Saatnya All Out di Usia 20an, Jangan Menunggu Tua

Ada satu fase dalam hidup, biasanya terjadi ketika rambut di pelipis mulai memutih atau encok mulai menyapa tanpa permisi, di mana kita menyadari sebuah kebenaran yang agak menggelikan: ternyata, puncak tertinggi dari cita-cita hidup kita yang menggebu-gebu sewaktu muda itu hanyalah sebuah kebosanan yang teratur.

Coba Pembaca ingat-ingat lagi masa-masa kuliah atau awal usia dua puluhan. Waktu itu, isi kepala kita mungkin penuh dengan jargon-jargon heroik. Kita ingin mengguncang dunia, ingin menjadi manusia yang dinamis, tidak mau terjebak dalam rutinitas kantoran yang kafah, dan membenci segala hal yang berbau monoton. Kita memandang bapak-bapak yang tiap jam tujuh pagi memanaskan motor Supra-nya untuk pergi ke kantor sebagai lambang kekalahan hidup. Kita bersumpah tidak akan menjadi seperti mereka.

Lalu, tibalah usia tiga puluhan, katakanlah di angka 35, seperti yang dialami oleh dr. Tirta. Tiba-tiba saja, pandangan hidup kita berputar 180 derajat. Kehidupan yang stabil, yang setiap bulannya sudah ketahuan berapa pemasukannya (fixed income) dan sudah terukur berapa pengeluarannya (fixed cost), yang jadwal hariannya begitu-begitu saja, mendadak berubah menjadi berkah yang amat kita tangisi kelahirannya. Kehidupan yang stable boring—stabil tapi membosankan—ini rupanya adalah sebuah kemewahan yang tidak semua orang bisa beli.

Mengapa bisa begitu? Karena di luar sana, ribuan orang sedang bertaruh nasib, pontang-panting tidak tahu besok mau makan apa, atau dikejar-kejar tagihan yang bunganya tumbuh lebih cepat daripada jamur di musim hujan. Mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi besok pagi, meskipun itu membosankan, adalah sebuah privilese. Jadi, jika hari ini hidup Pembaca terasa datar, rutinitasnya itu-itu saja, dan tidak ada drama yang meledak-ledak, ucapkanlah syukur. Anda tidak sedang gagal; Anda sedang menikmati salah satu bentuk kesuksesan yang paling sunyi.

Panggung Sandiwara Digital dan Topeng-Topeng yang Menyelamatkan

Celakanya, pemahaman tentang “hidup bosan yang indah” ini sering kali dirusak oleh sebuah benda kotak kecil di genggaman kita: ponsel pintar yang isinya media sosial. Di sana, hidup orang lain kelihatan seperti film aksi yang penuh letupan. Hari ini jalan-jalan ke Paris, besok mendirikan startup, lusa sudah memamerkan saldo rekening yang digitnya bikin pusing kepala.

Anak muda usia dua puluhan, yang jiwanya masih selembut adonan donat, langsung kena mental. Mereka mengalami apa yang disebut quarter-life crisis. Mereka merasa tertinggal, merasa paling merana, dan akhirnya memaksakan diri untuk tampil sesuai standar layar kaca digital tersebut. Slogan “be yourself” atau “jadilah dirimu sendiri” digelorakan ke mana-mana sebagai mantra suci.

Padahal, di dunia nyata—dunia kerja yang keras dan tidak punya perasaan itu—slogan “be yourself” sering kali adalah nasihat paling sesat. Kalau Anda seorang pemarah, apakah Anda harus menjadi diri sendiri dengan memaki bos di depan rapat? Kalau Anda seorang pemalas yang mageran, apakah menjadi diri sendiri berarti tidur siang di kubikel kantor saat tenggat waktu mencekik leher? Tentu tidak.

Di dunia nyata, yang kita butuhkan bukan sekadar kejujuran emosional yang meluap-luap, melainkan kemampuan menempatkan diri (positioning). Kita perlu tahu kapan harus memakai “topeng” yang sesuai. Memakai topeng di sini bukan berarti kita menjadi penipu atau bermuka dua yang jahat, melainkan bentuk kedewasaan mental. Kita tahu peran apa yang sedang kita mainkan. Di kantor kita adalah profesional yang tunduk pada aturan; di rumah kita adalah kepala keluarga; di tongkrongan kita adalah teman yang asyik.

Maka dari itu, jangan pernah memasukkan hati apa yang terjadi di media sosial. Anggap saja ia sebagai papan reklame raksasa tempat orang jualan citra (branding) atau mencari jaringan (networking). Kalau ada orang pamer, ya sudah, anggap saja mereka sedang pasang iklan. Kalau ada yang merundung atau berkomentar miring, abaikan. Menguras emosi demi barisan piksel di layar gawai adalah tindakan paling merugi yang bisa dilakukan oleh manusia modern.

Usia Dua Puluhan: Musim Membanting Setir dan Menabung Peluh

Kalau begitu, apa yang harus dilakukan di usia emas 20 sampai 25 tahun? Jawabannya sederhana, meski praktiknya butuh keringat: carilah ilmu sampai lambungmu terasa penuh, dan jangan takut salah arah.

Di usia ini, energi kita sedang berada di puncaknya. Kita bisa tidur hanya empat jam sehari tanpa merasa dunia kiamat besok paginya. Manfaatkan kelimpahan energi ini bukan untuk hura-hura tanpa arah, melainkan untuk menyerap apa saja. Dan ingat, ilmu itu tidak hanya bersemayam di ruang-ruang kuliah yang dingin dan ber-AC. Ilmu yang paling mahal sering kali tercecer di meja-meja warung kopi, di sela-sela obrolan dengan para mentor kehidupan, di lembar-lembar buku yang kita baca sebelum tidur, bahkan di tongkrongan yang berisi orang-orang lintas profesi. Ilmu-ilmu informal inilah yang membentuk street smarts—kecerdasan jalanan—yang akan menyelamatkan kita saat badai usia 30-an datang menyerang.

Selain itu, usia dua puluhan adalah wilayah bebas hambatan untuk melakukan pivot atau banting setir. Katakanlah Pembaca telanjur kuliah di jurusan teknik tapi merasa jiwanya ada di dunia kepenulisan atau perdagangan. Pindahlah! Berubahlah! Risikonya masih sangat kecil. Kalaupun Anda gagal dan bangkrut di usia 24 tahun, Anda belum punya cicilan rumah dua puluh tahun, belum punya anak yang butuh susu formula, dan belum punya gengsi sosial yang terlalu tinggi untuk diruntuhkan. Anda masih bisa bangkit dengan cepat.

Jangan tunggu sampai usia 35 tahun baru mau mencoba hal baru dari nol. Di usia kepala tiga ke atas, insting manusia akan otomatis bergeser ke mode bertahan (survival mode). Kita akan cenderung mengambil keputusan yang aman (low risk) demi keberlanjutan hidup (longevity). Kita tidak lagi mengejar lompatan yang spektakuler, melainkan memastikan agar perahu tidak karam. Jadi, selagi masih muda, ambillah risiko yang terukur itu.

Namun, di tengah semua kesibukan memeras otak dan membanting tulang itu, ada satu hal yang kerap dilupakan anak muda: tubuh mereka sendiri. Banyak anak muda usia 25 tahun merasa diri mereka abadi. Mereka merokok tanpa ampun, begadang tiap malam, makan makanan cepat saji penuh minyak, dan anti yang namanya olahraga. Mereka pikir, tubuh mereka akan selamanya elastis dan kuat.

Ini kekeliruan besar. Tubuh kita itu seperti mesin mobil. Kalau sejak awal tidak pernah dirawat, diganti olinya, dan dipanaskan, maka begitu jarum jam kehidupan menyentuh angka 35, semua tagihan penyakit akan datang sekaligus tanpa bisa dinegosiasikan. Kolesterol tinggi, asam urat, gangguan metabolik, hingga penyakit bapak-bapak modern bernama HNP (hernia nucleus pulposus) alias saraf kejepit akibat terlalu lama duduk dan salah postur, akan mulai menggerogoti. Saat penyakit-penyakit ini datang, produktivitas kita akan rontok, dan otomatis pendapatan pun akan ikut terganggu. Berolahraga di usia muda bukanlah tren estetika demi konten Instagram; itu adalah bentuk investasi keuangan dan rasa syukur yang paling riil kepada Sang Pencipta.

Logika Lobus Frontal dalam Urusan Dompet dan Pelaminan

Mari kita bergeser ke wilayah yang lebih sensitif, yang sering kali membuat anak muda mendadak puitis sekaligus tragis: cinta, pernikahan, dan uang.

Kita sering mendengar narasi romantis tentang “menemani cowok dari nol.” Di atas kertas, narasi ini terdengar sangat mulia, seperti cerita-cerita fiksi remaja. Namun, dr. Tirta memberikan koreksi yang sangat tajam dan realistis. Tidak ada cowok yang benar-benar dimulai dari nol. Kalau seorang pria mau mengajak anak orang menikah tapi dia tidak punya pekerjaan, tidak punya keahlian, malas bergerak, dan tidak punya isi otak sama sekali, itu namanya bukan memulai dari nol. Itu namanya nekat yang tidak bertanggung jawab!

Istilah yang lebih pas dan terhormat adalah “Cowok Perintis.” Dia mungkin hari ini gajinya masih pas-pasan selevel UMR. Dia mungkin hari ini belum sanggup beli rumah dan harus rela mengontrak terlebih dahulu. Namun, dia punya cetak biru (planning) yang jelas untuk masa depannya. Dia tahu cara mengelola uang yang sedikit itu agar tidak minus. Dia punya rasa tanggung jawab dan etos kerja yang menyala. Pria seperti inilah yang layak ditemani, karena dia bukan tidak punya apa-apa; dia hanya sedang mengumpulkan apa-apa.

Pernikahan, pada akhirnya, bukan sekadar upacara pamer dekorasi bunga di gedung pertemuan yang mewahnya hanya bertahan beberapa jam. Pernikahan itu adalah sebuah kerja tim (tag team). Begitu ijab kabul selesai atau janji suci diucapkan, Anda dan pasangan sedang masuk ke dalam arena pertandingan hidup yang sesungguhnya. Kuncinya adalah kekompakan. Tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi atau merendahkan yang lain.

Zaman sekarang, bukan hal yang aneh jika istri memiliki pendapatan yang lebih besar daripada suami. Di sinilah kedewasaan diuji. Jika tim ini kompak, perbedaan angka di rekening tidak akan menjadi bahan bakar pertengkaran, melainkan peluru tambahan untuk menyejahterakan keluarga.

Oleh karena itu, buang jauh-jauh pikiran bahwa pernikahan bisa langgeng hanya karena modal cinta yang bergelora atau nafsu seksual yang membuncah. Cinta yang menggebu-gebu itu ada masa kedaluwarsanya; ia akan menguap ketika berhadapan dengan tagihan listrik, biaya sekolah anak, dan beras yang habis.

Gunakan otak bagian depan Anda—lobus frontal—yang berfungsi untuk berpikir logis dan mengendalikan emosi. Persiapkan semuanya dengan matang: di mana nanti akan tinggal, bagaimana sistem tabungannya, bagaimana rencana kalau punya anak nanti. Menikah dengan persiapan yang matang bukan berarti matre; itu artinya Anda sedang menghormati masa depan Anda sendiri dan calon keturunan Anda.

Seni Bertahan di Dunia Kerja dan Misteri Perputaran Roda Nasib

Bagian terakhir yang tidak kalah krusial adalah bagaimana kita bersikap dalam hubungan sosial dan dunia kerja. Ini adalah tempat di mana ego sering kali menjadi musuh terbesar kita.

Satu hal yang harus ditanamkan sejak hari pertama Pembaca masuk ke dunia kerja: pertemanan di sana hampir selalu bersifat transaksional. Jangan kaget dan jangan sakit hati. Ini adalah hukum alam yang wajar. Di kantor, semua orang diikat oleh indikator kinerja (KPI) dan bonus. Ada kompetisi yang berjalan di sana.

Oleh sebab itu, bersikaplah profesional. Jalin hubungan yang baik, tapi tetap batasi diri. Jangan pernah membagikan masalah pribadi yang terlalu intim kepada rekan kerja. Mengapa? Karena informasi itu, sadar atau tidak, bisa menjadi senjata yang berbalik menyerang Anda saat persaingan memanas. Jika Anda mencari teman sejati, teman yang tulus menerima Anda apa adanya tanpa ada embel-embel urusan pekerjaan, tengoklah ke belakang: mereka biasanya adalah kawan-kawan yang membersamai Anda sejak masa sekolah atau kuliah.

Kedua, kendalikan emosi. Jangan jadi manusia yang gampang tersinggung, sedikit-sedikit mengamuk, atau mengambil keputusan penting saat hati sedang bergejolak. Membuat keputusan saat Anda sedang terlalu sedih, terlalu marah, atau bahkan terlalu senang, sering kali melahirkan kebijakan yang bias dan tidak logis.

Contoh paling konkret dan sering terjadi pada anak muda adalah urusan resign atau keluar dari pekerjaan. Banyak yang melakukannya secara impulsif. Hanya karena ditegur sedikit oleh atasan, atau kesal dengan rekan kerja, sorenya langsung bikin surat pengunduran diri. Mereka merasa gagah saat melangkah keluar dari pintu kantor.

Tapi, apa yang terjadi seminggu kemudian? Ketika tabungan menipis, kepastian kerja di tempat baru belum ada, dan perut tidak bisa diajak kompromi, mereka mulai panik. Akhirnya, banyak yang terjebak dalam lingkaran setan pinjaman online (pinjol) atau utang macet. Menyerah pada emosi sesaat adalah cara tercepat untuk merusak masa depan finansial Anda. Kalau mau resign, pastikan jaring pengamannya sudah siap. Jangan lompat dari pesawat tanpa parasut hanya karena Anda tidak suka dengan wajah pramugarinya.

Terakhir, jaga selalu sikap Anda di mana pun berada. Rumus kuno “Salam, Senyum, Sapa” itu tetap sakti sampai hari ini. Jangan pernah merendahkan atau merundung (bully) siapa pun di tongkrongan sewaktu muda, sekecil atau selucu apa pun tampang mereka saat itu.

Roda nasib itu berputar dengan kecepatan yang kadang tidak masuk akal. Bisa jadi, teman tongkrongan yang dulu sering Anda jadikan bahan tertawaan karena kuper atau miskin, sepuluh tahun kemudian mengalami apa yang disebut villain arc—dia bangkit, bekerja keras, menjadi orang yang sangat sukses, dan menduduki posisi penting. Dan siapa tahu, di masa depan, orang yang dahulu Anda hina itulah yang memegang kunci keselamatan hidup Anda, menjadi bos di perusahaan tempat Anda melamar kerja, atau orang yang bisa menolong Anda dari keterpurukan. Dunia ini sempit, dan sejarah suka bercanda dengan cara yang ironis.

Penutup: Menikmati Proses Menjadi Tua

Di penghujung hari, melihat anak muda zaman sekarang dengan segala bahasanya yang ajaib—mulai dari istilah bab, bam, fam, janggal, dan entah apa lagi nanti yang akan muncul—kita mungkin hanya bisa tersenyum simpul sambil menggelengkan kepala. Setiap generasi memang punya cara sendiri untuk mengekspresikan kediriannya, dan itu sah-sah saja.

Bagi Pembaca yang saat ini sedang berada di fase usia dua puluhan dan merasa hidupnya penuh dengan salah langkah, trial and error yang melelahkan, serta keputusan-keputusan yang berakhir keliru: tenanglah. Jangan mengutuk diri terlalu dalam. Kesalahan di masa muda itu bukan tanda bahwa Anda gagal selamanya. Ia adalah bahan baku, sebuah pupuk berharga yang memang harus ada agar kita bisa tumbuh menjadi manusia yang bijaksana, kuat, dan siap menghadapi masa tua dengan senyuman.

Habiskan jatah salahmu di usia muda, agar di usia tua nanti, Anda tinggal memanen kebijaksanaan dan—tentu saja—menikmati kebosanan yang stabil dan damai itu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *