.
Puncak Kegilaan dan Kebenaran Akhir
Pernikahan resmi Wen Nuan dan Cheng Jiang digelar secara meriah namun hangat di halaman desa, dihadiri oleh seluruh penduduk yang telah dibantu perekonomiannya oleh keluarga Cheng. Di saat yang sama, Wen Yao telah kehilangan seluruh akal sehatnya. Didorong oleh rasa iri yang mendarah daging, ia menyelundupkan diri ke restoran tempat Wen Nuan dan Cheng Jiang menikmati bulan madu mereka.
Dengan mata merah penuh kegilaan, Wen Yao menyandera Wen Nuan di tepi balkon restoran dengan sebilah pisau, menuntut agar Cheng Jiang menyerahkan seluruh aset Perusahaan Cheng dan memberikan posisi “Nyonya Besar” kepadanya. Di momen kritis itu, Cheng Jiang dengan tenang mengalihkan perhatian Wen Yao, sementara Lu Jingxuan yang datang mengejar istrinya berhasil merebut pisau tersebut dari belakang. Wen Yao akhirnya diringkus oleh pihak kepolisian. Akibat guncangan mental yang terlalu hebat, Wen Yao kehilangan kewarasannya dan divonis menderita gangguan jiwa permanen, menyisakan kecerdasan mental setingkat anak usia empat tahun.
Beberapa waktu kemudian, di taman kediaman Cheng yang asri, Wen Nuan mengunjungi Wen Yao yang kini dirawat di fasilitas khusus. Melihat saudarinya bermain dengan boneka layaknya anak kecil, Wen Nuan menghela napas panjang. Cheng Jiang berjalan mendekat, memeluk pundak istrinya dengan hangat. Di saat itulah, sebuah rahasia besar dari kehidupan masa lalu terungkap melalui pengakuan Cheng Jiang.
Cheng Jiang tersenyum dan berbisik bahwa sebenarnya, pada kehidupan pertamanya, dialah pria yang mengantarkan barang ke kediaman Lu dan jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Wen Nuan. Saat itu, Cheng Jiang diam-diam membantu bisnis Lu Jingxuan dari balik layar agar Wen Nuan bisa hidup nyaman sebagai istri orang kaya, tanpa tahu bahwa Wen Nuan menderita hingga bunuh diri. Ketika Cheng Jiang mendapati Wen Nuan tewas, dunianya runtuh dan ia ikut meninggal dalam penyesalan, sebelum akhirnya takdir mengizinkan mereka berdua terlahir kembali ke masa lalu secara bersamaan.
Mendengar pengakuan itu, air mata kebahagiaan mengalir di pipi Wen Nuan. Segala teka-teki tentang mengapa takdir membawa mereka bersama kini terjawab. Cerita berakhir dengan indah saat seluruh keluarga Cheng berkumpul di halaman rumah untuk mengambil foto keluarga bersama, menyambut Tahun Baru dengan tawa, cinta yang tulus, dan harapan baru bagi janin yang kini tengah tumbuh di dalam kandungan Wen Nuan.
