AS akan Dukung Ahmadinejad Jadi Presiden Iran

Dulu, di pertengahan tahun 2000-an, kalau Anda datang ke pengajian remaja masjid, toko buku Islam, atau obrolan pos ronda yang agak berat, ada satu nama dari Timur Tengah yang pamornya mengalahkan bintang film Hollywood. Namanya Mahmoud Ahmadinejad.

Bagi sebagian besar masyarakat kita yang gemar dengan narasi heroisme perlawanan, Ahmadinejad adalah sosok paripurna. Dia adalah presiden Iran yang berani mengacungkan telunjuk ke hidung Amerika Serikat, yang dengan entengnya menyebut Holocaust sebagai mitos, dan tanpa tedeng aling-aling melabeli Israel sebagai “sel kanker” yang harus dienyahkan dari muka bumi.

Tapi bukan cuma retorikanya yang bikin orang kita kesengsem. Yang paling juara adalah narasinya tentang kesederhanaan. Kita tentu masih ingat foto-foto yang viral di email dan awal-awal era Facebook dulu: Ahmadinejad tidur di karpet rumahnya yang bersahaja, Ahmadinejad menyetir mobil Peugeot butut keluaran tahun 1977, atau Ahmadinejad yang menolak digaji sebagai presiden dan memilih hidup dari gajinya sebagai dosen. Kurang saleh dan merakyat apa coba? Di mata publik kita yang sudah kenyang disuguhi kelakuan pejabat lokal yang hobi pamer rubicon dan jam tangan mewah, Ahmadinejad adalah oase. Dia adalah pahlawan tanpa tanda jasa dari Teheran.

Namun, politik global itu bukan panggung sandiwara ketoprak yang hitam-putihnya jelas: mana yang protagonis suci dan mana yang antagonis jahanam. Politik global adalah arena komedi getir yang penuh plot twist, tikungan tajam, dan ironi yang sering kali bikin kita, orang-orang biasa ini, merasa seperti penonton yang baru saja dikadalin.

Ketika Sang “Musuh Bebuyutan” Justru Menjadi “Hadiah Terindah”

Mari kita bedah ironi pertama dari sosok Ahmadinejad yang belakangan ini namanya mencuat lagi dalam artikel-artikel analisis geopolitik, termasuk dari BBC News Indonesia.

Selama menjabat sebagai Presiden Iran dari tahun 2005 sampai 2013, Ahmadinejad adalah mimpi buruk bagi diplomasi Barat. Dia ngotot melanjutkan program nuklir Iran meskipun negaranya dicekik sanksi internasional setengah mati. Mulutnya yang hobi menyemburkan kutukan ke Israel membuat tensi Timur Tengah selalu berada di titik didih. Kita yang menonton dari jauh mengira bahwa Israel pasti sangat membenci orang ini dan berdoa agar dia cepat-cepat lengser atau kena serangan jantung.

Tapi faktanya tidak se-sederhana itu. Dalam dunia intelijen dan politik tingkat tinggi, musuh yang berisik dan radikal itu kadang-kadang jauh lebih berguna daripada musuh yang diam-diam menghanyutkan.

Buktinya, beberapa pejabat Israel sendiri belakangan mengakui hal itu. Mantan kepala Mossad—dinas rahasia Israel yang terkenal dingin dan mematikan itu—yang bernama Efraim Halevy, pernah mengeluarkan pernyataan yang bikin kuping para pengagum Ahmadinejad berdenging. Halevy menyebut Ahmadinejad sebagai “hadiah terbesar Iran bagi Israel.”

Lho, kok bisa? Logikanya begini: Israel itu butuh pembenaran di mata dunia untuk terus membangun militer, meluncurkan serangan preemptif, dan meminta bantuan dana serta senjata dari Amerika Serikat. Cara paling gampang untuk mendapatkan pembenaran itu adalah dengan menunjukkan bahwa mereka sedang menghadapi ancaman eksistensial dari monster yang mengerikan.

Nah, Ahmadinejad dengan segala khotbahnya yang berapi-api tentang membumihanguskan Israel adalah sosok “monster” yang sempurna untuk dipajang di etalase media internasional. Setiap kali Ahmadinejad berpidato menolak Holocaust atau pamer sentrifugasi nuklir, pemerintah Israel tinggal menunjuk layar televisi sambil berkata kepada dunia, “Lihat? Lihat orang ini? Kami tidak berbohong, mereka benar-benar ingin memusnahkan kami!”

Jadi, alih-alih merugikan, retorika garis keras Ahmadinejad justru menjadi bahan bakar gratis bagi mesin propaganda Israel untuk menggalang simpati global. Tanpa perlu bersusah payah, Israel mendapatkan justifikasi atas segala kebijakan militernya karena Ahmadinejad selalu menyediakan umpan yang siap dilahap.

Dari Sorban Jumper ke Kutipan Tupac Shakur

Namun, komedi politik Ahmadinejad tidak berhenti di situ. Bagian paling menggemaskan—atau barangkali membingungkan—adalah apa yang terjadi pada dirinya setelah dia tidak lagi menjabat sebagai presiden.

Begitu masa jabatannya habis pada 2013, Ahmadinejad tidak lantas duduk manis di perpustakaan kampus sambil menikmati masa pensiun sebagai dosen teknik sipil. Dia malah terlibat baku hantam politik yang sengit di dalam negeri. Dia berselisih paham dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Bagi sebuah rezim teokrasi yang mengutamakan kepatuhan mutlak pada garis ulama, kelakuan Ahmadinejad yang mulai hobi mengkritik jalannya pemerintahan ini jelas dianggap sebagai pembangkangan. Walhasil, dia pelan-pelan dipinggirkan, dijauhkan dari lingkar kekuasaan, bahkan sempat mencicipi rasanya menjadi tahanan rumah.

Nah, di sinilah transmutasi ajaib itu terjadi. Sadar bahwa dia sudah kehilangan panggung resmi di struktur kekuasaan Teheran, Ahmadinejad beralih ke panggung yang lebih cair dan demokratis: media sosial.

Tiba-tiba saja, jagat Twitter (sekarang X) dihebohkan oleh akun resmi seorang mantan presiden Iran yang dulu dikenal ultra-konservatif, tetapi kini mendadak berlagak seperti influencer atau anak senja yang sedang mencari jati diri. Citra lamanya sebagai singa padang pasir yang anti-Barat pelan-pelan diganti dengan persona baru yang lebih “pop” dan bersahabat dengan kultur pop Amerika.

Bayangkan, orang yang dulu mengutuk imperialisme budaya Barat, tiba-tiba mencuitkan ucapan selamat ulang tahun kepada mendiang rapper legendaris AS, Tupac Shakur, lengkap dengan kutipan lirik lagunya yang bicara tentang keadilan sosial. Tidak cukup sampai di situ, dia juga pernah melontarkan pujian kepada Donald Trump—pria yang memerintahkan pembunuhan jenderal kebanggaan Iran, Qasem Soleimani—dan mengomentari pertandingan bola basket NBA dengan analisis yang lumayan fasih.

Kita yang melihat ini tentu berhak garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Ini Ahmadinejad mantan presiden Iran atau anak magang agensi digital yang sedang kehabisan bahan konten?

Perubahan citra ini tentu bukan tanpa maksud. Ahmadinejad sedang mencoba melakukan rebranding. Dia tahu bahwa mayoritas penduduk Iran saat ini adalah anak-anak muda yang lahir setelah Revolusi 1979—generasi yang sudah lelah dengan doktrin agama yang kaku, lelah dengan sanksi ekonomi, dan mendambakan kehidupan yang lebih terbuka. Dengan bergaya ala anak muda perkotaan dan sok akrab dengan kultur Barat, Ahmadinejad sedang mencoba membangun basis massa baru di luar kelompok garis keras yang dulu memujanya. Dia ingin mengesankan bahwa dirinya adalah figur alternatif: tetap nasionalis, tetapi tidak sekaku para mullah yang bertengger di kepemimpinan tertinggi.

Konspirasi “Sangkar Emas” yang Fantastis

Puncak dari segala keanehan seputar nama Ahmadinejad ini muncul dalam laporan teranyar yang sempat dibahas oleh New York Times dan diulas kembali oleh BBC News Indonesia. Laporan itu menyebut-nyebut adanya skenario gila, sebuah “perencanaan pascaperang” yang digodok oleh lingkaran tertentu di Amerika Serikat dan Israel.

Skenarionya begini: jika suatu saat terjadi perang terbuka berskala besar antara AS-Israel melawan Iran yang berujung pada runtuhnya rezim mullah saat ini, mereka membutuhkan sosok figur lokal yang populer, punya pengalaman memimpin, dan yang paling penting, sedang bermusuhan dengan kelompok Khamenei untuk dijadikan pemimpin transisi di Iran baru. Dan tebak siapa nama yang muncul di kertas coret-coretan para perencana itu? Ya, Mahmoud Ahmadinejad!

Laporan itu bahkan membumbui narasi dengan cerita ala film Hollywood: konon sempat ada operasi rahasia untuk membebaskan Ahmadinejad dari tahanan rumahnya, namun operasi itu gagal total karena yang bersangkutan malah mengalami luka-luka dalam prosesnya.

Membaca laporan ini, reaksi pertama kita tentu saja adalah pengen ketawa tapi takut dosa. Ini adalah kontradiksi terbesar dalam sejarah modern. Bagaimana mungkin seorang tokoh yang menghabiskan separuh umur politiknya untuk meneriakkan “Mampuslah Amerika” dan “Hancurlah Israel,” kini justru namanya ditulis dalam dokumen perencanaan pascaperang oleh intelijen Amerika dan Israel sebagai calon pemimpin masa depan? Apakah dunia ini sudah kehabisan stok politikus sampai-sampai harus mendaur ulang musuh lama menjadi (calon) sekutu darurat?

Tentu saja, laporan fantastis ini langsung disambut dengan gelombang skeptisisme yang tinggi oleh para pakar Timur Tengah yang masih waras. Banyak pengamat menilai skenario itu terlalu mengada-ada, kalau bukan bentuk misinformasi yang sengaja diembuskan untuk mengacaukan konstelasi politik internal Iran.

Secara kalkulasi politik riil, Ahmadinejad itu sudah “selesai” di Iran. Dia tidak punya basis kekuatan nyata lagi. Dia tidak punya pasukan, dia tidak punya dukungan dari lingkaran ulama senior, dan dia dibenci oleh Garda Revolusi yang memegang kendali senjata dan ekonomi negara. Berharap Ahmadinejad bisa kembali berkuasa dan menstabilkan Iran pasca-perang itu sama ringkihnya dengan berharap memenangkan taruhan bola dengan hanya mengandalkan tebakan dukun.

Pelajaran dari Panggung Sandiwara Geopolitik

Namun, terlepas dari apakah laporan konspirasi itu nyata atau sekadar bualan intelijen di kedai kopi, munculnya kembali nama Ahmadinejad dalam pusaran isu perang AS-Iran ini memberikan kita sebuah pelajaran moral yang sangat berharga tentang sifat dasar politik global.

Dalam politik internasional, ideologi, kutukan, agama, dan retorika anti-ini-anti-itu sering kali hanyalah komoditas jualan yang punya masa kedaluwarsa. Hari ini seseorang bisa mengutuk sekelompok orang sebagai iblis jahanam, tetapi besok pagi, ketika peta kepentingan bergeser dua derajat saja, si iblis bisa berubah menjadi mitra wicara yang potensial.

Ahmadinejad dimunculkan lagi namanya bukan karena pihak Barat tiba-tiba jatuh cinta pada pemikiran-pemikirannya yang dulu, bukan pula karena mereka percaya dia sudah tobat setelah mendengarkan lagu-lagu Tupac Shakur. Namanya muncul semata-mata karena pragmatisme yang dingin. Di tengah masa kekacauan dan potensi perang, pihak-pihak yang berkepentingan akan selalu mencari celah, keretakan, dan figur-figur oportunis yang bisa dimanfaatkan untuk menggoyang stabilitas lawan dari dalam. Jarak yang membentang antara Ahmadinejad dan Ali Khamenei adalah celah kecil yang coba dimasuki oleh spekulasi geopolitik global. Dia dipandang bukan sebagai sekutu jangka panjang yang ideal, melainkan sebagai bidak catur darurat yang mungkin bisa digeser untuk merusak formasi lawan.

Bagi kita di Indonesia yang dulu sempat mengidolakan sosok ini secara membabi buta, kisah perjalanan Ahmadinejad ini harusnya menjadi pengingat yang menampar pipi. Jangan terlalu baper (bawa perasaan) dalam melihat konfrontasi politik di tingkat global. Jangan sampai kita di sini sudah saling caci-maki, saling mengafirkan, atau siap angkat senjata demi membela kehormatan salah satu kubu di Timur Tengah, sementara tokoh yang kita bela di sana ternyata sedang asyik bermain Twitter, memuji presiden Amerika, dan namanya sedang ditimang-timang oleh dinas rahasia musuh sebagai opsi cadangan.

Dunia politik luar negeri itu tidak pernah digerakkan oleh rasa cinta atau benci yang tulus. Ia digerakkan oleh kepentingan nasional masing-masing negara yang sifatnya cair dan tanpa ampun. Ahmadinejad yang dulu adalah singa podium anti-Zionis, Ahmadinejad yang kemudian menjadi bapak-bapak pengguna Twitter yang ramah pop-culture, dan Ahmadinejad yang kini namanya masuk bursa spekulasi pascaperang bentukan Barat, adalah orang yang sama. Yang berubah hanyalah panggungnya, penontonnya, dan harga tiketnya.

Jadi, mulailah membaca berita internasional dengan segelas kopi dan senyuman maklum. Sebab, di panggung sandiwara global yang serbaduniawi ini, hal yang paling konisten dari para aktornya bukanlah prinsip hidup mereka, melainkan kemampuan mereka untuk terus berdansa mengikuti ke mana arah angin kekuasaan bertiup. Dan kita, sebagai penonton di barisan belakang, cukuplah menikmati tontonan itu tanpa perlu ikut-ikutan jantungan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *