Mengenal Penyakit Angin Duduk, Jangan Kerokan

Suatu hari, seorang kawan karib saya mengeluh dadanya sesak. Rasanya seperti ditimpa beban berat, katanya. Napasnya memburu, keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahinya, padahal ruangan ber-AC. Sebagai orang Indonesia yang dibesarkan dalam kultur kearifan lokal yang kental, reaksi spontan saya saat itu tentulah sangat prediktif: “Wah, kowe kuwi masuk angin berat, Bro! Sini, tak keroki.”

Maka, dicarilah koin seribuan bermotif angklung dan minyak kayu putih. Dengan penuh takzim dan tenaga prima, saya garis-garis punggungnya sampai merah membara seperti corak macan tutul. Setelah selesai, kawan saya bersendawa sekali, dua kali, lalu berkata agak mendingan. Kami pun tertawa, merasa telah berhasil mengalahkan iblis tak kasat mata bernama “angin”.

Beberapa bulan kemudian, saya baru tahu betapa jahat dan konyolnya tindakan saya malam itu. Kawan saya tidak sedang masuk angin. Dia sedang mengalami apa yang di dalam istilah medis disebut sebagai angina pektoris, alias angin duduk. Dan asal Anda tahu, “angin” yang satu ini tidak bisa diusir pakai uang koin, melainkan sebuah sinyal darurat bahwa jantungnya sedang megap-megap kehabisan darah dan oksigen.

Untung kawan saya waktu itu tidak bablas. Kalau bablas, penyesalan saya mungkin harus dicicil seumur hidup lewat jalur hukum atau minimal lewat rasa bersalah yang menghantui setiap kali saya melihat uang koin.

Angin Duduk Beda Dengan Masuk Angin

Kita, sebagai bangsa Indonesia, memang punya hubungan asmara yang sangat rumit dengan penyakit bernama “masuk angin”. Semua gejala penyakit, mulai dari pusing, mual, pegal-pegal, hingga dada nyesek, pokoknya kalau belum ketemu dokter pasti vonisnya tunggal: masuk angin.

Tapi ketahuilah, wahai jamaah pencinta kerokan, angin duduk itu sama sekali bukan sepupu atau keponakan dari masuk angin biasa. Angin duduk adalah sebuah kondisi medis yang sangat serius. Gejala utamanya memang mirip-mirip drama masuk angin: dada terasa nyeri, seperti diremas-remas atau ditimpa beban berton-ton tepat di bagian tengah. Terkadang, rasa nyeri ini tidak tahu diri, dia menjalar sampai ke rahang, leher, hingga lengan kiri. Ditambah bonus sesak napas, tubuh mendadak cepat lelah, dan keringat dingin yang keluar sekujur tubuh.

Celakanya, karena kemiripan gejala ini, banyak dari kita yang meremehkannya. Ah, paling cuma angin lewat. Ah, paling cuma telat makan. Padahal, jika nyeri dada itu muncul justru saat Anda sedang rebahan santai tidak melakukan aktivitas apa pun, atau intensitas nyerinya makin sering terjadi, itu bukan lagi sekadar alarm. Itu adalah tanda bahaya (X) tingkat tinggi yang mengindikasikan Anda sedang berada di gerbang serangan jantung alias infark miokard akut. Otot jantung Anda sedang menjerit meminta tolong karena pasokan darahnya mampet.

Penyebabnya adalah Pembuluh Darah Sempit Karena Kebanyakan Lemak Kolesterol

Lalu, siapa biang keladi di balik drama penyempitan pembuluh darah ini? Siapa lagi kalau bukan musuh dalam selimut yang sering kita manjakan lewat sepiring gulai tunjang, semangkuk mi instan pakai telur dobel, atau gorengan garing di pinggir jalan: Kolesterol LDL, alias kolesterol jahat.

Mari kita bayangkan pembuluh darah koroner di jantung kita itu seperti pipa saluran air di dapur. Ketika kita masih muda, pipanya bersih, air mengalir lancar jaya. Namun, seiring berjalannya waktu, akibat hobi kita mengonsumsi makanan berlemak tanpa kontrol, kolesterol LDL ini mulai menumpuk. Di dalam istilah kedokteran, proses penumpukan ini memicu terjadinya aterosklerosis, yaitu sebuah kondisi di mana kolesterol jahat membentuk plak di dinding arteri.

Plak-plak ini tidak cuma duduk manis. Mereka mengeras, menebal, dan perlahan-lahan mempersempit ruang jalan bagi darah. Bayangkan darah yang harusnya mengalir deras membawa oksigen ke jantung, tiba-tiba harus melewati gang senggol yang sempit dan macet.

Ketika penyumbatan ini makin parah, aliran darah ke jantung berkurang secara drastis. Saat itulah dada Anda mulai terasa sakit—itulah angin duduk. Dan jika plak itu tiba-tiba pecah lalu menyumbat total seluruh pembuluh darah, maka selamat tinggal aliran darah, dan selamat datang kematian jaringan otot jantung. Jika otot jantung sudah mati, taruhannya cuma satu: nyawa.

Banyak yang Mengalami Kolesterol Tinggi

Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan penyakit orang kaya. Saya mah orang biasa, aman-aman saja.” Jangan salah. Mari kita tengok data, biar kita agak sedikit merinding dan tahu diri.

Di Indonesia, menurut data kesehatan terbaru, sekitar 28% penduduk kita memiliki kadar kolesterol atau lemak darah di atas batas normal. Jelasnya, hampir sepertiga dari total orang dewasa di negeri ini sedang berjalan kesana-kemari dengan pipa darah yang mulai menyempit. Dan ironisnya, ya seperti cerita kawan saya tadi, banyak pasien yang terlambat mencari pertolongan medis ke rumah sakit hanya karena mengira gejala mematikan ini sebagai masuk angin biasa yang cukup diatasi dengan sebotol minyak angin dan dikerok sampai merah tua.

Di level global, situasinya tidak kalah mengerikan. Menurut World Heart Federation (WHF), kolesterol tinggi ini bertanggung jawab atas sekitar 3,6 juta kematian setiap tahunnya di seluruh dunia. Angka 3,6 juta itu bukan statistik main-main. Itu adalah jumlah manusia yang nyawanya terenggut, sebagian besar barangkali karena mereka terlalu abai terhadap apa yang masuk ke dalam mulut mereka sendiri.

Kita ini memang bangsa yang aneh. Kita takut setengah mati dengan isu-isu konspirasi global, tapi kita santai-santai saja saat menyantap gorengan dengan minyak yang sudah hitam legam seperti oli bekas, seolah-olah tubuh kita punya kekuatan magis untuk menghancurkan kolesterol jahat dengan sendirinya.

Cek Darah, Rutin Olahraga, dan Makan Sayur

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus pasrah menunggu giliran dada kita diremas oleh sang angin duduk? Tentu tidak. Langkah pertama adalah sadar diri dan tahu angka.

Bagi orang-orang yang memiliki risiko tinggi atau sudah punya gejala, pengendalian kadar kolesterol jahat (LDL) harus dilakukan secara ketat. Targetnya tidak main-main: harus di bawah 55 mg/dL. Untuk tahu angka ini, kuncinya cuma satu: cek darah. Jangan pakai ilmu kira-kira. Orang dewasa disarankan untuk melakukan pemeriksaan kolesterol secara rutin, termasuk melihat detail kadar HDL (kolesterol baik) dan LDL, minimal setiap 5 tahun sekali yang dimulai sejak usia 19 tahun. Terutama bagi Anda yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam silsilah keluarga, pemeriksaan ini hukumnya fardhu ain, alias wajib dan harus lebih dini.

Selain memantau si jahat LDL, kita juga harus mengasuh si baik HDL. Kolesterol baik ini fungsinya seperti petugas kebersihan yang menyapu kolesterol jahat keluar dari pembuluh darah. Cara meningkatkannya bagaimana? Sayangnya, tidak ada ramuan ajaib. Caranya sangat membosankan bagi kaum rebahan: olahraga rutin, menjaga berat badan agar tidak melear ke samping, mutlak tidak merokok, serta memperbanyak makan sayur dan buah. Sungguh sebuah nasihat klasik yang sering kita abaikan demi seporsi bakso urat.

Obat Kolesterol adalah Statin dan Ezetimibe

Namun, bagi sebagian orang, mengubah gaya hidup kadang rasanya seperti menyuruh kucing berenang—sulitnya minta ampun. Atau, ada pula kondisi di mana tubuh seseorang memang memproduksi kolesterol secara ugal-ugalan karena faktor genetik, sehingga diet seketat apa pun tetap membuat angka LDL-nya melonjak tinggi.

Di sinilah dunia medis modern datang membawa kabar baik. Dulu, senjata utama dokter untuk menurunkan kolesterol adalah obat golongan statin tunggal. Obat ini bekerja dengan cara mengerem produksi kolesterol di dalam organ hati kita.

Tapi sekarang, sains sudah berkembang lebih cerdas. Muncul pilihan terapi kombinasi jalur ganda (dual-pathway) yang menggabungkan dua kekuatan dalam satu tablet praktis: statin dan ezetimibe. Cara kerjanya sangat taktis dan mengepung dari dua arah. Obat ini tidak hanya menghambat pabrik produksi kolesterol di hati, tetapi juga sekaligus menutup pintu penyerapan kolesterol di usus kita. Dengan terapi kombinasi ini, penurunan kadar LDL bisa terjadi lebih agresif dan efektif, sehingga pembuluh darah kita bisa terbebas dari ancaman sumbatan yang mematikan.

Sayangi Jantung, Kurangi Kerokan

Akhirul kalam, hidup sehat itu memang pilihan, tapi sakit jantung akibat kolesterol itu sering kali adalah akibat dari akumulasi kelalaian kita sendiri. Menikmati kuliner nusantara yang kaya santan dan minyak itu boleh-boleh saja, toh hidup cuma sekali, masa tidak boleh makan enak? Tapi ya tolong, tahu batas dan tahu kondisi badan.

Jika suatu hari nanti dada Anda atau orang terdekat Anda mendadak terasa nyeri luar biasa seperti dihantam godam, tolong simpan dulu koin seribuan Anda. Jauhkan dulu minyak kayu putih itu. Jangan buang-buang waktu berharga dengan berdebat apakah ini masuk angin karena salah tidur atau karena belum makan.

Segera bawa ke dokter atau layanan medis terdekat. Sebab, di dalam hitungan detik penanganan angina pektoris, setiap detak jantung yang terselamatkan adalah pembeda yang nyata antara kehidupan dan kematian. Berhentilah bersikap sok tahu di hadapan penyakit yang bisa menghentikan detak jantung Anda dalam sekejap. Mari lebih bijak, mari lebih sehat!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *