Saat ini, Laki-Laki Sedang Merosot di Semua Bidang

Ada satu penyakit aneh dalam cara kita berdebat hari ini: pikiran kita gampang sekali terjebak dalam jebakan zero-sum game. Seolah-olah dunia ini adalah semangkuk bakso yang cuma berisi sepuluh butir; kalau lima butir diberikan kepada kelompok wanita, maka otomatis kelompok pria akan kelaparan lima butir. Walhasil, setiap kali ada orang yang mencoba angkat bicara soal krisis yang dialami anak laki-laki atau pria dewasa, reaksi pertama publik biasanya adalah tatapan sinis. Mereka dianggap ingin merebut kembali takhta patriarki yang sedang digoyang.

Padahal, kenyataannya sama sekali tidak sesederhana itu. Richard Reeves, seorang peneliti yang tekun membedah isu ketimpangan gender, menyodorkan cermin yang agak mengerikan. Ia memperlihatkan bahwa saat ini, kaum pria sedang merosot di hampir semua lini kehidupan: di ruang kelas, di pasar kerja modern, hingga di dalam rumah tangga mereka sendiri. Dan celakanya, jika kita membiarkan kaum pria terus-menerus tenggelam dalam pusaran krisis ini, yang rugi bukan cuma para pria itu sendiri. Anak-anak mereka, pasangan mereka, dan seluruh tatanan sosial masyarakat bakal ikut terseret ke dalam lubang yang sama.

Mari kita jujur dan melepaskan kacamata partisan sejenak. Membantu laki-laki agar tidak hancur sama sekali tidak mengurangi hak atau ruang bagi perempuan untuk terus maju. Justru, membiarkan separuh populasi bumi kehilangan arah adalah resep paling ampuh untuk menciptakan bencana sosial jangka panjang.

Di Sekolah, Anak Laki-Laki Sudah Kalah Sejak Start

Kalau kita menengok ke dalam ruang kelas sekolah zaman sekarang, fenomena mengerikan sedang terjadi secara senyap. Di hampir seluruh negara maju dan berbagai tingkatan pendidikan, anak perempuan sudah jauh melompati anak laki-laki. Kesenjangan ini bukan cuma soal siapa yang lebih sering dipuji guru saat pembagian rapot, melainkan sudah masuk ke taraf krisis struktural.

Di Amerika Serikat, anak perempuan rata-rata memiliki kemampuan Bahasa Inggris satu tingkat kelas lebih maju dibanding anak laki-laki sebayanya. Kalau data itu masih terasa abstrak, coba intip daftar nilai GPA (IPK) siswa. Di kelompok 10 persen pemilik nilai tertinggi, dua pertiganya adalah anak perempuan. Sebaliknya, kalau kita turun ke kelompok 10 persen pemilik nilai paling bontot, dua pertiganya dipenuhi oleh anak laki-laki.

Dulu, pada tahun 1972, pemerintah AS mengesahkan undang-undang Title IX karena khawatir wanita tertinggal di perguruan tinggi—kala itu ada kesenjangan pendaftaran kuliah sebesar 13 persen yang memihak pria. Hari ini, keadaan balik 180 derajat. Kesenjangan pendaftaran kuliah kini mencapai 15 persen, tetapi kali ini memihak perempuan. Kampus-kampus dipenuhi mahasiswi, sementara anak-anak muda pria makin banyak yang menganggur di rumah atau terlunta-lunta tanpa tujuan jelas.

Mengapa ini bisa terjadi? Apakah anak laki-laki mendadak jadi makin bodoh?

Sama sekali tidak. Jawabannya ada pada biologi dan desain sistem pendidikan kita sendiri. Otak anak perempuan berkembang jauh lebih cepat daripada anak laki-laki selama masa remaja. Khususnya bagian prefrontal cortex—pabrik di dalam otak yang bertugas mengatur fokus jangka panjang, merencanakan masa depan, mengendalikan impuls, dan menyelesaikan tugas-tugas administratif yang membosankan. Bagian otak ini matang 1 hingga 2 tahun lebih awal pada perempuan.

Sementara itu, sistem sekolah modern kita dirancang untuk sangat mengagungkan kepatuhan harian: duduk manis, mencatat rapi, menyerahkan PR tepat waktu, dan mengerjakan tugas-tugas administratif yang konsisten. Secara struktural, kita sedang menyuruh dua kelompok anak bertanding di gelanggang yang secara biologis menguntungkan salah satu pihak. Anak laki-laki diminta bersaing dalam permainan perencanaan jangka panjang pada usia ketika otak mereka sebenarnya masih sibuk memproses hal-hal dasar.

Lalu, apa solusinya? Apakah kita harus pasrah?

Reeves menawarkan beberapa langkah konkret yang sangat masuk akal:

  • Menunda Masuk Sekolah (Redshirting): Dorong anak laki-laki untuk masuk sekolah satu tahun lebih lambat dibanding anak perempuan. Beri waktu bagi otak mereka untuk matang secara kognitif sehingga saat duduk di kelas yang sama, kapasitas emosional dan fokus mereka sudah setara.
  • Bawa Kembali Guru Pria ke Sekolah: Proporsi guru pria tingkat K-12 (TK sampai SMA) di AS telah merosot tajam dari 33 persen pada era 1980-an menjadi hanya 24 persen hari ini. Anak laki-laki butuh sosok teladan dewasa yang bisa mereka tiru di dalam ruang kelas, bukan cuma bayangan kabur di layar kaca.
  • Genjot Pendidikan Vokasi: Tambah investasi pada sekolah kejuruan dan program magang kerja. Tidak semua orang harus jadi sarjana teoretis, dan jalur kejuruan terbukti memberikan hasil yang jauh lebih nyata bagi pengembangan karakter serta keterampilan pria.

Dunia Kerja Berubah, Pria Tertinggal di Belakang

Keterbelakangan di sekolah itu berlanjut ke dunia kerja dengan dampak yang tak kalah meremukkan. Kita sering mendengar narasi tentang betapa dominannya pria di puncak karier, tetapi fakta di akar rumput menunjukkan cerita yang sama sekali berbeda bagi pria kelas pekerja.

Sebagian besar pria saat ini justru mengantongi penghasilan yang lebih rendah (setelah disesuaikan dengan inflasi) dibandingkan dengan pria pada tahun 1979. Tingkat partisipasi angkatan kerja pria usia produktif merosot hingga 8 persen. Di AS saja, ada sekitar 9 juta pria usia produktif yang benar-benar keluar dari angkatan kerja—mereka tidak bekerja, tidak mencari kerja, dan pada dasarnya menganggur secara permanen.

Di sisi lain, pasar kerja sedang mengalami pergeseran tektonik. Selama beberapa dekade terakhir, ada dorongan raksasa untuk mengajak perempuan masuk ke bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). Itu langkah yang bagus. Namun, kita alpa melihat ke arah mana roda ekonomi sebenarnya bergerak.

Pertumbuhan lapangan kerja terbesar di masa depan bukan berada di sektor industri berat atau pabrik—yang dulu menjadi benteng utama kaum pria—melainkan di sektor HEEL (Health, Education, Administration, Literacy). Ditaksir, untuk setiap satu pekerjaan baru yang tercipta di sektor STEM, akan muncul tiga pekerjaan baru di sektor HEEL.

Dunia butuh lebih banyak perawat, tenaga medis, guru, konselor, psikolog, dan pekerja sosial. Tapi menebak siapa yang mengisi posisi-posisi tersebut? Pekerja pria di sektor HEEL saat ini hanya berkisar 24 persen dan angkanya terus menurun secara mengkhawatirkan. Lebih tragis lagi, jumlah psikolog pria di bawah usia 30 tahun kini tinggal 5 persen saja! Ada stigma sosial yang kuat dan keengganan struktural yang membuat pria enggan mengadu nasib di sektor perawat atau pengajar. Padahal, di situlah masa depan lapangan kerja berada.

Ketika Ayah Menghilang dari Rumah

Krisis di sekolah dan pasar kerja pada akhirnya menjalar masuk ke dalam ruang tamu keluarga, menciptakan apa yang disebut sebagai Dad Deficit atau krisis kehabisan sosok ayah.

Saat ini, 1 dari 4 ayah tidak lagi tinggal serumah dengan anak-anak mereka. Dan yang lebih menyedihkan, 1 dari 3 anak kehilangan kontak sama sekali dengan ayah kandungnya setelah perceraian. Model lama “ayah sebagai satu-satunya pencari nafkah” sudah runtuh dan tak lagi relevan. Kenapa? Karena lebih dari 40 persen wanita di AS saat ini memiliki penghasilan yang lebih tinggi daripada rata-rata pria. Ketika fungsi ekonomis seorang pria dipreteli oleh pergeseran zaman, banyak pria yang bingung: lalu apa peran saya di rumah?

Ketika pria gagal mendefinisikan ulang peran mereka sebagai pengasuh dan pembimbing yang aktif di rumah, anak-anak merekalah yang menjadi korban utama. Dan dampak ini tidak menimpa anak laki-laki dan perempuan secara setara.

Riset menunjukkan bahwa anak laki-laki yang tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah menderita dampak perkembangan yang jauh lebih berat dibanding anak perempuan. Anak perempuan yang tumbuh tanpa ayah memang menghadapi tantangan besar, tetapi anak laki-laki tanpa ayah cenderung kehilangan kompas moral, lebih gampang terseret kenakalan remaja, dropped out dari sekolah, dan gagal membangun hubungan yang sehat saat dewasa. Tanpa ayah, anak laki-laki kehilangan cermin untuk belajar bagaimana caranya menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab.

Keputusasaan yang Membunuh

Akumulasi dari kegagalan di sekolah, pengangguran di dunia kerja, dan rasa terasing di dalam keluarga ini menghasilkan sebuah ledakan emosional yang sangat sunyi namun mematikan: krisis kesehatan mental yang gila-gilaan.

Angka kematian akibat deaths of despair—sebuah istilah untuk kematian yang disebabkan oleh bunuh diri, overdosis obat-obatan/opioid, dan kecanduan alkohol akut—tercatat 3 kali lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita. Ini bukan sekadar angka statistik, ini adalah jeritan minta tolong dari jutaan manusia yang merasa tidak lagi dibutuhkan oleh dunia.

Pria adalah makhluk yang sangat digerakkan oleh rasa berguna (sense of purpose). Mereka butuh merasa dibutuhkan oleh keluarga, oleh tempat kerja, dan oleh lingkungannya. Ketika rasa berguna itu dicabut—saat mereka tidak punya pekerjaan, tidak punya peran di rumah, dan tidak punya keterampilan untuk bersaing—jiwa mereka pelan-pelan remuk.

Kata-kata terakhir yang paling sering terucap dari mulut para pria sebelum mereka nekat mengakhiri hidupnya bukanlah amarah atau kebencian, melainkan kalimat pendek yang sangat memilukan: rasa merasa “tidak berguna” (worthless atau useless). Tingginya angka kematian akibat overdosis dan bunuh diri berkaitan erat dengan isolasi sosial yang ekstrem. Banyak pria dewasa hari ini yang tidak memiliki satu pun sahabat karib untuk tempat berbagi cerita ketika hidup mereka sedang berantakan.

Memanusiakan Kembali Pria

Melihat semua deretan fakta ini, kita tidak boleh lagi menutup mata atau menganggap masalah pria sebagai isu sampingan yang boleh diabaikan. Kita harus berhenti memandang perjuangan kesetaraan gender sebagai panggung pertarungan antar-jenis kelamin.

Membiarkan anak laki-laki terbelakang di sekolah cuma akan menghasilkan generasi pria yang frustrasi dan mudah tergiur oleh ajakan ideologi ekstremis. Membiarkan para ayah terasing dari anaknya cuma akan menciptakan siklus kemiskinan emosional yang bakal diwariskan ke cucu-cucu kita kelak.

Dunia hari ini butuh pria-pria yang sehat secara emosional, terdidik dengan baik, punya pekerjaan yang bernilai, dan hadir secara utuh di tengah keluarganya. Menyediakan jalan bagi pria untuk pulih dan bangkit bukanlah bentuk kemunduran bagi perempuan, melainkan langkah paling rasional jika kita masih berniat menyelamatkan masa depan tatanan masyarakat kita dari keruntuhan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *