Pemain Piala Dunia 2026 akan Kepanasan dan Berbahaya

Saya itu kadang heran sama FIFA. Organisasi sepak bola dunia ini rasanya makin lama makin mirip panitia ospek tingkat kampus yang keras kepala. Sudah tahu di luar rumah cuacanya panasnya minta ampun—panas yang bikin aspal jalanan seperti bisa dipakai buat menggoreng telur ceplok—mereka tetap saja bersikeras menyuruh anak orang berlari mengejar bola kulit selama 90 menit. Ya, kita sedang bicara soal Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara megah: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Sebagai pencinta sepak bola layar kaca yang modalnya cuma kopi saset dan sarung, saya awalnya membayangkan Piala Dunia kali ini bakal seru luar biasa. Bayangkan, ada 48 negara yang bertanding! Lebih banyak drama, lebih banyak gol, dan tentu saja lebih banyak waktu buat begadang. Tapi, membaca laporan ilmiah belakangan ini, fantasi indah itu mendadak buyar. Alih-alih membayangkan gocekan maut Kylian Mbappé atau senyuman magis Lionel Messi (kalau dia masih main), yang terbayang di kepala saya justru pemandangan ambulans yang hilir mudik di pinggir lapangan.

Bagaimana tidak? Sekelompok orang pintar—ada sekitar 20 akademisi, pakar kesehatan, ahli iklim, hingga pakar olahraga—baru-baru ini mengirim “surat cinta” bernada murka kepada FIFA. Intinya begini: “Wahai FIFA yang terhormat, kalian ini mau menggelar turnamen sepak bola atau sedang bikin eksperimen sosial menguji ketahanan tubuh manusia di dalam oven?”

Para ahli ini menilai, strategi mitigasi cuaca panas yang disiapkan FIFA itu sangat tidak memadai. Istilah halusnya: ngawur dan tidak sejalan dengan sains. FIFA dituduh sedang menjerumuskan para pemain bintang berharga triliunan rupiah itu ke dalam risiko kesehatan yang fatal. Dan jujur saja, sebagai orang yang kalau jalan kaki lima meter ke warung saat siang bolong saja sudah mengeluh, saya sepenuhnya berdiri di pihak para akademisi ini.

Ketika “Panas” Bukan Lagi Sekadar Keluhan Kaum Rebahan

Mari kita bedah sedikit angka-angkanya secara awam, tidak perlu pakai rumus fisika yang bikin pusing. Dari 16 stadion yang tersebar di tiga negara penyelenggara, 14 di antaranya diperkirakan bakal memiliki suhu yang masuk kategori “berbahaya” saat musim panas nanti. Terutama di wilayah Amerika Serikat bagian selatan dan Meksiko bagian utara. Suhu di sana kalau siang hari bisa anteng di angka 30°C sampai 40°C.

Bagi orang Indonesia yang tinggal di Bekasi atau Surabaya, angka 35°C mungkin terdengar seperti “hari Selasa yang biasa”. Tapi tolong diingat, kita ini cuma berjalan pelan mencari es teh, sementara para pemain bola itu harus berlari dengan kecepatan penuh, berbenturan fisik, dan menjaga fokus taktik di bawah tekanan mental jutaan penonton. Itu namanya menyiksa diri dengan sukarela.

Celakanya lagi, bumi kita ini memang sedang tidak baik-baik saja. Lembaga World Weather Attribution (WWA) sudah bikin kajian yang bikin merinding. Gara-gara perubahan iklim yang makin ugal-ugalan, risiko cuaca ekstrem di Piala Dunia 2026 nanti melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan saat Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994 lalu.

Tahun 1994 saja, kita masih ingat bagaimana legendarisnya gambar para pemain yang mandi keringat berlebihan. Nah, bayangkan tahun 2026 nanti, kondisinya dua kali lebih parah! Ditambah lagi, ancamannya bukan cuma panas menyengat. Ada bonus badai petir yang bisa datang tiba-tiba, serta buruknya kualitas udara akibat kebakaran hutan yang belakangan sering melanda Amerika Utara. Jadi, skenarionya begini: pemain sudah megap-megap kehabisan napas karena udara panas, lalu paru-paru mereka dipaksa menghirup udara sisa kebakaran hutan. Kurang ekstrem apa coba? Ini sudah bukan lagi urusan mencetak gol cantik, ini urusan bertahan hidup!

Perlu ada Jeda 6 Menit

Melihat potensi bencana kemanusiaan di lapangan hijau tersebut, para akademisi tidak tinggal diam. Mereka mendesak FIFA untuk segera membuang ego mereka dan merombak total regulasi pertandingan. Mereka menyarankan FIFA untuk menyontek saja standar yang sudah dibuat oleh Fifpro (Serikat Pemain Global). Wong sudah ada standarnya yang aman, kenapa harus bikin aturan sendiri yang aneh-aneh?

Ada beberapa tuntutan konkret yang diajukan. Pertama, urusan penundaan jadwal. Para ahli meminta pertandingan segera ditunda atau dimundurkan jam tayangnya jika suhu Wet Bulb Globe Temperature (WBGT)—ini indikator keren untuk mengukur gabungan suhu, kelembapan, kecepatan angin, dan radiasi matahari—berada di atas 28°C. Kasarnya, kalau alat itu sudah menjerit kekenyangan panas, ya pertandingannya disetop dulu, jangan dipaksa.

Kedua, soal cooling break alias jeda minum dan pendinginan tubuh di tengah laga. Aturan FIFA saat ini cuma ngasih waktu 3 menit. Tiga menit! Buat kita, waktu tiga menit itu cuma cukup buat buka bungkus rokok dan nyari korek. Bagi pemain bola yang badannya sudah seperti mesin mobil overheat, tiga menit itu tidak cukup buat menurunkan suhu inti tubuh mereka. Makanya, para pakar mendesak jeda ini diperpanjang jadi 5 sampai 6 menit.

Selain itu, fasilitas pendingan bagi pemain di pinggir lapangan harus ditingkatkan secara radikal, dan panduan kegawatdaruratan medis harus diperbarui. Jangan sampai ketika ada pemain yang kolaps terkena heat stroke, tim medisnya malah bingung mencari kipas angin atau es batu karena tidak siap.

Jadwal Pertandingan Harus Disesuaikan

Lalu, apa jawaban FIFA mendengar khotbah dari para ahli ini? Tentu saja, sebagai organisasi modern yang punya tim humas berkelas internasional, FIFA langsung mengeluarkan jurus andalannya: merilis daftar panjang rencana mitigasi yang terdengar sangat futuristik dan meyakinkan. Mereka menyebutnya sebagai “model mitigasi panas berjenjang”. Gagah betul namanya.

Mari kita lihat apa saja isi janjinya. Pertama, FIFA berjanji menerapkan jeda istirahat wajib selama 3 menit di setiap paruh waktu pertandingan, tanpa memandang cuacanya lagi mendung atau panas. Oke, ini lumayan, meskipun masih di bawah tuntutan 5 menit dari para ahli.

Kedua, mereka pamer teknologi. FIFA berjanji menyediakan bangku cadangan yang dilengkapi pengatur suhu (air conditioner buat pemain cadangan, Bung!). Jadi, pemain yang duduk di bangku cadangan bisa merasa seperti di mal, sementara temannya di lapangan sedang berjuang di dalam kawah candradimuka. Untuk penonton, FIFA menjanjikan area teduh, sistem gerimis buatan (semprotan air halus), bus dengan pendingin udara yang nyaman, serta pasokan air minum yang melimpah.

Ketiga, FIFA mengaku akan setia memantau indikator WBGT. Kata mereka, kalau suhu WBGT sudah menyentuh angka 32°C, mereka pasti akan mengambil tindakan pencegahan penyakit akibat panas secara agresif. Mereka juga mengklaim sudah merancang jadwal pertandingan berdasarkan analisis iklim: meminimalkan perjalanan antarkota yang melelahkan bagi pemain, menyesuaikan waktu kick-off agar tidak pas jam 12 siang, serta memanfaatkan stadion-stadion modern yang punya atap tertutup jika suhu di luar sudah di luar nalar.

Cuan Tetap Nomor Satu, Keselamatan Nomor Sekian?

Mendengar jawaban FIFA, sepintas kita mungkin merasa tenang. “Oh, ternyata FIFA sudah mikir toh.” Tapi, kalau kita mau sedikit skeptis—dan kita memang harus selalu skeptis pada organisasi yang perputaran uangnya miliaran dolar ini—janji-janji FIFA itu menyisakan banyak tanda tanya besar.

Kenapa FIFA bersikeras memakai angka batas 32°C WBGT untuk bertindak, padahal para ahli kesehatan sudah wanti-wanti di angka 28°C saja situasi sudah bahaya? Selisih empat derajat dalam sains kedokteran olahraga itu bedanya antara “pemain sehat walafiat” dan “pemain masuk ICU”. Kenapa FIFA keras kepala? Jawabannya, menurut dugaan nakal saya, kembali lagi ke urusan bisnis, hak siar televisi, dan sponsor.

Bayangkan kalau aturan 28°C itu diterapkan. Berapa banyak pertandingan yang harus ditunda? Kalau pertandingan ditunda, jadwal siaran langsung televisi di seluruh dunia berantakan. Kalau siaran berantakan, rating turun, komplain dari stasiun TV raksasa berdatangan, dan kontrak iklan bisa melayang. Di sinilah letak ironinya: sains berkata “A” demi keselamatan nyawa manusia, tapi industri berbisik “B” demi kelancaran arus uang.

Teknologi gerimis buatan, AC di bangku cadangan, atau stadion beratap tertutup itu memang bagus. Tapi itu semua seperti menaruh plester luka kecil di atas luka robek akibat sabetan parang. Itu mitigasi yang sifatnya kosmetik, kosmetik luar yang tidak menyembuhkan akar masalahnya: yaitu fakta bahwa turnamen ini dipaksakan berjalan di waktu dan tempat yang salah demi mengejar keuntungan maksimal.

Menanti Drama atau Tragedi?

Pada akhirnya, kita sebagai penonton layar kaca hanya bisa pasrah menunggu hari H. Piala Dunia 2026 nanti tampaknya akan menjadi pembuktian besar. Apakah “model mitigasi panas berjenjang” milik FIFA itu memang sakti mandraguna dan berhasil melindungi para pemain, ataukah peringatan dari 20 akademisi itu yang akan terbukti benar sebagai ramalan bencana yang diabaikan?

Saya tentu sangat berharap tidak terjadi apa-apa di lapangan nanti. Saya tidak ingin melihat turnamen sepak bola terakbar di jagat raya ini ternoda oleh tragedi kemanusiaan yang sebenarnya sangat bisa dihindari jika panitianya mau sedikit menurunkan ego dan mendengarkan sains.

Sepak bola itu, bagaimanapun juga, adalah hiburan yang indah. Keindahannya terletak pada kaki-kaki genius yang menari di atas rumput hijau, bukan pada ketahanan fisik yang dipaksa melampaui batas kemanusiaan demi memuaskan dahaga bisnis sebuah organisasi. Semoga saja, petinggi-petinggi FIFA di ruangan ber-AC mereka yang sejuk itu, sempat merenungkan hal ini sebelum peluit pertama dibunyikan di bawah sengatan matahari Amerika Utara yang membakar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *