Kasus Pocong Kembali Viral di Seluruh Pulau Jawa

Beberapa minggu ini (16 sampai 24 Mei 2026), jempol kita di platform X, TikTok, maupun grup WhatsApp keluarga tak bisa tenang. Narasi yang beredar bukan lagi soal harga minyak goreng yang fluktuatif atau kelakuan politisi yang makin hari makin mirip komedian orkes keliling. Kali ini, musuh bersama kita adalah sesosok makhluk legendaris yang dalam hierarki perhantuan Nusantara menempati kasta paling populer, namun sekaligus paling kasihan: Pocong.

Bukan sembarang pocong, melainkan “pocong jadi-jadian”. Berdasarkan data sahih dari Monash University Indonesia, isu ini meledak pertama kali pertengahan Mei lalu di Bekasi, lalu merayap, mereplikasi diri, dan melonjak hingga puluhan ribu mention dalam hitungan hari. Lucunya, kegaduhan ini tidak digerakkan oleh para elite politik yang biasanya gemar memobilisasi massa pakai nasi kotak. Ini murni gerakan organik. Lebih dari separuh akun yang meramaikan isu ini adalah netizen jelata dengan follower di bawah seribu—tipe-tipe akun yang kalau ngetwit tentang penderitaan hidup biasanya cuma di-like oleh diri sendiri dan akun bot judi online.

Namun, ketika topiknya adalah pocong yang berkeliaran di gang-gang gelap, semua orang mendadak jadi humas dadakan. Dari Jabodetabek, narasi ini menular ke Jawa Tengah sampai Jawa Timur. Warga lokal dengan kreatif mengadopsi video entah dari mana, lalu diberi takarir lokal: “Ati-ati lur, jare wes tekan desane dewe” (Hati-hati lur, katanya sudah sampai desa kita).

Mengapa kita, masyarakat abad ke-21 yang katanya sudah akrab dengan Artificial Intelligence dan hidup di era modern, begitu mudah terseret ke dalam histeria massal urusan bungkus kain kafan ini?

Dari Prank Bocah AI hingga Pengamen Salah Kostum

Mari kita letakkan dulu segelas kopi kita, lalu tengok apa yang sebenarnya ditemukan oleh bapak-bapak polisi di lapangan. Fakta-fakta yang berhasil diungkap aparat penegak hukum kita sebenarnya jauh lebih menggelikan sekaligus mengenaskan ketimbang cerita horor itu sendiri.

Di Ciracas, Jakarta Timur, sebuah video CCTV yang memperlihatkan sesosok pocong melompat-lompat dengan sukses membuat bulu kuduk warga berdiri. Setelah diselidiki, pelakunya bukan makhluk halus yang kurang kerjaan, melainkan seorang anak yang terlalu kreatif. Modal aplikasi AI di ponsel pintar, ia mengedit video tersebut demi keisengan murni. Di tempat lain, tepatnya di Ciputat Timur, sosok putih misterius yang dicurigai warga sebagai representasi azab kubur ternyata adalah seorang pengamen. Dia hanya sedang cosplay menjadi pocong demi mengais rezeki. Bayangkan betapa lelahnya hidup di republik ini: sudah cari duit susah, dikira hantu pula oleh warga sekampung.

Belum lagi kasus di Pamulang soal “pocong bergolok” yang katanya dipakai buat membegal. Setelah polisi pontang-panting mengecek lokasi, ternyata itu hoaks premium. Nomor si pelapor langsung tidak aktif begitu polisi datang. Sementara di Kediri, tiga pria harus berurusan dengan hukum karena sengaja memproduksi video pocong demi menaikkan popularitas konten mereka.

Jadi, struktur anatomi dari teror pocong nasional kita hari ini adalah: sepertiga iseng digital, sepertiga tuntutan ekonomi kreatif jalanan, dan sisanya adalah nafsu purba berburu viewers demi algoritma media sosial. Sungguh sebuah kombinasi modernitas dan takhayul yang sangat efisien.

Mengapa Isu Mistis Selalu Laris Manis Saat Dompet Tipis?

Secara antropologis dan sejarah, fenomena ini sebenarnya tidak baru-baru amat. Endi Aulia Garadian, seorang akademisi sejarah dari UIN Syarif Hidayatullah, memberikan analisis yang sangat menohok. Legenda urban semacam pocong, kolor ijo, atau wewe gombel itu ibarat tanaman semusim. Dia tidak akan tumbuh subur di tanah yang makmur dan stabil. Mereka justru akan tumbuh lebat, hijau, dan berbuah lebat di atas tanah yang sedang gembur oleh ketidakpastian sosial dan ekonomi.

Ketika biaya hidup makin mencekik, lapangan kerja makin gaib, dan masa depan terasa buram, psikologis masyarakat kita membutuhkan semacam katarsis. Kita butuh sesuatu yang konkret untuk ditakuti, sesuatu yang bisa menyatukan rasa cemas kita, ketimbang memikirkan rumitnya angka inflasi atau cicilan yang menumpuk. Menakuti pocong itu gampang dan kolektif; kita tinggal ronda malam, bawa pentungan, lalu ngobrol di pos ronda. Tapi menghadapi kenyataan bahwa dompet makin tipis? Itu adalah horor riil yang penderitaannya harus ditanggung masing-masing di kamar tidur sambil menatap langit-langit plafon.

Hal semacam ini, kata Endi, juga jamak terjadi di negara-negara Amerika Latin. Saat krisis menghantam, cerita-cerita tentang monster pengisap darah atau hantu hutan mendadak viral di perkampungan kumuh. Itu adalah mekanisme pertahanan psikologis bawah sadar. Kita mengalihkan ketakutan kita terhadap sistem ekonomi yang abstrak dan kejam, menjadi ketakutan terhadap figur hantu yang bisa kita bicarakan sambil mengunyah gorengan.

Hiperrealitas dan Seni Mengalihkan Pandangan

Di sinilah kita masuk ke wilayah yang oleh antropolog USU, Ibnu Avena Matondang, disebut sebagai “hiperrealitas”. Ini adalah sebuah kondisi di mana batas antara fantasi dan kenyataan sudah kabur, bahkan mitos baru sengaja diproduksi untuk menutupi realitas yang asli.

Coba kita pikirkan dengan kepala dingin. Ketika ruang publik kita dipenuhi oleh jeritan histeris soal pocong di media sosial, apa yang sedang luput dari perhatian kita? Berapa banyak berita tentang kasus korupsi triliunan rupiah yang bergeser dari lini masa hanya karena netizen lebih sibuk berdebat apakah foto pocong di Bekasi itu asli atau editan? Berapa banyak kebijakan publik yang merugikan rakyat kecil lolos begitu saja tanpa kritik memadai karena energi kolektif kita habis terkuras untuk merasa cemas saat keluar malam?

Ibnu Avena mengingatkan sebuah pesan penting yang ditujukan khusus untuk generasi muda: berpikirlah logis dan kritis. Ketakutan kolektif adalah komoditas yang sangat mahal dan seksi. Jika masyarakat sudah telanjur panik dan takut, mereka akan menjadi sangat rapuh dan mudah disetir. Di titik itulah, pihak-pihak tertentu yang punya kepentingan politik atau ekonomi bisa dengan nyaman mempolitisasi keadaan. Mereka bisa menggunakan isu mistis ini sebagai tirai asap yang sempurna untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu nyata yang membakar dapur kita sehari-hari, seperti kemiskinan, pengangguran, dan rusaknya tata kelola pemerintahan.

Maka, setiap kali ada isu hantu massal yang meledak, pertanyaan pertama kita seharusnya bukan: “Itu hantu asli apa bukan?” melainkan: “Siapa yang paling diuntungkan ketika kita semua sedang sibuk menengok ke belakang sambil ketakutan?”

Horor Nyata Teror Ninja 1998

Kita mungkin bisa tertawa getir melihat kasus pocong AI di Ciracas atau pengamen di Ciputat. Namun, sejarah negeri ini juga menyimpan catatan kelam bahwa isu supranatural tidak selalu berakhir sebagai lelucon atau sekadar bahan konten TikTok. Kita harus membuka kembali lembaran hitam peristiwa “Teror Ninja” di Jawa Timur pada tahun 1998-1999.

Bagi generasi yang mengalami era itu, kata “ninja” bukan merujuk pada tokoh kartun Jepang yang keren, melainkan pada malaikat maut yang nyata. Kala itu, di tengah situasi krisis ekonomi hebat yang meruntuhkan rezim Orde Baru dan masa transisi politik nasional yang penuh gejolak, muncul isu berantai tentang keberadaan dukun santet. Tak lama kemudian, muncullah kelompok orang terlatih berbaju hitam-hitam—yang dijuluki warga sebagai ninja—yang secara brutal melakukan pembunuhan terhadap ratusan warga.

Peristiwa itu bukan kabar burung. Itu nyata, berdarah, dan mengerikan. Komnas HAM melalui tim penyelidikan masa lalu akhirnya mengidentifikasi bahwa peristiwa Teror Ninja tersebut bukan sekadar konflik horizontal antardesa atau urusan mistis murni. Itu adalah sebuah operasi politik yang memanfaatkan situasi krisis ekonomi dan kegamangan psikologis massa. Ketakutan masyarakat diamplifikasi sedemikian rupa, dimanipulasi, dan diarahkan untuk menciptakan ketidakstabilan sosial yang masif demi agenda politik elite tertentu di tingkat nasional.

Sejarah telah mengetuk pintu kesadaran kita dengan keras. Dia menunjukkan bahwa ketika ketakutan supranatural dibiarkan liar tanpa nalar kritis, ia bisa bermutasi menjadi instrumen kekerasan yang nyata dan mematikan.

Memilih Waras di Tengah Gempuran Takhayul Modern

Pada akhirnya, fenomena teror “pocong jadi-jadian” di tahun 2026 ini adalah cermin besar bagi wajah kolektif bangsa kita. Kita adalah masyarakat yang paradoks. Kita memegang gawai canggih dengan teknologi paling mutakhir, namun isi kepala kita masih sangat rentan disusupi oleh pola pikir abad pertengahan yang serba-takhayul.

Tentu saja, waspada terhadap kriminalitas jalanan seperti begal atau perampokan adalah hal yang wajib. Polisi harus tetap berpatroli, dan warga harus tetap menjaga keamanan kampung melalui pos ronda. Namun, mari kita sepakati satu hal: mulailah menyebut masalah dengan nama aslinya. Jika ada penjahat di jalanan, sebut dia kriminal, bukan hantu. Jika ada masalah ekonomi, sebut itu kegagalan kebijakan, bukan kutukan gaib.

Jangan biarkan energi kita habis untuk melompati bayangan kita sendiri. Pocong, sekujur tubuhnya diikat, jalannya melompat-lompat, dan dia tidak punya kantong baju untuk menyimpan uang hasil korupsi atau hasil begal. Dia makhluk yang tidak berdaya. Yang justru jauh lebih menakutkan dan harus kita waspadai adalah manusia-manusia berdasi dan berkuasa yang dengan tega memanfaatkan ketakutan kita, memanipulasi nalar kita, demi melanggengkan kepentingan mereka sendiri selagi kita semua sibuk bersembunyi di balik selimut.

Mari kita pilih untuk waras. Sebab di republik yang penuh kejutan ini, menjadi waras dan tetap berpikir kritis adalah bentuk perlawanan paling elegan yang bisa kita lakukan setiap hari.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *