Bagi kita yang hidup di era kuota internet lebih berharga daripada pulsa telepon, nama Nadiem Makarim adalah semacam legenda urban yang menjadi nyata. Dia adalah representasi dari mimpi anak muda urban modern: kuliah di Amerika, pulang bikin startup bernilai triliunan, lalu tiba-tiba dipanggil ke Istana untuk jadi menteri. Sebuah infografis berjalan tentang kesuksesan hidup.
Namun, membaca atau menonton wawancara eksklusif keluarga Makarim di acara Iso-Late Show bersama Grace Tahir membuat saya, seorang pria paruh baya yang sering gelisah melihat kelakuan anak zaman sekarang, terpaksa merenung agak dalam. Wawancara itu tidak sedang memamerkan portofolio saham atau valuasi Gojek. Wawancara itu justru membongkar isi dapur sebuah keluarga yang berhasil membesarkan seorang anak yang—mohon maaf—tampaknya sejak kecil sudah punya bakat bawaan untuk membuat orang tuanya rajin mengelus dada.
Mari kita jujur sejak awal. Membesarkan anak di zaman sekarang itu susahnya setengah mati. Kurang disiplin, anak jadi lembek dan kecanduan gawai. Terlalu disiplin, anak jadi robot yang kehilangan kreativitas, atau yang lebih buruk, jadi dendam kesumat pada orang tuanya saat dewasa.
Di sinilah menariknya drama domestik keluarga Makarim. Sang ibu, dalam ingatan masa kecil anak-anaknya, adalah sosok pemegang kendali hukum normatif yang amat ketat. Bayangkan sebuah rumah di mana jadwal belajar terstruktur dengan rapi, ditempel di dinding, dan harus dipatuhi seolah-olah itu adalah undang-undang dasar. Bagi anak-anak sekarang, rumah seperti itu mungkin terasa seperti kamp militer mini.
Tetapi, hukum besi sang ibu itu tidak berdiri sendiri. Di sudut lain rumah, ada sang ayah yang bertindak sebagai kutub seberang. Kalau ibunya sibuk menata jam dinding, ayahnya justru sibuk membongkar isi kepala anak-anaknya. Sang ayah tidak menuntut jawaban, melainkan memancing pertanyaan (sense of question). Anak-anak tidak disuruh menghafal ringkasan sejarah, tapi dirangsang untuk melemparkan ide-ide baru, bahkan yang paling absurd sekalipun.
Kombinasi inilah yang saya sebut sebagai “dialektika meja makan”. Disiplin tanpa kebebasan berpikir melahirkan birokrat bermental robot. Sebaliknya, kebebasan berpikir tanpa disiplin hanya akan melahirkan pemimpi yang kamarnya berantakan dan pekerjaannya cuma mengeluh di media sosial. Nadiem beruntung, atau mungkin terpaksa beruntung, tumbuh di antara jepitan struktur ibunya dan kultur ayahnya.
Bakat Menunda dan Seni Menjawab “Tidak”
Sebagai orang tua, saya terhibur—dan agak lega—saat mengetahui bahwa Nadiem kecil ternyata bukan potret anak teladan yang selalu duduk manis di depan kelas sambil memegang buku catatan. Ternyata, dia adalah jenis anak yang kalau di kampung saya mungkin sudah sering diancam akan ditukarkan dengan umbi-umbian. Dia digambarkan sebagai anak yang paling sulit dikontrol. Kata pertama yang keluar dari mulutnya setiap kali diperintah hampir selalu: “Tidak!”
Dia punya argumen untuk segala hal. Ditambah lagi, dia adalah seorang procrastinator ulung alias hobi menunda-nunda pekerjaan. Bagi para ibu yang tiap hari berteriak menyuruh anaknya mandi atau belajar, profil Nadiem kecil ini adalah sebuah solidaritas global. Ternyata mantan Menteri Pendidikan kita dulu juga suka menunda pekerjaan!
Namun, ada satu detail yang menyelamatkan Nadiem dari nasib menjadi pengangguran intelektual: daya fokus jangka pendek yang luar biasa. Dia bisa menyerap informasi dengan kecepatan penuh di tengah kebisingan. Ini jenis kemampuan otak yang tidak adil bagi manusia biasa. Ketika lingkungan sekitarnya gaduh, otaknya justru menemukan ruang sunyi untuk bekerja secara kilat.
Watak keras kepala, suka mendebat, dan gemar menunda ini, jika dikelola oleh tangan yang salah, bisa berakhir di jalanan sebagai koordinator demonstrasi yang abadi. Namun, karena dasar pendidikannya kuat, watak membangkang itu bermutasi menjadi sesuatu yang hari ini kita sebut dengan istilah keren: disrupsi.
Gojek itu, kalau kita preteli sejarahnya, lahir dari kombinasi watak keras kepala dan kemalasan yang produktif. Nadiem kesal dengan kemacetan Jakarta. Dia jengkel dengan permainan harga ojek pangkalan yang tidak transparan saat jam sibuk. Orang biasa yang jengkel paling-paling hanya akan mengumpat di dalam taksi, atau menulis status marah-marah di Facebook. Namun, seorang anak yang terlatih menjawab “tidak” pada kemapanan akan berpikir: “Kenapa sistemnya harus sekuno ini? Tidak bisa begitu, harus ada cara lain.”
Lalu lahirlah Gojek. Awalnya pun tidak mentereng. Bukan aplikasi canggih dengan algoritma rumit yang dikerjakan di gedung pencakar langit. Gojek dimulai dari sebuah call center sederhana yang hanya mengelola sekitar 20 pengemudi ojek. 20 orang! Itu bukan korporasi, itu jumlah anggota arisan RT.
Dari situ, imajinasi Nadiem bergulir ke GoFood pada tahun 2013. Ide ini muncul begitu saja di suatu pagi. Di sinilah letak genetika “kebebasan berpikir” dari sang ayah bekerja. Nadiem melihat sesuatu yang melampaui sekadar bisnis antar-jemput makanan. Dia melihat demokratisasi kuliner. Mengapa hanya restoran besar di mal yang bisa diakses dengan mudah? Mengapa warung rumahan, tukang bakso panggul, atau penjual gorengan di gang sempit tidak bisa punya pasar yang sama luasnya?
Gojek dan GoFood akhirnya bukan sekadar alat pencari untung, melainkan sebuah ekosistem yang mengubah struktur sosial-ekonomi masyarakat kelas bawah. Dan itu semua bermula dari seorang anak kecil yang hobi bilang “tidak” pada ibunya.
Liberal Arts dan Benteng Sunyi East Coast
Ada satu keputusan orang tua Nadiem yang menurut saya sangat politis dalam arti yang baik: pilihan tempat kuliah. Mengapa harus liberal arts? Dan mengapa harus di wilayah East Coast, Amerika Serikat?
Di zaman ketika semua orang tua berbondong-bondong menyuruh anaknya kuliah di jurusan teknik, kedokteran, atau bisnis demi jaminan masa depan yang mapan, mengarahkan anak ke pendidikan liberal arts adalah sebuah kemewahan pemikiran. Pendidikan jenis ini tidak melatih orang untuk siap kerja di satu pabrik, melainkan melatih orang untuk bisa berpikir jernih, membaca keadaan, dan memahami manusia.
Lebih dari itu, orang tuanya sengaja memilih kota kecil di East Coast. Alasannya sangat membumi sekaligus penuh perhitungan: agar jauh dari godaan kota besar, dan agar dekat dengan jaringan pertemanan keluarga. Ini adalah bentuk kompromi yang cerdas. Anak dilepas ke dunia barat yang bebas, namun ditaruh di sebuah benteng sunyi yang minim distraksi, sembari tetap dipantau oleh radar “intelijen” pertemanan keluarga.
Langkah ini menunjukkan bahwa seketat-ketatnya kedisiplinan yang diterapkan sang ibu, atau sebebas-bebasnya gagasan sang ayah, mereka sadar bahwa lingkungan luar bisa merusak segalanya dalam semalam jika tidak diantisipasi. Anak muda, secerdas apa pun dia, tetaplah seonggok daging yang rapuh di hadapan gemerlap dunia. Mengasingkan mereka di kota kecil untuk belajar adalah cara terbaik untuk memastikan isi kepalanya matang sebelum raganya terjun ke dunia yang bising.
Integritas yang Sakral dan Beban Istana
Namun, dari semua cerita tentang masa kecil dan kesuksesan bisnis, bagian yang paling menggetarkan dari wawancara keluarga Makarim adalah soal integritas. Kita hidup di negara di mana korupsi sudah menjadi seperti hobi masal, dan kejujuran sering kali dianggap sebagai kenaifan yang patut ditertawakan.
Di rumah keluarga Makarim, isu politik dan antikorupsi bukan sekadar obrolan selingan saat menonton berita televisi. Itu adalah menu harian. Nilai kejujuran diposisikan sebagai hal yang paling sakral. Ada satu kalimat dari wawancara itu yang layak dipahat di batu: kehilangan integritas dianggap sebagai kegagalan terbesar sebagai manusia dan anggota keluarga.
Pernyataan ini berat sekali. Di luar sana, banyak keluarga yang tetap bangga dan tersenyum lebar meskipun kepala keluarganya memakai rompi oranye KPK, asalkan rumah gedong dan mobil mewah tetap aman. Namun di keluarga ini, nilai manusia tidak diukur dari berapa digit angka di rekening bursa efek, melainkan dari bersih tidaknya tangan mereka dari uang yang bukan haknya.
Filosofi hidup mereka adalah bahwa manusia tidak akan pernah utuh sebelum ia menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Istilah kerennya giving back—mengembalikan sesuatu kepada masyarakat dan bangsa.
Maka, ketika Nadiem memutuskan masuk ke dalam pemerintahan, kita bisa memahami latar belakang psikologisnya. Awalnya dia ditawari posisi Menkominfo. Jabatan yang seksi, penuh dengan proyek teknologi, dan sangat linier dengan latar belakangnya sebagai bos startup. Tapi Nadiem menolak. Dia merasa tidak punya passion di sana.
Baru ketika Presiden Jokowi menawarkan posisi Menteri Pendidikan dengan misi digitalisasi sistem pendidikan Indonesia agar mampu bersaing di kancah global, Nadiem langsung menyala. Pendidikan adalah pondasi awal keluarganya. Ini adalah kesempatan untuk menguji semua idealisme yang ditanamkan jam dinding ibunya dan pertanyaan-pertanyaan ayahnya ke dalam skala nasional.
Bagaimana respons sang ibu? Di sinilah naluri seorang ibu bekerja melampaui batas ambisi politik. Sang ibu sempat ragu dan khawatir. Birokrasi Indonesia itu luas, rumit, dan kejam. Masuk ke sana seperti masuk ke dalam hutan belantara yang penuh dengan jebakan batman.
Namun, Nadiem memakai “senjata” ibunya sendiri untuk meyakinkan beliau. Dia mengingatkan kembali ajaran sang ibu: bahwa manusia harus berkontribusi nyata untuk negara. Sang ibu tidak bisa berkutik kalau sudah didebat pakai argumennya sendiri.
Bagi keluarga Makarim, jabatan menteri yang diraih Nadiem pada waktu itu sama sekali bukan sebuah hadiah, bukan pula piala prestasi untuk dipamerkan dalam reuni keluarga besar. Jabatan itu dipandang sebagai sebuah beban tanggung jawab yang luar biasa besar. Sebuah tugas suci yang melelahkan.
Tanpa Penyesalan di Jalan Pengabdian
Kini, masa-masa di pemerintahan mungkin telah menyisakan banyak cerita. Menjadi menteri di Indonesia adalah seni mengumpulkan kritik dari segala penjuru angin. Setiap kebijakan pasti memicu perdebatan, setiap langkah selalu dicurigai, dan setiap inovasi sering kali dihadang oleh tembok tebal kenyamanan birokrasi tua.
Apakah keluarga itu menyesal? Sang orang tua dengan tegas mengatakan: tidak ada penyesalan sama sekali. Mereka memandang seluruh dinamika, caci maki, pujian, dan kerumitan yang dihadapi Nadiem di pemerintahan sebagai bagian dari way of life—jalan hidup untuk mengabdi. Jika kita sudah mewakafkan diri untuk sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, maka kenyamanan pribadi otomatis harus dicoret dari daftar keinginan.
Ada sebuah pesan penting yang dititipkan oleh keluarga ini untuk anak-anak muda Indonesia, terutama mereka yang beruntung bisa mencicipi pendidikan di luar negeri: pulanglah. Kembalilah untuk membangun tanah air.
Nadiem digambarkan oleh keluarganya sebagai sosok yang fearless—pemberani yang agak nekat—dan memiliki keyakinan yang luar biasa kuat pada potensi orang-orang serta masa depan negaranya. Tanpa kenekatan yang bersumber dari iman yang kuat pada masa depan bangsa ini, mustahil seorang pemuda mau melepaskan kenyamanan posisi CEO sebuah unicorn demi kursi menteri yang panas dan penuh intrik.
Membaca kisah perjalanan keluarga Nadiem Makarim ini membuat saya sadar akan satu hal: anak-anak hebat tidak lahir dari ruang hampa. Mereka dibentuk oleh benturan-benturan idealisme di meja makan rumah mereka sendiri. Mereka dibentuk oleh ibu yang tahu kapan harus menegakkan disiplin, dan ayah yang tahu kapan harus memberi ruang bagi imajinasi untuk terbang bebas.
Dan yang paling penting, mereka dibentuk oleh sebuah keluarga yang sepakat bahwa kekayaan tertinggi seorang manusia bukanlah nominal saham, melainkan sebuah nama baik yang bersih dan kontribusi nyata yang ditinggalkan untuk tanah airnya, sekeras apa pun negeri ini menolak untuk diubah.
