Ternyata Krakatau Steel Tidak Bangkrut

Mari kita jujur pada diri sendiri: ketika mendengar nama Krakatau Steel (KS), apa yang pertama kali tebersit dalam kepala Pembaca? Sebuah kebanggaan nasional sebagai produsen baja terbesar di negeri ini, ataukah sebuah memori tentang BUMN yang napasnya sudah Senin-Kamis karena digilas utang?

Beberapa tahun lalu, kalau kita membaca berita ekonomi, nasib perusahaan plat merah yang bermarkas di Cilegon ini memang mirip seperti tokoh utama dalam film drama melodrama yang menderita komplikasi penyakit parah. Bayangkan saja, mereka sempat terlilit utang raksasa sebesar Rp26 triliun. Angka yang kalau dibelikan kerupuk kaleng mungkin bisa menutupi seluruh permukaan pulau Jawa. Belum selesai urusan utang yang bikin pening tujuh keliling itu, musibah kembali datang mengetuk pintu pada Mei 2023. Salah satu pabrik utamanya mengalami kebakaran hebat. Kejadian itu memaksa mesin-mesin raksasa mereka berhenti bergemuruh, memaksa produksi total mandek selama hampir dua tahun. Selesai? Hampir. Pada pembukuan tahun 2023 dan 2024, angka kerugian mereka konsisten berada di zona merah yang mengerikan, masing-masing minus 132 juta USD dan minus 148 juta USD.

Namun, jagat media sosial kita belakangan ini agak dihangatkan oleh sebuah obrolan jernih di podcast kasisolusi bersama sang Direktur Utama yang baru, Akbar Djohan. Dari obrolan itu, kita disuguhi sebuah plot twist yang lumayan bikin dahi berkerut heran sekaligus lega. Krakatau Steel ternyata menolak mati. Lewat sebuah proses restrukturisasi yang ugal-ugalan radikalnya, mereka berhasil bangkit.

Salah satu jurus kuncinya adalah keberanian mengetuk pintu empat bank swasta non-Himbara untuk mendapatkan haircut alias potongan utang. Hasilnya? Sungguh sebuah pemandangan yang menyegarkan mata: pembukuan mereka yang tadinya merah berdarah-darah, pada akhir tahun 2025 kemarin mendadak berubah warna menjadi biru cerah dengan torehan laba bersih sebesar Rp5,6 triliun. Tren positif ini bahkan sukses dipertahankan hingga kuartal pertama tahun 2026 ini. Sebuah pencapaian yang layak kita apresiasi di tengah skeptisisme publik terhadap tata kelola perusahaan negara.

Gempuran “Baja Banci”

Namun, di balik senyum lega para petinggi di Cilegon, ada sebuah hantu besar yang sedang bergentayangan di pasar domestik kita. Hantu ini bernama baja murah asal Cina. Dan percayalah, ini bukan sekadar urusan persaingan dagang biasa antara dua perusahaan, melainkan sebuah ancaman eksistensial terhadap kedaulatan industri manufaktur kita.

Ceritanya begini. Sekitar sepuluh atau lima belas tahun yang lalu, pemerintah Cina mulai sadar lingkungan. Mereka melarang keras penggunaan teknologi produksi baja berjenis induction furnace (IF) di negaranya karena dianggap terlampau polutif dan berbahaya bagi keselamatan kerja. Kebijakan itu bagus untuk paru-paru rakyat Cina, tetapi menjadi petaka bagi negara-negara tetangga yang sistem proteksi pasarnya longgar seperti pintu koboi. Pabrik-pabrik pencemar lingkungan yang diusir dari Cina itu berbondong-bondong memindahkan mesin-mesin rongsokan mereka ke luar negeri. Dan tebak ke mana salah satu tujuan favorit mereka? Ya, ke Indonesia.

Dampaknya langsung terasa di lapangan hari ini. Pasar dalam negeri kita mendadak dibanjiri oleh baja impor murah dari Cina yang harganya tidak masuk akal sehat. Bagaimana bisa masuk akal kalau harga jual mereka di sini berada jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) yang mampu dihasilkan oleh industri lokal kita?

Lebih ngeri lagi, banyak dari produk tersebut yang di lapangan dijuluki sebagai “baja banci”. Ini adalah istilah untuk produk baja yang ukuran, ketebalan, dan spesifikasi keselamatannya sengaja disunat demi mengejar harga murah. Mereka memproduksi baja-baja di bawah standar ini menggunakan bahan baku besi bekas (scrap metal) impor yang asal-usulnya tidak jelas kualifikasinya. Bayangkan jika baja-baja “banci” yang ringkih ini dipakai untuk membangun jembatan, tiang penyangga bangunan, atau fasilitas publik tempat anak-cucu kita beraktivitas. Kita sedang menabung potensi bencana kemanusiaan demi mengejar selisih harga beberapa ribu rupiah.

Mengapa kita begitu babak belur menghadapi mereka? Jawabannya adalah skala ekonomi yang timpang. Kapasitas produksi baja seluruh pabrik di Indonesia jika digabungkan hanya berkisar di angka 19 juta ton per tahun. Sementara itu, Cina dalam setahun mampu memproduksi 1,6 miliar ton baja! Mereka menguasai 60 persen suplai baja di seluruh permukaan bumi. Ketika pasar domestik mereka mengalami kejenuhan atau over-supply, mereka akan membuang sisa produksi itu ke negara lain dengan harga berapapun yang penting laku. Menghadapi raksasa dengan kapasitas sekolosal itu menggunakan cara-cara konvensional jelas sama saja dengan bunuh diri sukarela.

Seni Berdamai

Menyadari bahwa industri lokal tidak akan kuat menahan gempuran sendirian, pemerintah akhirnya mulai memasang pagar pembatas. Melalui rekomendasi Komite Anti-Dumping Indonesia (KADI) yang diaminkan oleh Kementerian Keuangan, negara resmi mengenakan bea masuk anti-dumping sebesar 17,5 persen untuk produk baja tertentu, seperti Hot Rolled Coil (HRC) asal Cina. Ini adalah langkah proteksi yang krusial agar industri dalam negeri kita punya waktu untuk menarik napas dan tidak langsung mati tergilas di rumahnya sendiri.

Namun, regulasi berupa tarif impor saja tentu tidak akan cukup untuk jangka panjang. Selalu ada celah bagi mereka yang kreatif melanggar aturan. Di sinilah Krakatau Steel menerapkan sebuah strategi pragmatis yang sangat menarik, sebuah taktik lawas yang berbunyi: “If you cannot beat them, join them”—kalau kamu tidak bisa mengalahkan mereka, ajaklah mereka bergabung.

Daripada kita habis-habisan melarang produk manufaktur Cina masuk sementara kebutuhan pembangunan dalam negeri terus meroket, mengapa tidak kita paksa saja mereka untuk memindahkan investasinya ke dalam benteng kita? KS kemudian merayu para investor Cina untuk membangun pabrik mereka langsung di dalam Kawasan Industri Cilegon milik KS.

Dengan cara ini, peta permainannya berubah total. Logistik mereka terikat di tanah kita, mereka wajib tunduk pada regulasi standar keselamatan Indonesia, dan yang paling penting: roda ekonomi, penyerapan tenaga kerja lokal, serta pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) semuanya tetap berputar dan dinikmati oleh rakyat kita sendiri, bukan mengalir ke luar negeri. Ini adalah sebuah kompromi bisnis yang cerdas sekaligus realistis.

Menopang Rumah, Nelayan, hingga Dapur Gratis

Kebangkitan Krakatau Steel ini rupanya langsung disambut oleh takdir geopolitik baru di dalam negeri. Di bawah ekosistem holding BUMN yang baru bernama Danantara, serta di bawah visi hilirisasi yang gencar didorong oleh Presiden Prabowo Subianto, KS mendadak mendapatkan peran sentral sebagai tulang punggung pembangunan nasional.

Tidak tanggung-tanggung, mereka mendapatkan mandat pendanaan sebesar Rp8 triliun. Uang sebesar itu bukan untuk foya-foya atau sekadar menutup lubang utang lama, melainkan difokuskan penuh untuk membangun infrastruktur hilirisasi: pabrik stainless steel dan carbon steel. Targetnya jelas agar komoditas strategis kita seperti nikel dan bijih besi tidak lagi diekspor secara murah dalam bentuk tanah mentah ke luar negeri, melainkan diolah di dalam negeri menjadi produk setengah jadi atau barang jadi yang bernilai tinggi.

Krakatau Steel hari ini dituntut untuk mengubah dirinya dari sekadar penjual besi batangan menjadi penyedia bahan baku nasional yang langsung menyentuh program-program strategis pemerintah. Produk-produk hilir yang mereka hasilkan—mulai dari pipa besi, baja modular, hingga konstruksi tiang BTS—diarahkan sepenuhnya untuk menyokong kebutuhan riil masyarakat bawah.

Ketika pemerintah mencanangkan program ambisius pembangunan 3 juta rumah, bajanya harus dari KS. Ketika negara ingin membenahi infrastruktur di desa-desa nelayan yang kumuh, pasokan materialnya bersumber dari Cilegon. Bahkan, sampai ke urusan dapur modern yang akan digunakan untuk memproduksi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), plat-plat besinya diharapkan lahir dari rahim industri dalam negeri sendiri. Ini adalah sebuah rantai pasok ideal yang selama ini kita impikan: dari hulu milik bangsa, diolah oleh BUMN bangsa, dan digunakan untuk kemakmuran rakyat bangsa sendiri.

Memanusiakan Karyawan dan Korban Efisiensi

Di bagian akhir dari esai ini, saya ingin mengajak Pembaca melihat satu aspek yang sering kali luput dari ruang diskusi ekonomi makro kita. Aspek itu adalah nasib manusia-manusia di dalam pabrik tersebut. Ketika sebuah perusahaan besar melakukan restrukturisasi dan efisiensi, korban pertama yang paling sering berjatuhan adalah para buruh dan karyawan di level bawah.

Beberapa waktu lalu, publik sempat dihebohkan oleh kabar penutupan salah satu unit usaha joint venture antara Krakatau Steel dengan Osaka Steel Jepang. Biasanya, berita penutupan pabrik seperti ini akan diikuti oleh drama demonstrasi besar-basi, pembakaran ban di depan gerbang, atau tuntutan pesangon yang tidak dibayarkan. Namun, dalam kasus ini, manajemen rupanya memilih jalan yang beradab. Seluruh hak-hak karyawan diselesaikan secara penuh, transparan, dan damai sebelum kunci pabrik benar-benar diserahkan kembali.

Lebih menarik lagi adalah bagaimana mereka memperlakukan karyawan yang terpaksa terkena dampak efisiensi atau PHK. Manajemen KS sadar bahwa orang-orang yang keluar dari pabrik mereka bukanlah buruh kasar tanpa keahlian, melainkan skilled labor—tenaga kerja terampil yang memiliki sertifikasi dan jam terbang tinggi dalam urusan logam dan mesin.

Daripada membiarkan orang-orang terampil ini luntang-lantung menjadi pengangguran baru di daerah Banten, KS mengambil langkah terobosan dengan menggandeng Kementerian Perlindungan Pekerja Migran. Melalui program Banten Migrant Center, para mantan karyawan yang memiliki keahlian khusus ini disalurkan secara resmi untuk bekerja di sektor industri manufaktur luar negeri, seperti di Jepang dan Rusia. Di sana, keahlian mereka dihargai tinggi dengan standar gaji yang sangat layak.

Ini adalah sebuah teladan penting tentang bagaimana sebuah korporasi besar melakukan proses efisiensi dengan tetap memegang teguh prinsip memanusiakan manusia. Sembari menyehatkan buku kas perusahaan agar kembali biru, mereka tidak membiarkan masa depan para pekerjanya jatuh ke dalam jurang kegelapan.

Pada akhirnya, kisah perjalanan Krakatau Steel dari ambang kematian menuju kebangkitan ini mengajarkan kepada kita satu hal: bahwa tidak ada masalah ekonomi yang terlalu ruwet untuk diselesaikan selama para pengambil kebijakannya mau berpikir taktis, bertindak berani, patuh pada akal sehat, dan yang terpenting, tetap memiliki empati pada nasib manusianya. Selamat bertumbuh kembali, sang raksasa baja nasional. Tetaplah kokoh menjaga fondasi pembangunan negeri ini dari gempuran produk-produk “banci” yang ingin merusaknya dari dalam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *