Mengunyah Pemikiran Islam dengan Rileks dan Rendah Hati

Ketika Dapur Pemikiran Islam Kita Kehabisan Gas

Mari kita jujur-jujuran saja sebagai sesama penikmat kopi dan obrolan warung kopi. Akhir-akhir ini, kalau kita datang ke pengajian, membuka media sosial, atau bahkan main ke kampus Islam, suasana diskusinya kok rasanya jadi seragam sekali ya? Suasananya mirip seperti ruangan ber-AC yang pintunya dikunci rapat dari dalam: adem, tapi pengap. Semua orang sibuk mengangguk, sibuk mengaminkan, dan yang paling melelahkan, sibuk menghakimi siapa saja yang mencoba membuka jendela untuk sekadar mencari angin segar.

Kita rindu, sungguh rindu, pada era di mana raksasa pemikiran seperti Cak Nur (Nurcholish Madjid) dan Gus Dur masih aktif mondar-mandir di ruang publik kita. Dulu, mendengarkan mereka itu seperti melihat pemain sirkus yang lihai menyulap hal-hal rumit menjadi obrolan yang memantik otak. Islam di tangan mereka terasa luas, ramah, dan yang paling penting: membuat kita berpikir.

Namun, begitu beliau-beliau ini wafat, dapur pemikiran Islam progresif kita seperti kehabisan gas. Menurut Prof. Mun’im Sirry—seorang sejarawan Islam dari University of Notre Dame yang kapan hari blak-blakan di forum Omon-Omon—studi keislaman kita sekarang mengalami gejala putar balik yang lumayan mengkhawatirkan. Kampus-kampus yang dulunya jadi laboratorium berpikir, kini berubah fungsi menjadi semacam bengkel reparasi iman. Pendekatannya melulu dogmatik-iman. Targetnya bukan lagi menambah perspektif akademis atau historis, melainkan bagaimanakah cara “menebalkan iman” para mahasiswa agar tidak goyah diterpa angin modernitas.

Lalu, ke mana larinya para intelektual muda yang potensial itu? Ya, sebagian besar dari mereka tergiur oleh wangi kuah kaldu politik praktis. Menjadi pemikir itu melelahkan, uang saku pas-pasan, dan sering dituduh sesat pula. Sementara menjadi politisi atau komentator politik pemilu jauh lebih menjanjikan secara finansial dan popularitas. Ditambah lagi dengan hantaman gelombang conservative turn global yang disuplai dari Timur Tengah, ruang bagi pemikiran progresif pun makin menyempit seperti gang senggol di pinggiran Jakarta. Kita jadi takut bertanya, takut ragu, dan akhirnya memilih beragama dengan cara paling aman: ikut arus mayoritas tanpa pernah tahu ke mana arus itu mengalir.

Akrobat Lintas-Ayat

Di tengah kemarau pemikiran itulah, kehadiran orang-orang seperti Prof. Mun’im Sirry ini menjadi penting, sekaligus menjengkelkan bagi sebagian kalangan yang sudah telanjur nyaman dengan kemapanan teologis. Menariknya, Prof. Mun’im ini punya gaya yang berbeda dengan pendahulunya, Cak Nur.

Cak Nur itu tipe pemikir yang romantis dan optimis. Beliau punya kecenderungan untuk memilah dan memilih ayat-ayat inklusif tertentu—istilah kerennya tafsir favorit—untuk dijadikan landasan opini pribadinya yang damai. Contoh paling populer adalah ketika Cak Nur kerap mengutip Al-Baqarah ayat 62 untuk menegaskan bahwa keselamatan itu tidak monopoli satu kelompok saja, bahwa di luar Islam pun ada jalan keselamatan selama mereka beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal saleh. Pendekatan Cak Nur ini menyejukkan hati, seperti disiram es cendol di siang bolong.

Tetapi, Prof. Mun’im memilih jalan yang lebih terjal dan berliku. Beliau tidak mau terjebak pada metode “ambil yang enak-enak saja”. Prof. Mun’im memakai pendekatan lintas-ayat (cross-references) secara holistik. Ayat-ayat yang bernada polemik, yang keras, yang sering dipakai kelompok radikal untuk memukul kelompok lain, tidak dihindari atau disembunyikan di bawah karpet. Justru ayat-ayat sensitif itulah yang dibedah, ditelanjuri konteks sejarahnya, dan dikuliti secara akademis. Mengapa? Karena bagi seorang sejarawan, teks tidak pernah lahir di ruang hampa udara. Teks selalu merespons peristiwa, budaya, dan ketegangan politik pada saat ia diturunkan. Menolak melihat konteks sejarah sebuah ayat sama saja dengan membaca surat cinta mantan tanpa mengingat situasi malam minggu saat surat itu ditulis: bisa salah paham total!

Menggugat Tahun Gajah dengan Kacamata Sejarah

Nah, bagian inilah yang biasanya membuat bulu kuduk para pembela dogma langsung berdiri. Prof. Mun’im, dengan ketenangan seorang akademisi yang biasa berkutat di perpustakaan Barat, melontarkan kritik historis yang cukup menohok terhadap rekonstruksi biografi atau sirah Nabi Muhammad saw. Ada tiga masalah utama yang beliau beberkan, dan ini sungguh membuat kita terpaksa mengerutkan dahi.

Pertama, soal jarak waktu penulisan. Sumber biografi Islam paling awal yang kita pegang hari ini, seperti kitab Ibnu Ishaq, itu ditulis lebih dari 150 tahun setelah Nabi wafat. Secara metode kritik sejarah yang ketat, ini adalah celah yang sangat lebar. Tidak ada bukti fisik kontemporer (contemporary physical evidence) yang ditulis persis pada zaman Nabi hidup. Bayangkan Anda disuruh menulis biografi kakek buyut Anda yang hidup 150 tahun lalu tanpa ada rekaman video, catatan harian, atau koran zaman itu, melainkan hanya mengandalkan cerita berantai dari mulut ke mulut. Pasti ada dramatisasi, ada ingatan yang terdistorsi, dan ada detail yang hilang.

Kedua, adanya pertentangan antar-sumber klasik itu sendiri. Catatan para ulama terdahulu sering kali saling tabrakan, bahkan untuk hal-hal mendasar seperti kepastian tanggal, bulan, hingga tahun kelahiran sang Nabi.

Ketiga, dan ini yang paling seru, adalah soal mitos “Tahun Gajah”. Sejak TK, kita dicekoki cerita bahwa Nabi lahir pada Tahun Gajah, yaitu tahun ketika pasukan Abrahah yang menunggang gajah dihancurkan oleh burung Ababil saat hendak menyerang Kakbah. Namun, apa kata temuan arkeologis terbaru? Prasasti yang ditemukan di sumur Murayghan menunjukkan bahwa ekspedisi militer Abrahah itu sebenarnya terjadi sekitar tahun 553 Masehi. Padahal, kesepakatan umum menyebut Nabi lahir tahun 570 Masehi. Ada selisih waktu sekitar 17 tahun!

Bagi Prof. Mun’im, penyematan Tahun Gajah sebagai tahun lahir Nabi kemungkinan besar adalah bentuk glorifikasi historis, sebuah upaya dari para penulis sejarah belakangan untuk memberikan bingkai teologis dan keagungan kosmis pada kelahiran seorang manusia agung. Ini bukan fakta kronologis yang kaku, melainkan cara orang zaman dulu memuliakan figur yang mereka cintai. Apakah ini mengurangi kenabian Muhammad? Tentu saja tidak bagi mereka yang paham esensi spiritual, tapi jelas meruntuhkan kekakuan mereka yang menuhankan teks sejarah sebagai kebenaran mutlak tanpa celah.

Meluruskan Istilah “Ummi” dan Kreativitas Al-Qur’an

Mari kita bergeser ke urusan kebahasaan dan asal-usul teks. Selama berabad-abad, mayoritas umat Islam meyakini bahwa kata Ummi yang disematkan kepada Nabi Muhammad berarti “tidak bisa baca tulis”. Logika dogmatisnya begini: karena Nabi tidak bisa baca tulis, maka mustahil beliau mengarang Al-Qur’an, sehingga Al-Qur’an murni mukjizat.

Tetapi, kalau kita pakai logika warung kopi yang agak waras saja, penjelasan ini agak janggal. Sebelum menjadi Nabi, Muhammad adalah seorang manajer dagang kelas internasional yang mengelola portofolio bisnis milik Khadijah. Beliau memimpin kafilah dagang lintas negara dari Mekah ke Syam. Bagaimana mungkin seorang CEO atau manajer operasional perdagangan internasional tidak bisa membaca angka, menghitung laba rugi, atau mengenali rute dokumen perjalanan?

Dalam pendekatan revisionis yang dipaparkan Prof. Mun’im, kata Ummi itu memiliki makna teologis-sosiologis, bukan buta aksara. Ummi adalah kontras atau lawan kata dari Ahlul Kitab (dalam bahasa Barat disebut gentile). Maknanya adalah kaum atau komunitas Arab saat itu yang sebelumnya belum pernah diutus seorang Rasul kepada mereka dan belum memiliki kitab suci tersendiri. Jadi, Nabi disebut Ummi karena beliau berasal dari komunitas non-Ahlul Kitab tersebut, bukan karena beliau tidak bisa mengeja huruf.

Sebuah Catatan Kritis: Memahami Al-Qur’an secara historis tidak akan menurunkan kesuciannya, melainkan justru memperlihatkan bagaimana wahyu bekerja secara genius di tengah kebudayaan manusia.

Lebih jauh lagi, Prof. Mun’im mengajak kita melihat aspek “kreativitas” Al-Qur’an dalam merespons tradisi keagamaan sebelumnya. Hampir di setiap halaman Al-Qur’an, kita bisa merasakan adanya resonansi, gema, atau dialog dengan kitab Alkitab (Bible). Al-Qur’an merekam ulang tamsil atau metafora yang sudah akrab di telinga masyarakat Timur Tengah kala itu, tetapi memodifikasinya untuk tujuan teologis yang baru. Contohnya adalah perumpamaan tentang “unta yang masuk ke lubang jarum”. Idiom-idiom seperti ini sudah ada dalam tradisi sebelumnya, dan Al-Qur’an dengan sangat kreatif mengadopsinya agar pesan yang disampaikan langsung nyetrum ke dalam kognisi masyarakat lokal.

Tarik Ulur di Balik Lembaran Mushaf

Satu lagi tabu yang dibuka oleh Prof. Mun’im adalah diskursus mengenai orisinalitas teks Al-Qur’an itu sendiri. Banyak dari kita yang membayangkan Al-Qur’an yang kita baca hari ini—Mushaf Utsmani—turun dari langit sudah dalam bentuk buku rapi ber-ISBN dengan cetakan cetak eksklusif. Padahal, sejarah kodifikasi (pembukuan) mushaf itu penuh dengan dinamika, perdebatan teologis, dan bahkan intervensi politik kekuasaan.

Di masa awal Islam, sejarah mencatat adanya kontestasi antar-mushaf. Sahabat-sahabat besar seperti Ibnu Mas’ud memiliki catatan mushaf sendiri yang susunan surah dan beberapa lafaznya berbeda dengan apa yang kita pegang sekarang. Proses standarisasi menjadi satu mushaf tunggal yang seragam tidak terjadi dalam semalam. Ada peran besar dari otoritas politik, mulai dari keputusan Khalifah Utsman bin Affan yang dengan tegas membakar mushaf-mushaf lain demi persatuan umat, hingga penyempurnaan tanda baca pada era Abdul Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah.

Bahkan, kalau kita mau menengok khazanah klasik kita sendiri, para ulama besar terdahulu seperti Al-Zarkashi dan Al-Suyuthi sebenarnya sangat rileks mendiskusikan hakikat wahyu. Mereka tidak kaku. Dalam diskusi teologis klasik, setidaknya ada tiga pendapat mengenai bagaimana wahyu itu termanifestasikan:

  1. Lafaz dan maknanya murni dari Allah.
  2. Maknanya dari Allah, sedangkan pilihan lafaz dan bahasanya dari Nabi Muhammad (Kalam Allah sekaligus Kalam Muhammad, seperti yang didebatkan oleh pemikir Fazlur Rahman).
  3. Lafaznya dirumuskan oleh Malaikat Jibril.

Artinya apa? Ulama zaman dulu saja otaknya sangat terbuka dan siap berdiskusi tentang wilayah abu-abu ini. Mengapa kita yang hidup di abad ke-21, yang akses informasinya tinggal sekali klik, malah menjadi lebih kaku dan gampang naik pitam jika ada orang yang membahas sejarah pembukuan kitab sucinya sendiri?

Beragama dengan Rileks dan Rendah Hati

Akhirul kalam, seluruh paparan Prof. Mun’im Sirry ini sebenarnya bermuara pada satu ajakan yang sangat sejuk: mari kita beragama dengan lebih rileks dan rendah hati. Jangan tegang-tegang amat, lah.

Ada satu jargon akademis yang bagus sekali: Faith Seeking Knowledge—iman yang mencari pengetahuan. Iman itu seharusnya tidak menjadi lampu merah yang menghentikan kita untuk berburu ilmu. Iman tidak boleh membuat kita takut membaca buku-buku kritis. Sebaliknya, iman harus menjadi bahan bakar yang mendorong kita untuk terus bertanya dan mencari kebenaran.

Dalam dunia akademik, kita mengenal istilah hermeneutics of suspicion—sebuah sikap ragu dan curiga yang sehat terhadap sebuah teks atau klaim sejarah. Ragu itu bukan dosa. Ragu adalah pintu gerbang menuju pencarian yang serius. Orang yang tidak pernah ragu, tidak akan pernah benar-benar mencari tahu. Mereka hanya membeo pada apa yang dikatakan orang lain.

Mari kita sadari pula bahwa Al-Qur’an diturunkan menggunakan idiom, gaya bahasa, dan imajinasi masyarakat Arab pada abad ke-7. Ketika Al-Qur’an menggambarkan surga sebagai tempat yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, penuh dengan air susu, madu, dan bidadari yang jelita, itu adalah bahasa pemasaran teologis yang paling pas untuk merayu masyarakat padang pasir yang hidupnya kekeringan dan kepanasan. Kalau Al-Qur’an diturunkan di daerah kutub utara, mungkin gambaran surganya adalah ruangan hangat dengan perapian yang menyala dan sup buntut yang mengepul.

Memahami konteks kultural ini tidak akan mengurangi iman kita kepada Tuhan. Malahan, hal ini membuat kita menjadi manusia yang lebih toleran, tidak gampang kagetan, dan tidak mudah mengafirkan orang lain hanya karena berbeda penafsiran. Membedah Islam dari sudut pandang historis-akademis memang awalnya akan mengguncang dogma-dogma yang sudah telanjur berkarat di kepala kita. Namun, jika kita berhasil melewati guncangan itu dengan kepala dingin, kita akan sampai pada satu titik keimanan yang jauh lebih matang, kokoh, dan penuh welas asih. Iman yang tidak lagi takut pada pertanyaan, karena ia tahu bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan otak manusia hanya untuk dijadikan pajangan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *