Pernahkah Anda melihat seorang anak kecil umur lima tahun yang matanya berbinar-binar lalu bertanya dengan nada sangat polos: “Bapak, kenapa cicak kalau jatuh nggak pingsan?” atau “Ibu, kenapa air laut rasanya asin, apa ikannya nggak keasinan?”
Reaksi orang tua di sekitar kita biasanya terbelah menjadi dua kutub ekstrem. Kutub pertama, yang sayangnya lumayan mendominasi jagat pengasuhan tanah air, adalah kutub “peredam huru-hara”. Jawabannya berkisar antara, “Sudah, jangan banyak tanya, nanti gila lho!” atau kalimat pamungkas pengusir setan rasa ingin tahu: “Dari sananya sudah begitu, tidur sana, besok sekolah!”
Maka, tamatlah riwayat rasa penasaran itu. Dikubur hidup-hidup sebelum sempat mekar.
Padahal, kalau kita menyimak apa yang dituturkan oleh Prof. Sastia Prama Putri di Podcast Oase, rasa ingin tahu (curiosity) yang meledak-ledak pada masa kanak-kanak itu sejatinya bukan polusi suara bagi telinga orang tua. Ia adalah cikal bakal talenta. Benih genius yang sedang minta disiram. Di masa kecilnya, Prof. Sastia beruntung mendapati sosok ayah yang memilih kutub kedua: mengayomi, mengarahkan, dan memfasilitasi rasa lapar berpikir itu dengan tumpukan buku dan ruang eksplorasi, bukan mematahkannya memakai gebukan otoritas bapak-bapak.
Ibunya pun menyuntikkan mantra yang tak kalah dahsyat: pendidikan adalah bekal dan fondasi paling kokoh bagi seorang perempuan untuk melangkah ke mana saja tanpa sekat pembatas.
Pendidikan di sini tentu bukan melulu soal duduk rapi di atas bangku kayu sambil melipat tangan di dada. Hidup Prof. Sastia membuktikan bahwa adab, ketahanan mental, dan rasa percaya diri justru sering kali ditempa di luar pagar sekolah formal—lewat kegiatan ekstrakurikuler, panggung modeling, hingga asam garam perlombaan. Rumah dan lingkungan sosial semestinya menjadi inkubator kehidupan, bukan sekadar bengkel reparasi nilai rapor.
Ganti Menteri, Ganti Kurikulum
Sekarang, mari kita geser pandangan dari ruang tamu keluarga ke ruang kelas sekolah kita. Apa yang terjadi ketika anak-anak yang penuh rasa penasaran itu diserahkan ke sistem pendidikan formal kita?
Jawabannya: mereka masuk ke dalam sebuah labirin yang terus-menerus dirombak arsitekturnya tiap lima tahun sekali.
Sudah menjadi rahasia umum—dan ironi paling getir di republik ini—bahwa setiap kali ada pergantian menteri di Jakarta, para guru di pelosok daerah langsung memegang jidat. Buku ajar berganti, istilah administrasi bersulap rupa, nama program disulap jadi lebih keren dan catchy, tapi esensinya lenyap tertelan birokrasi. Kita ini gemar sekali bongkar pasang kurikulum, seolah-olah pendidikan adalah proyek tender jalan tol yang harus selalu tampak baru di mata laporan pertanggungjawaban.
Dampaknya fatal: guru bingung, orang tua pusing tujuh keliling, dan kita kehilangan apa yang disebut benang merah identitas pendidikan nasional. Fondasinya belum sempat mengeras, sudah digempur lagi dengan cetak biru anyar.
Lebih menyedihkan lagi, di balik jargon-jargon kurikulum yang berganti baju itu, napas di dalam kelasnya masih sama: orientasi membabi buta pada “jawaban yang benar”. Anak-anak kita sejak kelas satu SD sudah digiring menjadi mesin penghafal demi angka sembilan atau sepuluh di atas kertas ulangan. Anak yang menjawab persis seperti buku cetak dianggap pintar; anak yang mengajukan pertanyaan kritis di luar teks dianggap pengacau jam pelajaran.
Sistem kita terobsesi mencetak pemegang kunci jawaban, bukan pelatih pembuat pertanyaan.
Masih Mengagungkan Hafalan
Obsesi pada hafalan ini menjadi kian konyol dan mengenaskan ketika kita dihadapkan pada realitas hari ini: era Artificial Intelligence (AI).
Dengar-dengar, ada sebagian guru dan orang tua yang masih bangga luar biasa kalau anaknya hafal di luar kepala tabel periodik kimia, tanggal-tanggal pertempuran masa lampau, atau rumus matematika yang rumit. Maaf beribu maaf, kebanggaan semacam itu hari ini sudah basi. Kalau cuma urusan mengingat fakta, menghafal definisi, dan menyajikan data mentah dalam hitungan detik, otak anak kita sudah kalah telak 100-0 melawan aplikasi kecerdasan buatan di ponsel genggam mereka.
AI tidak pernah lelah menghafal. AI tidak pernah lupa tanggal Perjanjian Linggarjati.
Maka, apa lagi harga tawar manusia jika sekolah kita masih bersikeras menguji kemampuan memori jangka pendek? Prof. Sastia mengingatkan hal yang sangat mendasar: nilai tertinggi manusia di era mesin pintar ini terletak pada kemampuan melontarkan pertanyaan yang baik (critical thinking) dan daya lentur memecahkan masalah (problem solving).
Mengetahui jawaban itu murah harganya sekarang; yang mahal adalah mengetahui pertanyaan apa yang harus diajukan untuk membuka kebuntuan zaman. Dan celakanya, kemampuan bertanya itulah yang paling rajin dibungkam di ruang-ruang kelas kita lewat budaya “dengarkan guru, jangan membantah”.
Guru Kondisinya Sedang Prihatin
Tentu saja, kita tidak bisa dengan enteng dan jahat menunjuk telunjuk ke hidung para bapak dan ibu guru. Mau menyalahkan guru bagaimana, kalau sebagian besar dari mereka masih dipaksa hidup dalam survival mode?
Ini hipokrisi terbesar kita sebagai bangsa: kita menuntut anak-anak kita dididik menjadi saintis kelas dunia, tapi kita mengupah orang yang mendidik mereka dengan gaji di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Kita menuntut guru mengajar dengan penuh senyum, kreativitas, dan kesabaran malaikat, sementara di kepalanya berputar pusing memikirkan apakah tagihan beras dan susu anaknya besok pagi bisa terbayar.
Bagaimana seorang guru bisa memikirkan stimulasi higher order thinking skills bagi muridnya, jika fasilitas sekolahnya saja bocor dan status kepegawaiannya digantung tanpa kejelasan martabat hidup?
Pemerintah mana pun tidak punya hak moral menuntut mutu pendidikan setinggi langit jika investasinya pada kesejahteraan dan kualifikasi guru masih sekelas uang receh. Pendidikan bermutu itu mahal, tapi membiarkan bangsa ini dipimpin oleh generasi yang gagal berpikir jauh lebih mahal dan mematikan.
Belajar Dari Jepang
Bagi Anda yang gemar membanding-bandingkan negara kita dengan luar negeri demi bahan mengeluh di media sosial, mari kita tengok Jepang secara jernih, bukan sekadar melihat bunga sakuranya.
Di Negeri Matahari Terbit, anak-anak usia TK dan PAUD tidak dicekoki ambisi gila-gilaan orang tua agar lancar membaca, menulis, dan berhitung (calistung) secepat kilat. Tidak ada perlombaan gengsi antar-ibu-ibu arisan yang membanggakan balitanya sudah bisa perkalian lima digit.
Di sana, usia dini dihabiskan untuk menancapkan adab sebelum ilmu. Anak-anak diajari disiplin bangun pagi, membiasakan rutinitas, belajar mengamati perubahan warna daun di taman, dan yang terpenting: tenggang rasa terhadap ruang publik. Mereka diajarkan makan bersama, menghabiskan apa yang diambil, mencuci mangkuk sendiri, dan mengepel lantai kelas secara bergantian dalam jadwal piket harian.
Karakter kemandirian dan tanggung jawab sipil itu dibangun pelan-pelan, berulang-ulang, setiap hari, hingga meresap ke dalam sumsum tulang.
Pembelajaran akademis yang ketat, hafalan teori yang berat, dan bimbingan belajar yang melelahkan baru dipacu secara bertahap ketika mereka menginjak bangku SMP dan SMA. Polanya jelas: kuatkan dulu fondasi wadahnya (karakter, adab, empati), baru kemudian dituangi cairan ilmu pengetahuan yang pekat.
Sikap hati-hati, kepatuhan pada prosedur, dan dedikasi menjaga keselamatan publik ini memang kadang membuat Jepang tampak kalah gesit berinovasi dibanding negara yang melesat ugal-ugalan seperti Tiongkok. Tapi sistem Jepang dibangun bukan untuk menang balapan sprint satu-dua musim; ia dirancang untuk daya tahan maraton berabad-abad (sustainability & longevity).
Langkah Nyata Menyelamatkan Nalar Generasi Kita
Membaca potret di atas, kita tentu tidak boleh berhenti pada ratapan cengeng di sudut kafe. Mengutip benang merah pemikiran Prof. Sastia, ada tiga langkah esensial yang harus kita injak pedal gasnya sekarang juga:
Pertama, bongkar budaya belajar kita. Geser kiblat pendidikan dari hafalan menuju curiosity dan penyelesaian masalah. Sekolah harus menjadi tempat yang paling aman bagi anak untuk membuat kesalahan. Anak-anak tidak boleh lagi dihantui rasa takut salah ketika mengangkat tangan. Keberanian mencoba hipotesis yang keliru jauh lebih mendidik daripada diam membisu demi mencari aman.
Kedua, ubah posisi dan mindset pendidik. Guru di abad ini bukan lagi dewa pengetahu yang memegang monopoli kebenaran mutlak. Guru harus berani bertransformasi menjadi fasilitator yang luwes. Jangan malu untuk berkata di depan kelas: “Pertanyaanmu bagus sekali, Nak. Terus terang bapak belum tahu jawabannya. Ayo, mari kita selidiki dan cari tahu bersama.” Kalimat sederhana itu tidak meruntuhkan wibawa guru; sebaliknya, itu mengajarkan murid bahwa belajar adalah petualangan seumur hidup yang tak pernah purna.
Ketiga, bawa STEM mendarat ke bumi. Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) jangan dibiarkan mengawang-awang di balik jas lab putih dan rumus-rumus kering di papan tulis. Hubungkan pelajaran itu dengan realitas sehari-hari anak: mengapa sawah di desa mereka gagal panen? Mengapa kali di depan rumah meluap saat hujan satu jam? Mengapa suhu udara di kampung halaman kian menyengat?
Ketika sains diikatkan langsung dengan isu pangan, krisis lingkungan, energi terbarukan, dan masalah kesehatan di depan mata mereka, anak-anak tidak hanya akan pintar secara teknis. Mereka akan tumbuh dengan empati, rasa kepemilikan (sense of ownership), dan kepedulian tulus terhadap tanah tempat kaki mereka berpijak.
Mencetak generasi unggul bukanlah soal seberapa banyak rumus yang mampu mereka muntahkan saat ujian nasional, melainkan seberapa jernih mereka melihat persoalan di sekitarnya dan seberapa gigih mereka bergerak untuk mencari jalan keluarnya. Dan semua itu selalu bermula dari satu hal sederhana: jangan pernah mematikan rasa penasaran di mata seorang anak.
