Ada satu jenis hubungan pertemanan di dunia ini yang kalau dilihat-lihat bikin dahi berkerut. Hubungan yang isinya bukan saling puji atau saling dukung dengan tulus, melainkan saling intip, saling curiga, tapi kalau pas butuh ya nempel lagi seperti perangko. Di kampung saya, ada jenis tetangga yang model begini. Satunya kaya raya, rumahnya gedongan, usahanya menggurita di mana-mana. Satunya lagi miskin, kuper, tapi hobinya piara anjing galak dan sesekali suka menyulut petasan ukuran jumbo di halaman rumah sampai bikin seisi RT jantungan.
Si kaya sebenarnya risih dan jengkel setengah mati punya tetangga model begitu. Tapi mau mengusir ya tidak bisa karena tanahnya bersebelahan. Mau dimusuhi secara terang-terangan, takut si miskin nekat melempar petasannya ke genteng rumah sendiri. Maka, pilihan paling realistis bagi si kaya adalah sesekali datang bertamu, membawa kresek berisi sembako, lalu menepuk-nepuk pundak si miskin sambil berbisik, “Kamu kalau butuh beras bilang aku ya, tapi tolong petasannya disimpan dulu.”
Kira-kira, begitulah kacamata receh saya saat membaca berita internasional dari BBC News Indonesia baru-baru ini. Kabar besar datang dari belahan bumi Asia Timur: Presiden China, Xi Jinping, akhirnya sudi menapakkan kakinya kembali ke Pyongyang, Korea Utara. Ini adalah kunjungan kenegaraan pertamanya sejak tahun 2019.
Bagi orang awam, melihat foto Xi Jinping bersalaman erat dengan Kim Jong Un yang badannya makin subur itu mungkin terlihat seperti reuni dua sahabat lama sesama penganut ideologi kiri. Hangat, penuh senyum, dan megah. Namun, bagi para pengamat geopolitik—dan bagi kita yang hobi membaca makna di balik senyuman palsu para politisi—kunjungan ini sarat akan kalkulasi bisnis, gengsi, dan ketakutan terpendam. Ini bukan urusan persahabatan murni; ini adalah urusan mengamankan halaman belakang rumah agar tidak diacak-acak orang lain.
Cemburu Karena Dekat Sama Rusia
Kalau kita mau jujur, pemicu utama kenapa Xi Jinping yang super sibuk itu mendadak mau repot-repot naik pesawat ke Pyongyang sebenarnya adalah rasa cemburu. Ya, cemburu geopolitik.
Belakangan ini, Beijing dibuat ketar-ketir melihat kemesraan yang terlalu menggebu-gebu antara Pyongyang dan Moskow. Sejak Rusia melakukan invasi ke Ukraina dan dikucilkan oleh negara-negara Barat, Vladimir Putin mendadak butuh teman dekat yang punya stok peluru banyak. Ketemulah dia dengan Kim Jong Un. Klop. Dua negara yang sama-sama hobi bikin pusing dunia ini langsung klik, bahkan sampai menandatangani pakta pertahanan bersama pada tahun 2024 lalu.
Melihat Kim Jong Un makin sering main ke Moskow dan dapat angin segar dari Putin, China sebagai “kakak tertua” di kawasan tersebut jelas merasa dilangkahi. Xi Jinping seperti seorang juragan tanah yang mendadak sadar kalau satpam penjaga perbatasannya mulai berpaling dan asyik ngopi dengan juragan dari kampung sebelah. China khawatir, kalau Korea Utara sepenuhnya condong ke pelukan Rusia, Beijing bakal kehilangan kendali atas negara nuklir yang labil tersebut.
Apalagi, China punya kepentingan yang sangat spesifik soal stabilitas perbatasan. Beijing itu sebenarnya tidak pernah mendukung program nuklir Korea Utara. Kenapa? Bukan karena China mendadak jadi pencinta damai sejati, melainkan karena mereka tahu diri. Setiap kali Kim Jong Un pamer rudal balistik atau melakukan uji coba nuklir, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan punya alasan yang sangat sah untuk memperkuat aliansi militer trilateral mereka di Asia Timur.
Bagi China, kehadiran militer AS yang makin tebal di halaman depannya—berkedok menjaga diri dari ancaman Korut—adalah mimpi buruk yang nyata. Jadi, kejengkelan China ke Korut itu berlapis-lapis: jengkel karena Korut suka main nuklir, jengkel karena Korut bikin militer AS makin mendekat, dan sekarang ditambah jengkel karena Korut mulai genit ke Rusia.
Kembalinya Kereta Penumpang
Maka dari itu, kunjungan Xi Jinping ini adalah langkah taktis untuk menegaskan kembali siapa bos sebenarnya di kawasan tersebut. Beijing ingin memposisikan dirinya sebagai mediator strategis. Seolah-olah Xi ingin bilang ke Amerika Serikat, “Lihat, cuma aku yang bisa menjinakkan anak nakal ini. Jadi kalau kalian mau urusan dengan Korut, kalian harus lewat aku.”
Padahal, kalau mau buka-bukaan, hubungan China dan Korea Utara sebelum kunjungan ini sedang berada di titik yang lumayan dingin, bahkan menjurus ke arah saling cuek. Coba tengok waktu peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada Oktober 2024 lalu. Perayaannya minim sekali, sepi dari hingar-bingar media, mirip seperti pesta ulang tahun yang anggarannya dipangkas habis. Bahkan, duta besar China sempat absen dalam beberapa acara hari jadi Korea Utara.
Tapi ya itulah indahnya politik luar negeri yang pragmatis. Mau sekaku apa pun hubungan diplomatik, kalau urusan perut dan dompet sudah berbicara, semua ego bisa dikesampingkan.
Bagi Kim Jong Un, sekaya apa pun Rusia memberi janji atau teknologi militer, China tetaplah napas buatan yang paling utama bagi ekonomi negaranya yang megap-megap akibat sanksi internasional. China adalah mitra ekonomi terbesar Korea Utara yang tak tergantikan. Data menunjukkan, ekspor China ke Korea Utara melonjak hingga menembus angka Rp30-an triliun (sekitar US$2,3 miliar) pada tahun lalu. Barang apa saja yang masuk? Ya mulai dari minyak, pangan, sampai barang-barang konsumsi harian yang bikin rakyat Korut tidak mati kelaparan.
Saking butuhnya mereka untuk kembali normal (dalam standar mereka), layanan kereta penumpang jalur Beijing-Pyongyang bahkan resmi dioperasikan kembali setelah sempat mati suri selama 6 tahun akibat pandemi dan ketegangan politik. Jalur kereta ini seperti simbol bahwa meski kedua pemimpin jarang mengobrol lewat telepon, pipa rezeki ekonomi tidak boleh mampet.
Korea Utara berfungsi sebagai penyangga sekaligus beban bagi China
Ini adalah posisi yang sangat dilematis bagi Beijing. Disebut “penyangga” (buffer zone) karena secara geografis, keberadaan Korea Utara yang komunis dan anti-Barat itu sukses menahan agar pasukan militer Amerika Serikat yang bercokol di Korea Selatan tidak langsung berbatasan langsung dengan wilayah daratan China. Selama Korea Utara masih berdiri, China punya benteng alam yang aman dari sentuhan langsung pangkalan militer Barat.
Namun di sisi lain, Korea Utara adalah “beban” (burden) yang luar biasa berat. Setiap kali Korut mengalami krisis pangan, China yang harus mengirimi bantuan darurat agar tidak terjadi gelombang pengungsi kelaparan yang menjebol perbatasan mereka. Setiap kali Kim Jong Un mengeluarkan retorika perang yang berapi-api, diplomat-diplomat China di PBB yang harus sibuk pasang badan, bersilat lidah memikirkan cara agar sekutunya itu tidak langsung dijatuhi bom oleh koalisi global.
Hubungan kedua negara ini sejatinya dipenuhi oleh rasa ketidakpercayaan yang mendalam. Korut selalu curiga kalau China sewaktu-waktu bakal menjual mereka demi kesepakatan dagang yang lebih menguntungkan dengan Amerika Serikat. Sementara China selalu curiga kalau Korut bakal bertindak bodoh yang bisa memicu Perang Dunia Ketiga di depan pintu rumah mereka.
Diplomasi “Singkong Kere”
Melihat drama di Asia Timur ini, saya jadi teringat dengan cara kita mengelola hubungan sosial di tingkat paling bawah. Kita sering kali harus bersikap manis kepada orang-orang tertentu bukan karena kita menyukai tabiatnya, melainkan karena kita butuh sesuatu darinya, atau minimal, karena kita tidak ingin dia merepotkan hidup kita.
Xi Jinping terbang ke Pyongyang bukan membawa cinta atau solidaritas sesama kamerad. Dia datang membawa kalkulator geopolitik. Kunjungan ini adalah sebuah investasi posisi tawar (bargaining chip) yang mahal. Di hadapan Joe Biden atau siapa pun presiden AS nanti, Xi bisa membusungkan dada sebagai satu-satunya orang yang punya remote kontrol atas perilaku Pyongyang. Di hadapan Vladimir Putin, Xi bisa memberi sinyal bahwa wilayah pengaruh China tidak bisa digoyang begitu saja dengan iming-iming pakta pertahanan.
Sementara bagi Kim Jong Un, kedatangan Xi adalah legitimasi bahwa meskipun negaranya dikutuk oleh separuh dunia, dia tetap punya “bekingan” kelas berat yang punya hak veto di Dewan Keamanan PBB.
Jadi, jangan terkecoh dengan megahnya parade militer, senyum sumringah kedua pemimpin, atau lambaian tangan anak-anak sekolah di Pyongyang yang tampak begitu histeris menyambut Xi Jinping. Di balik tirai panggung yang gemerlap itu, yang ada hanyalah dua orang pria berkuasa yang sedang saling menghitung untung-rugi, saling mengunci pergerakan, dan sama-sama tahu bahwa di dunia politik yang kejam ini, teman sejati itu tidak pernah ada. Yang ada hanyalah musuh yang sama, atau kepentingan yang kebetulan sedang sejalan.
Kita yang menonton dari jauh, di warung kopi sambil mengunyah pisang goreng, cuma bisa berharap agar diplomasi pragmatis kedua negara ini berhasil. Sebab kalau remote kontrolnya rusak dan si tetangga miskin itu nekat menyulut petasannya benaran, efek ledakannya bakal bikin harga minyak dunia meroket, rupiah kita makin babak belur, dan ujung-ujungnya, harga tahu-tempe di meja makan kita juga yang bakal ikut jadi korban.
