Beberapa pekan terakhir ini, linimasa media sosial kita mendadak dipenuhi oleh satu istilah medis yang rasanya sudah naik kelas menjadi kata umpatan baru: NPD. Singkatan dari Narcissistic Personality Disorder alias Gangguan Kepribadian Narsistik. Di Twitter, TikTok, hingga grup WhatsApp gosip, kata ini berseliweran dengan sangat lincah. Ada orang yang putus cinta, mantan pacarnya langsung dicap NPD. Ada bos di kantor yang hobi menyuruh lembur, besoknya langsung digosipkan sebagai pengidap NPD. Bahkan ada tetangga yang kebetulan agak pelit meminjamkan cangkul, dalam obrolan bapak-bapak pos ronda langsung dituduh, “Wah, itu fix terkena gejala narsistik akut.”
Melihat fenomena “demam label” ini, saya yang sehari-hari lebih akrab dengan urusan harga token listrik yang makin cepat habis ini, merasa perlu mencari tahu. Apakah dunia ini memang sedang diserbu oleh monster-monster narsistik, ataukah kita saja yang sedang gemar memakai istilah keren untuk melabeli orang-orang yang menyebalkan?
Rasa penasaran saya akhirnya mendarat pada sebuah video wawancara yang sangat jernih di kanal YouTube MALAKA. Di sana, seorang pakar kejiwaan bernama dr. Elvin Gunawan, Sp.KJ, membedah habis-habisan tentang apa itu NPD yang sebenarnya. Mendengarkan penjelasan beliau membuat saya tertegun. Ternyata, NPD yang asli itu bukan sekadar urusan orang yang hobi pamer foto selfie di Instagram atau orang yang agak sombong saat ronda malam. NPD yang sesungguhnya adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang dampaknya tidak main-main—sebuah gangguan mental yang efek kerusakannya justru tidak dirasakan oleh si penderita, melainkan ditanggung sepenuhnya oleh orang-orang di sekitarnya.
Ketika Dunia Harus Berputar di Poros Ego Mereka
Mari kita luruskan dulu definisinya agar kita tidak sembarangan melempar tuduhan. Menurut dr. Elvin, berbeda dengan gangguan jiwa lain yang biasanya membuat penderitanya menarik diri, mengurung diri di kamar, atau terisolasi dari pergaulan, orang dengan NPD ini justru sangat aktif bergerak di tengah masyarakat. Dan di situlah masalahnya bermula. Mereka menyebarkan dampak negatifnya secara langsung, merusak ekosistem relasi di keluarga, hubungan asmara, hingga lingkungan tempat kerja.
Ciri khas mereka yang paling utama adalah grandiositas—sebuah perasaan mutlak bahwa diri mereka adalah makhluk yang paling hebat, paling penting, paling berjasa, atau dalam beberapa kasus: yang paling menderita di seluruh jagat raya. Mereka hidup dalam gelembung fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, atau kecantikan yang tak terbatas. Karena merasa dirinya spesial, mereka menuntut perlakuan khusus dan memiliki kehausan yang luar biasa akan pujian (admiration).
Namun, bagian paling beracun dari seorang penderita NPD adalah kombinasi antara kemandulan empati (lack of empathy) dengan keahlian manipulasi yang setingkat penyihir.
Mereka merasa sangat nyaman mengeksploitasi orang lain demi keuntungan pribadi tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Di awal hubungan—baik asmara maupun pekerjaan—mereka akan melakukan love bombing. Mereka akan memuji Anda setinggi langit, menghujani Anda dengan perhatian, membuat Anda merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Tapi begitu Anda sudah masuk ke dalam jaring perangkapnya, pelan-pelan menu utamanya akan disajikan: gaslighting dan guilty tripping. Anda akan dibuat meragukan kewarasan Anda sendiri, dan setiap kali ada masalah, Anda yang akan selalu disalahkan hingga menanggung rasa bersalah yang akut.
Celakanya lagi, orang NPD ini adalah jenis manusia yang paling sulit untuk berubah atau mencari bantuan profesional. Kenapa? Ya karena dalam isi kepala mereka, mereka tidak pernah salah! Yang salah adalah dunia luar. Mereka baru mungkin datang mengetuk pintu ruang praktik psikiater kalau dunia mereka sudah runtuh total akibat tiga kondisi ekstrem: berada di ambang perceraian yang memalukan, mengalami kebangkrutan finansial yang telanjang, atau dipermalukan habis-habisan di depan umum. Selama tiga badai itu belum datang, mereka akan tetap merasa sebagai raja di atas singgasana egonya.
Budaya “Tidak Enakan”
Nah, sekarang mari kita bawa teori medis ini ke atas tanah realitas sosial kita di Indonesia. Kenapa orang-orang dengan karakter narsistik ini kok rasanya subur makmur sekali hidup di negeri kita?
Di sinilah dr. Elvin menyentil salah satu urat budaya kita yang paling sensitif: sifat “tidak enakan”, sungkan, dan tuntutan adat atau agama untuk selalu sabar serta ikhlas tanpa batas. Sejak kecil, kita diajari untuk menjaga perasaan orang lain, mengalah demi harmoni, dan memendam dongkol demi sopan santun. Konsep batasan diri (boundaries) di masyarakat kita sering kali dianggap sebagai bentuk keegoisan atau perilaku yang kurang ramah.
Bagi seorang penderita NPD, budaya “tidak enakan” milik orang Indonesia ini ibarat selembar karpet merah yang digelar mewah. Mereka melihat ketidakberanian kita untuk berkata “tidak” sebagai kelemahan yang siap diinjak-injak. Ketika kita diperas energinya, dimanipulasi perasaannya, kita cenderung memilih diam, menerima, dan menghibur diri dengan kalimat, “Ya sudah, disabar-sabari wae, anggap ini ujian hidup.” Padahal, menghadapi manusia toksik tipe NPD ini dengan modal “sabar-ikhlas” yang keliru adalah cara paling cepat untuk merusak tubuh Anda sendiri. Stres kronis akibat menghadapi manipulasi terus-menerus itu bukan cuma urusan batin yang terluka. Tubuh kita itu jujur. Ketika otak kita dipaksa menelan kecemasan setiap hari, tubuh akan mengalami inflamasi atau peradangan kronis.
Manifestasi fisiknya bisa bermacam-macam dan sangat mengerikan. Hubungan antara otak dan perut kita (brain-gut axis) akan terganggu, memicu penyakit lambung, mag akut, atau gerd yang tidak sembuh-sembuh meskipun sudah minum obat sekardus. Hubungan otak dan kulit (brain-skin axis) juga bisa terganggu, membuat kulit gatal-gatal tanpa sebab, eksim, hingga rambut rontok parah. Belum lagi penumpukan lemak perut (visceral fat) akibat hormon kortisol yang melonjak, hingga risiko ekstrem berupa penyakit autoimun. Jadi, mengalah pada orang narsistik demi sopan santun itu taruhannya adalah kesehatan raga Anda sendiri.
Siasat Bertahan Hidup
Lalu, bagaimana caranya kita menghadapi manusia model begini kalau kebetulan mereka adalah bos kita, pasangan kita, atau bahkan orang tua kita sendiri yang tidak mungkin kita putus hubungan darahnya?
Langkah pertama yang disarankan oleh dr. Elvin adalah: kelola ekspektasi Anda ke titik paling rendah. Jangan pernah bermimpi atau berharap bahwa suatu hari nanti, setelah melihat Anda menangis darah, orang NPD itu akan tiba-tiba tersadar, meminta maaf sambil menangis, lalu berubah menjadi manusia yang penuh empati. Itu adalah hilal yang tidak akan pernah tampak. Menerima kenyataan bahwa mereka memang tidak punya kapasitas untuk berempati akan menyelamatkan Anda dari kekecewaan yang berulang.
Langkah kedua, buat batasan tegas (boundaries). Anda harus tahu di mana garis batas hak Anda yang tidak boleh dilewati oleh siapa pun. Jika pelaku NPD itu adalah orang tua atau keluarga inti, menjaga jarak yang sehat—baik jarak fisik maupun jarak emosional—tanpa harus memutus silaturahmi adalah pilihan yang paling bijak. Anda tetap berbakti, tetap menyapa, tapi jangan serahkan sirkuit emosi Anda untuk dikendalikan oleh mereka.
Selain itu, kita harus belajar cara mengosongkan “tangki emosi” kita yang sudah telanjur kotor akibat racun narsistik secara mandiri. Ada tiga metode praktis yang dipaparkan di video tersebut. Pertama, Jurnalisme Emosi (kognitif jurnaling). Catat dengan jujur di buku harian: tanggal berapa kejadiannya, peristiwa apa yang terjadi, apa respons emosi Anda, apa pikiran yang muncul, dan bagaimana reaksi fisik tubuh Anda. Menulis ini membantu kita memetakan pemicu stres agar otak kognitif kita bisa melihat masalah secara objektif, bukan secara baperan.
Kedua, evaluasi trauma masa kecil kita sendiri (adverse childhood experiences). Sering kali kita terjebak terus-menerus dengan orang NPD karena alam bawah sadar kita terbiasa dengan pola asuh masa lalu yang serupa. Kenali luka itu, lalu fokuslah pada pertumbuhan pasca-trauma (post-traumatic growth).
Ketiga, lakukan sublimasi fisik. Jangan pendam energi marah dan agresif Anda di dalam dada sampai jadi penyakit lambung. Alihkan energi itu ke aktivitas fisik yang melelahkan tapi sehat. Pergilah ke gym, angkat beban berat-berat, atau pukullah samsak tinju di sasana dengan membayangkan wajah bos atau mantan Anda yang toksik itu. Aktivitas fisik ini akan merangsang otak mengeluarkan hormon endorfin dan serotonin yang bikin perasaan kita kembali tenang dan bahagia.
Bahaya Menjadi Hakim Psikologi di Media Sosial
Di bagian akhir esai ini, saya ingin menggarisbawahi satu pesan yang sangat krusial dari dr. Elvin tentang tren self-diagnose dan hobi melabeli orang lain di era digital.
Internet dan media sosial hari ini telah mengubah kita semua menjadi “psikiater gadungan”. Hanya karena membaca satu utas di Twitter atau menonton satu video durasi satu menit di TikTok, kita dengan ringannya menuding orang lain sebagai penjahat NPD. Ini adalah tindakan yang sangat berbahaya dan tidak bertanggung jawab.
Istilah “NPD” kini sering disalahgunakan sebagai senjata penghakiman massal untuk menyerang siapa saja yang karakternya kebetulan ambisius, tegas, keras kepala, atau egois dalam pacaran. Padahal dalam ilmu kejiwaan, menegakkan diagnosis gangguan kepribadian itu rumitnya minta ampun. Orang narsistik itu kalau diwawancarai pintar sekali memanipulasi jawaban agar mereka tetap kelihatan sebagai korban atau pahlawan.
Bisa jadi, orang yang kita tuduh NPD di media sosial itu aslinya adalah korban yang sedang mengalami depresi berat, atau seseorang yang bertingkah aneh karena menderita PTSD akibat trauma masa lalu yang hebat. Melabeli orang sembarangan hanya akan menutup pintu empati kita sendiri dan memperkeruh suasana.
Maka dari itu, urusan diagnosis wajib diserahkan kepada ahlinya—kepada psikiater atau psikolog yang sekolahnya bertahun-tahun dan punya instrumen tes yang valid. Tugas kita sebagai orang awam bukan sibuk mendiagnosis isi kepala orang lain, melainkan sibuk menjaga kesehatan mental dan batasan diri kita sendiri.
Mari kita kembali ke warung kopi, melihat kehidupan dengan lebih rileks. Kalau bertemu dengan orang yang kelakuannya agak egois dan menyebalkan, tidak usah buru-buru memanggilnya “dasar NPD!”. Cukup setel batasan diri yang kokoh, kurangi sifat “tidak enakan” yang kebablasan, dan kalau batin sudah mulai terasa sesekali perih, segeralah olahraga atau menulis jurnal. Hidup ini sudah terlalu melelahkan untuk dihabiskan dengan mengurusi ego orang lain yang setinggi langit, sementara lambung kita sendiri yang harus menanggung perihnya.
