El Nino Godzilla Masih Sampai Awal Tahun, dan Jangan Panik

Dunia media massa kita itu, kalau bikin istilah, memang sukanya yang seram-seram. Mungkin supaya korannya laku atau link beritanya diklik oleh orang-orang yang sedang melamun di atas motor saat lampu merah.

Beberapa waktu belakangan ini, jagat media kita mendadak dipenuhi oleh sosok monster Jepang yang sangat legendaris: Godzilla. Tapi Godzilla yang satu ini tidak datang dari dalam laut Tokyo sambil menyemburkan napas api, melainkan datang dari Samudra Pasifik dalam bentuk hawa panas. Nama kerennya: Godzilla El Niño.

Begitu mendengar kata “Godzilla”, reaksi pertama warga kita bisa ditebak. Ada yang langsung menimbun mi instan, ada yang sibuk membagikan pesan berantai di grup WhatsApp keluarga tentang kiamat iklim yang tinggal tiga hari lagi, dan ada pula yang menggunakannya sebagai alasan sah untuk tidak mandi pagi. “Udara panas begini, mandi cuma bikin air menguap!” begitu dalihnya.

Padahal kalau kita mau duduk tenang sedikit sambil menyeruput kopi hitam, BMKG dan organisasi meteorologi dunia (WMO) tidak pernah menerbitkan sertifikat ilmiah bertuliskan “Godzilla”. Istilah itu cuma akal-akalan pop-kultur untuk menggambarkan satu hal: El Niño yang datang kali ini memang sangat kuat. Sangat kuat, Bung. Bukan kaleng-kaleng.

Suhu muka laut di Pasifik tengah dan timur sana mendadak memanas seperti air dalam panci yang lupa dimatikan kompornya. Angkanya naik sampai lebih dari +2,2°C di atas normal. Bagi pakar iklim, angka segitu sudah bikin jidat berkerut. Tapi bagi kita rakyat biasa, artinya cuma satu: kipas angin di rumah bakal bekerja keras sampai baling-balingnya minta pensiun dini.

Kenapa Indonesia yang Kedapatan Apesnya?

Mungkin Anda bertanya-tanya dengan nada agak protes: “Lho, yang panas kan air laut di Samudra Pasifik sana dekat Amerika sana, kenapa yang kering kerontang malah sumur di belakang rumah saya di Kulon Progo?”

Nah, di sinilah hukum alam bekerja dengan sedikit jenaka.

Dalam keadaan normal, wilayah Indonesia itu ibarat kuali raksasa penampung hujan. Lautan kita hangat, airnya menguap gila-gilaan, membentuk awan hitam tebal, lalu mengguyur tanah kita jadi subur makmur. Kita terbiasa manja dengan hujan.

Tapi saat El Niño datang, panggung pertunjukan itu mendadak digeser. Karena air di Pasifik tengah jadi jauh lebih panas dari laut kita, si awan hujan ini ibarat orang yang mendadak dapat undangan makan gratis di hotel bintang lima. Mereka ramai-ramai kabur bergeser ke arah Pasifik. Indonesia yang tadinya jadi pusat pesta hujan, mendadak ditinggal sendirian seperti jomblo yang ditinggal nikah mantan.

Akibatnya? Ya kering, Ma’ruf!

Sirkulasi udara yang dalam ilmu sains dinamakan Walker Circulation itu mendadak balik arah. Air laut kita relatif lebih dingin dibanding Pasifik, penguapan minim, dan langit Indonesia bersih melompong tanpa awan. Matahari pun bersinar dengan teriknya, seolah-olah dia punya dendam pribadi pada kulit manusia Indonesia.

Jangan Menyalahkan Laut

Masalahnya, El Niño ini sering dijadikan kambing hitam paling nyaman oleh semua orang—terutama oleh pejabat dan oknum pembebas lahan.

Begitu hutan di Sumatra atau Kalimantan terbakar hebat sampai asapnya membubung tinggi menyeberang ke negara tetangga, dengan santai ada yang berdalih: “Ini semua gara-gara El Niño Godzilla!”

Ini logika yang sangat ngawur. El Niño itu memang bikin daun-daun mengering, bikin rantak-rantak kayu di hutan jadi sekerak kerupuk yang gampang menyala. Tapi ingat, daun kering tidak bisa mendadak memercikkan api sendiri kalau tidak ada jemari jahil manusia yang melemparkan puntung rokok atau menyulut korek api demi membuka lahan sawit secara murah meriah!

El Niño cuma menyediakan bahan bakarnya, tapi manusialah yang membawa pemantiknya.

Apalagi tanah kita punya kekhasan bernama lahan gambut. Gambut kalau sudah kering gara-gara El Niño, dia bukan cuma terbakar di atas tanah, tapi membara di dalam tanah. Padam di atas, di bawah masih membara. Ini ibarat pertengkaran rumah tangga: di luar kelihatan senyum-senyum, tapi di dalam hati masih menyimpan dendam kesumat yang siap meledak kapan saja.

Dampaknya lalu meluas ke mana-mana. Asap tebal merusak paru-paru anak sekolah, jarak pandang penerbangan terganggu, dan emisi karbon melonjak. El Niño memang membuat kondisi makin rawan, tapi kelakuan manusialah yang membuat keadaan jadi bencana.

Harga Makanan akan Naik

Kalau urusan asap terasa jauh buat Anda yang tinggal di tengah kota, mari kita bicara soal hal yang paling dekat dengan isi dompet dan isi piring kita: makanan.

Petani kita itu hidupnya sangat bergantung pada irama alam. Ada pola yang jernih: air cukup, tanah lembap, padi ditanam, lalu panen. Sederhana.

Tapi saat El Niño tingkat “Godzilla” ini bertahta sampai awal tahun 2027 mendatang—seperti yang diwanti-wanti oleh WMO—peta jalan itu berantakan total. Waduk-waduk menyusut, debit sungai drop, dan sumur-sumur dangkal mulai mengeluarkan bunyi menyedihkan saat disedot mesin air.

Akibatnya, jadwal tanam mundur. Petani bingung mau menanam padi takut mati kekeringan. Kalaupun nekad menanam, hasilnya bisa kerdil. Lalu apa dampaknya buat kita yang tinggal di perkotaan dan cuma tahu beras itu muncul dari balik karung di pasar?

Harga beras naik. Harga cabai melonjak tinggi sampai-sampai penjual gorengan harus berpikir 10 kali sebelum memberikan cabai rawit gratis ke pembelinya.

Jadi, El Niño ini bukan sekadar urusan “aduh harinya panas banget, enaknya minum es teh manis”. Ini adalah urusan perut bangsa. Saat air berkurang, rantai pasok pangan kita terancam. Dan kalau urusan perut sudah terganggu, biasanya emosi warga juga makin gampang tersulut. Kena senggol sedikit di jalan raya, urusannya bisa panjang.

Bagaimana Sikap Kita?

Lalu, apakah kita harus pasrah menyambut kiamat kecil ini? Ya tidak begitu juga, kawan.

Ada dua tipe orang Indonesia kalau menghadapi berita beginian. Tipe pertama adalah Tipe Histeris: membaca berita judulnya ada kata “Godzilla”, langsung percaya bahwa mulai besok hujan tidak akan pernah turun lagi selama sepuluh tahun ke depan. Tipe kedua adalah Tipe Santuy Kuadrat: melihat tanah retak-retak dan sumur kering, dia cuma berdehem sambil bilang “Ya namanya juga musim kemarau, dari dulu ya gini.”

Dua-duanya sama-sama tidak megarisbawahi akar masalah.

El Niño tidak berarti hujan berhenti 100%. Hukum iklim tidak bekerja seperti saklar lampu yang kalau ditekan tombol OFF langsung gelap gulita. Hujan masih bisa turun sesekali, bahkan bisa deras kalau ada gelombang atmosfer yang lewat. Tapi secara akumulasi statistik, jumlah air yang jatuh dari langit memang jauh melorot dari biasanya.

Maka, alih-alih meributkan apakah monster ini layak dinamai “Godzilla” atau “King Kong”, ada hal-hal sangat membumi yang harusnya kita kerjakan sekarang:

Urusan Air, Kalau rumahmu masih pakai sumur timba atau sumur bor dangkal, mulailah hemat air dari sekarang. Buka keran jangan seperti mau memadamkan kebakaran gedung. Wudhu secukupnya, mandi tidak usah bergaya seperti di klip video musik.

Urusan Api, Jangan sekali-kali membakar sampah daun kering di pekarangan belakang rumah saat angin kencang. Api kecil di musim El Niño sangat kuat ini punya cita-cita besar untuk menjadi kebakaran hebat.

Urusan Pangan, Buat pemerintah, pastikan stok cadangan beras di gudang benar-benar ada, bukan cuma ada di atas kertas laporan. Pompa-pompa air untuk sawah rakyat harus dipastikan jalan, bukan cuma dipajang saat seremoni kunjungan dinas.

Musim Kemarau Masih Panjang

Bumi kita ini memang sedang agak meriang. Fenomena alam berkala seperti El Niño sekarang harus tumpang tindih dengan pemanasan global akibat ulah industri manusia selama berabad-abad. Ibarat orang yang sudah kena demam tinggi, malah disuruh jalan-jalan di tengah terik matahari siang bolong tanpa topi. Panasnya double!

Data BMKG per September 2026 ini jelas-jelas memberi sinyal bahwa puncaknya baru akan terjadi di penghujung tahun nanti, dan buntutnya bisa berlanjut sampai awal 2027. Kita sedang menghadapi ujian daya tahan.

Tapi tak perlu lah kita ikut-ikutan panik secara berlebihan sampai lupa cara tersenyum. Bangsa ini sudah berpengalaman melewati El Niño dahsyat tahun 1997 dan 2015. Kita selamat bukan karena kita punya teknologi canggih mengendalikan awan, tapi karena kita punya daya adaptasi yang luar biasa ulet—dan tentu saja, gotong royong saling berbagi air bersih saat sumur tetangga mulai mengering.

Matikan keran yang menetes, simpan cadangan air dengan baik, dan jangan bakar sampah sembarangan. Biarkan monster bernama El Niño itu lewat di atas Samudra Pasifik, sementara kita di sini tetap tenang, saling menjaga, dan berdoa semoga musim hujan segera kembali menyapa bumi pertiwi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *