Mari kita mulai jujur-jujuran saja sebagai manusia Indonesia yang hidup di era modern ini. Salah satu momen paling menguji mental dalam kehidupan sehari-hari bukanlah saat menghadap calon mertua, bukan pula saat tiba-tiba ditagih debt collector di perempatan jalan, melainkan saat kendaraan kita perlahan memasuki area SPBU Pertamina dan kita harus memutuskan: mau belok ke lajur warna biru atau lajur warna merah?
Selama ini, bagi kaum yang merasa dirinya “sedikit di atas miskin” alias kelas menengah ngehe—para pekerja kantoran ber-ID card keren yang menggantung di leher, pelaku ojek online yang mandiri, hingga guru honorer yang tetap berusaha tampil necis—lajur Pertamax (si biru) adalah benteng pertahanan harga diri terakhir. Mengisi motor matic atau mobil LCGC dengan Pertamax bukan sekadar urusan merawat mesin agar tidak menggelitik, melainkan sebuah pernyataan status sosial yang sunyi namun tegas. Lewat Pertamax, kita seolah ingin berteriak kepada dunia: “Lihat, saya mandiri! Saya tidak membebani APBN negara ini!”
Namun, romansa heroik itu mendadak ambyar tanpa ada aba-aba. Tanpa ada desas-desus panjang yang biasanya diembuskan oleh para pengamat di televisi, PT Pertamina Patra Niaga melakukan manuver senyap yang bikin jantung copot. Harga Pertamax (RON 92) melonjak drastis, melompat dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Tak ketinggalan, saudaranya yang agak ramah lingkungan tapi bikin kantong kering, Pertamax Green 95, meroket dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Kenaikan ini terjadi di luar jadwal rutin bulanan. Benar-benar sebuah kejutan yang sama sekali tidak kita butuhkan di tengah bulan tua. Pihak berwenang dengan sangat santun dan diplomatis menjelaskan bahwa penyesuaian harga ini sudah dikoordinasikan dengan pemerintah, sudah sesuai regulasi, dan tentu saja demi “menjaga keseimbangan bisnis serta kelangsungan pasokan energi”. Kalimat yang sangat indah, ritmis, dan menenangkan di telinga para pemegang saham, namun terdengar seperti bunyi lonceng kematian bagi dompet warga jelata yang hidupnya bersandar pada sisa-sisa saldo ATM.
Mari kita bedah apa yang terjadi pada psikologis manusia-manusia di kelas menengah ini setelah angka di papan digital SPBU itu berubah.
Gerakan Turun Kasta Berjamaah
Bagi kelas menengah kita, hidup adalah rangkaian simulasi menjadi kaya yang sering kali gagal. Mereka ini adalah kelompok masyarakat yang paling tragis dalam piramida sosial Indonesia. Mau disebut miskin, mereka punya handphone layar sentuh, bayar cicilan motor matic-nya lancar (walau ngos-ngosan), dan sesekali nongkrong di kedai kopi waralaba demi mengejar Wi-Fi gratis. Tapi mau disebut kaya, jangankan beli saham atau investasi tanah, akhir bulan saja menu makannya sudah bermigrasi secara alami dari ayam geprek ke mi instan campur nasi.
Kenaikan Pertamax yang ugal-ugalan ini melempar mereka ke dalam sebuah dilema eksistensial yang akut. Coba bayangkan nasib seorang sopir ojek online atau mas-mas kurir ekspedisi. Saban hari mereka harus memutari kota demi mengantar paket-paket belanjaan orang kaya atau mengantar mbak-mbak kantoran ke stasiun. Mesin kendaraan mereka adalah modal utama untuk menyambung hidup anak-istri di rumah.
Selama ini, mereka bela-belain beli Pertamax karena sadar, kalau mesin rusak akibat bensin kualitas rendah, biaya servis di bengkel resmi jauh lebih mahal. Tapi dengan harga Rp 16.250 per liter? Itu artinya, sebagian besar hasil narik dari pagi sampai malam habis hanya untuk dibakar di jalanan demi kepulan asap knalpot. Penurunan daya beli bukan lagi sekadar teori di buku kuliah ekonomi, melainkan kenyataan pahit saat melihat sisa uang belanja dapur yang makin mengenaskan.
Atau tengoklah nasib ibu dan bapak guru honorer. Mereka mengajar dengan dedikasi setinggi langit, mencerdaskan kehidupan bangsa dengan honor yang sering kali tak cukup untuk beli token listrik sebulan. Setiap pagi mereka berkendara belasan kilometer ke sekolah, menjaga penampilan agar tetap rapi dan dihormati oleh murid-muridnya. Kini, dengan harga BBM non-subsidi yang setara dengan harga sebungkus nasi padang lauk tunjang per liternya, mereka dipaksa menghitung ulang isi dompet dengan kalkulator yang layarnya sudah retak-retak.
Pilihannya cuma dua, dan dua-duanya tidak ada yang enak: tetap setia pada Pertamax dengan konsekuensi jatah jajan susu anak dipangkas habis, atau menurunkan gengsi sedalam-dalamnya, ikut mengantre di jalur Pertalite yang mengular panjang seperti ular naga di game Nokia jadul.
Dan akhirnya, seperti yang sudah bisa ditebak, pragmatisme selalu berhasil mengalahkan harga diri. Terjadilah apa yang dalam istilah keren para ekonom disebut sebagai “migrasi massal”. Tapi kalau boleh saya bahasakan dengan jujur dan tanpa tedeng aling-aling, ini adalah “gerakan turun kasta berjamaah”.
Sekarang, pemandangan di berbagai SPBU di kota-kota besar menjadi sangat kontras dan sekaligus menggelikan. Jalur Pertamax sepi melompong seperti kuburan di tengah malam. Petugasnya bisa berdiri tegak sambil melamun, memperbaiki posisi masker, atau sesekali main game di HP-nya karena tak ada satu pun pelanggan yang datang mendekat.
Sebaliknya, jalur Pertalite (si hijau bersubsidi) padat merayap bak jalur mudik Lebaran. Di sana mengantre berjejeran berbagai macam strata sosial baru: dari motor bebek tahun 90-an yang knalpotnya ngebul, motor matic keluaran terbaru yang baru dicicil tiga bulan, sampai mobil-mobil pribadi yang pemiliknya berpakaian rapi, memakai kacamata hitam, tapi wajahnya ditekuk lipat-lipat menahan dongkol.
Ada rasa kikuk yang luar biasa saat orang-orang kelas menengah ini pertama kali memutuskan pindah jalur ke Pertalite. Mereka biasanya turun dari kendaraan dengan gestur agak canggung, pura-pura sibuk melihat handphone agar tidak perlu bertatapan mata dengan sesama pengantre lain. Ada beban psikologis yang berat yang menggelayuti pundak mereka. Mereka yang kemarin merasa sebagai warga negara pahlawan karena membeli BBM non-subsidi, hari ini terpaksa menyerah kalah, ikut mengantre dan menikmati uang subsidi yang sebenarnya dialokasikan oleh negara untuk masyarakat miskin.
Tetapi mau bagaimana lagi? Daya beli mereka sudah digempur habis-habisan dari segala penjuru mata angin. Sebelum urusan bensin ini naik, mereka sudah megap-megap menghadapi inflasi harga pangan yang tidak masuk akal. Beras mahal, minyak goreng harganya naik-turun mirip wahana roller coaster di Dufan, ditambah lagi suku bunga bank yang mencekik membuat cicilan rumah atau kendaraan ikut merangkak naik setiap tahun. Di titik kritis ini, mempertahankan gengsi dengan tetap membeli Pertamax adalah tindakan bodoh yang mendekati bunuh diri finansial. Maka, persetan dengan ego! Mari kita nyalakan lampu sein kiri, masuk ke jalur Pertalite, dan ikut mengantre dengan sabar.
Bom Waktu Naiknya Semua Harga
Namun, kepuasan kelas menengah yang berhasil menghemat beberapa puluh ribu rupiah dari hasil migrasi ini sebenarnya adalah kepuasan semu yang berumur pendek. Sebab, ada bom waktu yang sedang berdetak kencang di balik antrean panjang Pertalite tersebut, dan pemerintah tahu betul soal itu.
Mari kita gunakan logika matematika sederhana ala orang pasar. Pemerintah menetapkan kuota Pertalite tahun ini sebesar 29,26 juta kiloliter. Angka itu dihitung dengan asumsi yang sangat manis: bahwa yang membeli Pertalite hanyalah mereka yang benar-benar berada di bawah garis kemiskinan, ditambah sebagian kecil kelas menengah bawah. Ketika kelas menengah atas dan menengah ngehe berbondong-bondong “turun kelas” karena Pertamax tak lagi rasional untuk dompet mereka, maka kuota bensin bersubsidi itu dipastikan akan jebol sebelum tahun berganti. Mungkin bulan Oktober atau November, tangki Pertalite di berbagai daerah sudah kosong melompong.
Jika kuota habis dan subsidi membengkak, apa yang akan terjadi? Pemerintah punya dua pilihan yang sama-sama horor. Pilihan pertama: membiarkan Pertalite langka di pasaran, yang artinya akan memicu keributan massal, kepanikan, dan antrean sepanjang dua kilometer di setiap pom bensin yang merusak produktivitas kerja. Pilihan kedua: pemerintah terpaksa merogoh kocek APBN jauh lebih dalam lagi untuk menambah kuota dan menanggung beban kompensasi yang membengkak kepada Pertamina. Uang rakyat yang harusnya bisa dipakai untuk membangun sekolah yang atapnya mau runtuh atau memperbaiki jalan trans-provinsi yang bolong-bolong seperti permukaan bulan, akhirnya habis tak berbekas dibakar di dalam ruang bakar mesin kendaraan kita semua.
Dampak berikutnya jauh lebih mengerikan dan tidak bisa dihindari oleh siapa pun, bahkan oleh Anda yang tidak punya motor, tidak punya mobil, atau yang sehari-hari jalan kaki sekalipun. Ini yang disebut oleh para pakar makroekonomi sebagai efek domino pada sektor riil.
Ekonomi kita ini digerakkan oleh roda logistik. Truk-truk pengangkut sayur dari gunung ke pasar induk, mobil-mobil boks yang mengantar sembako ke toko kelontong, hingga kurir-kurir yang mengantar makanan pesanan kita lewat aplikasi, semuanya butuh bahan bakar. Ketika harga Pertamax naik dan beban operasional meningkat, biaya transportasi otomatis melonjak drastis.
Jangan heran jika dalam beberapa minggu ke depan, saat Anda pergi ke pasar tradisional, ibu-ibu penjual sayur akan berkata dengan nada ketus: “Cabai naik, Le! Kan bensinnya mahal!” Anda mungkin protes dengan sok tahu, “Lho, kan Ibu jualan sayur, bukan jualan minyak? Sayur kan tumbuh di tanah, bukan di kilang Pertamina?” Tapi si ibu tidak salah. Truk yang membawa cabai itu dari lereng Gunung Merbabu sampai ke pasar perkotaan tidak berjalan menggunakan tenaga angin, tenaga gaib, atau untaian doa, melainkan menggunakan bahan bakar yang harganya baru saja dinaikkan demi “keseimbangan bisnis” tadi.
Biaya antar barang naik, tarif transportasi umum ikut menyesuaikan, harga beras ikut terkerek, dan pelan-pelan semua barang kebutuhan pokok merangkak naik tanpa bisa diredam. Pada akhirnya, kelas menengah yang kemarin merasa sudah sangat cerdik dan taktis karena pindah ke Pertalite, tetap saja kena hantam dari belakang lewat kenaikan harga barang-barang sehari-hari. Uang yang berhasil mereka hemat dari bensin, habis menguap untuk membeli beras dan telur ayam. Benar-benar sebuah skenario lingkaran setan yang sempurna, di mana rakyat jelata selalu berada di posisi piringan yang berputar paling bawah.
Refleksi
Menyaksikan drama kenaikan BBM yang berulang kali terjadi di negeri ini, saya sering kali merasa kita sebagai rakyat sedang diajak bermain sebuah permainan tebak-tebakan yang jenaka oleh para pembuat kebijakan. Kita diminta untuk selalu maklum, selalu paham, selalu berlapang dada, dan yang paling penting: selalu siap berkorban atas nama stabilitas ekonomi makro dan pertumbuhan nasional.
Setiap kali harga energi internasional bergejolak karena perang di belahan dunia yang bahkan kita tidak tahu di mana petanya, atau setiap kali ruang fiskal negara menyempit, kelompok yang pertama kali diminta menjadi bemper tabrakan adalah kelas menengah. Mengapa? Karena kelompok miskin sudah (dan harus) dilindungi oleh berbagai skema bansos dan subsidi—yang jumlahnya pun sering kali pas-pasan dan rapotnya merah di sana-sini. Sementara kelompok kaya raya? Ah, mereka tidak akan ambil pusing. Mau harga bensin naik jadi lima puluh ribu per liter pun, mereka tinggal gesek kartu debit tanpa perlu melihat angka yang tertera di mesin EDC, lalu melenggang pergi dengan mobil mewah ber-AC dingin.
Sementara kelas menengah? Mereka adalah penonton setia yang dipaksa ikut mendanai pertunjukan teatrikal ini, tapi tidak pernah mendapatkan jatah kursi yang nyaman. Mereka tidak berhak menerima bansos karena dianggap “cukup mampu dan punya pekerjaan tetap”, tapi mereka juga tidak cukup kaya untuk mengabaikan kenaikan harga seribu-dua ribu rupiah yang berimbas pada harga pampers anak. Mereka digencet dari atas oleh kebijakan, dan disenggol dari bawah oleh realitas lapangan.
Maka, jika esok hari Anda pergi ke SPBU dan melihat antrean di lajur Pertalite semakin panjang merayap, dan di antara para pengantre itu ada mas-mas klimis berkaus polo mahal yang wajahnya tampak kusut sambil memegangi stang motornya, tolong jangan diejek. Jangan dituduh sebagai orang kaya yang maruk yang tega merebut jatah subsidi orang miskin.
Sebab, mas-mas itu sedang melakukan sebuah ritual pertahanan hidup yang paling purba: menurunkan gengsi sedalam-dalamnya demi bisa bertahan hidup sampai tanggal 25 bulan berikutnya. Kenaikan Pertamax ini telah sukses meremukkan kesombongan kecil kita sebagai warga negara yang sok mandiri.
Selamat datang di jalur hijau, wahai rekan-rekan kelas menengahku. Tarik napas dalam-dalam, matikan mesin motormu agar tidak membuang bensin secara sia-sia selama mengantre, dan marilah kita bersama-sama menikmati indahnya seni mengantre berjam-jam demi beberapa liter bahan bakar penolak miskin. Hidup kelas menengah yang dipaksa tahu diri oleh keadaan! Padamu negeri, kami mengantre.
