Car Haji Kilat 1,5 Jam Lewat Goa Safawardi Jawa Barat

Beberapa tahun yang lalu, saat saya sedang asyik menyeruput kopi hitam di sebuah angkringan, seorang bapak-bapak paruh baya di sebelah saya mendadak menunjukkan layar ponselnya dengan mata berbinar-binar. Di layarnya, sebuah video TikTok sedang berputar dengan musik latar yang sangat dramatis dan menggugah jiwa spiritual. Si bapak lalu berbisik dengan nada setengah rahasia, “Tau nggak? Sekarang kalau mau ke Makkah nggak usah antre puluhan tahun. Di Tasikmalaya ada gua yang kalau kita masuk lewat lorongnya, tahu-tahu satu setengah jam kemudian sudah sampai di depan Ka’bah!”

Saya tertegun, menelan ludah, dan hampir saja tersedak pisang goreng yang sedang saya kunyah. Wah, luar biasa sekali kemajuan teknologi transportasi spiritual kita hari ini. Di saat Elon Musk masih pusing memikirkan cara menerbangkan roket SpaceX ke Mars, dan di saat para insinyur dunia masih berkutat dengan kereta cepat, di sebuah sudut Tasikmalaya ternyata sudah ditemukan sistem teleportasi massal yang bisa memotong jarak ribuan kilometer melintasi samudera hanya dalam waktu 90 menit.

Itulah kehebatan jagat media sosial kita beberapa tahun lalu. Kabar tentang viralnya Gua Safarwadi yang terletak di kompleks ziarah Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat, telah sukses membuat geger dunia persilatan internet. Gara-gara sebuah video yang mengeklaim adanya lorong ajaib yang bisa “tembus ke Makkah dalam waktu 1,5 jam”, kompleks ziarah yang biasanya tenang itu mendadak diserbu lautan manusia. Tidak main-main, lonjakan pengunjungnya mencapai angka yang bikin geleng-geleng kepala: lebih dari 4.000 orang per hari memadati lokasi tersebut pada akhir pekan sebelum Ramadan. Mereka datang berbondong-bondong, membawa perbekalan, dengan satu harapan besar di dalam dada: menyentuh secuil mukjizat yang viral.

Karamah vs Teralis Besi

Tentu saja, bagi orang-orang yang berpikiran lurus dan rasional, fenomena ini langsung mengundang elusan dada yang panjang. Pihak Muhammadiyah, melalui Pak Dadang Kahmad, langsung berkomentar bahwa fenomena ini adalah cerminan nyata dari masih kuatnya kepercayaan mistik yang tidak rasional di tengah masyarakat kita. Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui KH Cholil Nafis juga buru-buru mengeluarkan imbauan agar masyarakat jangan mau dibodohi oleh narasi video tersebut. MUI meminta agar gua itu dikembalikan saja fungsinya sebagai tempat rekreasi dan tadabur alam—tempat mengagumi keindahan batu dan gua ciptaan Gusti Allah, bukan tempat mencari jalan pintas ke Arab Saudi.

Padahal, kalau kita mau menengok lembaran sejarah dengan kepala dingin, Gua Safarwadi ini sebenarnya adalah sebuah situs sejarah yang sangat agung dari abad ke-17. Gua ini merupakan tempat bertapa sekaligus pusat penyebaran agama Islam oleh Syekh Abdul Muhyi, seorang ulama besar yang dihormati di tanah Sunda. Makam beliau pun terletak tidak jauh dari sana, sekitar 800 meter dari mulut gua.

Dalam tradisi lisan dan mitos lokal yang berkembang, gua ini juga dipercaya pernah menjadi tempat berkumpulnya para Wali Sanga. Dan karena para wali itu dalam kosmologi masyarakat Jawa dan Sunda diyakini memiliki ilmu lipat bumi—bisa berpindah tempat dari satu kota ke kota lain dengan kecepatan kilat—maka muncullah mitos bahwa di dalam gua itu terdapat lorong-lorong rahasia yang bisa tembus ke Makkah, Banten, Cirebon, hingga Surabaya.

Untuk meredam kegilaan massal ini, sesepuh Pamijahan yang bernama Kang Endang Ajidin sampai harus turun tangan memberikan klarifikasi. Beliau menjelaskan dengan sangat bijak bahwa kisah “tembus ke Makkah” itu memang ada dalam khazanah tutur lokal, tapi itu adalah bagian dari karamah—keistimewaan spiritual dari Allah—yang diberikan khusus kepada pribadi Syekh Abdul Muhyi karena tingkat kesalehannya yang menyundul langit. Itu bukan jalur fisik, bukan jalan tol bawah tanah yang bisa dilewati oleh manusia biasa seperti saya, Anda, atau para konten kreator TikTok yang berburu viewer.

Bahkan fakta lapangannya jauh lebih menggelikan: mulut lorong yang digosipkan menuju ke kota suci Makkah itu sebenarnya sudah lama ditutup rapat-rapat menggunakan teralis besi oleh pengelola demi alasan keamanan. Kenapa ditutup? Karena beberapa waktu lalu, sebelum video ini viral, sudah ada pengunjung yang termakan mitos tersebut lalu nekat menerobos masuk. Hasilnya? Bukannya keluar di depan Masjidil Haram sambil memakai kain ihram, orang tersebut justru terjebak di dalam kegelapan gua, megap-megap kekurangan oksigen, dan menangis minta tolong karena tidak bisa keluar.

Hiburan Kaum Cekak

Lalu, pertanyaannya adalah: kenapa masyarakat kita begitu mudah percaya pada hal-hal yang tidak masuk akal seperti ini? Kenapa ribuan orang rela menyewa bus, bermacet-macetan, hanya untuk melihat sebuah lorong gua yang ditutup teralis besi?

Di sinilah kita harus meminjam kacamata antropologi untuk melihat melampaui sekadar urusan “bodoh atau pintar”. Antropolog agama dari Universitas Indonesia, Mbak Amanah Nurish, menjelaskan sebuah kebenaran yang mendasar: masyarakat Nusantara ini, secara historis, memang sudah sangat dekat dengan mitologi, legenda, dan hal-hal gaib jauh sebelum agama-agama formal masuk ke negeri ini. Struktur berpikir magis itu tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya berganti baju. Ketika agama Islam masuk, spiritualitas magis itu mewujud dalam bentuk pengagungan terhadap karamah para wali dan situs-situs keramat.

Namun, di luar urusan struktur berpikir antropologis, ada satu faktor lagi yang menurut saya jauh lebih menohok, lebih realistis, dan agak mengharukan: faktor isi dompet.

Mari kita jujur pada diri sendiri. Hari ini, di tahun 2026, berapakah biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang muslim di Indonesia untuk bisa berangkat haji reguler? Angkanya sudah melambung tinggi mencapai kisaran Rp55 juta! Itu baru biayanya, belum lagi kalau kita bicara soal masa tunggunya (waiting list) yang sudah tidak masuk akal. Di beberapa daerah di Jawa, kalau Anda mendaftar haji hari ini, Anda baru bisa berangkat tiga puluh atau empat puluh tahun lagi. Itu artinya, kalau mendaftarnya di usia empat puluh tahun, Anda baru akan dipanggil ke Makkah saat usia Anda sudah delapan puluh tahun—itu pun kalau umur kita sampai.

Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah—para petani gurem, buruh pabrik, kuli bangunan, atau mak-mak penjual sayur yang tabungannya jangankan buat daftar haji, buat bayar cicilan motor bulan depan saja sudah bikin pusing—keinginan untuk menginjakkan kaki di tanah suci itu sering kali menjadi sebuah kerinduan yang amat menyiksa. Mereka rindu Ka’bah, mereka rindu beribadah di tempat para nabi, tapi realitas ekonomi menampar mereka setiap hari.

Di tengah keputusasaan ekonomi dan panjangnya antrean haji resmi itulah, fenomena Gua Safarwadi ini hadir bagaikan oase di tengah gurun pasir. Ia menjelma menjadi alternatif wisata religi bagi “kaum dompet cekak”. Berziarah ke Pamijahan, masuk ke dalam gua, dan berdiri di depan lorong yang katanya bisa tembus ke Makkah itu memberikan sebuah euforia spiritual tersendiri yang sangat murah meriah.

Dengan modal uang puluhan ribu rupiah untuk ongkos bus ekonomi dan membeli beberapa tusuk cilok di luar kompleks, mereka sudah bisa merasakan sensasi “dekat” dengan Makkah. Menatap teralis besi yang menutup lorong kuno itu, bagi mereka, mungkin sudah setara dengan menatap pintu Ka’bah dari kejauhan. Ini adalah sebuah bentuk pelipur lara, sebuah mekanisme pertahanan psikologis dari rakyat kecil yang rindu ibadah tapi tak kuasa membeli tiketnya.

Iman yang Merindukan Mukjizat Instan

Fenomena Gua Safarwadi ini pada akhirnya adalah potret dari masyarakat kita yang sedang lelah menghadapi realitas hidup yang makin keras, lalu memilih untuk melarikan diri ke dalam pelukan mukjizat instan. Kita hidup di zaman di mana segala sesuatu dituntut serbacepat. Kita punya mi instan, pesan antar makanan instan, informasi instan, maka kalau bisa, urusan pahala dan perjalanan spiritual pun harus ada yang instan.

Narasi “tembus ke Makkah dalam 1,5 jam” adalah jualan yang sangat laku karena ia mengawinkan dua hal yang paling disukai orang kita: sensasi gaib dan kemudahan tanpa usaha keras. Kita lebih senang mempercayai adanya lorong ajaib ketimbang harus menabung selama tiga puluh tahun sambil menahan lapar. Kita lebih suka mengagumi karamah masa lalu seorang wali daripada meniru kedisplinan beragama dan kerja keras beliau dalam menyebarkan ilmu.

Kembali ke bapak-bapak di angkringan tadi. Setelah saya jelaskan dengan pelan-pelan bahwa lorong itu aslinya buntu dan sudah ditutup teralis besi karena ada orang yang hampir mati terjebak di dalamnya, wajahnya yang tadinya bersemangat mendadak layu. Dia menghela napas panjang, lalu menyeruput kopi hitamnya yang sudah mendingin.

“Oalah, dadi mbrojol-mbrojol ora tekan Arab yo, Mas? (Jadi kalau masuk, nggak bakal tembus ke Arab ya, Mas?)” tanyanya dengan nada kecewa yang amat tulus.

“Mboten, Pak. Kalau jenengan nekat masuk lewat situ, mbrojolnya paling banter ya ke puskesmas Tasikmalaya karena kehabisan napas,” jawab saya sambil tersenyum kecut.

Rakyat kita tidak butuh dihujat sebagai kaum yang syirik atau bodoh ketika mereka berbondong-bondong mendatangi gua tersebut. Mereka hanya butuh diedukasi dengan penuh empati, sembari kita semua merenungkan sebuah fakta sosial yang getir: bahwa di balik viralnya sebuah takhayul, sering kali ada jeritan kemiskinan dan kerinduan spiritual yang mendalam dari orang-orang kecil yang merasa surga dan tanah suci terlalu mahal untuk dijangkau oleh nasib mereka yang semenjana.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *