Lastri Reinkarnasi Ke Tahun 84 Jadi Istri Sukses

Bagi orang Jawa yang hidup di tahun 2026, perkara “pindah alam” itu biasanya urusan ke kuburan. Tapi bagi Lastri, urusannya jauh lebih ruwet dan tidak masuk akal sehat.

Bayangkan saja, sedetik lalu dia sedang memegang gawai, menggeser-geser layar menyaksikan drama pendek Tiongkok di Tiktok sambil rebahan di kamar kosnya yang gerah di daerah Tembalang, Semarang. Detik berikutnya, setelah kepalanya pening luar biasa akibat asam lambung naik, dia terbangun di sebuah kamar dengan dinding batako telanjang yang belum diplester. Bau ruangan itu khas: campuran minyak tanah, bedak semprot, dan apek kapur barus.

Di atas meja kayu jengki di sudut kamar, ada kalender dinding bergambar perempuan bersanggul memegang botol kecap. Angkanya bikin Lastri pengin pingsan lagi: 1984.

“Gusti Allah… ini saya malah masuk ke drakor jalur kabupaten atau bagaimana?” bisiknya, meraba jidatnya yang kok malah berponi kaku khas remaja zaman baheula.

Belum sempat otaknya yang terbiasa dengan kecepatan internet 5G itu memproses keadaan, pintu kayu jati yang seret itu berderit terbuka. Muncul sesosok lelaki tegap. Kaosnya singlet putih cap Cabe, celananya jins kombor yang bagian bawahnya agak lebar—tren yang di tahun 2026 disebut bootcut, tapi di sini jelas ini seragam harian cah gaul dekade delapan puluhan. Wajahnya kotak, rahangnya tegas, matanya menatap Lastri dengan pandangan yang… Gusti, dinginnya melebihi es teh di warung burjo.

“Wis tangi? (Sudah bangun?)” suara lelaki itu berat, khas orang yang urat lehernya jarang dipakai buat rasan-rasan tetangga. “Kalau sudah, ndang keluar. Ibu wis nunggu di dapur. Rasah polah sing aneh-aneh meneh. Kita wis rukun nikah, senajan kowe emoh.”

Lastri mengerjap. Otak modernnya langsung menyisir memori instan yang mendadak banjir di kepalanya. Lelaki ini namanya mas Prasetyo. Pangkatnya sersan dua, tentara muda yang mukanya ditekuk terus. Dan dia, Lastri, di dunia ini adalah anak gadis manja dari desa sebelah yang dinikahkan paksa karena bapaknya punya utang budi. Reputasi Lastri asli di tahun 1984 ini agak minus: kesedariannya kurang, suka dandan menor, emoh diajak susah, dan hobi ngambek sampai mengurung diri.

Diplomasi Sambel Korek dan Sumpat-Sumpit Tetangga

Di dapur, suasananya langsung sepekat jelantah. Bu Seto, ibu mertua Lastri, sedang meniup luweng (tungku kayu) dengan bambu kecil sampai pipinya kempot. Di sudut lain, ada Mbak yu Lastri yang namanya Yayuk, ipar yang tatapannya seolah-olah mengumumkan pada dunia: “Nah, ini dia beban keluarga kita yang baru.”

“Wah, penganten anyar wis tangi. Jam semene kok lagi metu, apa yo ra melu ngewangi?” sindir Mbak Yayuk sambil tangannya sibuk memotong kangkung dengan pisau yang tampaknya lebih tumpul daripada selera humor pejabat.

Lastri, yang di kehidupan aslinya adalah mantan asisten manajer rumah makan mapan di Semarang, jelas tidak mempan digertak pakai gaya oseng-oseng begini. Dia tahu betul, cara menaklukkan hati mertua Jawa itu bukan dengan didebat, melainkan dengan urusan perut.

“Nyuwun sewu, Ibu, Mbak. Kula telat,” kata Lastri dengan bahasa Jawa krama yang mendadak meluncur fasih dari bibirnya—efek memori tubuh asli. “Biar kula ingkang lajengaken.”

Tanpa menunggu jawaban, Lastri mengambil alih ulekan batu. Di tahun 2026, bumbu instan memang raja, tapi Lastri tahu rahasia kuliner legendaris. Dia ambil bawang merah, cabai rawit yang masih segar dari kebun belakang, sedikit terasi yang dibakar di bara tungku, lalu garam dan gula jawa. Tangannya mengulek dengan irama yang mantap, bukan gaya perempuan manja yang memegang ulekan seperti memegang gawai.

Bau harum sambal terasi bakar langsung memenuhi dapur, mengalahkan bau asap kayu. Ketika mas Pras masuk ke dapur hendak mengambil air minum di kendi, langkahnya terhenti. Matanya melirik ulekan, lalu melirik Lastri yang pelipisnya keringatan tapi malah kelihatan… manis.

“Iki sambel buatanmu, Las?” tanya Bu Seto, nadanya agak melunak setelah mencicipi sedikit di ujung jari.

“Nggih, Bu. Mangga dipun dhahar kalihan tempe garit,” jawab Lastri tersenyum tipis.

Mbak Yayuk cuma bisa mencebili dari sudut meja, tapi suaminya—Mas Pras—malam itu nambah nasi sampai tiga kali. Tanpa suara, tapi piring yang resik itu adalah bentuk testimoni paling jujur di tanah Jawa.

Ketika Sersan Kaku Mulai ‘Bucin’ Setinggi Langit

Sebulan berlalu. Lastri tidak hanya menguasai dapur, tapi juga mulai memutar otak modernnya untuk memperbaiki ekonomi rumah tangga suaminya yang pas-pasan sebagai sersan muda. Era 80-an di Jawa Tengah adalah masa di mana komoditas sandang mulai menggeliat. Bermodal pengetahuannya tentang tren mode masa depan yang “retro-aesthetic”, Lastri membujuk Pras untuk mengizinkannya membuka kios kain kecil-kecilan di Pasar Gedhe kota kecamatan.

“Kowe iki wong wadon, Las. Tugasmu neng omah, nggonku wis cukup nggo mangan,” kata Pras sewaktu mereka berdua di kamar. Suaranya masih ketus, tapi tangannya sibuk membetulkan lampu teplok agar cahayanya tidak langsung menyorot muka Lastri yang sedang menjahit.

“Mas, urip kuwi ra mung nggo mangan dino iki. Sersan yo butuh tabungan nggo masa depan anak-anak awake dhewe toh?” ceplos Lastri tanpa sadar.

Kata “anak-anak awake dhewe” (anak-anak kita) itu rupanya punya efek magis luar biasa bagi tentara muda berwajah kaku ini. Lastri bisa melihat daun telinga Pras mendadak memerah di bawah remang-remang lampu minyak.

Sejak malam itu, sifat Pras berbalik arah 180 derajat. Lelaki yang tadinya mirip patung jenderal di perempatan jalan itu berubah menjadi tameng berjalan bagi Lastri.

Kalau Lastri mau ke pasar subuh-subuh untuk kulakan kain, Pras sudah memanaskan motor Honda Win-nya sejak jam tiga pagi. Badan tegapnya yang dibalut jaket jins tebal siap menembus kabut dingin Jawa Tengah, memastikan istrinya tidak kena angin malam.

Bahkan, pernah suatu hari di pasar, seorang preman bertato mencoba menggoda Lastri saat suaminya sedang memarkir motor.

“Cah ayu, kulakan kain apa kulakan tresno?” goda si preman.

Belum sempat Lastri menjawab dengan semprotan ala Gen-Z, sebuah tangan kekar bertangan legam sudah mencengkeram kerah baju si preman dari belakang. Pras berdiri di sana, matanya melotot seperti Werkudara dalam lakon wayang.

“Iki bojoku. Sepisan meneh kowe njawil, tak sikat sisan neng koramil,” desis Pras. Si preman langsung pucat, minta ampun sampai jalannya mundur-mundur.

Lastri yang melihat itu cuma bisa membatin, “Waduh, mas sersan kalau sudah mode pelindung begini kok ya bikin jantung saya ikutan dandan jadul.”

Fitnah di Antara Minyak Wangi Murahan

Kesuksesan kios kain Lastri yang diberi nama “Maju Lancar” rupanya membuat mata beberapa orang di kampung menjadi merah membara. Salah satunya adalah Retno, anak lurah sebelah yang dulu digadang-gadang bakal jadi jodohnya Pras sebelum Lastri datang merusak skenario.

Suatu sore, saat Pras baru pulang dinas dari markas kodim, Retno mencegatnya di dekat jembatan desa, tempat biasa orang-orang mencuci baju.

“Mas Pras,” kata Retno dengan suara yang dibuat-buat mendesah, tangannya pura-pura membetulkan selendang. “Sampeyan kudu ngerti. Bojomu kuwi neng pasar ora mung dodolan kain. Wingi tak tonton dhewe, dheweke ngguyu-ngguyu karo bakul grosir seko kota. Wong lanang kuwi numpak mobil Suzuki Carry, klimis. Jare wong pasar, Lastri kerep diwenehi hadiah.”

Pras berhenti. Wajahnya datar, tidak menunjukkan riak apa pun. “Retno, kowe duwe bukti?”

“Lho, kabeh wong pasar yo ngerti, Mas! Wong wadon yen wis nyekel dhuwit akeh kuwi biasane lali karo sing neng omah. Apa meneh Lastri rak biyen wonge yo terkenal seneng rono-rene,” kompor Retno, tersenyum penuh kemenangan di dalam hati.

Malamnya, suasana rumah menjadi sunyi yang mencekam. Mbak Yayuk yang rupanya sudah mendengar selentingan itu dari Retno langsung ikut memanas-manasi Bu Seto di ruang tengah.

“Ibu, jare Lastri neng pasar main gila. Wah, jan, ngrusak jeneng becik keluarga sersan iki!” bisik Yayuk, sengaja dikeras-keraskan supaya terdengar sampai kamar belakang.

Lastri yang baru selesai menghitung uang hasil penjualan hari itu keluar dari kamar dengan wajah tenang. Dia tahu betul rumus drama seperti ini: fitnah harus dihadapi dengan data digital—eh, kalau di tahun 1984, dihadapi dengan pembukuan yang sah dan saksi kunci.

Pembuktian di Depan Meja Kayu Jati

Pras duduk di kursi panjang ruang tamu, masih memakai celana seragam hijaunya. Di hadapannya ada Bu Seto, Mbak Yayuk, dan tak lama kemudian, Pak Lurah bersama Retno datang dengan dalih “ingin menyelesaikan masalah warga agar tidak jadi aib desa”.

“Pras,” kata Pak Lurah berwibawa. “Sebagai pamong, aku mung pengin urusan iki lurus. Anakku Retno ora bakal ngapusi.”

Lastri masuk ke ruang tamu membawa sebuah buku bloknote merk Kiky yang tebal dan sebuah tas jinjing plastik. Dia tidak kelihatan takut sama sekali. Mentalnya yang sudah teruji menghadapi komplain pelanggan di abad 21 membuatnya tetap tenang menghadapi sidang konvensional ini.

“Matur nuwun Pak Lurah, Retno, wis rawuh,” kata Lastri tenang, duduk di sebelah Pras. “Sing dimaksud Retno ngenani wong lanang numpak Suzuki Carry klimis kuwi, jenenge Koh Siong. Dheweke kuwi distributor kain paling gedhe seko Semarang.”

Lastri membuka buku catatannya, menyodorkannya tepat di depan muka Retno.

“Iki catetan utang-piutang lan nota resmi, lengkap karo cap toko Koh Siong. Lan wingi, Koh Siong mrene ora mung karo aku, tapi karo bojone sing jenenge Cik Mei. Iki hadiah sing jaremu dikasihi menyang aku,” Lastri mengeluarkan sebotol minyak gosong dan sebungkus kue moci dari tas plastik. “Iki titipan seko Cik Mei nggo Ibu Mertuaku, amargi aku wis mbantu jahitno kebaya encim nggo anake.”

Retno langsung kelu. Mukanya berganti warna dari merah ke ungu seperti terong penyet.

Pras berdiri dari kursinya. Badannya yang tegap membuat seisi ruangan terasa makin sempit. Dia menatap Pak Lurah dan Retno dengan pandangan dingin yang mematikan.

“Pak Lurah, Retno,” kata Pras, suaranya pelan tapi bertenaga. “Bojoku iki rino wengi kerjo nggo ngangkat drajat keluarga. Yen mripatmu ora bisa mbedakno antarane urusan dagang karo urusan liyane, luwih becik mripatmu dipriksake neng rumah sakit tentara. Sepisan meneh aku krungu kabar miring soal Lastri seko cangkemmu, Retno, urusan iki bakal tak gowo neng jalur hukum. Aku ra peduli kowe anake sopo.”

Mbak Yayuk langsung nunduk milih pura-pura memperbaiki sandalnya yang putus. Pak Lurah yang malu bukan main langsung menarik tangan anaknya untuk pulang tanpa pamit dengan layak.

Langit Malam Tahun ’84 dan Janji Sersan Bucin

Setelah badai fitnah itu berlalu, malam di desa menjadi sangat tenang. Jangkrik-jangkrik saling bersahutan di bawah pohon mangga depan rumah.

Pras dan Lastri duduk di lincak (bale-bale bambu) di teras samping. Angin malam berembun membuat Lastri agak menggigil, mendekap lengannya sendiri. Tanpa sepatah kata pun, Pras melepas jaket dinas jinsnya yang tebal, lalu menyampirkannya ke bahu Lastri. Baunya maskulin—campuran minyak rambut Tancho dan sabun Giv.

“Matur nuwun ya, Mas. Wis percoyo karo aku,” bisik Lastri, menatap suaminya dari samping.

Pras tidak langsung menjawab. Dia menatap lurus ke arah sawah yang gelap di depan mereka, lalu pelan-pelan—sesuatu yang sangat langka bagi seorang tentara tahun 80-an—tangannya yang kasar dan kapalan itu meraih jemari Lastri, menggenggamnya erat.

“Las,” kata Pras, suaranya melembut, selembut gudeg yang dimasak semalaman. “Kowe kuwi bojoku. Mbiyen aku pancen dadi lanang sing kaku, amargi aku ra ngerti sepiro gedhene tresnamu. Tapi saiki, senajan kowe njaluk lintang neng langit, bakal tak usahake nganggo tangan loro iki.”

Lastri tersenyum lebar. Rasa rindu pada gawai, internet, dan kenyamanan abad 21 mendadak menguap begitu saja ke udara malam Jawa Tengah. Menjadi istri muda seorang sersan yang bucinnya sampai ke langit di tahun 1984 ternyata tidak buruk juga. Malah, rasanya jauh lebih nyata dan hangat daripada sekadar menonton drama di balik layar kaca yang dingin.

“Yen ngono, Mas,” kata Lastri manja, menyandarkan kepalanya di bahu tegap si sersan. “Sesuk tukokno es lilin neng pasar, yo? Sing rasa kopyor.”

“Jangankan es lilin, Las. Sak bakule tak tukokno nggo kowe,” jawab Pras, diiringi tawa renyah yang akhirnya pecah di bawah saksi bisu rembulan bulan Mei tahun delapan puluh empat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *