Saya itu selalu merasa geli sekaligus kasihan setiap kali melihat fenomena sosial di kota-kota besar, terutama Jakarta. Kita ini hidup di zaman di mana penampakan luar sering kali dianggap jauh lebih penting daripada kenyataan di dalam dompet. Banyak orang yang kalau keluar rumah penampilannya necisnya minta ampun: baju bermerek, sepatu mengkilap, tangan memegang kopi kekinian yang harganya setara dengan tiga porsi nasi padang lauk tunjang. Tapi, begitu tanggal dua puluh ke atas, wajah mereka mendadak layu, mendadak rajin mengonsumsi mi instan, dan kalau diajak nongkrong alasannya selalu sibuk—padahal aslinya karena saldo di rekening sudah masuk fase kritis alias sekarat.
Kita ini memang generasi yang sangat ramah terhadap utang dan sangat kejam terhadap masa depan sendiri. Istilah menterengnya: menganut paham FOMO (Fear of Missing Out) dan YOLO (You Only Live Once). Hidup cuma sekali, maka harus dinikmati sekarang juga, perkara besok bayar cicilan pakai apa, itu urusan besok pagi.
Nah, beberapa waktu lalu, saya menyimak sebuah obrolan yang sangat “daging” di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara. Mas Helmy kedatangan tamu yang wajahnya pasti sangat akrab bagi pencinta sinetron era 2000-an: Adrian Maulana. Bedanya, Mas Adrian yang sekarang bukan lagi sibuk tebar pesona di depan kamera sebagai artis, melainkan tampil sebagai seorang perencana keuangan (financial planner) yang bicaranya runtut, logis, dan penuh tamparan realitas. Dari obrolan dua tokoh senior inilah saya seperti diajak mengaca, betapa bobroknya cara sebagian besar dari kita dalam mengelola lembaran-lembaran rupiah yang kita cari dengan memeras keringat setiap hari.
Ketika Artis Ibu Kota Belajar Defisit Keuangan
Hal pertama yang membuat saya menaruh hormat pada Mas Adrian Maulana adalah keberaniannya untuk “hijrah profesi”. Dunia entertainment itu kita tahu adalah dunia yang sangat berkilau, penuh puja-puji, dan tentu saja: menjanjikan uang yang gampang mengalir. Tapi, Mas Adrian sadar betul bahwa dunia hiburan itu punya satu hukum alam yang kejam: ketidakpastian. Karir seorang artis itu sangat bergantung pada angka rating. Hari ini Anda dipuja sebagai bintang utama, besok sore kontrak Anda bisa diputus begitu saja karena pemirsa bosan dan rating anjlok.
Mas Adrian menceritakan pengalaman pribadinya yang sangat manusiawi sekaligus menampar ego. Beliau sempat berada di fase kewalahan secara finansial karena terjebak cicilan mobil mewah dan apartemen yang nilainya tembus puluhan juta rupiah per bulan. Begitu pekerjaannya di dunia hiburan tiba-tiba terhenti akibat rating programnya turun, mesin uangnya mampet, sementara tagihan utang tetap datang menagih tanpa peduli apakah dia sedang punya kuota syuting atau tidak.
Dari tamparan realitas itulah Mas Adrian sadar sebuah kebenaran universal: penghasilan besar itu sama sekali tidak menjamin hidup kita akan mapan jika pola pengeluaran kita jauh lebih besar daripada pemasukan. Beliau tidak gengsi untuk banting setir. Tidak tanggung-tanggung, beliau langsung memburu pendidikan keuangan, mengambil berbagai lisensi di pasar modal seperti Wakil Manajer Investasi (WMI), sertifikasi Certified Financial Planner (CFP), bahkan sekarang kuliah lagi mengambil jurusan Strategy and Execution. Ini sebuah teladan yang langka. Mantan artis papan atas mau duduk lagi di bangku kuliah demi menguasai ilmu hidup yang paling esensial: ilmu mengatur duit.
Lima Pilar Dasar yang Sering Kita Abaikan
Dalam obrolannya bersama Mas Helmy, Mas Adrian membagikan lima pilar dasar perencanaan keuangan pribadi yang sebenarnya sederhana, tapi entah kenapa sering dianggap angin lalu oleh kita semua.
Pilar pertama adalah: lunasi utang konsumtif. Ini harga mati. Utang konsumtif, terutama yang berasal dari kartu kredit atau fitur paylater yang sekarang tombolnya sangat menggoda di aplikasi belanja online, harus segera dibersihkan. Mengapa? Karena utang jenis ini memiliki beban bunga yang paling tinggi. Memelihara utang konsumtif itu tak ubahnya seperti memelihara lintah di dalam dompet; ia akan menyedot setiap tetes darah finansial kita sampai kering.
Pilar kedua: jaga cash flow tetap positif. Logikanya sederhana, tapi praktiknya berat setengah mati. Pastikan total pemasukan bulananmu selalu lebih besar daripada pengeluaran. Jangan sampai menganut prinsip sungsang: “besar pasak daripada tiang”.
Pilar ketiga yang tidak kalah krusial adalah membangun dana darurat (emergency fund). Kita tidak pernah tahu kapan musibah datang—entah itu kendaraan rusak, anggota keluarga sakit, atau skenario terburuk seperti pemutusan hubungan kerja (PHK). Bagi yang sudah berkeluarga, memiliki istri dan anak, Mas Adrian menyarankan dana darurat yang ideal adalah sebesar 9 hingga 12 bulan dari biaya hidup bulanan. Bayangkan, kalau biaya hidupmu sebulan Rp5 juta, berarti kamu harus punya uang tunai minimal Rp45 juta yang parkir manis di rekening khusus, tidak boleh disentuh untuk urusan mudik atau beli baju baru.
Pilar keempat dan kelima adalah proteksi keuangan (minimal punya BPJS atau asuransi swasta agar kalau sakit tidak perlu menjual aset) dan berinvestasi. Duit itu harus diputar agar tidak habis digerogoti oleh hantu yang bernama inflasi, bukan sekadar disimpan di bawah kasur atau di tabungan biasa yang bunganya mengenaskan.
Rumus Utang dan Bahaya “Setan Digital” Bernama Pinjol
Terkait urusan utang, ilmu perencanaan keuangan sebenarnya sudah memberikan batasan toleransi yang jelas. Total cicilan utang kita itu maksimal hanya boleh berada di angka 30% hingga 35% dari pendapatan gabungan (joint income) suami istri. Kalau cicilanmu sudah lewat dari angka 35%, misalnya gajimu Rp10 juta tapi cicilan motormu, cicilan rumahmu, dan cicilan gajetmu sudah tembus Rp5 juta, maka keuanganmu sudah masuk kategori lampu merah alias tidak sehat. Dan jangan salah, keuangan yang tidak sehat ini adalah jembatan tercepat menuju rusaknya kesehatan mental dan hancurnya keharmonisan rumah tangga.
Lalu, bagaimana kalau rasio utang kita terlanjur bengkak? Mas Adrian memberikan tiga opsi solusi yang realistis: kencangkan ikat pinggang (pangkas semua pengeluaran yang tidak penting), cari penghasilan tambahan (side hustle), atau jika kondisi sudah darurat dan dada terasa sesak, juallah aset yang ada. Turunkan gengsimu, jual mobilmu, ganti dengan motor, yang penting beban utangmu berkurang dan kamu bisa tidur nyenyak di malam hari.
Di sinilah Mas Adrian memberikan peringatan keras mengenai bahaya laten “setan digital” yang bernama pinjaman online (pinjol) ilegal. Di zaman sekarang, pinjol ilegal ini menawarkan kemudahan yang luar biasa bajingan: syarat cuma KTP, cair dalam lima menit tanpa agunan. Tapi begitu kamu telat bayar satu hari, mereka akan mengakses seluruh kontak di ponselmu, meneror keluargamu, memakaki bos di tempat kerjamu, dan mempermalukanmu secara sosial. Menghubungi pinjol ilegal untuk menyelesaikan masalah keuangan itu tak ubahnya seperti meminum air laut saat kamu kehausan; alih-alih dahaga hilang, kamu justru akan mati dehidrasi lebih cepat.
Menabung Saja Itu Menipu Diri Sendiri
Satu hal yang sering disalahpahami oleh masyarakat kita adalah menyamakan antara menabung dan berinvestasi. Dua hal ini memang sama-sama menyisihkan uang, tapi tempat penempatannya bak langit dan bumi.
Menabung di bank zaman sekarang itu sebenarnya adalah tindakan menipu diri sendiri secara halus. Mengapa? Karena bunga tabungan biasa itu mendekati 0%. Bahkan produk perbankan seperti deposito pun bunganya saat ini hanya berkisar di angka 2,5% sebelum dipotong pajak. Duitmu yang kamu simpan di tabungan biasa nilainya akan terus menyusut setiap tahun karena kalah cepat dengan kenaikan harga barang-barang di pasar akibat inflasi.
Maka, solusinya adalah investasi. Namun, investasi terbaik menurut Mas Adrian adalah investasi yang sesuai dengan tujuan hidup dan profil risiko masing-masing orang. Bagi pemula, jangan langsung tergiur membeli saham gorengan yang harganya naik-turun seperti wahana roller coaster di Dufan, atau membeli mata uang kripto yang tidak jelas juntrungannya. Mulailah dari yang konservatif dan aman: Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) yang sifatnya likuid karena bisa dicairkan dalam waktu H+1, atau Reksa Dana Pendapatan Tetap. Baru setelah paham risikonya, Anda boleh naik kelas ke reksa dana saham atau membeli saham langsung.
Dan yang paling penting: selalu gunakan dana dingin. Jangan pernah sekali-kali berspekulasi di instrumen investasi berisiko tinggi dengan menggunakan uang jangka pendek, seperti uang SPP sekolah anak bulan depan atau uang belanja dapur istri. Itu namanya bukan investasi, melainkan judi terselubung bermerek aplikasi keuangan.
Ketika Hemat Dianggap “Kere”
Puncak kelucuan dari mentalitas masyarakat kita tergambar jelas saat Adrian Maulana sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu. Penyebab viralnya sangat sepele: beliau sering tertangkap kamera sedang naik transportasi umum seperti KRL komuter dan MRT untuk pergi bekerja. Lucunya, netizen kita yang budiman langsung membuat kesimpulan sepihak bahwa Mas Adrian sekarang sudah jatuh miskin, bangkrut, dan berubah menjadi orang “kere” karena tidak lagi naik mobil pribadi yang mewah.
Inilah bukti sahih bahwa logika berpikir masyarakat kita sudah jungkir balik. Di mata mereka, orang sukses itu adalah orang yang duduk sendirian di dalam mobil mewah, terjebak macet berjam-jam di jalanan Jakarta, sambil pusing memikirkan biaya bensin dan tarif tol. Sementara orang yang naik kereta cepat yang efisien dan murah dianggap sebagai kelas semenjana.
Padahal, kalau kita hitung secara matematis ala perencana keuangan, langkah Mas Adrian ini adalah sebuah kejeniusan finansial. Beliau membeberkan angkanya: jika naik mobil pribadi, biaya transportasi hariannya (akumulasi bensin, tol, dan parkir) bisa mencapai Rp350.000 hingga Rp400.000 per hari. Begitu berpindah ke KRL dan MRT, biayanya terpangkas drastis menjadi hanya Rp50.000 hingga Rp100.000 saja per hari.
Artinya, dalam sebulan, Mas Adrian bisa menghemat atau melakukan saving sebesar Rp5 juta hingga Rp6 juta! Uang enam juta sebulan itu kalau diinvestasikan ke instrumen yang tepat selama beberapa tahun, nilainya bisa buat beli mobil baru lagi secara tunai tanpa perlu berutang. Belum lagi manfaat non-finansialnya: badan jadi lebih sehat karena aktif bergerak jalan kaki di stasiun, dan mental terhindar dari stres serta darah tinggi akibat kemacetan horor Jakarta. Jadi, siapa yang sebenarnya lebih pintar di sini? Mas Adrian yang mengantongi sisa uang enam juta, atau netizen yang mencibir tapi kartu kreditnya macet?
Sengkarut Keuangan UMKM: Untung tapi Duitnya Gaib
Di bagian akhir, Mas Adrian membagikan pengalamannya saat mendampingi brand-brand lokal dan UMKM melalui perusahaannya, Finance & N. Di dunia bisnis, ternyata penyakit sungsang keuangan ini juga terjadi secara masif.
Banyak pebisnis lokal yang terjebak dalam ilusi bahwa usahanya sangat menguntungkan karena barangnya laku keras dan tokonya selalu ramai. Tapi anehnya, begitu akhir bulan, uang di tabungan perusahaan kosong melompong. Istilah populernya: “bisnisnya untung, tapi duitnya gaib”.
Fenomena ini terjadi karena para pemilik bisnis sering kali buta huruf terhadap tiga laporan keuangan utama: Neraca (Balance Sheet), Laporan Laba Rugi (Income Statement), dan Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement). Mereka sering kali mengalami gap pada modal kerja (working capital).
Namun, kesalahan paling fatal dan paling sering dilakukan oleh pengusaha UMKM kita adalah mencampuradukkan rekening keuangan rumah tangga dengan rekening perusahaan. Uang hasil jualan toko dipakai buat beli susu anak, dipakai buat bayar arisan istri, atau dipakai buat beli baju baru tanpa adanya pencatatan dan struktur gaji yang jelas untuk diri mereka sendiri sebagai pemilik. Akibatnya, bisnis mereka jalan di tempat, tidak pernah bisa naik kelas (scale up), dan rentan gulung tikar begitu ada guncangan ekonomi sedikit saja.
Menata Dompet, Menata Masa Depan
Mendengar seluruh pemaparan dari Adrian Maulana di podcast Mas Helmy Yahya ini, kesimpulannya menjadi sangat benderang bagi kita semua. Urusan keuangan itu sebenarnya bukan soal seberapa besar angka pendapatan yang kita miliki, melainkan soal seberapa besar tingkat kedewasaan kita dalam mengendalikan nafsu dan gengsi.
Gengsi itu adalah komoditas termahal di dunia yang tidak akan pernah ada habisnya jika kita turuti. Ia menuntut kita untuk selalu tampil sempurna di mata orang lain dengan mengorbankan ketenangan batin kita sendiri.
Mari kita mulai berbenah. Bersihkan utang-utang konsumtif, bangun benteng pertahanan berupa dana darurat, dan jangan malu untuk naik transportasi umum demi masa depan finansial yang lebih cerah. Berhentilah hidup demi penilaian orang lain yang tidak memberikan kontribusi apa pun pada rekening bankmu. Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkanmu di hari tua bukanlah jumlah ‘like’ di fotomu, melainkan seberapa bijak kamu memperlakukan setiap lembar rupiah yang mampir ke dompetmu hari ini.
