Yang Terekam di Acara Pembukaan Piala Dunia 2026

Pesta Terbesar di Atas Bara Api

“Di dunia ini, tidak ada yang bisa menyatukan manusia melebihi sebuah bola yang bergulir.” Kalimat itu terdengar sangat puitis, romantis, dan tentu saja, sangat cocok dipajang di baliho-baliho besar milik FIFA. Dan kemarin, dunia kembali diajak mengamini khotbah suci itu saat Piala Dunia 2026 resmi ditabuh di Stadion Azteca, Mexico City.

Saya membayangkan diri saya berada di sana, di tengah-tengah Stadion Azteca yang magis itu. Stadion yang kapasitasnya mencapai 82.000 orang—sebuah tempat yang saking besarnya, kalau Anda berteriak dari tribun paling atas, suara Anda mungkin baru sampai ke lapangan ketika pertandingan sudah selesai. Suasananya luar biasa meriah. Warna-warni pakaian tradisional Meksiko berkelebat di sana-sini, tarian rancak penari lokal bergantian memenuhi lapangan, dan kembang api meledak di langit malam, membentuk formasi warna hijau, putih, dan merah—warna kebanggaan bendera Meksiko.

Melihat pemandangan sekolosal itu melalui layar kaca, siapa pun pasti akan terhipnotis. Pikiran kita mendadak steril dari urusan cicilan rumah atau harga beras yang makin mencekik. Kita dipaksa masuk ke dalam sebuah dimensi bernama “pesta”.

Ditambah lagi, FIFA tahu betul cara memanjakan kuping dan mata manusia modern. Mereka tidak tanggung-tanggung dalam urusan panggung hiburan. Di tengah lapangan, kita disuguhi penampilan Shakira yang goyangannya masih saja membuat pinggang pria paruh baya seperti saya terasa linu hanya dengan melihatnya. Ada juga J Balvin dengan irama reggaeton-nya yang asyik, Burna Boy yang membawa ritme Afrika yang magis, Danny Ocean, hingga Fher Olvera, vokalis Maná yang sangat legendaris itu.

Puncaknya, maestro opera Andrea Bocelli berduet dengan penyanyi K-Pop, Ejae, membawakan lagu resmi turnamen. Sebuah perpaduan yang kalau dipikir-pikir agak ajaib: yang satu bernyanyi dengan keagungan musik klasik Eropa, yang satu membawa energi pop modern Asia, dipentaskan di benua Amerika, untuk merayakan olahraga yang lahir di Inggris. Sungguh sebuah globalisasi yang paripurna. Di dalam stadion, semuanya tampak sempurna. Dunia sedang tersenyum.

Terjadi Demo dan Kerusuhan di Luar Stadiun

Namun, mari kita sejenak menggeser lensa kamera kita dari kemegahan panggung Shakira ke area di luar stadion. Persis di balik tembok-tembok kokoh Azteca, hanya beberapa ratus meter dari tempat Andrea Bocelli melantunkan suara indahnya, sebuah realitas yang sama sekali berbeda sedang terjadi. Sebuah realitas yang pahit, berisik, dan berdarah.

Di luar stadion, dilaporkan sempat terjadi bentrokan kekerasan sporadis antara aparat keamanan dengan sekitar 200 demonstran bertopeng. Saking mencekamnya situasi di satu titik, stasiun kereta bawah tanah terdekat bahkan sempat ditutup sementara. Kontras sekali, bukan? Di dalam stadion ada kembang api tanda sukacita, di luar stadion ada gas air mata tanda duka cita.

Siapa orang-orang bertopeng ini? Apakah mereka sekelompok perusuh gabut yang tidak punya tiket nonton? Ternyata bukan. Mereka adalah kelompok guru yang memperjuangkan nasibnya, serta—ini yang paling menyayat hati—keluarga dari orang-orang yang hilang dalam perang narkoba di Meksiko.

Meksiko, seperti yang kita tahu dari film-film Hollywood maupun berita internasional, adalah negara yang keindahannya selalu dibayangi oleh horor kartel narkoba. Ribuan orang hilang tanpa jejak setiap tahunnya. Ibu-ibu kehilangan anaknya, istri kehilangan suaminya, dan negara sering kali pura-pura buta atau memang kalah kuat dari para gembong narkoba.

Para demonstran ini cerdas, atau lebih tepatnya, mereka putus asa. Mereka tahu bahwa hari itu, mata miliaran manusia sedang tertuju ke Stadion Azteca. Kamera-kamera televisi dari seluruh penjuru bumi sedang mengarah ke negara mereka. Maka, mereka memanfaatkan momen emas itu untuk berteriak sekeras-kerasnya. Mereka ingin bilang kepada dunia: “Jangan cuma lihat goyangan Shakira! Lihat juga air mata kami! Negara kami tidak sedang baik-baik saja!”

Ini adalah ironi abadi dari setiap perhelatan olahraga akbar. Piala Dunia, Olimpiade, atau balapan Formula 1 sekalipun, sering kali berfungsi seperti karpet merah yang digelar di ruang tamu yang berantakan. Tugas utamanya adalah menutupi noda-noda kotor di lantai agar tidak dilihat oleh tamu yang datang. Pihak kepolisian Meksiko buru-buru menyatakan situasi tetap dapat dikendalikan. Tentu saja, pesta harus tetap jalan, bukan? The show must go on, persetan dengan urusan orang hilang.

Mexico Menang 2-0 atas Afrika Selatan

Kembali ke dalam lapangan. Setelah upacara pembukaan yang penuh kontradiksi itu selesai, tibalah menu utamanya: pertandingan pembuka Grup A antara tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan.

Bagi masyarakat Meksiko, pertandingan ini bukan sekadar urusan taktik sepak bola 4-3-3 atau berapa banyak umpan yang sukses. Ini adalah urusan harga diri, dan yang lebih penting lagi, ini adalah urusan pelarian emosional. Setelah berbulan-bulan diayun oleh ketakutan akan kriminalitas dan ketidakpastian ekonomi, rakyat Meksiko butuh sesuatu yang bisa membuat mereka merasa menang, meskipun hanya di atas rumput hijau.

Sebelum peluit pertama dibunyikan, lagu kebangsaan kedua negara dikumandangkan. Penyanyi Tyla membawakan lagu kebangsaan Afrika Selatan dengan anggun, disusul oleh Alejandro Fernández yang menyanyikan lagu kebangsaan Meksiko dengan penuh penghayatan. Bayangkan ribuan orang di stadion bernyanyi bersama, dada mereka membusung penuh kebanggaan nasionalisme. Pada momen itu, semua masalah hidup seolah menguap begitu saja.

Dan jalannya pertandingan pun seperti mengikuti naskah film Hollywood yang berujung bahagia. Meksiko berhasil menggilas Afrika Selatan dengan skor meyakinkan: 2-0! Stadion Azteca meledak dalam kegembiraan yang luar biasa. Dua gol itu seperti obat bius dosis tinggi yang disuntikkan langsung ke dalam darah jutaan rakyat Meksiko.

Malam itu, mereka tidur dengan senyum lebar. Mereka lupa sejenak bahwa besok pagi mereka masih harus menghadapi inflasi, ketakutan akan kartel, dan sistem pendidikan yang disuarakan oleh para guru yang dipukuli polisi di luar stadion tadi sore. Sepak bola telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik sebagai “candu bagi masyarakat”. Dia memberi kebahagiaan instan, sebuah pelarian yang murah (atau mahal bagi yang beli tiket) dari realitas hidup yang jenuh dan buntu.

Ada 3 Tempat yang Menyelenggarakan Pembukaan

Piala Dunia 2026 ini sebenarnya mencatatkan sejarah baru yang agak membingungkan bagi generasi kolot seperti saya. Ini adalah pertama kalinya Piala Dunia digelar di tiga negara sekaligus sebagai tuan rumah bersama: Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada.

Maka jangan heran kalau pada hari yang sama, upacara pembukaan tidak hanya terjadi di Mexico City. Di Los Angeles (Amerika Serikat) dan Toronto (Kanada), upacara serupa juga digelar dengan kemegahan masing-masing. Mereka juga punya artis sendiri, kembang api sendiri, dan pidato pejabat sendiri-sendiri.

Format “keroyokan” ini secara bisnis memang sangat menguntungkan. FIFA bisa meraup keuntungan dari tiga pasar raksasa sekaligus. Stadion-stadion megah di Amerika dan Kanada bisa dipakai tanpa perlu membangun stadion baru dari nol yang berisiko mangkrak setelah turnamen usai. Secara logistik, ini adalah kemenangan kapitalisme modern.

Namun, dari sudut pandang romantisme sepak bola, format ini terasa agak hambar. Dulu, ketika sebuah negara menjadi tuan rumah Piala Dunia, atmosfer negara tersebut akan berubah total. Seluruh negeri akan bernapas dengan napas sepak bola yang sama dari ujung ke ujung. Ada satu pusat gravitasi budaya yang dirasakan oleh seluruh dunia selama satu bulan penuh.

Sekarang, dengan format tiga negara yang terpisah jarak ribuan kilometer dan dibatasi oleh pos pemeriksaan imigrasi yang ketat, atmosfer itu terasa agak terpecah-pecah. Hari ini kita melihat tarian tradisional Meksiko, besok kita mungkin melihat pertunjukan Hollywood di Amerika, dan lusa kita disuguhi budaya modern Kanada. Piala Dunia tidak lagi terasa seperti sebuah festival kebudayaan tunggal yang mendalam, melainkan sudah berubah menjadi sebuah korporasi multinasional yang sedang membuka cabang di tiga wilayah berbeda.

Menikmati Bola dengan Mata Terbuka

Pada akhirnya, Piala Dunia 2026 sudah resmi dimulai. Bola sudah menggelinding, dan tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang bisa menghentikannya sampai babak final nanti. Kita sebagai penonton layar kaca di Indonesia tentu akan ikut larut dalam euforia ini. Kita akan begadang, berteriak saat gol tercipta, dan berdebat kusir di media sosial tentang tim mana yang paling hebat.

Namun, apa yang terjadi di luar Stadion Azteca pada hari pembukaan kemarin seolah menjadi pengingat yang sangat berharga bagi kita semua. Sepak bola itu indah, sangat indah. Dia bisa menghadirkan Shakira, dia bisa membuat Andrea Bocelli bernyanyi, dan dia bisa membuat sebuah bangsa menangis bahagia karena kemenangan 2-0.

Tetapi, sepak bola jangan sampai membuat kita buta.

Ketika kita mengagumi kemegahan stadion dan kelihaian para bintang lapangan hijau, jangan pernah lupakan bahwa di luar sana, kehidupan nyata yang keras tetap berjalan. Di balik gemerlap lampu stadion, ada jeritan para guru yang menuntut kesejahteraan, dan ada air mata para ibu yang masih mencari makam anak-anak mereka.

Menikmati Piala Dunia dengan mata terbuka berarti kita bisa mengagumi keindahan permainan di dalam lapangan, tanpa harus kehilangan empati pada kemanusiaan yang sedang terluka di luar lapangan. Selamat menikmati Piala Dunia 2026. Berteriaklah untuk gol-gol indah yang akan tercipta, tapi sisakan sedikit ruang di sudut hati kita untuk mereka yang suaranya dibungkam oleh suara kembang api.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *