Ternyata, Wanita Lebih Panjang Umur Dibanding Pria

Beberapa bulan lalu, saya menghadiri acara reuni keluarga besar di sebuah desa di pinggiran imajinasi masa kecil saya. Ada satu pemandangan yang mendadak membuat saya termenung di pojok joglo. Ketika sesi foto bersama para sesepuh, kursi-kursi di barisan depan itu hampir semuanya diisi oleh nenek-nenek, eyang putri, dan mak-mak sepuh yang wajahnya keriput tapi tawanya masih renyah membahana. Ke mana para eyang kakung? Ke mana para lelaki tua? Jawabannya sunyi: sebagian besar foto mereka sudah dipasang di dalam bingkai kayu di dinding ruang tamu, lengkap dengan tulisan “Al-Fatihah” atau tanggal wafat yang sudah lewat bertahun-tahun lalu.

Fenomena ini bukan cuma terjadi di kampung saya. Kalau Anda iseng jalan-jalan ke panti jompo, atau sekadar melihat statistik kependudukan di tingkat rukun tetangga, polanya hampir selalu sama: perempuan itu secara umum hidup lebih lama daripada laki-laki. Laki-laki itu, entah kenapa, seperti dikejar oleh tenggat waktu kehidupan yang jauh lebih ketat. Mereka cenderung lebih cepat pamit dari panggung dunia.

Sebagai seorang lelaki yang saban hari merenungi nasib sambil ngopi dan sesekali menghisap sebatang rokok, saya selalu penasaran: apa sih yang bikin kami para lelaki ini begitu rapuh dalam urusan umur panjang? Apakah ini kutukan moral, kesalahan pola hidup, atau memang dari sananya cetakan pabrik kami sudah dikurangi masa garansinya?

Rasa penasaran saya akhirnya terjawab dengan sangat ilmiah—sekaligus agak menampar harga diri—setelah membaca artikel ulasan dari BBC News Indonesia. Ternyata, urusan umur panjang perempuan vs umur pendek laki-laki ini adalah kombinasi rumit antara takdir biologis yang pelit, hormon yang ugal-ugalan, dan ego maskulinitas yang sering kali tidak masuk akal.

Ego Maskulin di Atas Asap Rokok dan Jalan Raya

Mari kita mulai dari urusan yang paling sering kita lihat sehari-hari: faktor sosial dan perilaku.

Dunia ini, sejak zaman purba sampai zaman kecerdasan buatan, selalu membebani laki-laki dengan konsep “maskulinitas”. Menjadi laki-laki itu konon harus kuat, tahan banting, berani mengambil risiko, dan tidak boleh kelihatan lemah. Celakanya, konsep maskulinitas ini sering kali diterjemahkan dengan sangat keliru oleh lambung dan paru-paru kami.

Di negara-negara seperti Rusia, misalnya, kesenjangan usia antara perempuan dan laki-laki itu lebarnya bukan main. Biang keroknya apa? Kebiasaan merokok yang ugal-ugalan dan konsumsi alkohol tingkat dewa di kalangan lelaki. Di kita pun tidak jauh beda. Laki-laki kalau kumpul, menunya kalau tidak kopi hitam ya rokok berbungkus-bungkus. Pola makan? Ah, jangan ditanya. Laki-laki itu kalau makan yang dicari adalah yang gurih, yang berlemak, yang penuh kolesterol, dan porsinya brutal. Sayur dan buah sering kali dianggap sebagai “makanan selingan” yang kurang menantang estetika kelaki-lakian.

Sudah pola makannya hancur-hancuran, laki-laki itu punya gengsi yang setinggi langit untuk urusan pergi ke dokter. Kalau cuma batuk pilek atau dada agak sesekali nyesek, prinsip lelaki adalah: “Halah, nanti juga sembuh sendiri kalau dibawa tidur.” Pergi ke dokter atau melakukan medical check-up berkala sering kali dianggap sebagai tindakan yang kurang jantan, seolah-olah mengakui bahwa tubuh mereka bisa rapuh. Mereka baru mau ke rumah sakit kalau kondisinya sudah kritis alias sudah telanjur basah.

Belum lagi kalau kita bicara soal pekerjaan dan perilaku di luar rumah. Laki-laki secara statistik adalah mayoritas pekerja di sektor-sektor ekstrem yang taruhannya adalah nyawa: kuli bangunan bertingkat, penambang bawah tanah, sopir truk lintas Sumatra, hingga tentara di garis depan.

Di luar pekerjaan pun, insting kompetitif lelaki sering kali berujung maut. Angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas—yang dipicu oleh aksi ngebut atau ugal-ugalan—didominasi oleh kaum Adam. Ditambah lagi dengan angka kekerasan, pembunuhan, hingga bunuh diri. Laki-laki itu kalau stres cenderung memendamnya sendiri karena takut dianggap cengeng, sampai akhirnya sirkuit di kepala mereka korsleting dan mengambil jalan pintas. Dari sudut pandang perilaku ini saja, kita sudah bisa melihat bahwa laki-laki itu memang hobi memotong kompas umurnya sendiri.

Kutukan Testosteron dan Berkah Estrogen

Kalau urusan perilaku masih bisa kita perdebatkan—”Kan ada juga laki-laki yang hidup sehat, Mas!”—maka faktor kedua ini sama sekali tidak bisa dinegosiasikan: faktor hormonal. Di sinilah alam semesta terbukti bersikap agak diskriminatif kepada kaum lelaki.

Perempuan itu, sejak lahir sampai sebelum menopause, dibekali oleh pabrik tubuhnya dengan sebuah senjata rahasia bernama hormon estrogen. Hormon ini bukan cuma urusan kecantikan atau reproduksi. Estrogen adalah antioksidan alami yang luar biasa hebat. Tugasnya adalah melawan radikal bebas yang memicu penuaan dini, mengendalikan kadar kolesterol jahat agar tidak menyumbat jantung, serta menjaga fungsi kekebalan tubuh, otak, dan tulang agar tetap prima. Perempuan itu seperti punya perisai gaib di dalam darahnya yang menjaga mereka dari berbagai penyakit degeneratif. Perlindungan mewah ini baru perlahan memudar ketika mereka memasuki masa menopause.

Lalu, apa yang dimiliki laki-laki sebagai tandingannya? Hormon testosteron. Hormon yang membuat suara lelaki jadi berat, dada jadi bidang, dan jenggot jadi tumbuh. Kelihatannya keren, bukan? Tapi di balik sifatnya yang maskulin itu, testosteron adalah zat yang sangat problematis.

Hormon ini dikaitkan dengan perilaku agresif, impulsif, dan gemar mengambil risiko tinggi yang tadi kita bahas. Yang lebih mengerikan, para ilmuwan menduga testosteron membawa dampak buruk yang pelan tapi pasti bagi ketahanan organ dalam tubuh. Ada sebuah studi sejarah yang agak menggelikan sekaligus mengenaskan: hewan atau manusia (seperti kaum kasim atau orang-orang yang dikebiri di masa kerajaan kuno demi menjaga selir) yang tidak memproduksi testosteron, ternyata secara statistik memiliki usia yang jauh lebih panjang daripada laki-laki normal!

Bayangkan betapa dilematisnya menjadi seorang lelaki. Untuk menjadi lelaki yang utuh di mata sosial, kami butuh testosteron. Tapi testosteron itu jugalah yang bertindak sebagai racun halus yang memperpendek umur kami. Jadi, pilihan bagi lelaki adalah: mau hidup jantan tapi cepat mati, atau hidup panjang umur tapi harus mengorbankan kejantanan? Sungguh sebuah pilihan yang tidak ada enak-enaknya sama sekali.

Keadilan Kromosom yang Pincang

Beralih ke cetakan paling dasar makhluk hidup: genetik dan evolusi. Di level kromosom seks saja, lelaki sudah kalah start.

Perempuan diciptakan dengan kombinasi kromosom XX. Laki-laki? Cuma XY. Perbedaan satu huruf ini dampaknya bumi dan langit. Karena perempuan punya dua kromosom X, mereka punya sistem cadangan (backup system) yang sangat aman. Jika terjadi mutasi genetik atau kerusakan pada salah satu kromosom X, kromosom X yang satunya lagi bisa langsung maju mengambil alih tugas dan mengompensasi kerusakan tersebut.

Sedangkan laki-laki, karena cuma punya satu kromosom X dan satu kromosom Y yang ukurannya kecil itu, mereka tidak punya ban serep. Begitu terjadi mutasi atau cacat genetik pada kromosom X tunggal mereka, dampaknya bisa langsung fatal dan mematikan. Kita ini, secara genetik, dirancang rapuh sejak dalam kandungan.

Tapi tunggu dulu, biar para lelaki tidak merasa terlalu terdiskriminasi oleh alam, ada fakta unik dari dunia perunggasan. Pada burung, kondisinya justru terbalik. Burung jantan memiliki dua kromosom Z, sedangkan burung betina memiliki kombinasi ZW. Hasilnya? Di dunia burung, para pejantanlah yang cenderung hidup lebih lama dan punya bulu yang lebih indah ketimbang betinanya. Sayangnya, kita ini manusia, bukan burung kenari atau perkutut. Jadi, aturan main burung tidak berlaku untuk nasib kita di dunia nyata.

Dari sisi evolusi perkawinan, nasib lelaki juga tragis. Pada spesies yang tidak menganut sistem satu pasangan (non-monogami) seperti gorila atau singa—dan mungkin sebagian bapak-bapak yang punya cita-cita tersembunyi ke arah sana—pejantan berevolusi untuk menghabiskan energi yang luar biasa besar hanya untuk membangun tubuh yang raksasa, menumbuhkan tanduk yang kuat, atau taring yang tajam. Semua energi itu dikuras habis demi satu tujuan: bertarung memperebutkan betina. Akibat dari foya-foya energi di masa muda ini, umur panjang mereka harus dikorbankan.

Sebaliknya, secara evolusi, induk betina dirancang oleh alam untuk memiliki umur yang panjang. Kenapa? Karena mereka memegang tugas suci untuk mengasuh, menyusui, dan membesarkan keturunan mereka hingga dewasa dan mandiri. Alam semesta sadar, kalau induk betina cepat mati, punahlah spesies tersebut. Jadi, umur panjang perempuan adalah strategi alam demi keberlangsungan peradaban makhluk hidup.

Hidup Lebih Lama tapi Menanggung Nyeri

Namun, setelah membaca semua keunggulan perempuan di atas, apakah itu berarti hidup perempuan itu sempurna tanpa celah? Ternyata tidak juga. Ada kompensasi lain yang harus dibayar oleh kaum perempuan atas bonus umur panjang mereka. Ini soal kualitas hidup vs kuantitas umur.

Meskipun hidup lebih lama, artikel BBC tersebut mencatat bahwa perempuan secara statistik justru lebih rentan mengalami berbagai penyakit yang tidak mematikan, tapi sangat mengganggu kenyamanan sepanjang hidup mereka. Perempuan lebih sering mengeluh sakit punggung bawah, terkena gangguan depresi, migrain, hingga penyakit inflamasi dan autoimun.

Kenapa perempuan mudah kena penyakit inflamasi? Karena respons imun mereka yang terlalu kuat—respons imun yang awalnya dirancang untuk melindungi janin dan tubuh mereka dari infeksi luar, malah saking kuatnya terkadang salah sasaran dan menyerang tubuh mereka sendiri.

Maka lahir sebuah kesimpulan medis yang sangat puitis sekaligus getir: “Biologi laki-laki membuat mereka lebih rentan terhadap kematian, sedangkan biologi perempuan membuat mereka lebih rentan terhadap disabilitas.”

Laki-laki itu kalau sakit langsung ambruk dan selesai. Sedangkan perempuan harus melewati sisa umur panjang mereka dengan menahan berbagai nyeri di sendi, sakit kepala, dan beban emosional yang panjang.

Menikmati Sisa Umur yang Sedikit

Kembali ke joglo tempat reuni keluarga tadi. Setelah merenungkan semua teori kromosom, estrogen, dan testosteron ini, saya memandangi cangkir kopi saya yang tinggal setengah. Di sebelah saya, seorang paman sedang asyik membakar rokoknya yang ketiga, sambil sesekali mengeluh tangan kanannya agak kesemutan akibat asam urat.

Saya cuma bisa tersenyum kecut. Mengetahui fakta bahwa secara biologis dan perilaku kita sebagai lelaki memang ditakdirkan untuk “pulang” lebih cepat, harusnya tidak membuat kita jadi putus asa atau malah makin ugal-ugalan. Justru karena kita tahu bahwa waktu kita di dunia ini—secara statistik—lebih pendek dari para istri kita, sudah sewajarnya kita mulai tahu diri.

Kurangi sedikit porsi jeroannya, matikan rokoknya kalau sudah kebanyakan, jangan gengsi pergi ke puskesmas kalau badan mulai meriang, dan yang paling penting: kurangi gaya maskulinitas yang sok jagoan di jalan raya. Lagipula, apa gunanya tampil macho di atas motor sport dengan kecepatan 100 km/jam, kalau ujung-ujungnya cuma bikin foto kita terpajang lebih cepat di dinding ruang tamu, sementara istri kita yang berumur panjang harus menjanda selama dua puluh tahun ke depan sendirian?

Mari kita terima takdir biologis ini dengan lapang dada, sambil pelan-pelan memperbaiki apa yang masih bisa kita kendalikan. Lagian, hidup ini kan bukan soal siapa yang paling lama bertahan di atas lapangan, tapi soal seberapa berkualitas kita memainkan peran sebelum peluit panjang tanda akhir pertandingan ditiup oleh Gusti Allah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *