Saya rasa, kita perlu duduk bersama, menyeduh kopi hitam, lalu merenungkan satu pertanyaan mendasar yang belakangan ini mengganjal di kepala banyak orang: sejak kapan mengurus simpan-pinjam beras dan pupuk di desa membutuhkan keahlian tiarap di bawah desingan peluru?
Beberapa waktu lalu, jagat berita kita diguncang oleh kabar duka yang menyayat hati. Lima anak muda, calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), pulang ke rumah orang tua mereka dalam kondisi tak bernyawa. Mereka meninggal dunia saat mengikuti Pelatihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil). Ada yang terkena henti jantung, ada yang roboh karena sengatan panas (heat stroke), dan ada pula yang paru-parunya menyerah setelah dihantam latihan fisik bervolume tinggi.
Tragedi ini memicu duka sekaligus dahi yang berkerut dalam-dalam. Kita semua mafhum, kehilangan satu nyawa manusia adalah tragedi besar yang tak bisa ditebus dengan apa pun. Namun, yang membuat dada kian sesak adalah sebuah pertanyaan yang menggelitik nalar sehat: untuk apa semua ini?
Ketika “Disiplin” Disalahartikan Sebagai Latihan Tempur
Mari kita bedah pelan-pelan tanpa emosi yang meluap-luap. Di negeri kita tercinta ini, ada sebuah penyakit kultural yang anehnya terus dipelihara dari generasi ke generasi. Penyakit itu bernama militerisme-sentris. Kita sering sekali menganggap bahwa satu-satunya cara untuk mendidik manusia agar disiplin, nasionalis, dan tangguh adalah dengan cara menjemurnya di bawah terik matahari, menyuruhnya merayap di lumpur, dan membentaknya dengan suara menggelegar.
Logika ini barangkali sah-sah saja jika diterapkan pada pemuda yang memang mendaftarkan diri menjadi prajurit TNI. Mereka memang disiapkan untuk memegang senjata, menjaga perbatasan, dan bertaruh nyawa di medan laga. Tubuh mereka diseleksi secara ketat sejak awal demi memastikan sanggup menerima tekanan fisik yang ekstrem.
Namun, mengaplikasikan metode yang sama kepada calon manajer koperasi desa adalah sebuah lompatan logika yang amat jauh dan, jujur saja, agak jenaka sekaligus mengerikan. Manajer koperasi itu, saudara-saudara, senjata utamanya adalah kalkulator, buku kas, dan kemampuan negosiasi dengan petani. Musuh yang mereka hadapi bukanlah penyusup asing atau pemberontak bersenjata, melainkan inflasi, fluktuasi harga gabah, dan anggota koperasi yang hobi menunggak utang.
Bayangkan seorang manajer koperasi yang jago menembak dengan senapan serbu, hafal taktik gerilya, dan punya fisik sekokoh komando, tetapi bingung setengah mati saat membaca neraca keuangan atau mendeteksi kebocoran anggaran. Apakah koperasi desa akan maju? Tentu tidak. Koperasi tersebut justru akan bangkrut dengan sangat disiplin dan berwibawa.
Ironi di Lapangan dan Korban yang Berjatuhan
Jika kita melihat data korban yang dilaporkan oleh BBC News Indonesia, kita akan menemukan fakta yang membikin trenyuh. Yonanda Muhammad Taufiq meninggal karena henti jantung di Puslatpur Baturaja. Anisa Muyassaroh wafat akibat heat stroke di Rindam VI/Mulawarman. Ada juga Novia Rahmadhani dan Muhammad Rifki yang meninggal akibat masalah paru-paru, serta Nola Dya Sari yang mengalami nasib serupa di Kalimantan.
Bahkan, ada cerita yang tak kalah mencengangkan: Kementerian Pertahanan sampai harus memulangkan 32 peserta yang kedapatan sedang hamil. Pertanyaan menggelitiknya, bagaimana bisa sebuah program pelatihan manajerial sedari awal tidak memiliki sistem skrining kesehatan yang selaras dengan jenis kegiatannya? Atau jangan-jangan, sejak awal panitia mengira bahwa mengurus koperasi itu sama ringannya dengan ikut penyuluhan di balai desa, sehingga kondisi fisik peserta dianggap nomor sekian?
Ketika warga sipil yang tidak dipersiapkan fisiknya secara militan tiba-tiba diceburkan ke dalam ekosistem latihan taktis militer, hasilnya adalah bencana. Tubuh manusia bukan mesin yang bisa mendadak tangguh hanya karena diberi seragam loreng dan diteriaki kata “Siap!”. Ada batas-batas biologis yang jika dilanggar taruhannya adalah nyawa.
Pemerintah memang bertindak cepat setelah kejadian ini. Kementerian Pertahanan langsung menghentikan latihan taktis seperti menembak dan mengubah haluan fokus ke pembekalan bela negara serta manajerial. Presiden Prabowo Subianto pun turut memonitor situasi. Santunan sebesar Rp50 juta per korban diberikan sebagai bentuk tanggung jawab negara. Kita apresiasi itu. Namun, bukankah ini adalah bentuk pemadam kebakaran setelah rumahnya terlanjur gosong? Mengapa tidak dipikirkan matang-matang sejak program ini dirancang di atas meja kerja yang nyaman di Jakarta?
Hitung-hitungan Anggaran yang Bikin Elus Dada
Sekarang, mari kita beralih ke urusan yang sensitif namun krusial: uang. Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin, sempat melempar angka yang membuat mata kita terbelalak. Biaya pelatihan latsarmil ini diestimasi mencapai Rp45 juta per peserta. Jika total target rekrutmen untuk pengelola KDMP dan Kampung Nelayan Merah Putih mencapai 35.476 orang, artinya negara menggelontorkan anggaran yang melebihi Rp1,5 triliun!
Angka 1,5 triliun rupiah itu bukan uang yang sedikit. Itu uang rakyat yang dikumpulkan dari pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai dari sabun mandi yang kita beli, hingga pajak kendaraan bermotor yang kita bayar tiap tahun.
Politisi tersebut juga menambahkan, jika latihan militer yang tidak urgen itu dihapus dari kurikulum dan diganti dengan pelatihan manajerial murni, negara bisa menghemat sekitar Rp30 juta per orang. Kalikan saja angka hemat itu dengan puluhan ribu peserta. Berapa ratus miliar atau triliun uang negara yang bisa diselamatkan dan dialokasikan untuk hal lain yang lebih menyentuh urat nadi perekonomian desa?
Uang sebesar itu, kalau dipakai untuk memperbaiki infrastruktur pasar desa, menyuntik modal langsung ke koperasi-koperasi yang megap-megap, atau membiayai kuliah anak-anak petani miskin agar menjadi ahli pertanian modern, dampaknya pasti akan jauh lebih konkret dan dirasakan langsung. Mengapa kita begitu gemar membakar uang demi sesuatu yang sifatnya kosmetik—agar terlihat gagah dan berdisiplin militer—sementara kebutuhan substansialnya justru terabaikan?
Esensi Koperasi: Akuntansi, Bukan Amunisi
Bung Hatta, bapak koperasi kita, pasti akan menangis defensif jika melihat carut-marut ini. Beliau mendesain koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia dengan asas kekeluargaan dan gotong royong. Koperasi adalah gerakan ekonomi rakyat dari bawah.
Kompetensi utama yang dibutuhkan untuk menghidupkan roh koperasi adalah kompetensi sosial, manajerial, dan finansial. Seorang manajer koperasi harus memiliki empati yang tinggi untuk mendengarkan keluhan para petani dan nelayan. Mereka harus jeli melihat peluang pasar agar produk desa bisa diserap dengan harga yang adil. Mereka harus jujur dan transparan dalam mengelola setiap rupiah dana anggota agar tidak terjadi korupsi internal.
Apakah semua kemampuan adiluhung itu bisa didapatkan dengan cara belajar menembak senapan atau merayap di bawah kawat berduri? Sama sekali tidak ada korelasinya.
Mendidik mental yang jujur dan berintegritas tidak sama dengan mendidik mental siap tempur. Integritas dibangun lewat pemahaman tata kelola yang baik (good governance), sistem pengawasan yang ketat, serta penanaman nilai-nilai moral. Menjemur orang di lapangan berjam-jam tidak akan otomatis membuat orang tersebut menjadi jujur saat melihat uang kas yang menggiurkan. Yang ada, mereka hanya akan menjadi manajer yang fisiknya lelah, hatinya jengkel, dan kemampuannya mengelola aset tetap nol besar.
Mengembalikan Sipil ke Ranah Sipil
Tragedi Latsarmil KDMP ini harus menjadi titik balik mutlak bagi pemerintah untuk menghentikan obsesi romantisasi militerisme pada sektor sipil. Sudahlah, biarkan urusan militer diurus oleh mereka yang memang memilih jalan hidup sebagai prajurit. Jangan paksa petani, nelayan, guru, atau manajer koperasi untuk ikut-ikutan bergaya serdadu.
Kita harus mulai berani menempatkan sesuatu pada porsinya. Profesionalisme seorang sipil diukur dari seberapa ahli dia mengeksekusi bidang tugasnya. Seorang manajer koperasi yang profesional adalah dia yang koperasinya untung, anggotanya sejahtera, dan pembukuannya rapi tanpa cela. Titik. Dia tidak perlu membuktikan nasionalismenya dengan cara bisa push-up seratus kali atau fasih baris-berbaris.
Lima nyawa anak bangsa telah melayang. Mereka adalah anak-anak muda yang awalnya memiliki niat mulia untuk mengabdi membangun desa lewat jalur ekonomi. Jangan biarkan pengorbanan mereka menjadi sia-sia tanpa adanya perubahan cara berpikir dari para pengambil kebijakan di negeri ini.
Mari kita kembalikan koperasi ke khitahnya. Berikan calon-calon manajer itu pelatihan akuntansi yang mendalam, ajarkan mereka cara memanfaatkan teknologi digital untuk memotong jalur tengkulak, latih mereka strategi pemasaran modern agar produk desa bisa menembus pasar internasional. Itu baru namanya pembekalan yang membumi dan visioner.
Sebab pada akhirnya, desa kita tidak membutuhkan pasukan Rambo yang pandai berperang di hutan, melainkan sosok-sosok cerdas, jujur, dan hangat yang tahu bagaimana cara memutar roda ekonomi demi kesejahteraan bersama. Mari simpan senapannya, dan mari kita tajamkan kembali fungsi kalkulatornya.
