Ada satu adegan dalam catatan sejarah yang kalau kita bayangkan hari ini, rasanya bikin bulu kuduk berdiri sekaligus memicu rasa geli yang agak aneh. Tahun 1936 di Owensboro, Kentucky, sekitar 20.000 orang berkumpul di tengah lapangan. Mereka tidak sedang menonton pertandingan bola, bukan pula mengantre sembako. Mereka berkumpul, bersorak-sorai, membawa bekal makanan ringan, demi menonton prosesi penggantungan seorang pria bernama Rainey Bethea.
Maju beberapa dekade kemudian ke tahun 1989, pemandangan serupa berulang saat pembunuh berantai Ted Bundy dieksekusi di kursi listrik Florida. Di luar penjara, warga berkumpul mengenakan kaus bergambar kursi listrik, bersulang bir, dan menyalakan kembang api ketika kabar kematian Bundy diumumkan.
Kita sering kali menganggap diri kita sebagai makhluk beradab yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan luhur. Tapi mari jujur pada diri sendiri: mengapa penderitaan dan eksekusi mati orang lain bisa memicu festival kegirangan berskala kolosal seperti itu?
Jawabannya ternyata tidak seindah teori-teori hukum di kampus. Lewat bukunya yang fenomenal, Determined, Profesor Robert Sapolsky membongkar bahwa keinginan kita untuk menghukum penjahat sejatinya bukan lahir dari kesadaran moral yang suci. Itu cuma urusan kimiawi otak yang sangat vulgar: Dopamin.
Studi neuroimaging modern membuktikan hal yang cukup membagongkan. Ketika manusia melihat keadilan retributif—alias aksi pembalasan dendam atau hukuman berat—ditegakkan kepada orang yang dianggap bersalah, sirkuit dopamin di otak kita (ventral tegmental area dan nucleus accumbens) mendadak menyala terang-benderang.
Sensasi kimiawi yang meletup-letup di dalam kepala kita saat menonton penjahat disiksa atau digantung itu adalah sirkuit yang persis sama dengan yang aktif saat manusia mengalami orgasme atau ketika seorang pecandu mengonsumsi kokain.
Jadi, jangan berlagak sok suci dulu dengan dalil “penegakan hukum”. Selama ribuan tahun, sistem hukum retributif bertahan dalam peradaban kita bukan karena ia efektif membuat dunia jadi lebih baik, melainkan karena memenjarakan, menyiksa, dan mengeksekusi pelaku kejahatan itu berhasil memuaskan dorongan dopaminergik purba dalam batok kepala Homo Sapiens. Kita cuma pecandu yang berkedok penegak keadilan.
Pelaku Kriminal itu Sama Dengan Berpenyakit, Cukup Dikarantina Saja
Setiap kali ada kasus kejahatan yang mengerikan, argumen paling populer yang dihembuskan untuk membenarkan hukuman mati atau siksaan berat adalah demi memberikan closure—alias penyelesaian emosional dan kesembuhan batin bagi keluarga korban.
Namun, kalau kita mau menyisihkan emosi sejenak dan melihat data empiris, narasi closure itu sejatinya cuma mitos yang dijual murah.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa membantai balik atau menyiksa pelaku kejahatan di dalam sel gelap sama sekali tidak menyembuhkan luka trauma keluarga korban. Justru sebaliknya: data menunjukkan bahwa keluarga korban di negara-negara yang tidak menerapkan hukuman mati memiliki tingkat pemulihan mental dan kesejahteraan psikologis yang jauh lebih baik dibandingkan mereka yang menetap di wilayah yang sibuk menggelar eksekusi mati. Dendam yang dituntaskan ternyata tidak pernah menghasilkan kedamaian; ia cuma menyisakan ruang kosong yang dingin.
Dari sinilah Sapolsky menawarkan sebuah pendekatan yang radikal tapi masuk akal: Model Karantina Medis.
Bayangkan jika ada sebuah mobil di jalan raya yang mengalami rem blong total. Mobil itu meluncur deras, mengancam keselamatan pejalan kaki, dan siap menabrak apa saja di depannya. Apakah kita harus menghentikan mobil itu? Jelas wajib! Mobil itu harus dipinggirkan, diisolasi, dan diamankan agar tidak mencelakakan publik.
Tapi pertanyaannya: apakah setelah mobil itu berhasil dihentikan, kita perlu memukuli kap mesinnya pakai balok kayu, membakar bannya, atau meludahi mesinnya sambil memaki-maki? Tentu saja tidak. Itu tindakan konyol. Kita tahu mobil itu meluncur bukan karena ia “jahat”, melainkan karena remnya korslet atau putus.
Hal yang sama berlaku bagi manusia. Jika kehendak bebas (free will) sejatinya adalah ilusi, dan aksi kejahatan dipicu oleh kerusakan jaringan biologis serta trauma lingkungan yang tidak pernah bisa dipilih oleh si pelaku, maka fungsi hukum tidak boleh lagi bertindak sebagai mesin penyiksa.
Lihat bagaimana Norwegia mengelola penjara mereka. Ketika pembunuh massal Anders Breivik membantai puluhan anak muda secara kejam pada 2011, Norwegia tidak memasukkannya ke dalam ruang bawah tanah yang gelap tanpa ventilasi. Breivik dikarantina di fasilitas yang sangat manusiawi—dilengkapi TV, komputer, dan akses pendidikan.
Masyarakat dunia sempat mencemooh dan menganggap Norwegia terlalu lembek. Tapi lihat hasilnya: tingkat residivisme (pengulangan kejahatan) di Norwegia adalah salah satu yang terendah di dunia, berbalik arah dengan sistem penjara berotot keras di Amerika Serikat yang justru melahirkan residivis baru secara beruntun.
Membatasi kebebasan seseorang demi keselamatan publik sudah merupakan bentuk karantina yang cukup. Menambahkan perlakuan tidak manusiawi di dalamnya hanyalah cara brutal masyarakat untuk memuaskan libido balas dendam.
Kejahatan itu Penyakit, Perlakukanlah Seperti orang Sakit
Salah satu akar masalah mengapa kita begitu bernafsu menghukum orang lain adalah karena kita memelihara kepercayaan bahwa setiap manusia adalah “kapten” atas dirinya sendiri. Kita percaya pada kehendak bebas (free will).
Para filsuf yang gelisah mencoba menyelamatkan konsep ini lewat istilah keren bernama compatibilism—sebuah usaha intelektual untuk memadukan determinisme dengan kehendak bebas. Tapi bagi Sapolsky, compatibilism cuma langkah defensif dari para akademisi yang ketakutan menghadapi fakta telanjang: bahwa alam semesta ini sejatinya acuh tak acuh dan kita cuma organisme yang berjalan sesuai instruksi biologis dan jejak lingkungan.
Bahkan ada fakta unik dalam neurobiologi: penderita depresi klinis sering kali justru menjadi kelompok manusia yang paling kebal terhadap ilusi kehendak bebas. Mereka melihat realitas secara sangat akurat—tanpa diwarnai ilusi romantis bahwa “dunia ini adil”.
Sikap menghakimi kita yang sok tahu ini tidak cuma terjadi di ruang sidang pengadilan, tapi mewarnai kehidupan sehari-hari lewat mitos bernama Meritokrasi.
Ambil contoh sederhana: penderita obesitas. Di masyarakat, orang dengan berat badan berlebih sering kali dicap malas, tidak punya kendali diri, atau lemah secara moral. Padahal, jika kita membedah isi tubuhnya secara saintifik, ada mutasi biologis pada hormon leptin, gangguan fungsi pada prefrontal cortex, hingga masalah reseptor rasa yang secara harfiah menghilangkan kapasitas biologis otak orang tersebut untuk merasakan sinyal kenyang. Dia bukannya “lemah moral”, otak biologisnya memang tidak menerima sinyal yang sama dengan orang kurus!
Begitu pula dengan mitos John Henryism—sebuah fenomena di mana orang percaya bahwa kerja keras tanpa batas sanggup mengalahkan segala rintangan struktur sosial. Hasilnya? Keyakinan bahwa “kerja keras bisa merobohkan segalanya” ini secara harfiah membunuh kelompok marginal lewat serangan jantung dan penyakit kardiovaskular, akibat stres sistemik kronis yang tidak pernah bisa diselesaikan cuma dengan jargon “ayo semangat!”.
Dahulu kala di Abad Pertengahan, penderita epilepsi yang mendadak kejang-kejang dan mulutnya berbusa akan diseret ke tengah lapangan lalu dibakar hidup-hidup karena dianggap kesurupan setan. Hari ini, saat ada orang kejang di jalan, kita membawa mereka ke rumah sakit untuk diberi obat. Kita sadar itu cuma gangguan impuls listrik di otak.
Poin Sapolsky sederhana: pemahaman medis yang kita terapkan pada epilepsi hari ini, seharusnya juga mulai kita terapkan dalam memahami kerusakan sistem biologis pada otak para pelaku kejahatan.
Membenci Orang Karena Tindakan Bodohnya, Sama Seperti Memaki Badai yang Merobohkan Rumah Kita
Tentu saja, meruntuhkan kepercayaan pada kehendak bebas bukanlah hal yang gampang. Bahkan seorang Sapolsky sendiri mengalami pergulatan batin yang teramat dahsyat.
Sebagai seorang pria keturunan Yahudi yang anggota keluarganya menjadi korban pembantaian Holocaust, Sapolsky pernah dipanggil menjadi saksi ahli neurobiologi di pengadilan untuk membela seorang pria penganut supremasi kulit putih (white supremacist).
Bisa dibayangkan betapa mengamuknya isi kepala Sapolsky. Otaknya, terutama bagian amigdala, berteriak kencang menyuruhnya untuk membenci dan menghancurkan pria di depannya. Tapi sebagai ilmuwan yang jujur, Sapolsky harus menekan amigdalanya habis-habisan untuk menjelaskan secara obyektif bagaimana latar belakang biologis dan lingkungan pria tersebut telah membentuk pikirannya yang rusak.
Dari pergulatan ekstrem ini, lahir sebuah sikap moral baru yang jauh lebih dingin sekaligus menyejukkan:
Membenci seorang manusia atas tindakannya yang jahat sejatinya sama absurdnya dengan memaki badai yang merobohkan rumah kita, atau marah-marah pada virus Corona yang menginfeksi paru-paru.
Tidak ada manusia yang lahir ke bumi ini dengan membawa hak istimewa untuk lebih bahagia dibanding orang lain. Dan sebaliknya, tidak ada satu pun orang yang pantas menerima nasib buruk atau kondisi otak rusak yang tidak pernah bisa mereka pilih sejak dari dalam kandungan.
Jika hari ini kamu menjadi orang yang sukses, terpandang, tidak pernah masuk penjara, dan punya karir cemerlang, bersikaplah rendah hati. Kesuksesanmu itu bukan murni karena kehebatan karakter atau “keimanan” dirimu, melainkan karena kamu kebetulan memenangkan lotre biologi: mendapat kombinasi genetik yang baik, fungsi prefrontal cortex yang bekerja sempurna, dan tumbuh di lingkungan keluarga yang mendukung.
Ketika laptop atau televisi di rumah kita mengalami korsleting hingga berasap, tindakan paling rasional yang kita lakukan adalah membawanya ke tukang servis untuk diperbaiki komponennya. Tidak ada orang berakal sehat yang akan mengambil cambuk lalu memukuli laptop yang sedang korslet sambil berteriak, “Dasar laptop tidak tahu diri!”
Namun anehnya, ketika ada manusia yang “korslet” fungsi otaknya hingga merugikan orang lain, masyarakat kita lebih suka menyiksa, membenci, dan memuaskan syahwat dopaminnya lewat ritual hukuman—semata-mata karena kita masih menjalankan software moralitas kuno yang lapuk.
Mungkin sudah saatnya peradaban kita beranjak dewasa. Bukan dengan membiarkan kejahatan merajalela, melainkan dengan mengarantina bahaya secara beradab—sambil pelan-pelan memperbaiki mesin biologis manusia dengan empati yang berlandaskan sains, bukan dendam yang dibungkus dogma.
