Suatu hari, ketika Anda sedang selonjoran di lincak depan rumah sambil menyeruput kopi hitam yang gula arennya agak dikurangi—karena mendadak ingat vonis dokter kemarin sore—tiba-tiba jempol tangan Anda sibuk scrolling media sosial. Di layar ponsel yang sudah agak retak di pojokan itu, muncul kutipan keren bertuliskan bahasa Inggris: “Life Begins at 40.”
Lha, ndilalah! Begitu membaca kalimat itu, refleks Anda bukan manggut-manggut penuh pencerahan seperti resi di pewayangan, melainkan malah membatin: “Lha terus, umur 1 sampai 39 kemarin itu saya lagi gladi bersih apa gimana? Kok rasanya hidup saya sejauh ini cuma habis buat bayar cicilan motor, mikirin uang pangkal sekolah anak, sama kelahi perkara ubin teras yang ketumpahan kuah soto?”
Memasuki usia kepala empat itu memang serba ajaib. Secara biologis, bodi kita ini rasanya mirip mobil tua yang sparepart-nya sudah mulai tidak diproduksi lagi oleh pabriknya. Kalau dulu zaman umur dua puluhan kita bisa begadang tiga hari tiga malam cuma modal mie instan plus kopi saset tanpa merasa berdosa, sekarang telat tidur sejaman saja rasanya masuk angin sampai ke paru-paru. Bangun pagi bukannya merasa segar bugar bagai prajurit siap perang, malah sibuk mencari minyak kayu putih atau balsem cap lang karena pinggang berbunyi krek saat mencoba berdiri dari kasur.
Di ranah ilmiah, situasi ngenes ini sering dibungkus dengan istilah keren: Midlife Crisis alias krisis paruh baya. Istilah ini terdengar sangat akademik, borjuis, dan bergengsi. Seolah-olah orang yang mengalaminya adalah pahlawan tragedi Yunani yang sedang bergelut dengan takdir Olympus. Padahal kalau ditarik ke wacana keseharian kita di Indonesia pada umumnya, midlife crisis itu ya tidak jauh-jauh amat dari fenomena: perut yang makin maju mengikis wibawa, uban yang mulai tumbuh liar di pelipis, dan pikiran yang makin sering melamun di atas motor matic saat berhenti di lampu merah.
Tapi, benarkah usia 40 itu benar-benar babak baru di mana hidup “baru dimulai”? Atau jangan-jangan itu cuma hiburan manis buatan orang-orang zaman dulu supaya kita tidak panik melihat garis rambut yang makin mundur ke belakang?
“Krisis Paruh Baya”
Sebelum kita makin melenceng membicarakan nasib uban dan perut buncit, mari kita menengok sebentar ke balik layar sejarah. Menurut catatan orang-orang pinter di ceramah The Royal Society sana, istilah midlife crisis ini sebenarnya tidak muncul begitu saja dari langit seperti air hujan.
Ada seorang bapak ahli psikoanalisis bernama Elliot Jaques yang pada tahun 1965 melempar konsep ini ke permukaan. Kata Mbah Jaques, ketika manusia sampai di usia kisaran 35 sampai 45 tahun—masa-masa yang seharusnya menjadi puncak kejayaan karier dan produktivitas—eh, mendadak kepalanya ditimpuk kesadaran amat mengerikan. Kesadaran apa itu? Yaitu kesadaran bahwa hidup ini ada batasnya, alias kita semua bakal mati!
Ibarat naik gunung, usia 40 itu adalah puncaknya. Setelah sampai di puncak, pemandangan di depan mata bukan lagi pepohonan hijau yang indah, melainkan jalan menurun yang licin, terjal, dan di ujungnya ada lubang kubur yang sudah siap melambai-lambai.
Nah, karena kaget dan cemas setengah mati melihat jalan menurun tersebut, manusia paruh baya ini biasanya langsung bertingkah “manik” atau aneh-aneh. Ada bapak-bapak yang mendadak beli motor gede padahal naiknya saja masih sering kagok, ada yang mendadak rajin ngegym padahal cuma buat foto mirror selfie, ada yang ketakutan setengah mati sama penyakit sampai tiap hari minum herbal berliter-liter (hipokondria), dan tidak sedikit pula yang mendadak bertingkah centil bak remaja tanggung demi membuktikan kalau dirinya masih “laku” dan belum habis.
Fenomena ini kalau di Inggris sana diwakili oleh karakter fiktif bernama Reginald Perrin. Mas Reginald ini usianya 46 tahun, merasa tertekan setengah mati dengan pekerjaannya yang membosankan dan rumah tangganya yang hambar, sampai-sampai dia punya ide gila: pura-pura bunuh diri di pantai, meninggalkan pakaiannya di pasir, lalu kabur untuk memulai hidup baru dengan identitas lain.
Coba bayangkan kalau Mas Reginald ini tinggal di daerah pemukiman padat di Yogyakarta atau Bekasi. Boro-boro mau pura-pura bunuh diri di pantai, baru mau kabur dari rumah saja pasti sudah dicegat tetangga di pos ronda: “Murtado! Mau ke mana malam-malam bawa tas pakaian? Istrimu nyariin tuh, kuah rawonnya sudah mateng!” Habis sudah drama krisis paruh bayanya!
Penyebab Usia 40 Mulai Aneh-Aneh
Secara tradisional, kalau ada orang umur 40-an mulai bertingkah aneh—misalnya tiba-tiba pakai jaket kulit hitam, rambut dicat agak pirang, dan suka mendengarkan lagu-lagu rock zaman SMA—orang-orang biasanya menyalahkannya dari dua sudut pandang: psikologis dan biologis.
Dari sudut pandang psikologis, tokoh legendaris Erik Erikson bilang bahwa paruh baya adalah ajang pertempuran antara generativity lawan stagnation. Maksudnya begini: di usia ini, jiwa kita berteriak menanyakan kontribusi apa yang sudah kita berikan buat dunia? Apakah kita sudah menjadi orang tua yang berguna, menciptakan sesuatu yang bermanfaat, atau cuma jadi beban peradaban yang kerjaannya cuma memenuhi septic tank rumah sendiri? Kalau jawabannya adalah yang kedua, maka munculah perasaan stagnan, tidak berguna, dan akhirnya depresi.
Sementara itu dari sudut biologis, alibinya beda lagi. Bagi kaum pria, stamina yang merosot, otot yang makin kendur menggeliat jadi lemak, dan rambut yang makin irit tumbuh di kepala adalah bukti shahih bahwa masa keemasan biologis sudah lewat. Bagi kaum wanita, pergeseran hormon menuju menopause serta fenomena empty nest syndrome—alias kondisi ketika anak-anak sudah pada dewasa dan terbang meninggalkan rumah sepi—menjadi pukulan telak yang membuat hati terasa kosong bagai warung kelontong kehabisan stok.
Tapi tunggu dulu. Apakah benar krisis di umur 40 ini semata-mata masalah biologis yang alami? Ibarat daun yang pasti menguning lalu gugur di musim gugur?
Ternyata tidak sesederhana itu, Saudara-saudara!
Sebenarnya Cuma Budaya
Inilah poin paling menarik dari perdebatan di Royal Society tadi. Para ilmuwan menyingkap bahwa midlife crisis itu bukan cuma soal takdir biologis atau masalah kejiwaan individu semata. Lebih dari itu, krisis paruh baya adalah konstruksi sosial dan budaya yang lahir karena ulah perkembangan zaman di abad ke-20!
Kok bisa? Coba kita tengok.
Zaman dulu, sebelum abad ke-20, orang tidak sempat mengalami apa yang dinamakan midlife crisis. Kenapa? Ya karena harapan hidup manusia zaman purba atau abad pertengahan itu pendek sekali! Umur 35 atau 40 tahun itu sudah dianggap kakek-kakek yang siap-siap dipanggil Yang Maha Kuasa. Mana ada waktu buat ngelamun di kafe sambil mikirin “siapakah aku di dunia yang fana ini?” Wong besok subuh masih harus bertani atau dikejar-kejar wabah kolera!
Namun di pertengahan abad ke-20, ilmu kedokteran makin maju. Harapan hidup melonjak tajam. Orang-orang mulai menikah di usia muda (awal 20-an) dan langsung punya anak. Akibatnya apa? Ketika mereka mencapai usia 40-an, anak-anak mereka sudah pada lulus sekolah atau kuliah dan mulai hidup mandiri. Walhasil, bapak-bapak dan ibu-ibu umur 40-an ini mendadak punya sisa waktu hidup yang masih sangat panjang—bisa 30 sampai 40 tahun lagi!—di rumah yang sudah sepi.
Di situlah muncul pertanyaan horor yang merayap di malam hari: “Lho, anak-anak sudah pada pergi. Terus saya sama suami/istri saya ini mau ngapain selama 40 tahun ke depan? Muka dia lagi, muka dia lagi yang dilihat tiap pagi…”
Kondisi ini makin diperparah oleh munculnya tekanan sosial yang dinamakan Age Anxiety atau kecemasan usia. Masyarakat modern mulai membuat “standar jadwal hidup” (Standardized Life Course). Umur 22 harus lulus kuliah, umur 25 harus nikah, umur 30 harus punya rumah dan mobil, umur 40 harus sudah jadi manajer atau punya bisnis sukses.
Begitu sampai di angka 40 dan melihat pencapaian diri ternyata cuma begini-begini saja—mobil masih nyicil, rumah masih tipe 36 yang kalau hujan bocor di tiga titik—maka mulailah proses banding-bandingkan dengan tetangga (keeping up with the Joneses). Belum lagi posisi mereka sering terhimpit sebagai Generasi Sandwich Pertama: di atas harus merawat orang tua yang makin sepuh dan sakit-sakitan, di bawah masih harus membiayai atau membimbing anak remaja yang lagi gila-gilanya pubertas. Lengkap sudah penderitaan!
Asal Usul Jualan “Life Begins at 40”
Lalu dari mana datangnya slogan manis yang suka dijadikan status WhatsApp oleh bapak-bapak usia empat puluh itu?
Sejarahnya ternyata cukup kocak. Slogan “Life begins at 40” ini pertama kali dicetuskan tahun 1917 oleh seorang perempuan bernama Matilda Parsons. Saat itu tujuannya mulia: menyemangati emak-emak paruh baya agar tetap fit dan rajin berolahraga demi mendukung gerilya Perang Dunia I.
Namun, slogan ini baru benar-benar meledak jadi industri raksasa pada tahun 1932 ketika seorang penulis bernama Walter Pitkin menerbitkan buku populer bertajuk sama: Life Begins at 40.
Buku ini lahir di tengah suasana Great Depression (krisis ekonomi hebat) di Amerika. Pitkin secara cerdik memutarbalikkan logika: dia bilang, usia 40 sampai 70 tahun itu adalah masa-masa emas! Di usia ini orang harus berhenti bekerja terlalu keras, lalu mulailah bersenang-senang, rekreasi, jalan-jalan, dan mengonsumsi barang-barang hiburan (leisure).
Teori Pitkin ini sangat disukai para kapitalis dan pembuat kebijakan ekonomi saat itu. Logikanya sederhana dan agak licik: kalau orang-orang tua paruh baya ini mengurangi jam kerja mereka dan sibuk menghabiskan uang untuk jalan-jalan serta belanja barang rekreasi, maka roda ekonomi akan berputar pesat, dan lowongan kerja yang ditinggalkan orang tua bisa diisi oleh anak-anak muda yang sedang menganggur!
Dari sinilah terjadi pergeseran besar dalam American Dream. Kalau dulu impian hidup adalah membangun tatanan sosial yang adil dan mengembangkan potensi diri, pasca-Perang Dunia II impian itu menyempit menjadi hal yang sangat dangkal: punya barang mewah, gaji tinggi, dan kemampuan belanja.
Ketika orang paruh baya merasa cemas dengan penuaannya, industri kapitalis datang menyodorkan solusi instan yang narsistik. Psikolog Edmund Bergler dalam bukunya The Revolt of the Middle-Aged Man (1954) mencatat betapa pria paruh baya yang tertekan mulai mencari kebahagiaan narsistik: ganti mobil baru yang lebih keren, ganti pakaian yang lebih mbois, atau bahkan ganti pasangan, semata-mata demi memburu kembali ilusi kebanggaan masa muda.
Menerima Diri Apa Adanya
Jadi, pada akhirnya, kalau kita merenungkan kembali ceramah The Royal Society itu di atas lincak rumah kita sendiri, kita bisa mengambil satu kesimpulan yang sangat menenangkan sekaligus menggelitik.
Krisis paruh baya yang Anda rasakan saat memasuki usia 40 tahun itu—rasa cemas melihat pangkas rambut langganan makin sering menyapu uban Anda, rasa gundah melihat pencapaian karier yang rasanya kok stagnan, atau dorongan aneh ingin beli sepeda balap berharga puluhan juta—sebenarnya bukan semata-mata karena Anda lemah secara mental atau hormon Anda sedang jahil.
Kita semua sedang “di-aging” atau dituakan oleh sejarah, oleh konstruksi budaya, oleh iklan-iklan di televisi dan media sosial, serta oleh tuntutan zaman yang mengharuskan kita mengukur kebahagiaan dari seberapa banyak barang yang bisa kita beli di usia produktif.
Usia 40 tahun itu sejatinya bukan akhir dari dunia, tapi juga bukan jaminan otomatis bahwa hidup baru akan mendadak indah bagai negeri dongeng tanpa usaha. Usia 40 adalah titik henti sejenak untuk menengok ke belakang dan menatap ke depan dengan rasionalitas yang lebih matang.
Kalau uban sudah mulai tumbuh, ya diresapi saja—itu tanda Anda sudah berhasil bertahan hidup melewati berbagai drama garis keras dunia selama empat dekade. Kalau perut makin membuncit, ya dikurangi porsi nasinya sambil dirutinkan jalan paginya, tidak perlu sampai depresi ingin berpura-pura hilang di pantai seperti Reginald Perrin.
Sebab pada akhirnya, hidup itu tidak dimulai di usia 40, tidak pula berakhir di usia 40. Hidup itu dimulai setiap kali kita bangun pagi, menyeruput kopi, dan bersyukur bahwa hari ini kita masih diberi kesempatan untuk tertawa melihat kebodohan-kebodohan kecil kita sendiri. Selamat memasuki usia kepala empat, dan salam damai buat pinggang Anda!
