Kebangkitan Tiga Jiwa
Kisah dibuka dengan kemalangan Yulan, seorang gadis pelayan pencuci kaki di Jiaofangsi (tempat hiburan istana) yang dianggap idiot oleh orang-orang di sekitarnya. Dia kerap disiksa, dihina, dan dituduh mencuri barang mewah istana demi melindungi selir lain. Namun, takdir Yulan bukanlah takdir seorang budak. Seorang pendeta Tao tua meramal rahasia tubuhnya: “Kamu memiliki rupa burung feniks, penguasa tertinggi. Saat sembilan bintang sejajar, tiga jiwamu akan bersatu, dan kamu tidak akan bodoh lagi. Jika kamu membalikkan langit dan bumi, kamu akan memimpin seluruh makhluk hidup”.
Ramalan itu menjadi nyata di tengah badai salju. Tubuh Yulan yang lemas seketika bergetar ketika fenomena langit menyatukan tiga jiwa berbeda ke dalam dirinya. Jiwa-jiwa itu adalah: Zhuque, mantan jenderal wanita legendaris Dinasti Dazhou yang keluarganya dibantai akibat fitnah keji dan dirinya sendiri dicekik hingga tewas di istana dingin; Huang Ying, seorang bintang pop modern dari seribu tahun masa depan yang menguasai seni hiburan, taktik pertunjukan, dan “drama istana”; serta jiwa asli Yulan sendiri.
Penyatuan ini membuat Yulan tidak lagi idiot. Ketiga jiwa ini bersepakat untuk menjadi teman seperjuangan. Alasan mereka kuat: Zhuque ingin membalas dendam pada Kaisar Qin Yuan dan Selir Agung Rong Feiyan yang telah membantai keluarganya, sementara Yulan ingin melindungi Abao, seorang anak yatim piatu yang diselamatkan ibunya di tengah salju.
Melalui ingatan Zhuque, terungkap bahwa Abao sebenarnya adalah pangeran kandung, putra satu-satunya dari mendiang Permaisuri terdahulu yang delapan tahun lalu ditukar dengan bayi mati oleh Selir Agung Rong Feiyan demi mengamankan kekuasaan. Untuk menyelamatkan Abao dan menuntaskan dendam, Yulan harus memanjat hierarki kekuasaan istana, dimulai dengan memenangkan Kompetisi Huaqui (Pemilihan Selir Utama) di Jiaofangsi.
Racun Istana dan Tarian Feniks di Depan Kaisar
Langkah awal Yulan dihadang oleh kecemburuan selir lain yang berniat membunuhnya di atas panggung menggunakan racun. Namun, berkat jiwa modern Huang Ying yang terbiasa dengan kompetisi ketat dan “taktik pertahanan ganda”, Yulan telah menukar kotak bedak beracun itu dan menandainya secara rahasia. Selir yang berniat menjebaknya justru terkena batunya sendiri dan diseret ke pengadilan.
Saat giliran Yulan tampil, pakaian panggungnya sengaja dirobek oleh saingannya. Dalam situasi kritis, dia menggunakan kain sutra pemberian penonton misterius dan membawakan tarian serta lagu legendaris bertajuk “Going Up the West Tower”. Tarian itu begitu magis hingga membuat Kaisar Qin Yuan yang hadir terkejut setengah mati. Lagu dan tarian itu adalah lagu cinta masa lalu antara kaisar dan Jenderal Zhuque yang telah lama tiada. Terpesona oleh kemiripan Yulan dengan Zhuque, Kaisar Qin Yuan langsung mengangkat Yulan sebagai Selir Tingkat Tujuh (Cairen) malam itu juga dan membawanya masuk ke istana.
Sebelum pergi, Abao memberikan sebuah jimat pelindung untuk kakaknya. Yulan berjanji akan kembali setelah merebut kekuasaan. Di dalam istana, pertarungan yang sesungguhnya dimulai. Jiwa Huang Ying meyakinkan Yulan: “Istana ini adalah wadah racun, tapi dunia ini hanyalah panggung sandiwara. Selama kita bersatu, tidak ada jebakan yang tidak bisa kita hancurkan”.
Menjebak Para Musuh dan Merebut Hati Kaisar
Di dalam istana, Yulan harus berhadapan dengan dua musuh besar: Selir Agung Rong Feiyan yang kejam dan menguasai militer lewat keluarganya, serta Selir Xian yang bermuka dua dan bersekutu dengan Rong Feiyan demi keselamatan diri. Suatu hari, Rong Feiyan sengaja menghukum Yulan berlutut di bawah terik matahari dengan dalih menegakkan aturan kesopanan istana. Yulan dengan sengaja bertahan sampai Kaisar Qin Yuan datang. Begitu kaisar muncul, Yulan berakting pingsan dan mengutip aturan istana tentang kesetaraan, membuat kaisar murka kepada Rong Feiyan dan langsung menjatuhkan hukuman kurungan bagi selir agung tersebut.
Yulan dan Zhuque kemudian mulai menabur benih perpecahan di antara Rong Feiyan dan Selir Xian. Mereka mengirimkan makanan yang secara terselubung mengandung zat yang saling bertolak belakang, yang jika dikonsumsi jangka panjang oleh Selir Xian yang sedang hamil akan memicu keguguran. Di saat yang sama, Yulan menggunakan trik psikologis dan teror malam—memunculkan “gaun berdarah” dan bayangan masa lalu—untuk membuat Selir Xian ketakutan setengah mati karena merasa dihantui oleh arwah Permaisuri terdahulu yang dikhianatinya.
Selir Xian yang frustrasi dan ketakutan akhirnya kehilangan kendali di depan kaisar, berteriak-teriak bahwa Rong Feiyan-lah yang memaksanya membunuh Permaisuri terdahulu. Akibat skandal itu dan isu takhayul bahwa janin Selir Xian membawa kutukan bagi kaisar, kaisar membuang Selir Xian. Sebelum Selir Xian diasingkan, Yulan menemuinya dan membisikkan identitas aslinya sebagai Zhuque yang bangkit dari kubur untuk menuntut balas.
Kejatuhan Keluarga Rong dan Pemulihan Identitas Pangeran
Rong Feiyan yang tidak mau kalah mencoba melakukan serangan balik dengan menjebak Yulan dalam tuduhan berselingkuh dengan Xie Shizi, adik mendiang Permaisuri yang diam-diam membantu Yulan menyelidiki kejahatan masa lalu. Yulan dituduh melakukan makar dan bertukar surat rahasia dengan musuh asing, Kerajaan Goryeo. Di depan kaisar, sebuah cawan berisi racun sudah disiapkan untuk mengeksekusi Yulan.
Namun, Yulan menghentikan eksekusi dengan mengajukan lima pertanyaan retoris yang mematikan. Dengan bantuan pengetahuan Zhuque dan logika forensik modern dari Huang Ying, Yulan membuktikan bahwa surat itu menggunakan kertas lokal dan segel palsu yang sengaja ditaruh oleh pelayan Rong Feiyan. Yulan bahkan membalikkan keadaan dengan menunjukkan lencana militer Keluarga Rong yang tertinggal di lokasi pembakaran istana, yang aromanya mengandung rumput ilusi khas mata-mata Goryeo. Bukti ini tak terbantahkan. Kaisar Qin Yuan yang menyadari bahwa Keluarga Rong berniat menggunakan militer asing untuk mengancam takhtanya, langsung mencopot gelar Rong Feiyan dan menjatuhkan hukuman mati kepada seluruh keluarganya atas tuduhan makar.
Setelah membersihkan musuh-musuhnya, Yulan membawa Abao masuk ke dalam istana. Xie Shizi membawakan bukti potongan kain bedung bayi kerajaan yang membuktikan bahwa Abao memiliki tanda lahir berbentuk bulan sabit di bahu kirinya. Kaisar Qin Yuan yang melihat kemiripan fisik Abao dengan dirinya langsung menangis haru. Kaisar memulihkan status Abao sebagai Pangeran Chu Wang dan mengangkat Yulan menjadi Selir Agung Utama yang memegang kendali atas urusan istana belakang.
Ending: Balas Dendam Sempurna dan Tahta Kaisar Wanita
Kaisar Qin Yuan yang semakin tua dan curiga terhadap para menterinya mulai menyerahkan banyak urusan pemerintahan dan pembacaan petisi kepada Yulan. Namun, kaisar tidak tahu bahwa Yulan diam-diam telah mencampur ramuan obatnya dengan rumput penghancur pikiran dan racun kronis. Ditambah lagi dengan mantra kutukan balik yang ditanam Yulan di kamar kaisar, kesehatan sang raja merosot tajam.
Sebelum kaisar jatuh koma, Yulan memanipulasi situasi politik dengan membongkar korupsi dana bencana alam yang dilakukan oleh pejabat kementerian, memaksa para menteri untuk mendesak kaisar segera mengangkat Abao sebagai Putra Mahkota demi kestabilan negara. Kaisar Qin Yuan yang sekarat akhirnya menandatangani dekret pengangkatan Abao sebagai kaisar baru.
Di ranjang kematian kaisar, Yulan mendekat dan membisikkan kebenaran yang mengerikan ke telinga pria itu. Kaisar Qin Yuan terkejut saat mengetahui bahwa selir yang sangat dicintainya ini adalah Zhuque, wanita yang dulu dikorbankan dan dibantainya demi mengamankan takhta militer. Kaisar Qin Yuan tewas dalam cengkeraman rasa sakit fisik akibat racun dan penyesalan batin yang mendalam.
Keesokan harinya, dekret terakhir kaisar dibacakan di hadapan seluruh menteri: Abao naik takhta sebagai kaisar baru, dan Ibu Suri Yulan (panggilan baru Yulan) memegang cap stempel kekaisaran dan memimpin seluruh urusan pemerintahan negara sampai kaisar baru dewasa. Yulan berhasil membalaskan dendam seluruh keluarganya dan naik ke puncak kekuasaan tertinggi sebagai kaisar wanita de facto Dinasti Dazhou.
Setelah badai politik mereda, tugas jiwa Huang Ying dan Zhuque di dunia kuno itu telah usai. Pendeta Tao tua kembali muncul di istana, mengonfirmasi bahwa dua jiwa suci tersebut telah kembali ke garis takdir mereka masing-masing setelah lingkaran dendam terselesaikan. Yulan berdiri di atas balkon istana yang megah, menatap wilayah kekuasaannya dengan bijaksana, siap memimpin negerinya menuju era baru yang adil dan makmur. Sebuah cerita pembalasan dendam yang tuntas dan elegan dari seorang pencuci kaki yang menjungkirbalikkan takhta kekaisaran.
