Cara Mempersiapkan Pensiun Agar Tidak Menjadi Miskin

Mari kita mulai obrolan ini dengan sebuah bayangan yang jamak kita lihat di jalanan kota-kota besar di Indonesia. Pagi-pagi sekali, saat matahari baru saja menggeliat dan hawa dingin sisa semalam masih menempel di kulit, kita sering berpapasan dengan seorang kakek tua yang memanggul keranjang dagangan yang beratnya barangkali menyamai sisa-sisa tenaga di punggungnya. Atau seorang nenek yang dengan telaten menata gorengan di atas gerobak reyot di pojok pasar.

Sebagian dari kita, dengan modal romantisme yang dangkal dan sedikit bumbu sinetron religi, kerap mengagumi pemandangan itu. “Luar biasa,” kata kita dalam hati atau di status media sosial. “Tua-tua masih produktif, masih semangat menjemput rezeki, tidak mau mengemis.”

Ah, betapa naifnya kita. Sungguh sebuah kenaifan yang dipelihara dengan sangat subur.

Mari kita singkirkan kacamata penuh romantisasi itu dan mulailah melihat realita dengan mata yang agak jernih—kalau tidak mau dibilang telanjang. Mereka yang bekerja di usia senja itu, dalam persentase yang teramat besar, bukannya sedang menikmati “aktualisasi diri” atau “panggilan jiwa” untuk tetap aktif. Mereka terpaksa bekerja karena kalau hari itu mereka berhenti melangkah, besok dapur mereka tidak akan mengepul. Sesederhana dan senahas itu.

Data yang diungkap oleh Ligwina Hananto dalam sebuah obrolan podcast belum lama ini bagaikan sebuah tamparan keras yang mendarat tepat di pipi kolektif bangsa kita. Bayangkan: 95 persen orang Indonesia menghadapi risiko pensiun dalam kondisi finansial yang berantakan, alias tidak ideal. Dan dampaknya? Sebanyak 77 persen dari para lansia kita terpaksa terus memeras keringat di usia senja karena tabungan mereka kosong melompong.

Angka 95 persen itu bukan sekadar statistik di atas kertas buram milik badan pusat statistik. Itu adalah angka yang sangat presisi untuk menggambarkan bahwa hampir seluruh dari kita—ya, saya yang sedang menulis ini, dan Pembaca yang sedang memegang gawai saat ini—sedang berjalan dengan riang gembira menuju jurang kemiskinan di masa tua. Kita ini, entah sadar atau tidak, sedang mengantre di barisan panjang klub “Tua Tanpa Uang”.

Kita sering merasa aman hanya karena hari ini kita menyandang status sebagai “karyawan kantoran” di sebuah gedung tinggi ber-AC, memakai kemeja necis yang disetrika rapi, dan memegang kartu nama dengan jabatan mentereng. Kita merasa bahwa potongan iuran bulanan yang tertera di slip gaji adalah jaminan bahwa masa tua kita akan seindah iklan-iklan rumah lansia di Swiss atau minimal seperti adegan minum teh di beranda rumah saat sore hari sembari membaca koran.

Padahal, kenyataannya jauh dari panggang api. Berdasarkan pengalaman puluhan tahun para perencana keuangan, sangat jarang ada perusahaan di negeri ini yang sanggup menyediakan dana pensiun hingga 60 persen dari penghasilan terakhir kita. Mayoritas perusahaan hanya mampu memberikan pesangon atau jaminan yang nilainya kalau dikonversi paling-paling hanya sekitar 20 persen.

Mari kita hitung secara kasar dengan logika warung kopi. Kalau gaji terakhir Anda sebelum pensiun adalah Rp10 juta per bulan, dan saat pensiun Anda hanya mendapatkan 20 persennya, itu artinya Anda harus bertahan hidup dengan uang Rp2 juta per bulan. Di zaman sekarang, uang Rp2 juta itu barangkali hanya habis untuk membayar tagihan listrik, iuran lingkungan, dan membeli obat-obatan generik penurun tensi. Lalu, untuk urusan perut? Untuk makan tiga kali sehari? Apakah kita mau beralih profesi menjadi pertapa yang hidup dari menghirup udara segar dan memakan dedaunan kering?

Menghitung “Gunungan Uang” Tanpa Perlu Ciut Mental

Lalu, bagaimana dengan jaminan sosial yang saban bulan memotong gaji kita secara otomatis? Bukankah kita punya BPJS Ketenagakerjaan? Bukankah ada Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) standar yang disediakan kantor?

Kembali lagi, mari kita basuh muka agar tidak terlalu banyak bermimpi. Mengandalkan skema-skema standar itu—menurut perhitungan matematis yang jujur—hanya akan menutup sekitar 20 hingga 40 persen dari total kebutuhan penghasilan terakhir kita. Artinya, tetap saja ada lubang menganga yang sangat besar di dompet masa tua kita.

Konsep ideal dari pensiun itu sebetulnya sederhana sekali dalam ucapan, namun luar biasa rumit dalam eksekusi: bagaimana caranya agar kita tetap bisa mempertahankan gaya hidup yang sama seperti saat kita masih aktif bekerja, meskipun keran gaji bulanan dari kantor sudah ditutup rapat-rapat. Kalau saat bekerja kita terbiasa makan nasi padang pakai lauk rendang, ya saat pensiun jangan sampai turun kasta menjadi nasi putih berlauk garam dapur dicampur minyak jelantah.

Dalam dunia perencanaan keuangan, ada satu rumus kuno yang sangat terkenal bernama Aturan Empat Persen (4%). Ini adalah sebuah metode kasar untuk menghitung seberapa besar “gunungan uang” yang harus kita kumpulkan sebelum kita memutuskan untuk berhenti bekerja dan mulai memelihara burung perkutut.

Mari kita ambil contoh sederhana. Katakanlah pengeluaran harian dan bulanan Anda saat ini adalah Rp10 juta per bulan. Berarti dalam setahun, Anda menghabiskan uang sebesar Rp120 juta. Jika kita berasumsi bahwa masa pensiun kita akan berlangsung selama 25 tahun—katakanlah mulai pensiun di usia 55 tahun dan diberi umur panjang oleh Gusti Allah hingga usia 80 tahun—maka dana yang harus terkumpul di dalam “gentong ajaib” kita adalah sekitar Rp3 miliar.

Mengapa harus sebesar itu? Karena dengan aturan empat persen tadi, setiap tahun kita hanya diperbolehkan mengambil maksimal empat persen saja dari total dana tersebut agar pokok uangnya tetap bertahan dan terus berkembang di instrumen investasi, sehingga tidak habis sebelum kita dipanggil Yang Maha Kuasa.

Mendengar angka Rp3 miliar, saya yakin sebagian besar dari Pembaca langsung mendesah panjang. Ada yang tiba-tiba merasa pusing, ada yang mendadak mulas, dan ada pula yang langsung ingin menutup tulisan ini lalu kembali membuka aplikasi video pendek demi melupakan kenyataan. Rp3 miliar! Bagi seorang pekerja dengan gaji pas-pasan yang tiap akhir bulan harus bertahan hidup dengan mi instan, angka itu rasanya lebih jauh dan lebih abstrak ketimbang letak planet Pluto.

Belum lagi kalau kita memasukkan variabel bernama inflasi. Makhluk gaib bernama inflasi ini bekerja seperti rayap. Ia tidak kelihatan, tapi tahu-tahu tiang rumah kita sudah keropos. Dengan asumsi inflasi moderat sebesar 5 persen per tahun, uang Rp10 juta di hari ini nilainya akan menyusut drastis dalam dua puluh tahun ke depan. Kebutuhan yang tadinya cukup dipenuhi dengan puluhan juta, di masa depan bisa membengkak menjadi ratusan juta rupiah.

Namun, di sinilah letak kearifan yang sering dilupakan orang. Perencana keuangan yang bijak biasanya akan berbisik kepada kita: Jangan terlalu fokus pada hitungan matematis yang njlimet dan angka raksasa itu. Mengapa? Karena kalau sejak awal kita sudah memelototi angka miliaran yang mustahil itu, mental kita akan langsung “ciut”. Dan kalau mental sudah ciut, manusia cenderung mengambil jalan pintas yang paling berbahaya: menyerah total dan memilih pasrah pada nasib. “Ah, sudahlah, urusan tua bagaimana nanti saja, yang penting hari ini bisa ngopi.” Ini adalah bentuk fatalisme modern yang sangat beracun.

Juru Selamat Bernama “Investasi Anyway”

Jika angka miliaran membuat kita ngeri, maka obatnya bukanlah meratap, melainkan mulai melangkah dengan langkah-langkah kecil yang konsisten. Di sinilah berlaku sebuah prinsip yang sangat saya sukai: “Investasi Anyway”. Lakukan saja, jangan banyak alasan.

Bagi anak-anak muda yang berada di rentang usia 20 hingga 30 tahun, urusan dana pensiun biasanya menempati urutan paling buncit dalam daftar prioritas hidup. Mereka akan berkata, “Duh, Mas, boro-boro mikir pensiun. Ini cicilan rumah subsidi belum lunas, biaya sekolah anak makin mahal, susu anak habis, belum lagi pengeluaran untuk kondangan sepupu.”

Semua alasan itu valid. Sangat valid dan sangat manusiawi. Tetapi, menunda investasi sampai kita merasa “punya uang longgar” adalah sebuah ilusi yang tidak akan pernah terjadi. Sampai kapan pun, manusia tidak akan pernah merasa punya uang longgar. Berapa pun penghasilan kita, ia akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk habis jika tidak kita paksa untuk disisihkan.

Strategi terbaiknya adalah dengan menyisihkan uang dalam nominal sekecil apa pun, secara otomatis dan konsisten, langsung di awal bulan begitu gaji mendarat di rekening. Anggap saja uang itu adalah “dana yang siap hilang” atau biaya wajib untuk masa depan. Nominalnya tidak perlu langsung besar. Mulailah dari angka yang setara dengan harga dua atau tiga cangkir kopi kekinian yang biasa Anda beli saat jam kerja. Kalau Anda bisa menghabiskan puluhan ribu untuk segelas air manis berwarna cokelat demi gengsi sosial di depan rekan kerja, maka secara logis Anda juga harus bisa menyisihkan jumlah yang sama untuk menyambung hidup Anda sendiri di masa tua.

Secara garis besar, produk investasi yang bisa kita gunakan untuk membangun gunungan uang ini terbagi menjadi dua jenis maskot:

1. Investasi Akumulatif (Growth)

Ini adalah jenis investasi yang fungsi utamanya adalah untuk menggulung dana dari kecil menjadi besar. Cocok untuk mereka yang masih muda atau memiliki modal awal yang cekak. Karakteristik utamanya adalah memanfaatkan efek bunga berbunga (compound interest). Contohnya adalah tabungan konvensional, deposito, reksadana, saham, dan emas. Di sini, uang kita biarkan bekerja dan beranak-pinak tanpa perlu kita ambil hasilnya setiap bulan.

2. Investasi Generatif (Income)

Ini adalah jenis investasi yang bertugas mengubah modal besar yang sudah berhasil kita kumpulkan menjadi arus kas (cash flow) rutin yang mengalir setiap bulan atau setiap tahun untuk membiayai hidup. Ada empat pilar utama dalam jenis ini, yaitu: bisnis yang sudah berjalan sistematis, properti yang disewakan (kontrakan atau kos-kosan), surat berharga (seperti Obligasi Negara atau SBN), dan kekayaan intelektual (seperti royalti buku atau hak paten).

Sebagai pemula yang baru mau mencelupkan kaki ke kolam investasi, kita harus tahu diri. Jangan langsung melompat ke produk yang paling rumit hanya karena melihat tangkapan layar keuntungan orang lain di Twitter atau TikTok.

Bagi pemula dengan literasi keuangan yang masih taraf “bismillah”, reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap adalah pilihan yang paling waras. Berinvestasi di sini rasanya seperti belajar berenang menggunakan pelampung di kolam dangkal. Fluktuasinya rendah, risikonya kecil, dan hati kita bisa tetap tenang saat tidur malam.

Bagi mereka yang berkarakter defensif dan sangat takut kehilangan uang, kombinasi antara emas dan Surat Berharga Negara (SBN) adalah jalan ninja terbaik. Emas memang tidak memberikan uang tunai setiap bulan, tetapi ia adalah penjaga nilai yang sangat perkasa melawan inflasi. Sementara SBN adalah instrumen paling aman di kolam finansial domestik karena pembayarannya dijamin langsung oleh undang-undang negara. Kecuali negara ini bubar, uang Anda aman.

Nah, bagaimana dengan saham? Saham adalah binatang yang berbeda. Ia agresif dan liar. Saham sangat cocok untuk anak muda usia 20-an yang memiliki waktu panjang untuk melewati badai naik turunnya pasar. Namun, masuk ke pasar saham Indonesia tanpa bekal analisis fundamental yang kuat dan tanpa aturan main (trading rules) yang disiplin sama saja dengan menyerahkan leher untuk disembelih oleh para bandar. Pasar saham kita ini sangat rentan “digoreng”. Jadi, kalau Anda tidak tahu apa yang Anda beli, Anda bukannya sedang berinvestasi, melainkan sedang berjudi dengan gaya yang agak elegan.

Satu hukum alam yang tidak boleh dilanggar: semakin tua usia kita dan semakin dekat kita dengan gerbang pensiun, porsi aset-aset agresif seperti saham ini harus dikurangi secara bertahap demi keamanan. Jangan sampai, setahun sebelum pensiun, seluruh dana hidup Anda amblas karena pasar saham global sedang runtuh.

Logika Emosi di Atas Lembar Angka

Manusia sering kali dengan sangat sombong menganggap dirinya sebagai makhluk yang rasional. Kita berpikir bahwa setiap keputusan yang kita ambil adalah hasil dari pertimbangan logis yang matang. Padahal, dalam urusan dompet, manusia adalah makhluk yang teramat sangat emosional.

Keputusan finansial kita tidak pernah berjalan seperti rumus matematika yang kaku di mana X ditambah Y pasti menghasilkan Z. Kita tidak bisa menyuruh seorang ibu yang anaknya sedang demam tinggi untuk tetap menyisihkan uang ke reksadana demi pensiun tiga puluh tahun lagi. Kita tidak bisa memaksa seorang suami yang baru saja di-PHK untuk berpikir tentang aturan empat persen. Suasana hati, trauma masa kecil, tekanan sosial dari tetangga sebelah rumah, dan realita hidup yang menghimpit jauh lebih menentukan ke mana arah uang kita mengalir ketimbang tabel Excel buatan para analis keuangan.

Oleh karena itu, sebelum kita bermimpi memiliki portofolio investasi yang berkilau, ada satu fondasi psikologis yang wajib dibangun terlebih dahulu: Dana Darurat.

Memiliki dana darurat—katakanlah minimal sebesar satu kali gaji bulanan yang tersimpan rapi di rekening terpisah—bukan sekadar tentang jaring pengaman finansial. Lebih dari itu, dana darurat adalah obat penenang bagi jiwa.

Ketika Anda tahu bahwa Anda memiliki uang tunai yang siap pakai jika ban mobil pecah atau atap rumah bocor, hubungan psikologis Anda dengan uang akan berubah. Anda tidak lagi hidup dalam kecemasan yang konstan. Rasa aman yang ditimbulkan oleh dana darurat ini akan menumbuhkan rasa percaya diri yang sehat, yang pada gilirannya akan memberikan Anda kekuatan mental untuk mulai melangkah menuju target-target finansial yang lebih besar dan ambisius.

Selain itu, ada satu penyakit budaya yang sangat akut di dalam masyarakat kita: kebiasaan menjadikan anak sebagai instrumen investasi masa tua. Ini adalah akar dari lahirnya istilah Sandwich Generation atau generasi penunggang ganda, di mana seorang anak yang baru merangkak membangun kariernya harus menanggung biaya hidup orang tuanya yang tidak bersiap di masa muda, sekaligus mencukupi kebutuhan anak-anaknya sendiri.

Ini adalah bentuk kezaliman sistemik yang dibalut dengan dalih “bakti kepada orang tua”.

Mari kita perbaiki cara pandang ini. Berhentilah mengandalkan anak atau berharap pada warisan yang belum tentu ada bentuknya. Menyiapkan dana pensiun sendiri secara mandiri adalah bentuk kasih sayang tertinggi kita kepada anak-anak kita. Kita memutus rantai kemiskinan dan beban finansial tersebut di generasi kita.

Jika kelak di masa depan anak-anak kita datang membawa uang atau hadiah untuk membantu kita di hari tua, biarlah tindakan itu lahir dari rasa cinta dan ketulusan yang murni, bukan karena mereka terpaksa melakukannya akibat kewajiban moral yang mencekik leher mereka.

Merdeka di Usia Senja: Seni Menata Hidup yang Berdaulat

Menutup rangkaian perenungan ini, mari kita tengok nasib kelompok pekerja yang jumlahnya kian hari kian menjamur di era digital ini: para pekerja lepas, pembuat konten, pengemudi daring, alias para freelancer.

Bagi kaum freelancer, menabung dan berinvestasi adalah sebuah perjuangan yang tingkat kesulitannya setingkat lebih tinggi ketimbang para pegawai kantoran. Mengapa? Karena pendapatan mereka tidak mengenal istilah “tanggal gajian yang pasti”. Bulan ini mereka bisa mendapatkan proyek bernilai puluhan juta rupiah, tetapi tiga bulan berikutnya mereka bisa jadi tidak mendapatkan sepeser pun dan terpaksa hidup dari sisa-sisa kejayaan masa lalu.

Solusi praktis untuk masalah ini sebetulnya terletak pada kedisiplinan mengelola wadah uang. Seorang freelancer wajib hukumnya memiliki minimal dua rekening bank yang berbeda fungsi. Rekening pertama bertindak sebagai wadah penampungan bisnis atau hasil proyek. Uang dari klien semuanya masuk ke sana.

Nah, dari rekening bisnis itulah, sang freelancer kemudian “menggaji” dirinya sendiri dengan nominal yang tetap setiap bulannya ke rekening kedua, yaitu rekening pribadi. Dengan cara membatasi diri seperti ini, kita bisa mengunci pengeluaran agar tidak melonjak secara gila-gilaan saat proyek sedang ramai, sekaligus memiliki cadangan makanan yang aman saat musim kering melanda.

Namun, sebelum Anda buru-buru membuka aplikasi investasi dan memindahkan uang Anda, tolong tengok dulu catatan utang Anda. Jika saat ini Anda masih terjerat oleh utang-utang konsumtif yang bunganya mencekik leher—seperti pinjaman online ilegal, fitur paylater yang digunakan untuk membeli barang-barang tersier, atau tagihan kartu kredit yang hanya dibayar batas minimumnya—maka lupakan dulu urusan investasi dana pensiun.

Selesaikan dan babat habis utang-utang konsumtif itu terlebih dahulu tanpa ampun. Berinvestasi sambil memelihara utang konsumtif berbunga tinggi itu sama saja dengan Anda mencoba mengisi air ke dalam ember yang bawahnya bocor sebesar baskom. Sia-sia dan melelahkan.

Pada akhirnya, apa sih sebetulnya definisi dari pensiun yang sehat dan ideal itu?

Pensiun yang sehat bukanlah kondisi di mana kita menjadi orang kaya raya yang memamerkan kemewahan di media sosial, bukan pula kondisi di mana kita hanya berdiam diri menghitung hari di atas kursi goyang sampai ajal menjemput.

Pensiun yang sehat adalah sebuah kondisi di mana kita berhasil mempertahankan gaya hidup yang kita inginkan dan kita jalani sehari-hari, tanpa perlu menumpuk utang baru, dan yang paling penting: tanpa menyusahkan orang lain.

Cara untuk mencapainya ada dua jalur yang bisa berjalan beriringan. Pertama, dengan membangun aset-aset produktif yang bisa menghasilkan arus kas rutin semenjak kita masih muda. Kedua, dengan melakukan alih profesi yang berbasis pada keahlian utama (core skill) yang kita miliki.

Saat tubuh kita sudah tidak lagi kuat untuk mengikuti ritme kerja kantoran yang brutal dari jam sembilan pagi hingga jam lima sore, keahlian utama kita—entah itu menulis, mengajar, menjahit, meracik kopi, atau memberikan konsultasi—bisa menjadi jangkar yang membuat kita tetap produktif secara ekonomi, sekaligus tetap berguna dan berkontribusi secara sosial di tengah masyarakat.

Menjadi tua adalah sebuah kepastian yang mutlak. Kita semua akan sampai di sana jika jatah umur kita masih ada. Namun, memilih untuk menjadi tua yang mandiri, berdaulat, dan tidak menjadi beban bagi anak cucu adalah sebuah keputusan yang harus kita perjuangkan dan kita bayar harganya sejak hari ini. Jabat erat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *