El Nino Sudah Dimulai, Siap-Siap Kemarau Lebih Panjang

Kita, manusia modern yang hidup di era kecerdasan buatan dan mobil listrik, sebenarnya adalah makhluk yang sangat rapuh di hadapan alam. Kita bisa mendebat apa saja di media sosial—mulai dari kelakuan politisi, harga minyak goreng, sampai konspirasi bumi datar—tetapi begitu alam berdehem sedikit saja melalui perubahan suhu air laut, kita semua langsung kelabakan seperti ayam kehilangan induk.

Kabar terbaru dari seberang lautan sana, tepatnya dari para ilmuwan di Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), menyebutkan sebuah vonis yang terdengar seperti awal dari film bencana Hollywood: El Niño telah resmi dimulai.

Bagi sebagian besar dari kita yang sehari-harinya lebih pusing memikirkan cicilan motor atau kuota internet yang cepat habis, istilah “El Niño” mungkin terdengar seperti nama pemain sepak bola legendaris asal Spanyol atau judul lagu telenovela tahun 90-an. Tapi percayalah, makhluk yang satu ini sama sekali tidak romantis. Ia adalah monster iklim yang lahir dari rahim Samudra Pasifik, dan setiap kali ia terbangun dari tidurnya, seluruh dunia—termasuk warung kopi tempat Anda biasa nongkrong—akan terkena imbasnya.

Samudra Pasifik Sudah Lebih Hangat

Bagaimana para ilmuwan tahu kalau si monster ini sudah bangun? Indikatornya sebenarnya sederhana, tapi dampaknya ngeri-ngeri sedap. Suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tengah dan tropis dilaporkan telah melewati ambang batas 0.5^Celsius di atas rata-rata normal.

Bagi Anda yang biasa masak air untuk bikin kopi tubruk, angka setengah derajat Celsius mungkin terasa sepele. “Ah, cuma setengah derajat, jangankan air laut, dahi saya kalau habis jalan kaki siang-siang juga naik segitu!” Begitu mungkin batin Anda menyepelekan.

Namun, mari kita gunakan nalar yang agak luas. Kita tidak sedang membicarakan air segelas atau sebaskom. Kita sedang membicarakan jutaan kilometer kubik air di samudra terbesar di bumi. Jika volume air raksasa itu suhunya naik setengah derajat saja, energi panas yang dilepaskan ke atmosfer itu setara dengan ledakan jutaan bom atom yang bekerja simultan. Dampaknya? Pergerakan angin di atas ekuator langsung berubah arah, kacau balau, dan pola cuaca dunia seketika jungkir balik.

Sialnya lagi, para ilmuwan lewat model komputer mereka tidak cuma membawa kabar bahwa El Niño sudah datang. Mereka juga membawa prediksi yang bikin bulu kuduk berdiri: ada peluang sebesar 63% bahwa yang akan kita hadapi beberapa bulan ke depan (khususnya periode November hingga Januari) bukan sekadar El Niño biasa, melainkan Super El Niño.

Jika prediksi ini akurat, kita akan menyaksikan salah satu anomali iklim terbesar dalam sejarah peradaban modern sejak tahun 1950. Bayangkan, sebuah monster super yang siap memanggang bumi, sementara kita di sini masih sering lupa mematikan lampu kamar mandi saat ditinggal pergi kerja.

Kebakaran Hutan Mulai Bermunculan

Lalu, apa urusannya Super El Niño di Pasifik sana dengan lambung kita yang tinggal di Indonesia? Oh, urusannya sangat erat, seerat hubungan antara utang dan penagihnya.

BMKG kita, yang biasanya sibuk meramal apakah besok Anda perlu membawa payung atau tidak, sudah mengeluarkan lampu kuning yang cenderung merah. Mereka memprediksi musim kemarau di Indonesia kali ini akan menjadi jauh lebih kering dan berlangsung jauh lebih panjang ketimbang rata-rata normalnya.

Di negeri yang masyarakatnya sangat agraris ini, “kemarau yang lebih kering” bukan sekadar urusan jemuran pakaian yang lebih cepat kering atau lantai rumah yang gampang berdebu. Ini adalah urusan hidup dan mati bagi jutaan petani. Ini adalah urusan isi piring nasi kita sehari-hari.

Mari kita tengok apa yang sudah mulai terjadi di ujung barat negeri ini, di Aceh. Belum juga El Niño mencapai puncaknya, titik-titik api sudah mulai terdeteksi dan meluas di beberapa wilayah, seperti di Kabupaten Aceh Barat—khususnya Kecamatan Bubon—dan Nagan Raya. Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menjadi momok tahunan kita kembali mengintai dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih mengancam.

Saya selalu merasa heran sekaligus ngeri setiap kali membaca berita Karhutla. Tanah yang biasanya basah, subur, dan ditumbuhi pepohonan hijau, tiba-tiba berubah menjadi tumpukan bahan bakar raksasa yang siap meledak hanya karena percikan kecil atau hawa panas yang ekstrem. Begitu api berkobar, kabut asap akan mengepung kota, anak-anak kecil akan mulai terbatuk-batuk karena ISPA, dan penerbangan pesawat akan ditunda.

Dan yang paling menyedihkan dari semua itu: tanah-tanah pertanian kita akan berubah menjadi gurun-gurun mini yang retak-retak. Ancaman pangan bukan lagi sekadar bualan para aktivis lingkungan di ruang seminar hotel berbintang. Ini adalah ancaman nyata di mana tanaman pertanian mati sebelum sempat berbuah, gagal panen terjadi di mana-mana, dan harga beras di pasar meroket hingga membuat para ibu rumah tangga harus memutar otak lebih keras daripada ahli strategi militer.

Ketika sawah kering dan air sumur surut, kita baru akan sadar bahwa air bersih itu jauh lebih berharga daripada emas batangan atau saham perusahaan teknologi.

2027 akan Jadi Tahun Terpanas

Dampak El Niño ini sayangnya tidak berhenti di urusan perut masyarakat Indonesia saja. Fenomena ini egois, ia merusak secara global. Masalahnya menjadi berlipat ganda karena El Niño kali ini menunggangi gelombang pemanasan global (global warming) yang sudah masif akibat kelakuan kita sendiri—manusia-manusia modern yang hobi membakar bahan bakar fosil, mendirikan pabrik, dan menebangi pohon demi perumahan mewah.

Ibarat sebuah rumah yang fondasinya sudah panas karena kompor di dapur menyala terus-menerus, lalu tiba-tiba ada orang yang sengaja membakar kasur di ruang tamu. Itulah gambaran bumi kita saat ini. Kombinasi antara pemanasan global buatan manusia dan siklus alami El Niño diprediksi akan memicu rekor tahun terpanas baru sepanjang sejarah pada tahun 2027 nanti.

Bayangkan tahun 2027. Itu bukan waktu yang lama lagi. Hanya tinggal hitungan beberapa tahun ke depan. Jika sekarang saja kita sudah sering mengeluh “Aduh, panas banget ya hari ini!” sambil bolak-balik menyalakan AC di kamar, bayangkan bagaimana rasanya hidup di tahun 2027 ketika rekor suhu terpanas kembali pecah. Kita mungkin akan sampai pada titik di mana keluar rumah di siang hari rasanya seperti sedang berjalan di dalam oven yang sedang memanggang kue nastar.

Krisis Global, Banjir di Sana Kering di Sini

Dunia saat ini sedang menghadapi ketidakadilan atmosfer yang luar biasa akibat ulah si El Niño ini. Wilayah tropis, yang menjadi rumah bagi sebagian besar negara berkembang, akan menjadi korban pertama yang paling menderita.

Selain Indonesia, risiko kekeringan ekstrem dan gangguan cuaca parah juga mengancam wilayah Australia, Amerika Selatan bagian utara, hingga Afrika Timur. Di Afrika Timur, di mana kelaparan sudah menjadi isu kronis, kedatangan El Niño bisa berarti bencana kemanusiaan yang mengerikan. Hewan-hewan ternak akan mati kehausan, dan sumber air akan berubah menjadi kubangan lumpur kering.

Namun, humor gelap dari alam tidak berhenti di situ. Di saat kita di Indonesia dan Afrika Timur menjerit meminta setetes air hujan, wilayah lain di belahan bumi yang berbeda justru sedang tenggelam. Wilayah seperti Peru utara dan Ekuador selatan diprediksi justru akan mengalami risiko banjir bandang yang parah akibat curah hujan yang melonjak drastis.

Alam seolah-olah sedang bermain menjadi akuntan yang mabuk: ia mengambil semua air dari wilayah kita, lalu membuang semuanya sekaligus di wilayah orang lain. Akibatnya, yang satu mati kekeringan, yang satu lagi mati kebanjiran. Tidak ada yang menang, semua sama-sama buntung.

Merenungi Nasib di Bawah Langit yang Membara

Membaca data dan poin-poin dari BBC News Indonesia ini sebenarnya membawa kita pada sebuah perenungan yang cukup dalam—atau kalau mau jujur, agak filosofis ala orang-orang di warung kopi setelah segelas kopi hitam mereka habis.

Kita sering kali merasa menjadi penguasa bumi. Kita membangun gedung pencakar langit, menciptakan teknologi canggih, bahkan berambisi ingin pindah ke planet Mars. Namun, begitu suhu air di Samudra Pasifik naik setengah derajat saja, seluruh sistem kehidupan kita langsung goyang. Ekonomi makro bisa berantakan hanya karena urusan pasokan beras yang seret akibat sawah yang puso.

El Niño adalah alarm keras yang dikirimkan alam kepada kita. Ia mengingatkan bahwa bumi ini punya batas kesabaran. Ketika kita terus-menerus mengotori atmosfer dengan emisi karbon, alam akan merespons dengan mematangkan siklus-siklus ekstremnya menjadi jauh lebih destruktif.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Tentu saja, sebagai warga negara biasa, kita tidak bisa pergi ke Pasifik membawa berloyang-loyang es batu untuk mendinginkan air laut di sana. Itu tindakan konyol. Yang bisa kita lakukan adalah bersiap-siap secara mental dan tindakan di lingkungan terkecil kita.

Pemerintah harus berhenti terjebak dalam rutinitas birokrasi yang lamban. Antisipasi Karhutla di Aceh dan wilayah rawan lainnya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama yang baru bergerak setelah asap tebal masuk ke kamar gubernur. Manajemen air, cadangan pangan nasional, dan edukasi kepada petani mengenai pola tanam yang adaptif harus segera digenjot sebelum terlambat.

Sementara bagi kita, masyarakat jelata yang mungkin tidak punya kuasa membuat kebijakan, mulailah dengan hal-hal kecil: hemat air bersih seolah-olah besok pagi PDAM akan mati total, jangan sembarangan membakar sampah di lahan kering dekat rumah, dan berhentilah mengeluh berlebihan di media sosial tanpa melakukan aksi nyata apa pun.

Sebab, Super El Niño tidak butuh keluhan kita di Twitter atau Instagram. Ia hanya butuh sedikit kecerobohan kita untuk mengubah sebuah desa menjadi hamparan abu kering. Monster itu sudah resmi bangun, kompor raksasa di Pasifik sudah dinyalakan, dan taruhannya adalah isi piring nasi kita dalam beberapa tahun ke depan. Mari kita bersiap, atau kita akan benar-benar terpanggang dalam kelalaian kita sendiri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *