Berdasarkan Sains, Kita Hanya Sekedar Menjalani Takdir

Mari kita mulai tulisan ini dengan sebuah bayangan yang paling sering kita lihat di media sosial atau di panggung-panggung seminar motivasi. Anda pasti pernah mendengar seorang motivator—dengan jas necis, mikrofon nirkabel yang menjepit kuping, dan suara menggelegar—berkata begini: “Sukses itu pilihan! Kalau Anda miskin, itu karena Anda malas! Anda kurang punya grit, kurang disiplin!”

Di sudut lain, ada netizen yang jempolnya ringan sekali mengetik komentar di video orang miskin yang terlilit utang: “Makanya, kerja keras, dong! Jangan cuma bisa pasrah. Hidup itu tergantung pilihan kita sendiri!”

Pertanyaannya: apakah benar hidup ini semata-mata adalah urusan “pilihan” kita sendiri? Apakah si miskin yang susah payah bangun jam empat subuh lalu jualan asongan sampai malam itu berhak dicap “kurang memilih untuk sukses”? Dan apakah si anak pejabat atau anak pengusaha kaya yang sukses kuliah di luar negeri itu murni sukses karena “pilihan moralnya” untuk menjadi anak yang rajin?

Seorang neurosaintis beken bernama Robert Sapolsky, lewat bukunya yang berjudul Determined, datang membawa sebongkah batu besar untuk melempar kaca spion delusi kita semua. Katanya, konsep free will alias “kehendak bebas” yang selama ini kita agung-agungkan itu sebenarnya adalah omong kosong yang absurd. Segala hal yang kita banggakan—mulai dari kedisiplinan Anda bangun pagi, keteguhan hati Anda menolak korupsi, sampai ambisi Anda jadi direktur—sebenarnya bukan murni pilihan moral spiritual Anda. Itu semua hanyalah output alias hasil kerja dari sebuah mesin biologis di dalam kepala Anda yang bernama otak. Dan kebetulan, mesin Anda lagi bekerja dengan benar.

Biar gampang, mari kita pakai analogi yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari kita: sepeda motor.

Ketika Otak Hanyalah Sebuah Mesin Honda Supra

Bayangkan Anda punya motor Honda Supra keluaran tahun 2000 yang karburatornya sudah banjir, rantainya kendor, dan olinya belum diganti tiga tahun. Di sebelah Anda, ada orang kaya yang naik motor matic keluaran terbaru yang baru servis rutin kemarin sore di bengkel resmi.

Ketika lampu hijau menyala, si motor matic baru langsung melesat mulus tanpa suara, wuss… Sementara motor Supra Anda musti diengkol sepuluh kali, berasap mengepul, dan jalannya tersendat-sendat seperti orang kena asma. Apakah adil kalau pemilik motor matic baru itu menengok ke belakang, lalu berteriak kepada Anda, “Hoi, makanya punya niat dong kalau jalan! Kamu malas banget sih jalannya pelan!”?

Tentu tidak adil, bukan? Pemilik motor matic itu bisa melaju kencang bukan karena dia punya “niat suci” yang lebih mulia daripada Anda, melainkan karena mesin motornya memang dalam kondisi prima. Sementara Anda, mau sekencang apa pun Anda memutar gas, kalau mesinnya sudah rontok, ya jalannya tetap akan merayap.

Nah, menurut neurosains, otak manusia itu persis seperti mesin motor itu. Orang yang kita sebut “pintar”, “disiplin”, dan “mampu belajar 10 jam sehari” itu sebenarnya adalah orang-orang yang beruntung memiliki mesin otak—khususnya area yang disebut prefrontal cortex (korteks prefrontal)—yang kebetulan komponennya lengkap, olinya penuh, dan bahan bakarnya bagus. Sementara orang yang kita cap “malas”, “gampang menyerah”, atau “bodoh”, sering kali adalah mereka yang mesin otaknya sedang bermasalah karena faktor-faktor luar yang tidak bisa mereka kendalikan.

“Ah, masa sih? Kan manusia punya jiwa, punya kesadaran untuk memilih!” Mungkin Anda akan mendebat begitu.

Oke, kalau Anda masih tidak percaya, mari kita lihat apa yang dilakukan para ilmuwan di laboratorium.

Sudah Diputuskan Sebelum Kita Memilih

Pada tahun 1980-an, seorang ilmuwan bernama Benjamin Libet melakukan eksperimen yang bikin banyak filsuf pusing tujuh keliling. Dia menyuruh sukarelawan untuk duduk, lalu meminta mereka menggerakkan jari mereka secara bebas, kapan pun mereka mau. Di saat yang sama, kepala mereka dipasang alat pengukur aktivitas otak.

Logika awam kita pasti berpikir begini: Saya berniat menggerakkan jari -> otak mengirim perintah -> jari saya bergerak.

Tapi hasil eksperimen Libet justru terbalik dan bikin merinding. Alat perekam menunjukkan bahwa aktivitas listrik di otak (yang disebut readiness potential) sudah mulai aktif sekitar 500 milidetik—atau setengah detik—sebelum si sukarelawan sadar bahwa dia punya niat untuk menggerakkan jarinya! Artinya, otak Anda sudah memutuskan untuk bergerak duluan, baru kemudian kesadaran Anda menyusul sambil mengklaim, “Eh, saya baru saja punya ide untuk menggerakkan jari, lho.” Kesadaran kita itu seperti juru bicara pemerintah yang baru merilis siaran pers setelah kebijakan di dalam ruangan tertutup sudah diputuskan dan diketok palu.

Zaman sekarang, teknologinya jauh lebih gila lagi. Menggunakan mesin fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging) modern, para ilmuwan bahkan bisa melihat aliran darah di otak dan memprediksi pilihan tombol mana yang akan ditekan oleh seseorang—apakah tombol kiri atau tombol kanan—hingga 10 detik sebelum orang tersebut menyadari pilihannya sendiri!

Jadi, saat Anda berdiri di depan kulkas, bingung mau mengambil es teh atau air putih, dan akhirnya Anda memilih es teh, Anda merasa itu adalah “kehendak bebas” Anda saat itu juga. Padahal, sepuluh detik sebelumnya, mesin biologis di kepala Anda sudah selesai berhitung dan memutuskan: “Es teh saja.” Anda cuma tinggal menerima takdir biologis itu dengan perasaan seolah-olah Anda yang memegang kendali.

Terjadi Karena Banyak Faktor yang Saling Terkait

Lalu, apa yang menggerakkan mesin otak kita untuk memilih es teh tadi? Kenapa otak si A bekerja dengan rajin, sementara otak si B bekerja dengan lambat?

Sapolsky menggunakan sebuah lelucon tua yang sangat terkenal di dunia sains: Analogi Kura-Kura (Turtles All The Way Down).

Alkisah, ada seorang ilmuwan yang sedang ceramah tentang astronomi bumi bulat. Tiba-tiba seorang ibu-ibu di belakang interupsi: “Halah, teori komplotan! Bumi kita ini sebenarnya datar dan berdiri di atas punggung seekor kura-kura raksasa!”

Si ilmuwan tersenyum meremehkan lalu bertanya, “Kalau begitu, kura-kura raksasa itu berdiri di atas apa, Bu?”

Si ibu tidak mau kalah dan menjawab, “Ya di atas kura-kura lain yang lebih besar dong!”

Si ilmuwan bertanya lagi, “Lalu kura-kura yang itu berdiri di atas apa?”

Si ibu langsung berteriak, “Ah, Anda jangan mengecoh saya! Pokoknya di bawahnya itu kura-kura terus bertumpuk sampai ke bawah tanpa ujung!”

Bagi Sapolsky, perilaku manusia itu persis seperti tumpukan kura-kura itu. Tidak ada “kura-kura pertama” yang bernama kehendak bebas magis yang tiba-tiba muncul dari langit. Setiap tindakan yang Anda lakukan detik ini, berdiri di atas lapisan biologi yang sangat panjang di bawahnya.

Misalnya, siang ini Anda tiba-tiba membentak anak atau rekan kerja Anda. Kenapa Anda membentak?

  • Kura-kura lapisan 1 (Detik ini): Karena kadar gula darah Anda sedang drop, membuat emosi Anda tidak stabil.
  • Kura-kura lapisan 2 (Beberapa jam lalu): Karena hormon kortisol (hormon stres) Anda sedang tinggi-tingginya akibat tadi pagi Anda bertengkar dengan pasangan atau terjebak macet.
  • Kura-kura lapisan 3 (Beberapa bulan lalu): Karena Anda sedang mengalami tekanan batin di lingkungan kerja yang mengubah struktur saraf Anda.
  • Kura-kura lapisan 4 (Masa kecil): Karena waktu kecil Anda sering melihat orang tua Anda menyelesaikan masalah dengan cara berteriak, sehingga otak Anda belajar bahwa “marah = cara bertahan hidup”.
  • Kura-kura lapisan 5 (Genetik & Evolusi): Karena Anda mewarisi gen tertentu dari leluhur Anda yang membuat Anda lebih sensitif terhadap ancaman.

Lihat? Di mana ruang untuk “kehendak bebas”? Di mana titik di mana Anda bisa murni memilih, “Saya mau jadi orang sabar sekarang” tanpa dipengaruhi oleh kadar gula darah, hormon, trauma masa lalu, dan gen Anda? Tidak ada. Semuanya bertumpuk sampai ke bawah.

Kemiskinan Bukan Kegagalan Moral, tapi Kerusakan Fisik Otak

Sekarang, mari kita bawa teori neurosains yang rumit ini ke realitas sosial kita yang paling pahit: kemiskinan.

Selama ini, kaum penganut meritokrasi radikal selalu percaya bahwa siapa pun bisa sukses asal mau berusaha keras. Mereka menganggap kemiskinan adalah akibat dari kemalasan, kurangnya motivasi, atau mentalitas yang lemah. Neurosains datang dan menampar wajah kita semua dengan fakta yang sangat mengerikan: kemiskinan itu merusak struktur fisik otak anak sejak dalam kandungan.

Mari kita bayangkan seorang ibu hamil di pemukiman kumuh. Dia harus memikirkan besok makan apa, suaminya serabutan, lingkungan rumahnya bising, panas, dan penuh polusi. Kondisi ini membuat tubuh si ibu terus-menerus memproduksi hormon stres (kortisol) dalam jumlah raksasa. Hormon stres ini menembus plasenta dan langsung menyerang janin yang sedang berkembang.

Hasil penelitian menunjukkan, stres kronis akibat kemiskinan ini terbukti menghambat perkembangan volume prefrontal cortex (korteks prefrontal) pada bayi. Padahal, bagian otak inilah yang berfungsi untuk merencanakan masa depan, mengendalikan emosi, menahan godaan, dan fokus belajar.

Ketika anak ini lahir, dia sudah “start” di garis balapan kehidupan dengan kondisi mesin otak yang kurang beruntung secara fisik. Kulit otaknya lebih tipis.

Mari kita bikin analogi lagi: Balapan Formula 1.

Anak orang kaya lahir dengan mobil Ferrari terbaru. Anak orang miskin lahir dengan mobil angkot yang remnya blong dan bannya gundul. Lalu, di tengah jalan, si anak angkot menabrak pembatas jalan karena remnya tidak berfungsi. Apakah adil kalau kita yang menonton dari pinggir jalan berteriak: “Dasar sopir bodoh! Lu sih kurang bakat, kurang punya tekad untuk menyetir dengan benar!”?

Tentu saja itu adalah kebiadaban yang luar biasa. Anak itu menabrak bukan karena dia “memilih” untuk menabrak, melainkan karena kendaraan yang dia warisi sejak lahir memang sudah rusak sistem remnya. Kemiskinan struktural bukan sekadar masalah tidak punya uang di dompet, melainkan warisan kerusakan biologis di dalam tempurung kepala yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Sifat dan Karakter itu Sama Pengaturannya dengan Fisik

Lalu, bagaimana dengan fenomena orang-orang yang bisa belajar atau bekerja keras sampai belasan jam sehari? Bukankah itu bukti kekuatan tekad (will power)?

Sains kembali menggelengkan kepala. Will power atau kemauan itu sama biologisnya dengan tinggi badan atau warna kulit Anda.

Kalau Anda punya teman yang tingginya 190 cm, apakah Anda akan memujinya: “Wah, kamu hebat banget ya, punya moral yang luar biasa sehingga bisa memilih untuk tumbuh tinggi!”? Tentu tidak. Anda tahu itu urusan gen dan gizi susu saat dia kecil.

Sama halnya dengan orang yang sanggup menahan diri dari godaan main game dan memilih belajar matematika selama 5 jam. Dia beruntung karena prefrontal cortex-nya mendapatkan pasokan glukosa yang stabil, memiliki reseptor dopamin yang bekerja dengan seimbang, dan lingkungan masa kecilnya tidak merusak sistem sarafnya. Mesin otaknya kebetulan tipe “tahan panas”.

Sementara orang yang dicap “malas”, yang baru belajar lima menit sudah buka TikTok, sering kali memiliki korteks prefrontal yang fungsinya terganggu akibat trauma masa lalu, stres kronis, atau kurangnya nutrisi esensial pada masa keemasan pertumbuhan otaknya. Otak mereka selalu berada dalam mode survival (bertahan hidup jangka pendek), sehingga tidak punya energi biologi yang tersisa untuk memikirkan investasi jangka panjang seperti belajar.

Mengecap orang malas sebagai “orang jahat yang tidak punya moral” adalah kekeliruan fatal. Mereka tidak malas; mereka sedang membawa mesin yang mesinnya mogok.

Stop Menjadi Manusia yang Mudah Menghakimi

Mendengar semua paparan neurosains ini, sebagian orang mungkin akan langsung putus asa dan protes: “Kalau begitu, buat apa ada hukum? Buat apa kita berusaha kalau semuanya sudah ditentukan oleh biologi kita? Berarti penjahat tidak boleh dihukum dong, kan otak mereka yang salah?”

Bukan begitu maksudnya. Sapolsky dan para ilmuwan tidak menyuruh kita membubarkan penjara dan membiarkan kriminal berkeliaran. Kalau ada mobil yang remnya blong di jalan raya, mobil itu tetap harus dihentikan dan dikandangkan agar tidak menabrak orang lain. Itu demi keselamatan bersama.

Tetapi, sikap kita terhadap si sopir mobil yang remnya blong itu harus berubah. Kita tidak perlu membenci si sopir setengah mati, memaki-makinya sebagai manusia pendosa yang tidak punya moral, atau mengencingi wajahnya. Kita menghentikan mobilnya, sambil memahami bahwa ada malfungsi mekanis yang terjadi di sana.

Kesimpulan besar dari ilmu neurosains ini sebenarnya adalah sebuah ajakan spiritual yang sangat mendalam: ajakan untuk berhenti menjadi manusia yang mudah menghakimi (judgmental).

Selama ini, kita terlalu sombong atas kesuksesan kita sendiri. Kita merasa kita kaya, kita punya jabatan, kita punya gelar doktor, itu semua karena “kehebatan pilihan moral kita”. Kita lupa bahwa kita bisa begitu karena kita lahir dari rahim ibu yang tercukupi gizinya, lingkungan masa kecil yang aman, dan genetik otak yang kebetulan berfungsi dengan benar. Kita sukses karena kita memenangkan lotre biologis dan lotre sosial ekonomi. Selesai. Tidak ada yang perlu disombongkan.

Sebaliknya, pemahaman ini seharusnya melahirkan masyarakat yang jauh lebih berempati. Ketika kita melihat seorang pengemis yang tiduran di trotoar, atau seorang anak putus sekolah yang terjebak dalam lingkaran kriminalitas remaja, kita tidak akan lagi dengan mudahnya mencibir: “Halah, itu karena mereka malas dan tidak mau usaha.”

Kita akan melihat mereka dengan kacamata yang penuh rasa iba dan keadilan sosial, seraya membatin dalam hati: “Di sana, jika bukan karena keberuntungan biologis yang saya miliki, berdirilah saya. Otak anak itu sedang terluka oleh realitas kejam kemiskinan yang tidak pernah bisa dia pilih sendiri sejak dalam kandungan.”

Sains, pada akhirnya, tidak sedang merendahkan derajat manusia menjadi sekadar mesin. Sains justru sedang mengetuk pintu hati kita yang paling dalam agar kita melucuti kesombongan diri, berhenti menudingkan telunjuk kelemahan moral pada orang-orang miskin, dan mulai membangun dunia yang lebih ramah bagi setiap orang—terutama bagi mereka yang terlahir dengan mesin otak yang sudah telanjur rusak oleh keadaan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *