Dunia hari ini—atau setidaknya lini masa media sosial kita—sedang diguncang oleh sebuah kabar yang saking indahnya, malah terasa agak mencurigakan. Bayangkan saja: Amerika Serikat dan Iran, dua negara yang kalau diibaratkan manusia sudah seperti dua bapak-bapak kompleks yang hobi saling melotot sambil memegang parang di pagar rumah masing-masing, tiba-tiba dikabarkan mau bersalaman.
Kabar gembira ini tidak datang dari konferensi pers megah di Gedung Putih atau dari podium berwibawa di Teheran. Tidak. Kabar ini muncul pertama kali lewat sebuah cuitan di media sosial X (yang dulu kita kenal sebagai Twitter, tempat orang bertengkar soal bubur diaduk). Adalah Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang dengan bangga mengumumkan bahwa kedua raksasa yang sedang pusing tujuh keliling itu akhirnya sepakat untuk berdamai.
Membaca pengumuman itu, saya mendadak membayangkan Pak Sharif ini seperti ketua RT yang sukses mendamaikan dua warga yang bacok-bacokan gara-gara masalah parkiran. Tentu saja, beliau tidak sendirian. Di belakangnya, ada Qatar, Arab Saudi, dan Turki yang ikut sibuk memegangi baju kedua belah pihak agar tidak kebablasan baku hantam. Rencananya, kalau tidak ada arah melintang, mereka semua akan terbang ke Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026. Amerika bahkan kabarnya sudah memesankan tiket pesawat untuk Wakil Presiden mereka, JD Vance, demi menghadiri upacara penandatanganan di Jenewa.
Sebuah pemandangan yang sangat manis, bukan? Benar-benar seperti akhir dari film Hollywood yang mengharukan. Tapi, tunggu dulu. Jangan buru-buru terharu lalu sujud syukur di lantai dapur. Di dunia geopolitik yang penuh dengan intrik dan akal-akalan ini, kata “damai” sering kali punya arti yang berbeda, tergantung siapa yang sedang memegang mikrofon.
Sama – Sama Klaim Kemenangan
Mari kita lihat bagaimana kedua negara ini merespons kabar perdamaian tersebut. Di sudut sana, Donald Trump—yang sekarang kembali duduk di kursi empuk Oval Office—langsung membuat pengumuman di media sosial kesayangannya, Truth Social. Gaya bicaranya, seperti biasa, khas makelar sukses. Dengan huruf kapital yang mungkin bertebaran di sana-sini, Trump sesumbar bahwa kesepakatan ini adalah kemenangan besar. Selat Hormuz akan dibuka tanpa pembatasan, blokade Angkatan Laut AS dicabut, dan ia menutupnya dengan slogan yang sangat pragmatis: “Biarkan minyak mengalir!”
Bagi Trump, perdamaian ini urusannya adalah soal perut dan angka-angka. Ekonomi global sedang megap-megap, tekanan politik di dalam negerinya sendiri sedang membakar bokongnya, dan jalan keluar terbaik adalah memastikan pasokan minyak dunia kembali lancar jaya agar harga bensin turun. Sederhana, transaksional, khas pengusaha properti New York.
Namun, mari kita tengok sudut satunya lagi: Teheran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, memang mengonfirmasi adanya kesepakatan itu. Tapi kalau Anda menyalakan televisi pemerintah Iran atau membaca media-media di sana, narasi yang dibangun sungguh jauh panggang dari api dibanding narasinya Trump.
Bagi Iran, kesepakatan ini bukanlah hasil kompromi yang manis, melainkan bukti sahih bahwa Amerika Serikat telah “dipaksa” bertekuk lutut. Media-media di sana merayakannya sebagai kemenangan mutlak bagi Iran dan Poros Perlawanan. Di mata mereka, AS akhirnya menyerah karena frustrasi.
Di sinilah letak lucunya manusia. Menghadapi satu lembar kertas yang sama, yang satu merasa sedang bermurah hati membuka keran minyak, sementara yang lain merasa baru saja berhasil menjambak rambut musuh bebuyutannya. Sejak awal saja, “suasana batin” kedua belah pihak sudah tidak sinkron. Yang satu bicara bisnis, yang satu bicara harga diri dan ideologi.
Draf 14 Butir Perjanjian
Kalau kita membedah draf 14 butir Nota Kesepahaman yang sempat dibocorkan oleh media semi-resmi Iran, Mehr, kita akan makin geleng-geleng kepala. Butir-butirnya terdengar sangat indah di atas kertas, tapi sekaligus terasa sangat tidak masuk akal untuk ukuran watak Amerika Serikat.
Coba bayangkan, dalam draf itu disebutkan bahwa AS berkomitmen untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran dan berjanji tidak akan menambah pasukannya di kawasan Timur Tengah. Lebih dahsyat lagi, ada poin yang menyatakan bahwa AS dan sekutunya harus menyerahkan rencana rekonstruksi untuk Iran senilai minimal US$300 miliar!
Catatan Pinggir: Dolar loh ini, jemaah. Tiga ratus miliar dolar AS itu kalau dibelikan kerupuk kaleng, mungkin bisa menenggelamkan seluruh Teluk Persia.
Bagi Iran, dana ini adalah ganti rugi atas penderitaan mereka akibat sanksi bertahun-tahun. Tapi bagi publik Amerika, membayar 300 miliar dolar ke musuh bebuyutan mereka sama saja dengan Donald Trump mengakui bahwa dirinya adalah pecundang terbesar dalam sejarah modern. Apakah Trump yang narsistik itu sudi melakukannya?
Belum lagi syarat dari Iran yang mengatakan bahwa negosiasi final baru akan dimulai setelah setengah dari dana mereka yang dibekukan di luar negeri dibebaskan terlebih dahulu. Jadi, prinsipnya mirip seperti orang mau beli mobil bekas: “Kasih DP-nya dulu setengah, baru kita ngobrol soal surat-suratnya.” Padahal, detail mengenai nasib program nuklir Iran—yang menjadi alasan utama Trump mencari gara-gara sejak periode pertamanya dulu—justru belum dibahas sama sekali. Anthony Zurcher, koresponden kawakan dari BBC, sampai geleng-geleng kepala melihat betapa minimnya detail soal nuklir ini. Hal yang paling krusial justru ditunda untuk masa depan. Ini kan sama saja dengan menikah tapi urusan nanti mau tinggal di mana dan punya anak berapa baru dibahas sepuluh tahun lagi.
Gajah di Dalam Kamar Bernama Israel
Namun, dari semua keganjilan dan syarat-syarat berat dalam draf tersebut, ada satu faktor terbesar yang membuat saya—dan mungkin banyak pengamat waras di luar sana—merasa sangat pesimis bahwa perdamaian ini akan bertahan lebih dari sebulan. Faktor itu bernama Israel.
Dalam draf perjanjian tersebut, tertulis dengan gagah bahwa harus ada gencatan senjata segera dan permanen di semua front, termasuk Lebanon. Ini poin yang sangat krusial, karena Lebanon, lewat Hizbullah, adalah garis depan konfrontasi Iran melawan Israel.
Pertanyaannya: Apakah Israel mau urut dada dan manut begitu saja pada selembar kertas yang ditandatangani di Swiss? Jawabannya jelas: tidak.
Kita semua tahu, dalam beberapa tahun terakhir, Israel berulang kali meluncurkan serangan udara, mengebom wilayah Lebanon, dan memburu tokoh-tokoh yang dianggap mengancam mereka. Dan yang paling mengerikan, serangan-serangan itu sering kali dilakukan tanpa restu, tanpa izin, bahkan tanpa memberi tahu Amerika Serikat terlebih dahulu.
Hubungan AS dan Israel itu unik. AS adalah penyokong dana dan senjata utama, tapi Israel sering kali bertindak seperti anak remaja pemberontak yang punya kunci mobil sendiri. Mereka tabrak sana, tabrak sini, lalu ketika pintunya penyok, mereka pulang dan meminta bapaknya (AS) untuk membayar tagihan bengkelnya.
Perdana Menteri Israel tidak akan peduli apakah JD Vance sedang minum kopi sambil tersenyum di Jenewa atau apakah Donald Trump sedang sibuk mengetik “Biarkan minyak mengalir!” di akun medsosnya. Bagi Israel, keberadaan Hizbullah di Lebanon dan pengaruh Iran di perbatasan mereka adalah ancaman eksistensial yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan tanda tangan di atas kertas bermaterai.
Jika besok pagi sebuah jet tempur Israel kembali menjatuhkan bom di Beirut atau Nabatiyeh—tanpa memedulikan restu Washington—maka detik itu juga, seluruh draf perdamaian 14 butir yang disusun susah payah oleh Pakistan, Qatar, Saudi, dan Turki akan langsung masuk ke tong sampah. Iran akan merasa dikhianati, Poros Perlawanan akan kembali meluncurkan roket, dan Amerika Serikat akan kembali mengirim kapal induknya ke Laut Mediterania sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
Perdamaian ini Terlihat Rapuh
Pada akhirnya, kesepakatan damai yang dijadwalkan pada 19 Juni 2026 ini rasanya tak lebih dari sekadar “parasetamol” geopolitik. Ia hanya obat penurun panas sementara untuk meredakan ketegangan ekonomi global yang sedang meriang, serta memberi sedikit napas lega bagi Trump dari tekanan politik dalam negerinya.
Ini adalah sebuah drama panggung yang sutradaranya dipaksa buru-buru menurunkan tirai karena penonton sudah mulai bosan dan lelah. Semua orang ingin terlihat menang. Trump ingin terlihat seperti juru selamat ekonomi, Iran ingin terlihat seperti pahlawan yang berhasil memaksa negara adidaya bertekuk lutut, dan Pakistan serta negara-negara mediator ingin mendapat tepuk tangan atas kerja keras mereka.
Namun, selama gajah di dalam kamar—yaitu agresi militer Israel yang liar dan tak terkendali di Lebanon—tidak ikut diikat dalam kesepakatan tersebut, maka perdamaian ini hanyalah sebuah ilusi yang rapuh. Kita boleh saja menyambut hari Jumat besok dengan secangkir kopi dan harapan baik. Tetapi jangan kaget, jika minggu depan, kita kembali membaca berita yang sama: bensin naik lagi, Selat Hormuz tegang lagi, dan bapak-bapak kompleks itu kembali berdiri di depan pagar sambil memegang parang masing-masing.
