Jebakan Nikah Kontrak dan Pangeran Dua Kepribadian
Cerita dibuka dengan penderitaan seorang gadis yang nasibnya apes betul. Dia adalah mata-mata dari Kerajaan Matahari yang dipaksa menyamar menjadi Putri Kirana dari Kerajaan Bintang untuk dinikahkan (baca: dijadikan tameng politik) dengan sang Pangeran Mahkota dari Kerajaan Bulan. Menikah dengan pangeran bayangan bagi sebagian orang mungkin terdengar romantis ala negeri dongeng. Tapi di Kerajaan Bulan, ini adalah vonis mati terselubung. Konon, siapa pun pelayan atau selir yang masuk ke kediaman Pangeran Mahkota pada malam hari, tak akan pernah keluar dalam keadaan bernyawa.
Benar saja, pada malam pertama pernikahan, suasana romantis yang diidamkan berubah jadi horor komedi yang menegangkan. Sang Pangeran Mahkota muncul dengan pembawaan psikopat: matanya ditutup kain, memegang pemukul, dan memperlakukan ruangan tidurnya seperti arena bermain babi buta alias “game” memukul semangka. Si Gadis—yang sekarang kita sebut saja Putri Palsu atau Putri Ping’an—harus memutar otak, menghitung langkah kaki, melompat ke kiri dan kanan demi menghindari hantaman sang pangeran yang kehilangan kendali. Ajaibnya, dia berhasil bertahan hidup. Dialah wanita pertama yang keluar dari kamar terkutuk itu dengan napas yang masih dikandung badan.
Keesokan harinya, plot twist pertama menghantam. Saat si gadis berniat melarikan diri dari istana gila ini, dia berpapasan dengan Pangeran Mahkota di siang bolong. Sungguh aneh bin ajaib, sosok pangeran yang semalam seperti kesurupan macan panggung, kini berubah total menjadi pria lemah lembut, penuh tata krama, bahkan meminta maaf dengan tulus atas kelakuannya. Pangeran mengaku mengidap penyakit langka: ingatan siang dan malamnya terputus. Apa yang dia lakukan saat malam hari, sama sekali tak dia ingat ketika matahari terbit. Si gadis awalnya mengira ini cuma akting busuk, taktik manipulasi kelas kakap. Namun, melihat ketulusan (dan ketampanan) sang pangeran saat siang hari, hatinya perlahan melunak. Mereka pun sepakat membuat perjanjian kontrak pernikahan selama setengah tahun saja.
Misteri Darah dan Komedi Istana
Permainan malam terus berlanjut. Si gadis yang cerdik mulai bisa membaca pola “kegilaan” suaminya. Suatu malam, dia sengaja membiarkan dirinya “menang” dalam permainan pukul semangka itu demi menyadarkan sang pangeran. Di siang hari, ketika sang pangeran meratapi luka-luka di tubuhnya akibat ulah malamnya sendiri, si gadis mulai paham bahwa pria ini sebenarnya sedang menderita luar biasa. Pangeran Mahkota terjebak dalam tubuhnya sendiri, mengekspresikan kerapuhannya layaknya anak kecil yang ketakutan di balik topeng monster malam hari.
Di tengah drama domestik yang absurd ini, muncul bumbu penyedap berupa intrik klasik istana. Sepupu perempuan sang pangeran—seorang sosialita istana yang sombongnya minta ampun, mengaku sebagai seniman, kritikus makanan, dan pengoleksi karya master lukis Hendra—datang melabrak Putri Palsu. Si sepupu menuduh si gadis sebagai wanita udik dari kerajaan kecil yang tak punya selera seni dan hanya modal rayuan maut.
Adegan ini berujung pada komedi satir yang renyah ketika si sepupu memamerkan sebuah lukisan yang diklaim sebagai karya asli Master Hendra untuk menghina si gadis. Sial bagi si sepupu, si gadis justru sedang bersama seorang pria berpenampilan acak-acakan yang tak lain adalah Hendra yang asli! Sang Master langsung menunjuk hidung si sepupu dan berteriak bahwa lukisan itu palsu. Si sepupu yang gengsinya setinggi langit tidak terima, mengira Hendra asli itu cuma gelandangan, lalu memerintahkan pengawalnya untuk memukulinya. Akhir cerita sekunder ini bisa ditebak: Pangeran Mahkota turun tangan, membela istrinya dan sang master lukis, lalu mengusir sepupunya yang mempermalukan diri sendiri itu dari istana.
Rahasia Kelam Sang Kaisar Tua
Namun, ini bukan sekadar drama romantis komedi biasa. Ada kegelapan yang jauh lebih pekat di balik dinding Kerajaan Bulan. Si gadis, dalam misinya sebagai mata-mata, menemui kontak rahasianya dari Kerajaan Matahari untuk meminta penawar racun bulanan. Di sanalah tirai konspirasi tersingkap: Kaisar Tua Kerajaan Bulan ternyata adalah “monster” sejati yang mempertahankan hidup dan keabadiannya selama ratusan tahun dengan cara memakan energi kehidupan atau meminum darah anak-anaknya sendiri. Dan Pangeran Mahkota saat ini tidak lain adalah “wadah obat” berikutnya yang sedang dipersiapkan untuk dikorbankan demi memperpanjang umur sang ayah.
Penyakit malam sang pangeran—hasrat membara dan rasa sakit yang tak tertahankan—rupanya adalah efek samping dari ramuan obat yang dipaksakan oleh tabib istana atas perintah Kaisar Tua. Pangeran sengaja menyiksa pelayan atau dirinya sendiri di malam hari hanya untuk mengalihkan rasa sakit fisik yang membakar pembuluh darahnya. Mengetahui kenyataan pahit ini, rasa benci si gadis berubah menjadi empati yang mendalam, yang pelan-pelan merayap menjadi cinta yang tulus.
Si gadis bahkan membawa pangeran ke sebuah tempat pemakaman rahasia yang dia buat sendiri untuk menghormati para pelayan yang tewas di malam hari akibat pelampiasan rasa sakit sang pangeran. Di sana, si gadis menghibur pangeran dengan menceritakan legenda dari negerinya tentang reinkarnasi. Bahwa mereka yang hidupnya menderita di dunia ini, kelak di kehidupan selanjutnya akan terlahir kembali sebagai pangeran atau putri yang bahagia dan kaya raya. Mereka berdua kemudian melakukan ritual “janji jari kelingking” (pinky swear), sebuah janji suci yang tak boleh diingkari.
Pengkhianatan, Pengorbanan, dan Air Mata
Badai akhirnya datang juga. Identitas asli si gadis sebagai putri palsu dan mata-mata mulai terendus oleh utusan dari Kerajaan Bintang. Di depan Kaisar Tua, utusan tersebut menyatakan bahwa wanita ini bukanlah Putri Kirana yang asli. Dalam situasi genting itu, si gadis dengan kecerdikan retorikanya mencoba membalikkan keadaan, menuduh balik sang utusan sebagai mata-mata sejati yang tidak setia pada Kerajaan Matahari. Sayangnya, kekuasaan Kaisar Tua terlalu absolut. Nyawa si gadis berada di ujung tanduk ketika perintah eksekusi mati dijatuhkan.
Melihat wanita yang dicintainya dalam bahaya, Pangeran Mahkota tidak tinggal diam. Dengan sisa-sisa kekuatan dan kendali atas emosinya, dia melawan perintah ayahnya sendiri demi menyelamatkan si gadis. Namun, pangeran tahu, istana sudah tidak lagi aman. Kerajaan Matahari juga sudah bersiap melakukan invasi besar-besaran untuk meruntuhkan Kerajaan Bulan.
Demi menyelamatkan nyawa si gadis, sang pangeran memilih jalan paling menyakitkan: dia berpura-pura kejam. Pangeran melemparkan obat penawar racun ke wajah si gadis, memakinya sebagai mata-mata rendahan yang tak lebih berharga dari seekor anjing, dan mengusirnya pergi dari istana. Si gadis pergi dengan hati yang hancur berkeping-keping, membawa koper-koper hartanya menuju sebuah desa terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk politik.
Di desa tersebut, si gadis mencoba memulai hidup baru. Dia menggunakan kekayaannya untuk membangun desa, membangun jembatan dan memperbaiki jalan bagi penduduk desa yang agraris dan jujur. Lingkungannya persis seperti rumah impian yang pernah dia ceritakan kepada pangeran: hutan bambu yang hijau, rumah yang indah, dan air terjun yang megah.
Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi yang sengaja diciptakan. Si gadis akhirnya menyadari sebuah kenyataan pahit dari kepala desa: seluruh penduduk desa, pemandangan alam, hingga anak kecil yang bermain di sana, semuanya adalah aktor yang dibayar mahal oleh Pangeran Mahkota. Sang pangeran telah mengatur segalanya agar di sisa hidupnya yang singkat, si gadis bisa hidup dengan aman, tenteram, dan bahagia tanpa kekurangan suatu apa pun.
Ending: Cinta di Tengah Puing Perang
Mengetahui kebenaran itu, si gadis tidak bisa lagi berdiam diri. Cinta mengalahkan rasa takutnya akan kematian. Dia kembali berlari menuju ibu kota Kerajaan Bulan yang saat itu sudah luluh lantak dikepung oleh tentara Kerajaan Matahari. Di tengah puing-puing peperangan dan kekacauan istana, dia mencari pangerannya.
Pertemuan kembali mereka di tengah medan perang begitu mengharukan sekaligus tragis. Pangeran Mahkota yang kondisinya sudah kritis akibat racun dan penolakan untuk terus menjadi “wadah obat” bagi ayahnya, terkejut melihat si gadis kembali. “Kenapa kamu kembali? Kamu bodoh, kita bisa mati bersama di sini!” seru pangeran. Si gadis dengan berlinang air mata menjawab bahwa dia tidak takut lagi, dan janji ketiga dari kelingking mereka adalah untuk tidak pernah berpisah lagi.
Kaisar Tua yang gila hormat dan keabadian akhirnya menemui ajalnya, tewas di tengah runtuhnya kekuasaannya sendiri yang dibangun di atas darah anak-anaknya. Pangeran Mahkota, dengan sisa kekuatan terakhirnya, berhasil melindungi si gadis dari sabetan senjata musuh dan runtuhnya istana. Di detik-detik terakhir, sang pangeran menyerahkan masa depan kerajaan yang hancur itu kepada para pengikutnya demi memastikan si gadis tetap hidup.
Kisah ini ditutup dengan sebuah pemandangan yang melankolis. Istana Kerajaan Bulan telah runtuh, menyisakan puing dan kenangan. Namun di sebuah tempat yang jauh, di bawah pohon persik dekat air terjun yang persis seperti dalam cerita mimpi mereka, si gadis berdiri menatap angin. Walau kegelapan malam telah berlalu dan membawa pergi sang pangeran, cinta mereka yang tumbuh di dalam kegelapan itu tetap abadi, melintasi batas ruang, waktu, dan takdir reinkarnasi yang selalu mereka percayai. Sebuah rekapitulasi epik tentang bagaimana cinta sejati acap kali harus ditebus dengan kepatuhan pada takdir yang paling kejam sekalipun.
