Banyak Anak Muda Cina Emoh Kerja 996 Lagi

Sebagai orang Indonesia yang dibesarkan dalam kultur “kerjo, kerjo, kerjo” sampai tipes, saya itu selalu memandang Cina sebagai sebuah negara yang isinya adalah kumpulan manusia super-ambisius. Di kepala kita, orang Cina itu kalau kerja tidak ada liburnya. Mereka adalah definisi nyata dari disiplin baja, otot kawat balungan besi, yang kalau jalan cepat-cepat, dan kalau jualan tidak mau rugi walau hanya satu rupiah. Pokoknya, Cina adalah mesin ekonomi dunia yang tidak pernah mati lampunya.

Tapi, membaca rangkuman dokumenter dari DW Dokumenter baru-baru ini, runtuhlah sudah semua stereotipe itu di kepala saya. Ternyata, di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit di Beijing dan Shanghai, di balik status mereka sebagai raksasa ekonomi global, anak-anak muda di sana sedang mengalami titik jenuh yang luar biasa. Mereka sedang lelah, sedih, dan yang paling menarik: mereka sedang melakukan gerakan mogok massal untuk menjadi ambisius.

Istilah bekennya di sana adalah Tangping, alias gerakan rebahan. Ya, Anda tidak salah baca. Di negara komunis yang sangat mendewakan produktivitas itu, ribuan anak mudanya memilih untuk tidur-tiduran, selonjoran, dan emoh ikut kompetisi hidup yang bikin gila.

Melihat fenomena ini, saya jadi sadar satu hal: ternyata, mau di Yogyakarta, di Jakarta, atau di Shenzhen sekalipun, kalau urusan dompet makin tipis tapi tekanan hidup makin tidak masuk akal, respon alami manusia itu sama saja: nggletak (tidur terlentang) sambil menatap langit-langit kamar.

Budaya 996 yang Memeras Keringat dan Waras

Untuk memahami kenapa anak muda Cina mendadak suka rebahan, kita harus paham dulu neraka kerja yang mereka hadapi sehari-hari. Di sana ada budaya kerja ekstrem yang disebut “996”. Artinya: kerja dari jam 9 pagi, sampai jam 9 malam, selama 6 hari seminggu. Bayangkan! Itu kerja atau Romusha? Kapan waktu untuk bersosialisasi? Kapan waktu untuk jatuh cinta? Kapan waktu untuk sekadar bengong di teras rumah sambil minum es teh? Tidak ada.

Semua energi diperas habis-habisan oleh korporasi. Awalnya, anak-anak muda ini mau-mau saja menuruti sistem gila ini karena iming-iming masa depan cerah, gaji besar, dan bisa beli apartemen mewah di kota. Tapi, hukum ekonomi global berkata lain. Ekonomi Cina melambat. Walhasil, rumus “kerja keras bagai kuda pasti jadi kaya” itu mendadak kedaluwarsa.

Tengok saja nasib Wancing. Di usia 38 tahun—usia yang harusnya sedang matang-matangnya di dunia karier—dia terkena PHK massal dari perusahaan properti milik negara. Perusahaannya memotong 60% karyawannya sekaligus. Wancing yang tadinya orang kantoran berdasi, kini terpaksa beralih profesi menjadi kurir makanan demi bisa menyambung hidup.

Kejadian seperti Wancing ini bukan kasuistik. Saat ini, sekitar satu dari lima anak muda di Cina berstatus pengangguran alias tidak punya pekerjaan tetap. Satu banding lima! Itu angka yang sangat besar untuk negara dengan jumlah penduduk miliaran. Akhirnya, anak-anak muda ini mikir: “Buat apa saya kerja kerja rodi dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam kalau ujung-ujungnya kena PHK juga? Mending saya rebahan sekalian.” Ini bukan malas, konco-konco. Ini adalah bentuk protes eksistensial terhadap sistem yang tidak lagi adil.

Pulang Kampung demi Waras, Bukan Demi Gengsi

Akibat dari rasa lelah yang teramat sangat ini, terjadilah eksodus yang unik. Kalau zaman dulu orang berbondong-bondong merantau ke kota besar demi mengubah nasib, sekarang anak muda Cina justru berbondong-bondong mudik secara permanen ke desa terpencil.

Ada tokoh bernama Adiau dalam dokumenter itu. Dia memilih meninggalkan posisi magang yang mentereng di sebuah firma keuangan di kota—pekerjaan yang mungkin diidam-idamkan oleh jutaan orang tua di Indonesia—hanya untuk pulang ke desa terpencil. Di desa, dia hidup selaras dengan alam, bernapas dengan lega tanpa polusi, dan mengandalkan media sosial sebagai sumber pendapatan alternatif.

Ada lagi kisah dua perempuan muda, Sheng Kuoko dan sahabatnya. Mereka nekat pindah ke sebuah desa kuno yang penduduknya cuma tinggal 20 orang tua renta! Di sana, mereka membuka usaha toko roti (bakeri). Secara hitung-hitungan bisnis ala warung kopi, membuka toko roti di desa berpenduduk 20 orang tua itu adalah kegilaan hakiki. Siapa yang mau beli? Apakah simbah-simbah di desa itu sarapannya croissant dan baguette? Ya tentu tidak.

Tapi bagi Sheng Kuoko, keuntungan finansial bukan lagi nomor satu. Yang mereka kejar adalah kebebasan. Kebebasan untuk bangun tidur tanpa alarm, kebebasan dari tatapan sinis bos di kantor, dan kebebasan untuk menentukan jalan hidup sendiri. Di mata generasi terdahulu, tindakan ini mungkin dianggap sebagai kegagalan atau frustrasi. Tapi di mata generasi sekarang, ini adalah kemewahan tertinggi yang bernama: kesehatan mental.

Menjadi Bos Bagi Diri Sendiri, Walau Hanya Jualan Kaki Lima

Bagi mereka yang tidak mau pulang ke desa tapi sudah emoh jadi budak korporat, jalurnya adalah wirausaha. Menjadi bos bagi diri sendiri sekarang dianggap jauh lebih bergengsi daripada punya kartu nama dengan jabatan mentereng di perusahaan multinasional tapi aslinya adalah “karyawan yang bisa diganti kapan saja”.

Lihatlah Fang Jintau yang baru berusia 23 tahun. Anak muda ini merintis usaha kuliner kaki lima bersama keluarganya. Capek? Ya pasti capek. Tapi bedanya, capeknya jualan kaki lima itu hasilnya langsung masuk ke dompet sendiri, bukan untuk memperkaya pemilik saham di bursa efek. Sekarang, usahanya makin maju dan dia bersiap membuka restoran fisik.

Anak-anak muda seperti Fang Jintau ini sadar bahwa kemandirian ekonomi adalah satu-satunya pelindung mereka di tengah ketidakpastian zaman. Mereka tidak butuh janji manis HRD tentang “jenjang karier”. Mereka lebih percaya pada perputaran uang cash dari mangkok-mangkok makanan yang mereka jual ke pelanggan.

Ketika Uang Masih Menjadi Agama bagi Sebagian Elit

Tentu saja, Cina tidak langsung berubah jadi negara santai seratus persen. Di balik rombongan anak muda yang rebahan dan pulang kampung, kontras sosialnya masih sangat kentara. Dokumenter itu juga memperlihatkan sisi lain: kelompok elit baru anak muda yang super-kaya dan super-ambisius.

Sebut saja Lin Ciubing, seorang anak muda yang mengelola perusahaan kecerdasan buatan (AI) dan punya tiga perusahaan sekaligus di bawah kendalinya. Di lingkaran sosial Lin Ciubing yang glamor, gemar berpesta, dan kompetitif ini, ada satu adagium yang dipegang teguh: “Uang adalah solusi atas 99% masalah hidup.”

Bagi mereka, hidup adalah tentang menang atau kalah, tentang mengumpulkan pundi-pundi kekayaan tanpa henti. Dan jujur saja, pandangan ini tidak salah-salah amat. Di dunia yang kapitalistik ini, uang memang punya kekuatan magis. Tapi melihat kontras ini, kita jadi disuguhi dua pemandangan ekstrem di Cina hari ini: di satu sisi ada anak muda yang berpesta pora merayakan kekayaan AI mereka, sementara di sisi lain ada mantan pegawai kantoran yang sedang kehujanan di atas motor mengantarkan pesanan makanan, serta anak-anak muda yang sedang asyik memoles adonan roti di desa berpenduduk 20 orang.

Damai Antargenerasi: Trauma Bapak yang Membawa Berkah

Menariknya, pergeseran nilai di kalangan anak muda ini ternyata mendapatkan “restu” tersendiri dari orang tua mereka secara tidak sengaja. Ini ada hubungannya dengan sejarah kelam masa lalu Cina.

Ayah Wancing, misalnya, menceritakan bagaimana penderitaannya dulu semasa era Revolusi Kebudayaan. Pada zaman itu, generasi orang tua dipaksa oleh negara untuk pergi ke desa-desa terpencil melakukan kerja paksa yang tidak manusiawi demi ideologi. Mereka mengalami kelaparan, trauma fisik, dan psikologis yang mendalam.

Nah, trauma masa lalu inilah yang membuat sebagian orang tua zaman sekarang di Cina memiliki perspektif yang lebih longgar. Ketika melihat anak-anak mereka hari ini stres, depresi, atau memilih keluar dari pekerjaan demi kesehatan mental, para orang tua ini tidak langsung memarahi atau melabeli anak mereka “lemah” atau “manja”. Mereka justru maklum. Mereka seolah berkata: “Dulu kami dipaksa menderita oleh keadaan. Jadi sekarang, asalkan anak saya tidak menderita seperti saya dulu, tidak sukses besar pun tidak apa-apa.”

Ini adalah sebuah anugerah hubungan antargenerasi yang luar biasa. Anak-anak muda saat ini akhirnya memiliki ruang untuk menjadi individu yang merdeka. Impian mereka tidak lagi seragam, tidak lagi harus menjadi sekrup dalam mesin besar negara atau korporasi. Impian mereka jauh lebih personal: mereka fokus pada kebebasan pribadi.

Pelajaran Penting untuk Kita Semua

Di akhir cerita, ada tokoh bernama Ermau yang berjuang keras belajar demi bisa lulus ujian program Magister Seni. Bagi generasi Ermau, esensi dari sekolah tinggi-tinggi bukan lagi semata-mata biar bisa melamar kerja di perusahaan bonafid dengan gaji selangit tapi tekanan tinggi. Tidak. Impian mereka justru mencari pekerjaan yang memberikan banyak waktu luang untuk menikmati hidup. Kuliah seni dipilih karena memberikan ruang aktualisasi diri, bukan sekadar industri.

Membaca fenomena di Cina ini, saya jadi berkaca pada kondisi di negara kita sendiri. Kita sering kali mendewakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, investasi asing yang masuk, dan pembangunan infrastruktur yang masif. Kita menuntut anak-anak muda kita untuk terus kompetitif, kuliah di jurusan yang laku di pasar, dan kerja keras bagai kuda sampai melupakan kehidupan pribadi.

Tapi Cina sudah memberikan contoh nyata di depan mata kita. Ketika pertumbuhan ekonomi melambat, dan ketika manusia diperlakukan murni sebagai angka-angka statistik produksi, akan ada titik jenuh di mana jiwa manusia itu memberontak.

Gerakan rebahan (Tangping), pulang ke desa, atau memilih jualan kaki lima di kalangan anak muda Cina adalah sinyal peringatan bagi dunia: bahwa pada akhirnya, manusia itu bukan robot. Manusia butuh waktu untuk bernapas, butuh kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri, dan butuh ruang untuk sekadar menikmati hidup tanpa harus merasa bersalah karena tidak menjadi orang sukses.

Jadi, buat Anda yang kebetulan hari ini sedang capek kerja, lalu memilih untuk rebahan sejenak di kasur sambil membaca tulisan ini: tenang saja, Anda tidak sendirian. Di sana, di negeri raksasa ekonomi bernama Cina, ada jutaan anak muda yang sedang melakukan hal yang persis sama dengan Anda. Selamat rebahan, mari kita jaga kewarasan kita bersama-sama.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *